
Keesokan harinya, mereka bertiga sedang menikmati sarapan padi di restoran hotel.
''Sepertinya semalam anda tidur nyenyak Nona.'' Frans mulai membuka obrolan.
''Tentu saja sekretaris Frans.'' Jawab Chika dengan senyum lebarnya. Tiba-tiba ponsel Chika berdering. Ada panggilan vidio call dari Romi.
''Maaf Tuan, saya terima telepon dulu.'' Ucap Chika seraya beranjak dari duduknya. Zidni menatap Chika penuh selidik, penasaran siapa yang menelepon Chika sepagi itu.
''Hai Romi, apa kabar?''
''Hai Chika. Aku yang seharusnya bertanya kabarmu.''
''Aku baik-baik saja disini. Kamu bagaimana? Oh ya ibu kamu sudah sehat kan?''
''Aku baik dan Ibu juga sudah sehat. Kamu berapa lama disana Chik? Aku kangen.''
''Aku juga kangen kamu Rom. Aku lima hari disini. Sepertinya kamu disekolah Kenzie ya?''
''Iya. Aku yang mengantarnya pergi ke sekolah pagi ini.''
''Memangnya Alvin kemana?''
''Dia ada tugas luar kota selama dua hari jadi aku yang menggantikannya.''
''Ya ampun Rom, kenapa aku selalu menyusahkanmu?''
''Aku tidak merasa kamu susah kan kok. Aku tulus melakukannya untuk kamu, Chik. Oh ya kamu sedang dimana?''
''Aku sedang sarapan bersama atasanku.''
''Apa kamu bahagia disana?''
''Tentu saja aku sangat bahagia. Ini pertama kalinya aku bisa keluar negeri, Rom.''
Entah kenapa Zidni merasa kesal melihat Chika yang sedang asyik mengobrol dengan seorang pria. Terlihat di layar ponsel Chika, kalau Chika sedang berbincang akrab dengan seorang pria. Zidni beranjak dari duduknya dan menghampiri Chika. Zidni merebut ponsel Chika dan mengakhiri panggilan Zidni begitu saja.
''Tuan, apa yang tuan lakukan?'' kesal Chika.
''Kita sedang sarapan dan kita di kejar waktu untuk bekerja. Bukan saatnya berbincang santai. Aku akan menyita ponselmu.''
''Tidak bisa begitu, Tuan. Lagi pula pertemuan selanjutnya masih setengah jam lagi.'' Bantah Chika.
''Justru itu. Setengah jam adalah waktu yang sangat berharga. Ingat itu!"
''Tapi apa harus dengan menyita ponsel saya?''
''Iya! Supaya kerjamu tidak terganggu.'' Ucap Zidni dengan kesal. Chika tidak terima dengan sikap Zidni. Chika kemudian berusaha berebut ponselnya dari tangan Zidni. Namun Zidni tidak menyerah, ia mengangkat tangannya keatas, membuat Chika yang mungil harus melompat untuk mendapatkan ponselnya. Tentu saja Chika merasa kesulitan karena postur tubuh Zidni yang tinggi.
''Tuan, kembalikan!" paksa Chika.
''Ambil kalau bisa!" ucap Zidni.
''Baiklah, aku akan melompat lebih tinggi.'' Kesal Chika. Chika kembali melompat untuk mendapatkan ponselnya. Bukannya mendapatkan ponsel, bibir Chika malah tidak sengaja menyentuh bibir Zidni kembali. Zidni dibuat terkejut dan salah tingkah, sampai membuatnya menelan ludah.
''Kamu mengambil kesempatan lagi?'' Zidni memicingkan matanya.
Chika menutup bibirnya. ''Tidak! Maaf, Tuan. Ambil saja ponsel saya.'' Chika kemudian kembali menuju mejanya dan menghabiskan makanannya. Pipi Zidni memerah setelah bersentuhan kembali dengan bibir Chika. Frans sendiri merasa gemas melihat tingkah keduanya.
''Nona, lihatlah wajah Tuan memerah.'' Bisik Frans.
''Aku sungguh tidak sengaja menyentuh bibirnya sekretaris, Frans.'' Ucap Chika.
''Sepertinya itu terapi yang baik Nona.'' Ucap Frans dengan senyum lebarnya. Setelah Zidni menetralkan perasaannya, Zidni kembali ke meja.
''Apa yang membuat anda sampai menyita ponsel Nona Chika, Tuan?'' tanya Frans.
''Kita sedang sarapan dan setelah ini melanjutkan pekerjaan tapi dia malah asyik mengobrol.'' Ketus Zidni.
''Memangnya siapa Nona yang menelepon? Apakah calonnya Papa baru Kenzie ya?'' gurau Frans.
''Dia teman ku, sekretaris Frans. Dia juga tahu kisah hidup yang aku alami. Dia juga sangat menyayangi Kenzie dan selalu ada untukku. Dia memang pernah menyatakan perasaannya padaku tapi saat itu aku belum siap karena masih berharap suamiku kembali. Tapi setelah mendapat saran dari Tuan Zidni, sepertinya aku bisa membuka hatiku untuknya. Dia pria yang sangat baik.'' Jelas Chika.
''Silahkan saja!" singkat Chika.
