Mr. Arrogant Vs Noisy Girl

Mr. Arrogant Vs Noisy Girl
BAB 67 Terapi Bercinta???



Zidni semakin memperdalam ciumannya sampai akhirnya ingatannya berhenti di mana saat dirinya dan Chika berdiri saling berhadapan. Dimana saat itu ia menggali informasi tentang siapa Chika. Lalu Chika memberikan bukti foto-foto pernikahan dan kebersamaan keduanya. Disaat itu mata Zidni langsung terbuka dan mengakhiri ciumannya. Kedua mata mereka saling bertemu. Pandangan Zidni menunduk melihat bibir Chika yang basah dan memerah akibat keganasannya. Ia kemudian mendekatkan keningnya pada kening Chika. Nafas keduanya masih saling memburu. Dada keduanya kembang kempis sampai membuat bahu keduanya naik turun. Terbelenggu oleh gairah yang tak tertahan.


''Aku ingat,'' lirih Zidni. ''Aku ingat saat terakhir kali kita berdiri berhadapan. Sebelum aku pingsan.'' Lanjut Zidni. Mendengar apa yang dikatakan Zidni, Chika kemudian memeluk Zidni dengan sangat erat. Mata Chika mulai basah, hingga akhirnya bulir air mata jatuh membasahi wajah cantiknya. Zidni membalas pelukan Chika dengan sangat erat pula.


''Terima kasih sudah mengingat meski hanya sampai disitu saja.'' Ucap Chika.


''Jadi benar kamu adalah seseorang itu? Seseorang yang aku cari selama ini? Dan kamu memiliki pasangan cincin itu?''


''Iya. Aku lah orangnya.''


''Tapi maaf karena aku belum mengingat semua masa lalu kita.''


''Tidak apa-apa. Aku tidak akan memaksamu.''


''Bantu aku mengingat kembali.''


''Iya. Aku pasti membantumu.'' Chika dan Zidni kemudian saling melepaskan pelukan.


''Apa Kenzie benar anakku?''


''Memang menurutmu anak siapa? Kamu yang pertama dan satu-satunya.'' Ucap Chika dengan bibir mengerucut.


''Jadi aku boleh meminta ciuman tanpa meminta ijin kan?'' Zidni tersenyum nakal.


''Iya hanya untuk terapi. Kalau kamu sudah ingat tentang hubungan kita, baru kita boleh melakukan apapun.''


''Tapi katamu kita ini suami istri.''


''Iya tapi pernikahan kita hanya sah di depan agama saja.''


''Chika, sepertinya aku mulai jatuh cinta padamu. Jatuh cinta sebagai seorang atasan dan bawahan. Bukan sebagai seseorang di masa laluku. Mungkin jika ingatanku kembali pulih, aku bisa jatuh cinta berkali-kali lipat padamu.'' Zidni akhirnya mengakui perasaannya pada Chika. Zidni tidak mau terlambat untuk mengakui semuanya. Belum lagi jika mengingat Romi dan Joan, dua orang yang Zidni anggap adalah pesaingnya.


''Jadi Tuan jatuh cinta padaku? Sejak kapan?'' Chika berusaha menggoda.


''Aku tidak tahu kapan itu. Yang jelas saat pertama kali kita tidak sengaja berciuman, disitulah perasaan semakin tidak karuan. Apalagi saat itu melihatmu dekat dengan Frans. Aku tidak suka melihatnya.''


''Ternyata seseorang yang menurut anda menyebalkan telah membuat anda jatuh cinta, begitu?''


''Iya. Kamu berhasil membuatku jatuh cinta dengan semua keberanianmu dan suaramu yang memekakkan telingaku.'' Ucap Zidni tersenyum kecil. Chika kemudian turun dari pangkuan Zidni. Namun Zidni mencegahnya dengan merengkuh pinggang Chika.


''Kamu pasti ingin menggodaku dengan pakaian ini kan? Kenapa ingin kembali ke kamar? Kenapa tidak menuntaskan untuk menggodaku?''


''Sepertinya kemesuman suamiku sudah mulai bangkit. Naluri mesum mu rupanya tidak bisa hilang begitu.''


''Salah siapa mengaku istriku.'' Kekeh Zidni.


''Akhirnya disaat aku merasa putus asa, Tuhan langsung menjawab doaku.'' Gumam Chika dalam hati.


''Katakan padaku apa yang harus di lakukan seorang suami pada istrinya jika berduaan di dalam kamar seperti ini?''


