Mr. Arrogant Vs Noisy Girl

Mr. Arrogant Vs Noisy Girl
BAB 48 Bibir Lembut



Keduanya terdiam. Dan tiba-tiba turunlah salju.


''Hah? Salju? Ini benar salju? Aku bisa menyentuhnya.'' Kata Chika dengan begitu antusiasnya.


''Dasar norak!" sahut Zidni.


''Memang aku norak. Ini pertama kalinya aku melihat dan bisa menyentuh salju.'' Ucap Chika. Chika beranjak dari duduknya ia merentangkan kedua tangannya dan berputar menikmati bulir salju yang turun dari langit. Zidni menarik sudut bibirnya melihat tingkah Chika yang menurutnya menggemaskan.


''Sebaiknya kita kembali ke hotel. Karena salju semakin lebat.'' Kata Zidni.


''Sebentar Tuan. Ijinkan aku untuk menikmatinya sebentar saja. Kenzie pasti sangat senang bisa melihat salju seperti ini. Nanti kalau aku ada tabungan ingin mengajaknya kesini.'' Ucap Chika dengan senyum lebarnya sambil terus berputar dan menari tanpa memperhatikan sekeliling. Zidni kali ini mengalah membiarkan Chika menari dan berputar sesuka hati. Namun tiba-tiba gerombolan orang yang melintasinya, tidak sengaja menabraknya. Membuat Chika hilang keseimbangan dan hampir terjatuh. Tapi Zidni dengan sigap menangkapnya. Namun kali ini Zidni juga kehilangan keseimbangan karena ia juga tersenggol oleh gerombolan orang yang lewat. Keduanya pun kompak terjatuh ke tanah. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, kedua bibir mereka saling bersentuhan. Zidni merasakan betul bibir Chika yang lembut namun terasa dingin itu. Karena memang sedang turun salju. Sementara Chika, sungguh merindukan ciuman itu. Perasaan Zidni semakin tidak karuan. Dan munculah sebuah ingatan kilas balik tentang pertama kalinya ia pergi ke Indonesia bersama pamannya. Ingatan itu tampak jelas. Kemudian muncul kembali ingatan disaat ia pertama kali bekerja di perusahaan pamannya. Anehnya, Zidni tidak merasakan sakit saat ingatan itu muncul di kepalanya.


''Aneh, ini aneh! Ingatan ini sama sekali belum pernah muncul secara jelas. Ini jelas sekali. Ini benar saat pertama kali aku ke Indonesia.'' Gumamnya dalam hati dengan bibir masih menempel dengan bibir Chika. Chika segera bangkit. Ia harus menggunakan logikanya dan menahan perasaannya.


''Maaf Tuan.'' Ucap Chika dengan gugup. Chika mengulurkan tangannya untuk membantu Zidni bangun. Zidni hanya terdiam dan menerima uluran tangan Chika.


''Makanya jangan norak,'' ketus Zidni. Padahal Zidni sedang berusaha menutupi perasaannya.


''Sebaiknya kita kembali ke hotel.'' Sambungnya.


''Iya Tuan. Sekali lagi maaf.''


''Kamu sengaja mengambil kesempatan dalam kesempitan?''


''Sama sekali tidak Tuan. Namanya juga kecelakaan tidak terduga. Saya juga tidak merasakan apapun.'' Ucap Chika.


''Baguslah! Aku juga tidak merasakan apapun. Bahkan aku harus segera gosok gigi dan mensterilkan bibirku.'' Ucapnya seraya berlalu.


''Awas saja kalau nanti ingatan mu pulih dan meminta ciumanku,'' gumam Chika dalam hati dengan senyum penuh arti.


Selama perjalanan di dalam mobil, suasana menjadi hening.


Hening


Hening


Hening


Hingga akhirnya keduanya sampai di hotel dan menuju kamar masing-masing.


''Terima kasih Tuan dan sekali lagi maaf untuk tadi.''


''Iya-iya sudah sana.'' Ucap Zidni. Zidni kemudian masuk ke dalam kamarnya begitu pula dengan Chika.