''Kalian ini semakin banyak bicara ya. Kamu juga Frans, masih banyak gadis di luar sana tapi kenapa malah mengajukan diri pada Chika? Aku akan mengenalkanmu dengan gadis di Jepang yang jauh lebih cantik dan pas dengan dirimu. Sebaiknya fokus makan dan kita harus pergi ke pabrik.'' Tegas Zidni.
''I-iya Tuan, maaf.'' Ucap Frans.
Selesai sarapan pagi, mereka bertiga segera menuju pabrik pembuatan nori. Meskipun mendampingi suaminya, Chika tetap berusaha se-profesional mungkin. Perintah-perintah yang bernada kasarpun tetap Chika lakukan demi menyenangkan suaminya.
Hari itupun berjalan lancar dan untuk kesuksesan pekerjaan, Zidni berbaik hati mengajak Chika dan Frans untuk makan malam bersama di sebuah restoran.
''Terima kasih Tuan untuk makan malamnya.'' Ucap Frans.
''Saya juga mengucapkan terima kasih, Tuan. Meskipun selama di Jepang, saya sangat kesulitan makan karena tidak ada yang cocok di perut saya.'' Ucap Chika dengan meringis.
''Hhhh apanya yang tidak cocok. Buktinya piringmu selalu bersih saat makan.'' Ucap Zidni.
''Itu karena sekretaris Frans yang memilihkan makanan untuk saya. Jadi ya pasti saya habiskan.'' Ucap Chika sambil melirik kearah Frans. Frans pun tersipu.
''Sepertinya disini aku hanya obat nyamuk saja. Jadi silahkan kalian nikmati makan bersama. Aku akan pergi.'' Kata Zidni seraya beranjak dari duduknya.
''Tuan jangan pergi!" cegah Frans.
''Bukankah aku hanya penganggu?''
''Sama sekali tidak. Biar saya saja yang pergi, Tuan.'' Ucap Frans seraya beranjak dari duduknya.
''Permisi.'' Pamit Frans berlalu begitu saja dengan langkah terburu. Zidni mengerutkan keningnya, merasa heran dengan sikap Frans.
''Apa aku menyakitinya?'' tanya Zidni sambil melempar pandangan pada Chika.
''Sepertinya tidak, Tuan. Sebaiknya anda duduk saja, mungkin sekretaris Frans memang sedang ada urusan.'' Jawab Chika. Zidni menurut dan entah kenapa ia senang Frans pergi. Zidni kembali melanjutkan makan malamnya bersama Chika.
''Selamat malam Zidni!" sapa Jasmine.
''Jasmine! Kamu masih disini?'' Zidni terkejut denhan kedatangan Jasmine.
''Iya aku masih disini. Selamat malam Nona Chika.''
''Selamat malam juga Nona Jasmine.'' Chika membalas sapaan Jasmine dengan ramah.
''Chika, sebaiknya kita pergi ke tempat lain.'' Sahut Zidni yang tidak ingin berlama-lama karena ada Jasmine.
''Jangan terburu-buru Zidni. Aku saja baru sampai. Oh ya, aku ingin tahu kapan pesta pertunangan kalian diadakan?'' tanya Jasmine. Pertanyaan Jasmine, sontak membuat Zidni dan Chika terkejut sampai terbatuk.
''Rupanya kalian berdua sangat kompak ya.'' Kata Jasmine sambil melihat kearah Chika dan Zidni secara bergantian.
''Zidni, apa Tante Kamila sudah tahu keputusanmu ini? Apa perlu aku yang memberitahukannya? Dan apa perlu aku bantu menyebarkan berita bahagia ini pada seluruh karyawanmu?'' sambung Jasmine.
''Jasmine, jangan ikut campur urusanku. Kalau kamu sampai berani ikut campur, aku tidak akan pernah mau menemuimu lagi dan aku pastikan kamu dalam daftar blacklist ku.'' Tegas Zidni dengan sorot mata tajamnya pada Jasmine.
''Kamu jangan salah paham, Zidni. Aku hanya membantumu menyebarkan berita bahagia ini. Tapi bukankah dia ini sudah bersuami dan memiliki anak. Apa kamu tidak takut di cap sebagai perebut istri orang?''
''Dia bukan milik siapa-siapa lagi. Sepertinya kamu salah infromasi.''
''Oh berarti dia ini janda? Zidni, kamu memilih seorang janda untuk mendampingi hidupmu?'' Jasmine seolah tidak percaya dengan ucapan Zidni.
''Iya, memang kenapa? Ada masalah?'' tantang Zidni.
''Bodoh kamu Zidni! Pasti Tante Kamila kecewa padamu.''
''Aku tidak peduli.'' Ketus Zidni.
''Pasti kamu janda gatal yang sengaja menggoda Zidni ya? Bisa-bisanya wanita rendahan sepertimu merebut hati seorang Zidni.'' Kata Jasmine sambil menunjuk wajah Chika.
''Jasmine! Jaga ucapanmu!" bentak Zidni. Zidni beranjak dari duduknya lalu menggandeng tangan Chika dan mengajak Chika pergi dari tempat itu. Jasmine mengeratkan rahangnya merasa kesal melihat kebersamaan Zidni dan Chika.
''Bagaimana mungkin Zidni menyukai seorang janda? Sungguh mustahil.'' Gumamnya dengan kesal.
Bersambung.... Maaf ya belum bisa up semua, author sedang tidak enak body, hehehe... Jangan lupa untuk tetap like, komen dan vote yang banyak ya, makasih 🙏❤️