Mr. Arrogant Vs Noisy Girl

Mr. Arrogant Vs Noisy Girl
BAB 84 Semua Merestui



"Zidni! Apa yang terjadi padamu, sayang." Nyonya Kamila langsung menghambur memeluk putranya yang masih terbaring lemah diatas ranjang pesakitan. Nyonya Kamila terisak.


"Nyonya, tenanglah." Ucap Frans yang berusaha menenangkan.


"Frans, apa yang terjadi dengannya? Kenapa bisa seperti ini?" tanya Nyonya Kamila yang tidak tega melihat kondisi putranya.


"Setiap kali Tuan memaksa ingatanya, selalu berakhir seperti ini, Nyonya." Ucap Frans. Chika masih berdiri disana bersama dengan Kenzie. Untuk pertama kalinya ia melihat Ibu dari Zidni. Ada rasa takut dan cemas di dalam hatinya.


"Kita bawa dia ke Shanghai saja atau kalau perlu kita bawa ke Jerman. Kita berikan dia perawatan terbaik."


"Iya Nyonya tapi ada yang ingin saya kenalkan pada anda." Ucap Frans seraya mengarahkan pandangannya pada Chika. Nyonya Kamila mengikuti pandangan Frans yang tertuju pada Chika.


"Siapa dia Frans?"


"Ini adalah Nona Chika. Wanita yang selama ini Tuan muda cari." Ucap Frans. Nyonya Kamila menatap Chika dari ujung kaki sampai ujung kepala. Sederhana dan cantik. Persis seperti Amora.


"Tante, perkenalkan saya Chika." Chika mengulurkan tangannya pada Nyonya Kamila. Nyonya Kamila menyambutnya namun dengan tatapan penuh keraguan.


"Kamu tidak bermaksud menipu putraku kan? Melihat penampilanmu tentu saja kamu pasti dari golongan orang biasa."


DEG! Apa yang di khawatirkan oleh Chika terjadi sudah.


"Tidak Tante. Kami bahkan sudah menikah dan ada anak di antara kami." Ucap Chika sambil mengarahkan pandangannya pada Kenzie. Nyonya Kamila lalu melihat kearah bocah kecil yang menggemaskan itu. Ya, wajahnya sangat mirip dengan Zidni. Nyonya Kamila lalu merendahkan tubuhnya supaya sejajar dengan tinggi Kenzie.


"Kamu sangat mirip dengan putraku." Ucap Nyonya Kamila sambil membelai kepala Kenzie.


"Nyonya, Nona Chika benar istri sah Tuan Zidni dan Tuan kecil Kenzie juga putra kandung Tuan Zidni. Tuan Zidni bahkan sudah melakukan tes DNA dan hasilnya cocok 100%. Justru Nona Chika yang selama ini menderita. Berjuang sendiri tanpa adanya Tuan Zidni yang mendampingi. Panjang sekali Nyonya ceritanya." Jelas Frans. Chika tak kuasa menahan air matanya setiap kali mengingat hari-hari terberat dalam hidupnya. Nyonya Kamila langsung memeluk Kenzie.


"Cucuku. Kamu sungguh cucuku?"


"Apa anda Mama dari Papaku?"


"Iya sayang. Panggil aku Oma ya?"


"Iya Oma. Namaku Kenzie Liam Putra Ganindra. Nama Oma siapa?" tanya Kenzie dengan begitu gemasnya.


"Nama Oma adalah Kamila. Panggil saja Oma Kamila."


"Baik Oma Kamila. Aku senang sekali ternyata mempunyai dua nenek. Lalu dimana Opa? Kenapa dia tidak ikut, Oma?"


"Opa sudah tenang diatas sana, sayang. Tuhan lebih sayang sama Opa."


"Oh berarti Opa sudah meninggal ya Oma?"


"Iya. Opa sudah meninggal."


"Oma jangan sedih ya. Disini masih ada aku yang akan menghibur Oma. Walaupun aku juga sedih karena belum sempat bertemu Opa."


"Nanti kalau Papa sembuh, kita ziarah ke makam Opa ya?"


"Iya Oma."


Dan kini Chika dan Nyonya Kamila tengah duduk berdua di taman rumah sakit. Chika sengaja memberikan jurnal ingatan milik Zidni.


"Tante..."


"Panggil aku Mama juga, Chika."


"I-iya Mama."


"Sekarang ceritakan bagaimana awal pertemuan kalian?"