Begitu sampai di kamar, Zidni segera mengambil agendanya. Menuliskan apa yang ia ingat tadi.


''Sungguh, baru kali ini puzzle ingatanku terlihat jelas. Bahkan sangat jelas. Aku ingat sekali saat itu aku ke Indonesia bersama Paman dan tinggal disana. Sepertinya setelah Papa meninggal.'' Gumamnya sembari menulis jurnal ingatannya. Zidni juga menuliskan nama Chika disana. Entah kenapa ia takut jika dirinya tidak mengenali Chika lagi.


''Tapi sentuhan bibir itu? Memang sentuhan bibir itu bisa menghilangkan sakit kepalaku saat puzzle ingatanku melintas? Apa iya aku harus mencium bibir Chika lagi? Eh-eh, apa maksud otak kotormu Zidni? Bukankah kamu ingin gosok gigi dan mensterilkan bibirmu.'' Gumam Zidni yang berdialog dengan dirinya sendiri. Setelah menuliskan jurnal ingatannya, Zidni menyentuh bibirnya. Dan terbayanglah bibir Chika yang lembut itu.


''Arrghhh! Sadar Zidni!" Zidni lalu mencuci muka, menggosok gigi dan membersihkan bibirnya.


Sementara Chika malam itu merasa sangat bahagia, bisa meluangkan waktu bersama suaminya. Chika segera ganti baju dan setelah itu ia menelepon Frans.


''Halo sekretaris Frans? Anda dimana?''


''Aku dikamar Nona. Bagaimana malam ini?''


''Rencana anda sangat hebat. Terima kasih ya sudah mendekatkan kami. Bagaimana kalau kita minum teh bersama sambil mengobrol?''


''Baiklah Nona. Mau minum teh dimana?''


''Bagaimana kalau diteras balkon kamarku?''


''Apa tidak apa-apa Nona?''


''Tidak apa-apa. Kita kan teman.''


''Oke sekretaris Frans.''


Kini Chika dan Frans sedang menikmati teh diteras balkon kamar Chika.


''Aku bahagia sekali malam ini. Tadi dia menceritakan semuanya padaku. Menceritakan bahwa dia sedang mencari seseorang yang lebih penting dari Nona Amora. Dia juga menceritakan betapa kepalanya begitu sakit saat puzzle ingatan itu melintas di kepalanya. Dia juga sangat menderita ternyata.''


''Sejak sadar dari koma, Tuan kembali menjadi orang yang dingin, angkuh, pemarah dan tidak berperasaan. Semua ini karena ingatannya di kuasai oleh memori kisah cinta yang tragis, Nona.''


''Iya sekretraris Frans, aku juga tahu itu. Cintanya dengan Nona Amora tidak direstui. Sampai dia ingin bunuh diri namun justru Nona Amora yang menjadi korban kecelakaan itu. Dia terpuruk, menyalahan diri sendiri dan membenci Papanya. Dia bahkan pernah mencoba bunuh diri, sampai menghukum dirinya sendiri dan membuatnya terkena infeksi lambung. Dia tidak mau makan sama sekali.''


''Nona tahu semuanya?''


''Iya, aku tahu semuanya. Saat mengetahui kisah tragisnya itulah, aku selalu berusaha mengganggunya. Menjadi gadis yang super berisik dan menyebalkan. Sampai akhirnya sikap menyebalkan dan berisikki benar-benar melekat dalam ingatannya. Dan justru berbalik menbuatnya jatuh cinta padaku.''


''Apakah Nona yang jatuh cinta duluan pada Tuan?''


''Sepertinya dia dulu yang jatuh cinta padaku sekretaris Frans. Karena dulu sebelum aku jatuh cinta padanya, aku menyukai rekan kerjaku. Tapi ternyata aku menyukai orang yang salah. Dan saat aku broken heart, gantian dia yang menghiburku. Disanalah perasaan itu mulai tumbuh. Aku mulai merasakan kehangatan dalam dirinya yang dingin, kasar, angkuh dan menyebalkan itu.''