''Aku harus membersihkan pecahan kaca itu dulu. Kamu juga harus istirahat karena tanganmu sudah terluka.'' Ucap Chika sambil mengarahkan pandangannya pada lantai dan tangan Zidni.


''Rasa sakit di tangan ini tidak seberapa jika dibanding dengan rasa sakit yang aku alami. Dipermainkan oleh takdir. Jika suatu saat nanti aku pingsan dan melupakanmu, jangan pernah pergi. Tetaplah disampingku dan bantu aku mengingat semua tentang kita.''


''Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Meskipun aku sempat ingin menyerah karena aku tidak mau membuatmu merasa kesakitan seperti ini lagi.''


''Aku memang belum ingat semuanya tapi yang aku tahu, saat ini aku jatuh cinta padamu. Aku selama ini berusaha menuruti kata hatiku. Dan kata hatiku membawaku masuk dalam cintamu.''


''Aku akan membersihkan lantainya dulu. Nanti kita lanjutkan lagi mengobrol. Karena pecahan kaca ini bisa membuatmu terluka.''


''Kita biarkan saja pecahkan ini. Kita bisa mengobrol di kamar yang lain.''


''Maksdumu?'' jantung Chika berdebar. Zidni tidak menjawab. Ia kemudian mengangkat tubuh Chika, menggendongnya dan membawanya ke kamar kosong yang lain. Malam ini sepertinya Chika berhasil menggodanya.


''Zidni, apa yang ingin kamu lakukan?''


''Sudah, diam saja. Kamu yang menggodaku jadi kamu yang harus bertanggung jawab.'' Ucapnya dengan tatapan penuh arti.


''Aku juga merindukan ini. Merindukan bercumbu dan di cumbu olehmu.'' Bisik Chika dalam hati. Begitu sampai di kamar lain, Zidni langsung membawa Chika keatas ranjang. Tak lupa ia mengunci pintu.


''Kenapa di kunci?''


''Nanti ada yang masuk.''


''Bukankah kita hanya akan mengobrol?''


''Kamu malam ini berhasil menggodaku. Salah siapa memakai pakaian seksi seperti itu.'' Zidni mendekati Chika yang sedang duduk diatas tempat tidur. Zidni menyingkirkan beberapa helai rambut di wajah cantik Chika.


''Kenapa dari awal tidak jujur?''


''Jujur kalau kamu adalah istriku. Kenapa harus pura-pura menyamar?''


''Memangnya saat aku mengaku, apa kamu akan langsung percaya? Yang ada kamu akan memaki ku atau mungkin menjebloskan aku ke penjara. Mengingat kamu sedang dalam mode angkuh dan galak seperti dulu.'' Chika mengerucutkan bibirnya. Kesal jika mengingat perlakukan Zidni yang kasar padanya. Zidni yang gemas, justru mengecup sekilas bibir di hadapannya itu. Membuat Chika tersentak kembali. Membangkitkan desiran gairah.


''Apa yang kamu katakan benar juga. Aku pasti akan langsung mengirimu ke penjara. Meskipun saat itu aku juga sedang mencari seseorang. Bertahun-tahun aku mencari siapa orang itu sampai akhirnya kamu datang dan mengejutkan ku dengan semua tingkahmu yang menyebalkan.'' Zidni tersenyum mengingat kembali awal pertemuannya dengan Chika.


''Sepertinya sudah cukup mengobrol. Aku harus kembali, nanti Kenzie terbangun.''


''Disinilah sebentar. Aku ingin kita menghabiskan malam ini berdua.''


''Maaf tapi aku tidak bisa, Zidni.''


''Kenapa tidak bisa?''


''Masa iya baru jatuh cinta kamu langsung ingin mengajakku bercinta?''


''Tapi katamu, kita ini suami istri.''


''Tapi kamu belum mengingat. Jadi jangan dulu melakukan itu.''


''Kamu bilang ingin membantuku mengingat. Siapa tahu dengan kita bercinta, ingatanku akan seutuhnya pulih.''


Chika menghela. ''Dari terapi ciuman, langsung mengajak ke tempat tidur? Pintar sekali ya kamu.''


''Salah siapa menggodaku dengan pakaian ini. Aku bahkan lupa bagaimana rasanya memeluk dan menyentuh setiap inchi tubuhmu.'' Ucap Zidni sambil mengggam tangan Chika.


''Kamu ingat-ingat dulu rasanya. Nanti baru aku mau.''


''Katanya kamu tidak mau memaksaku untuk mengingat dan ingin membantuku. Siapa tahu dengan kita bercinta bisa membutku ingat semua kenangn tentang kita. Dari awal kita bertemu sampai akhirnya kita menikah.''


