
''Zidni!" suara seseorang begitu mengagetkannya.
''JASMINE!"
''Zidni, i miss you.'' Ucap Jasmine seraya mendekat untuk memeluk Zidni.
''Jangan mendekat!" ucap Zidni dengan tegas. Membuat langkah Jasmine terhenti.
''Siapa yang menyuruhmu kemari?''
''Tidak ada. Aku hanya ingin bertemu denganmu saja.''
''Jasmine, tolong jangan ganggu aku. Dan jangan dengarkan ucapan Mama yang ingin menjodohkan kita. Sampai mati pun, aku tidak mau menikah denganmu.''
''Zidni, ucapanmu menyakitkan sekali.'' Kata Jasmine yang berusaha menahan rasa sakit hatinya.
''Begitulah diriku, Jasmine. Dari awal aku sudah menolakmu jadi jangan salahkan jika aku bersikap kasar. Sebaiknya kamu kembali saja dan jangan pernah mengangguku.''
''Zidni, sampai kapan kamu mau begini terus hah? Aku sudah berusaha menghiburmu tapi kamu masih sama.''
''Aku tidak butuh di hibur Jasmine. Jadi sebaiknya kamu pergi sebelum aku panggil security.'' Ucap Zidni dengan suara meninggi. Jasmine menghentakkan kakinya dengan kesal, lalu pergi meninggalkan ruangan Zidni begitu saja.
Sejak Zidni sadar dari kecelakaan, Nyonya Kamila berusaha mencarikan seorang gadis untuk Zidni. Berharap Zidni membuka hatinya dan berubah. Jasmine sendiri langsung jatuh cinta saat pertama kali bertemu Zidni namun tidak bagi Zindi. Pintu hatinya masih tertutup rapat.
Zidni kemudian melanjutkan lagi pekerjaannya. Dan hari itu ia memutuskan untuk lembur, sebelum besok ia terbang ke Shanghai. Berziarah ke makam Amora, sekaligus mengontrol perusahaan yang ada disana.
-
''Mama pulang cepat lagi?'' tanya Kenzie saat melihat Mamanya baru masuk ke dalam rumah.
''Iya sayang. Kamu sudah makan?''
''Sudah Mama. Tadi makan sama nenek.''
''Sini peluk Mama, sayang.'' Kata Chika. Mereka berdua kemudian saling berpelukan.
Malam harinya, Chika makan malam bersama keluarganya.
''Ayah-Ibu, aku sudah mendaftarkan Kenzie sekolah. Dan aku sudah memutuskan untuk kembali kerja kantoran.''
Tuan Arman dan Nyonya Linda sangat senang mendengar keinginan Chika untuk kembali bekerja di kantor.
''Ayah senang sekali mendengarnya Chika. Sayang sekali ijazah sarjanamu kalau kamu abaikan begitu saja. Kamu mendapatkannya pun harus bersusah payah.''
''Apa yang dikatakan Ayahmu benar, Chika. Kalau Kenzie sekolah, biar Ibu yang menjemputnya.''
''Tidak usah Bu, Kenzie pulangnya juga siang jadi aku masih bisa menjemputnya.''
''Mama, Kenzie besok sekolah?''
''Iya sayang. Kamu mau ya sekolah?''
''Mau Mah. Kenzie senang bisa punya banyak teman.''
''Iya, nanti Kenzie punya banyak teman di sekolah. Kenzie bisa bermain sambil belajar bersama ibu guru dan teman-teman.''
''Yeay, Kenzie senang sekali, Mah.'' Ucap Kenzie dengan penuh semangat. Tawa ceria Kenzie adalah semangat untuk Chika.
Selesai makan malam, Chika menidurkan Kenzie terlebih dahulu karena Kenzie sudah mulai merasa mengantuk. Setelah memastikan Kenzie terlelap, Chika lalu mencoba mencari lowongan pekerjaan di lewat online. Dan seperti angin segar, perusahaan Zidni sedang membuka lowongan online bagian marketing.
...****************...
Zidni kini sudah sampai di Shanghai. Begitu sampai disana, Zidni langsung menuju ke pemakaman Amora. Zidni menyempatkan berdoa sejenak sebelum ia meletakkan bunga krisan diatas pusara Amora.
''Amora, empat tahun sudah kamu pergi meninggalkan aku. Seharusnya sekarang kita bisa bahagia bersama. Seandainya kamu saat itu tidak menyelamatkan aku, semua itu tidak akan terjadi. Seharusnya aku juga tidak melakukan hal bodoh seperti itu. Maafkan aku Amora, maafkan aku.''
Setelah pergi ke pemakaman Amora, Zidni pergi mengunjungi Nyonya Kamila, Mamanya.
''Zidni, kamu benar-benar datang kemari?'' Nyonya Kamila terkejut dengan kedatangan putranya.
''Iya Mah. Bagaimana kabar Mama?'' Zidni memberikan pelukan untuk Mamanya.