''Ternyata hubungan anda dan Tuan sedekat itu ya. Pantas saja naluri Tuan terus bergerak untuk ke Indonesia. Tapi maaf Nona, sebelumnya aku buruk sangka pada Tuan.''


''Buruk sangka? Buruk sangka bagaimana?''


''Aku menganggap Tuan akan menyingkirkan Nona karena menganggap Nona itu karyawan yang paling menyebalkan. Makanya Tuan sengaja mengajak anda ke Jepang untuk menyusun rencana kriminalnya.'' Cerita Frans. Mendengar cerita Frans, Chika pun tertawa terbahak-bahak.


BHHUUAAHAHAHAHA


"Astaga sekretaris Frans, pikiran anda terlalu jauh. Tidak mungkin dia melakukan itu.''


''Hehehe iya Nona tapi aku takut kalau Tuan melibatkan aku.'' Kata Frans dengan polosnya. Chika hanya bisa tertawa mendengar cerita Frans.


Zidni yang hendak istirahat, mendengar suara berisik yang tidak asing di telinganya.


''Si wanita berisik itu? Kenapa suaranya terdengar dekat sekali? Sedari tadi aku mencoba memejamkan mata tidak bisa. Eh ini malah berisik sekali,'' gumam Zidni. Zidni beranjak dari tempat tidurnya dan membuka pintu balkon. Ia terkejut melihat Chika dan Frans berdua di balkon.


''Kalian berisik sekali!" seru Zidni.


''Tu-tuan! Maaf Tuan, kalau menganggu anda.'' Kata Frans dengan tergagap karena ia benar-benar terkejut.


''Hai Tuan. Belum tidur ya?'' sahut Chika.


''Frans, kamu sedang apa disana? Kembali ke kamarmu. Tidak baik seorang pria bertamu ke kamar wanita. Apalagi wanita itu sudah bersuami.''


''Tuan belum tahu ya? Nona Chika ini single parent Tuan. Baru saja Nona Chika cerita. Jadi tidak akan ada yang marah.'' Kata Frans.


''Saya mencoba mengikuti saran anda Tuan supaya segera menikah lagi dan melupakan suami saya yang menghilang bertahun-tahun itu.'' Ucap Chika dengan senyum lebarnya.


''Apa? Kamu mau menikah? Berarti kamu bukan istri setia.'' Kesal Zidni.


''Lho, Tuan sendiri kan yang memberikan saran seperti tadi. Jadi ya sudah, saya harus move on.''


''Argghhh lupakan saranku tadi! FRANS, kembali ke kamarmu. Jaga reputasi perusahaan. Masih banyak gadis di luar sana. Kalau kamu tidak kembali ke kamarmu, aku potong gajimu atau aku kirim kamu ke Zimbabwe." Marah Zidni.


''I-iya Tuan. Saya kembali ke kamar.'' Frans dengan langkah terburu meninggalkan kamar Chika. Tentu saja Frans takut karena kemarahan Tuannya itu memang pada tempatnya. Sementara Chika hanya bisa tertawa cekikikan mendengar ocehan kemarahan Zidni.


''Apanya yang lucu?'' ketus Zidni.


''Tuan yang lucu. Kenapa Tuan belum tidur? Masih memikirkan yang tadi ya?'' goda Chika sambil mengetuk bibirnya dengan jari telunjuknya. Zidni dibuat tak berkutik dengan ucapan Chika yang menyudutkannya.


''Selamat malam Mr. Arrogant!" ucap Chika sambil melambaikan tangannya.


''Dasar noisy girl! Jangan ge-er ya. Aku tadi sudah tidur tapi suaramu yang seperti kaleng rombeng membangunkanku.'' Ucap Zidni dengam suara meninggi. Namun Chika tak peduli dan segera menutup pintu balkonnya.


''Dasar menyebalkan! Tapi kenapa aku marah-marah ya? Seharusnya terserah Frans dong? Tapi di perusahaan sudah ada aturan kalau tidak boleh pacaran. Ah iya, aku hanya menegakkan kedisipilnan saja.'' Gumamnya sembari menutup pintu balkon kembali.