''Nanti ya sayang, aku harus kembali ke kamar menemani Kenzie.'' Ucap Chika sambil membelai wajah suaminya.


''Tapi aku ingin sekarang, supaya aku segera ingat. Dengan ciuman, ingatanku yang baru tentangmu bisa pulih. Kalau kita melakukan lebih pasti semua ingatanku akan pulih.''


''Ah sudahlah, kamu jangan modus. Aku ke kamar dulu ya.'' Ucap Chika seraya beranjak. Namun tiba-tiba Zidni menyergapnya, menjatuhkan tubuh Chika diatas tempat tidur. Zidni menggenggam kedua tangan Chika dan mengangkatnya keatas. Tubuh mungil itu ia tindih.


''Malam ini, mari kita bersama. Kamu bilang aku begitu perkasa diatas ranjang. Apa kamu tidak merindukan semua itu?''


''Aku amat sangat merindukan sentuhanmu tapi jangan sekarang.''


''Kenapa Chika? Apa Romi dan Joan mengganggu pikiranmu?'' Zidni mulai kesal. Chika terkekeh mendenga ucapn Zidni.


''Bukan itu. Tapi aku sedang menstruasi.''


''Apa? Menstruasi?''


''Iya. Itu alasannya.''


''Lalu sampai kapan aku menunggu? Kamu juga ingin ingatanku pulih kan?''


''Iya aku ingin kamu mengingat semuanya. Tapai paling lama dua minggu.''


Zidni mendengus kesal. ''Selama itu?''


''Iya. Sekarang, lepaskan aku.''


''Sial! Baiklah berikan aku ciuman sebelum tidur.'' Ketusnya.


''Lepaskan dulu tanganku.'' Pinta Chika. Zidni akhirnya melepaskan tangannya dan bangkit dari atas tubuh Chika. Bibir Zidni mengerucut. Hasratnya tidak tersalurkan. Chika kemudian mengangkup wajah Zidni dan memberikan kecupan di bibir suaminya. CUP.


''Aku ingin yang lama seperti tadi Chika. Sejak kecelakaan itu, aku tidak pernah bersentuhan lebih dengan seorang wanita karena ada seseorang di sudut hatiku yang menunggu ku kembali. Dan orang itu adalah kamu.'' Ucap Zidni dengan tatapan sendunya. Chika mengerti bahwa Zidni juga tersiksa.


''Sekarang giliranmu untuk memberikanku ciuman.'' Ucap Chika malu-malu. Tanpa basa basi lagi, Zidni langsung me..lu..mat habis bibir Chika. Ciuman semakin panas. Lidah keduanya saling membelit. Sesekali Zidni menghisap bibir Chika dan memberinya gigitan kecil. Membuat Chika mende...sah dalam diamnya. Zidni mengangkat tubuh Chika menaikkan ketas pangkuannya dan menghadapkan tubuh Chika kearahnya. Chika tanpa aba-aba melingkarkan kedua kakinya pada pinggang Zidni. Ciuman Zidni kemudian turun ke leher Chika. Aroma vanilla yang sangat di gilai oleh Zidni. Aroma yang tidak asing untuknya.


''Aahhhh.... mmmhhhh....'' de..sah Chika merasakan nikmat lehernya di hujani ciuman. Chika mendongak, memberikan Zidni kuasa untuk menjamah setiap inchi lehernya. Ciuman semakin turun hingga ke area dada. Sesuatu yang dalam ingatan Zidni tidak pernah ia jamah.


''Mama!" suara kecil itu mengejutkan keduanya. Nafas yang masih memburu dengan dada yang kembang kempis, terpaksa menyudahi aksi panas keduanya.


''Mama, Papa, kalian dimana?'' Kenzie kebingungan mencari kedua orang tuanya. Kenzie membuka kamar Zidni namun kamar kosong dan melihat pecahan kaca di lantai.


''Zidni, Kenzie terbangun.'' Ucap Chika dengan senyum kecilnya.


''Iya kita harus keluar.'' Ucap Zidni terkekeh. Namun ia mencium lagi bibir merah itu dengan gemas. Ia kemudian menurunkan Chika dari pangkuannya.


''Ohh sekarang aku bisa merasakan, bahwa wanitaku sangat seksi dan erotis. Sepertinya sebentar lagi aku dibuat gila olehnya.'' Gumam Zidni dalam hati saat melihat Chika merapikan baju tidurnya dan rambutnya.