''Seperti yang kamu lihat. Bagaimana Jasmine? Kamu tega sekali membiarkannya sendiri disana.''
''Dia sudah dewasa Mah. Lagi pula aku sudah berkali-kali mengatakan pada Mama untuk tidak ikut campur urusanku. Aku benci di jodoh-jodohkan. Aku hanya akan hidup dengan orang yang aku cintai.''
''Tapi Amora juga sudah meninggal Zidni. Dia sudah tenang disana. Dia juga pasti ingin melihat kamu bahagia.''
''Sebaiknya Mama minta Jasmine berhenti mendekati aku. Karena aku sendiri sudah bilang padanya kalau aku tidak menyukainya sama sekali. Aku mau istirahat dulu sebentar dan nanti malam aku langsung terbang ke Indo.''
''Kamu baru sampai masa iya mau pergi lagi Zidni.''
''Aku lebih tenang disana Mah daripada disini. Kalau bukan karena Amora, aku juga tidak akan datang kemari.'' Zidni kemudian berlalu menuju kamarnya. Nyonya Kamila hanya bisa menghela dengan sikap keras kepala putranya.
Di dalam kamar, Zidni mencoba mencari sesuatu tentang masa lalunya. Pertama yang ia cari adalah riwayat kuliahnya selama di Amerika. Ia juga membuka almari dan laci, berharap menemukan sebuah petunjuk. Saat membuka laci almari, Zidni menemukan sebuah cincin.
''Cincin? Apa ini milikku? Apa saat itu aku dan Amora sudah bertunangan?'' gumam Zidni. Zidni kemudian kembali menemui Mamanya dengan membawa cincin itu.
''Mama! Mah,'' teriak Zidni memanggil Mamanya.
''Ada apa Zidni? Kenapa kamu teriak-teriak?'' kata Nyonya Kamila yang sedang menyiapkan makan siang.
''Mah, ini cincin apa?''
''Itu cincin milikmu, Zidni. Cincin itu sengaja Mama simpan di lacimu. Mama pikir itu cincinmu dengan Amora.''
''Tapi aku merasa belum pernah bertunangan dengan Amora, Mah. Aku hanya melamarnya secara pribadi saja dan belum sempat bertukar cincin. Itu seingatku, Mah.''
''Cincin itu ada setelah kamu kembali dari Amerika. Mama pikir kamu merindukan Amora dan memakai cincin itu.''
''Lalu ponsel disaat aku kecelakaan bagaimana Mah?''
''Mama sudah bilang kan kalau ponselmu hancur dan terbakar bersama mobil yang kamu tumpangi saat itu, Zidni. Mama tidak menemukan apapun. Yang Mama tahu setelah kamu kembali dari Amerika wajah kamu berseri seperti orang sedang jatuh cinta. Tapi Mama tidak berani bertanya padamu dan Mama pikir itu semua karena kamu sudah mengikhlaskan Amora. Kamu sendiri tahu kalau Mama ini gaptek jadi tidak tahu apapun. Cuma bisa pakai ponsel saja. Memangnya ada sesuatu yang kamu ingat?''
''Mah, sepertinya aku melewatkan sesuatu empat tahun lalu. Kenapa aku tidak ingat sama sekali Mah? Perasaan itulah yang akhirnya membuat aku membuka kantor cabang disana dan lebih memilih tinggal disana.''
''Zidni, Mama senang sekali akhirnya kamu mau bicara dengan Mama seperti ini. Selama ini kamu selalu tertutup apalagi setelah kamu sadar dari koma dan ingatan kamu kembali ke masa lalu. Apa yang Mama bisa bantu untuk menemukan potongan masa lalu yang hilang nak? Apakah ada wanita yang kamu cintai selama di Indonesia?'' ucap Nyonya Kamila seraya membelai wajah putranya.
''Aku tidak tahu, Mah. Yang jelas aku ingin menetap disana. Kalau Mama ingin aku bahagia, tolong hentikan Jasmine. Aku tidak mau bersamanya. Aku akan mencari sesuatu yang hilang dalam ingatanku.''
''Iya Nak, Mama akan mengurus semuanya. Sebaiknya kamu pakai saja cincin itu atau kamu bawa. Siapa tahu ada yang mengenali cincin itu disana? Mama akan membantu kamu dan Mama tidak akan mengulang kesalahan yang sama seperti yang Papa kamu lakukan. Mama tidak mau kehilangan kamu, Zidni. Semua yang Mama lakukan hanya semata-semata ingin membuatmu bahagia. Mama sedih melihat kamu murung seperti itu. Mama pikir kehadiran Jasmine bisa membuat kamu bahagia. Maafkan Mama ya.''
''Maafkan Zidni juga Mah.'' Ibu dan anak itupun saling berpelukan.
''Sepertinya cincin ini akan memberikanku petunjuk.'' Gumam Zidni dalam hati.
Bersambung ...