"Mah, jurnal itu sudah menceritakan semua cerita cinta indah kami. Saat aku kembali bertemu dengan Zidni, aku sangat terkejut karena dia sama sekali tidak mengenali ku. Aku pikir dia sengaja melupakan aku dan sengaja mencampakkan aku, Mah. Tapi setelah mengetahui fakta yang sebenarnya, aku sangat terkejut kalau dia juga sama menderitanya. Mah, maafkan aku dan Zidni yang tidak sempat meminta restu Mama. Ta[i saat itu Zidni ingin secepatnya menikahi aku karena perusahaan sedang dalam kondisi tidak baik. Apa Zidni tidak pernah cerita apapun pada Mama tentang aku?"


"Chika, dia amat sangat tertutup. Mama bahkan tidak berani bertanya kepadanya. Kamu juga tahu kalau dia mempunya kenangan yang buruk. Bahkan saat bersama Amora pun dia tidak pernah cerita. Mama juga merasa sedih karena putra Mama sendiri tidak mempercayai Mama. Tapi mau bagaimana lagi, Mama sangat takut kehilangan Zidni."


Dan malam itu keduanya saling bercerita. Chika menceritakan semuanya tentang dirinya dan juga Zidni. Dan juga tentang keluarganya.


"Jadi Chika hanya gadis biasa Mah. Bisa terbilang dari keluarga sederhana yang jauh dari kata kaya. Aku dan adikku bisa sekolah karena mendapat beasiswa dari sekolah. Mungkin Mama kecewa karena Zidni hanya mencintai gadis biasa seperti diriku."


Nyonya Kamila tersenyum. "Tidak Chika. Mama sama sekali tidak kecewa. Bagi Mama kebahagiaan Zidni adalah segalanya. Ijinkan Mama untuk menemui kedua orang tuamu ya?"


"Iya Ma. Saat ini mereka untuk sementara tinggal di rumah Zidni karena kami bergantian untuk menjaga Zidni selama di rumah sakit."


"Terima kasih ya karena kamu dan keluargamu sudah merawat Zidni dengan baik."


"Sudah seharusnya seperti itu Mah."


Keesokan harinya dua keluarga terpaksa bertemu di rumah sakit.


"Tuan-Nyonya perkenalkan saya Kamila Ganindra, Ibu dari Zidni."


"Iya Nyonya, kami sudah mendengarnya dari Chika. Senang sekali akhirnya kami bisa bertemu dengan anda. Saya Arman dan ini Linda."


"Iya Tuan Arman-Nyonya Linda. Chika sudah cerita banyak tentang kalian dan juga Alvin." Ucap Nyonya Kamila seraya mengarahkan pandangannya kearah Alvin.


"Saya juga senang sekali akhirnya bisa bertemu dengan anda Nyonya." Ucap Alvin.


"Sebelumnya saya ingin minta maaf karena saya sebagai seorang Ibu sama sekali tidak tahu menahu tentang hubungan Zidni dan juga putri anda, Chika. Dia anak yang sangat tertutup sekali. Saya merasa bersalah karena merasa menelantarkan menantu dan cucu saya. Seandainya saat itu Zidni cerita, saya pasti langsung mencari kalian semua. Dan tidak akan membiarkan Chika melaluinya sendirian."


"Nyonya, semua ini memang sudah takdirnya mereka berdua. Ya, meskipun sebagai orang tua saat itu kami merasa sangat marah dan kecewa dengan sikap Nak Zidni. Tapi setelah tahu kenyataan yang sebenarnya, rasa marah dan kecea itupun hilang." Sambung Nyonya Linda.


"Saya amat sangat mengerti perasaan anda Nyonya. Kalaupun saya ada di posisi kalian, saya juga akan merasa marah dan kecewa. Biarkanlah semua itu berlalu. Kini kita hanya bisa berdoa supaya Zidni segera bangun. Saya juga berterima kasih karena kalian semua begitu menyayangi Zidni."


"Kami sudah menganggap nak Zidni sebagai anak sendiri, Nyonya. Tentu saja kami sangat menyayanginya." Imbuh Pak Arman. Kini perasaan Chika benar-benar lega karena dua keluarga sudah menyatu. Kini tinggal menunggu Zidni sadar dari komanya. Bayangan tentang restu yang tidak di dapat akhirnya sirna sudah. Hubungannya dengan Zidni berjalan dengan restu yang begitu indah.


"Suamiku, kamu cepat bangun ya. Mama sudah merestui hubungan kita." Gumam Chika dalam hati.


Hai semuanya, cerita cinta Chika dan Zidni sudah mendekati END ya, terima kasih ya untuk kesetiaan kalian...