
Zidni yang masih penasaran membaca ulang jurnalnya. Lagi, ia menemukan bagian menjijikkan dari tulisan tangannya. Yaitu tentang bagaimana ciumannya yang tak sengaja dengan Chika, menuntunnya kembali pada puzzle ingatannya. Bahkan ciuman itu mampu meredam rasa sakit kepalanya yang hebat. Zidni bahkan tidak sungkan memaksa Chika untuk melakukan terapi ciuman bahkan berani membayarnya. Zidni terkejut sendiri melihat tulisan tangannya itu.
Zidni mendesis. ''Tidak mungkin aku meminta dia untuk melakukan terapi ciuman. Mana ada terapi ciuman? Aku rasanya tidak sabar menunggu hasil tes DNA itu.'' Zidni menutup jurnalnya kembali, ia mulai merasa lapar. Ia beranjak dari sofa dan berjalan keluar kamar menuju kamar Chika.
''Chika, aku lapar.'' Ucapnya saat membuka pintu kamar namun kamar itu tampak kosong dan lengang.
''Kemana dia? Jangan-jangan kabur! Eh tapi tasnya ada disana.'' Zidni menutup kembali pintu itu dan berteriak memanggil nama Chika.
''Chika! Dimana kamu?'' teriaknya memenuhi ruangan. Chika mendengar namun sengaja tidak menyahut. Rupanya Chika sendiri sibuk di dapur. Ia hendak menyiapkan makan siang.
''Kamu tuli ya? Aku memanggilmu.'' Kesal Zidni begitu mendapati Chika berada di dapur.
''Maaf, saya sedang fokus memasak Tuan.'' Jawab Chika tanpa menoleh kearah Zidni. Ia sibuk memotong ayam di hadapanny.
''Hei, aku bicara denganmu. Jadi lihat aku!" ketus Zidni seperti biasa. Chika menghentakkan pisau dengan kasar di meja, ia kemudian berbalik menghadap Zidni. Saat Chika berbalik, sesaat Zidni kagum dengan kecantikan wajah Chika yang lebih fresh daripada tadi. Rambut cepolnya menunjukkan leher jenjang yang indah dengan balutan daster polkadot selutut tampak membuat Chika semakin menggemaskan.
''Iya Tuan, ada apa?'' kata Chika dengan super ramah seperti pelayan sungguhan. Tak lupa ia menyunggingkan senyum menunjukkan deretan giginya. Zidni tercekat, suaranya seperti tersangkut di kerongkongan.
''Ak-aku lapar!''
''Iya, saya sedang memasak Tuan.''
''Apa yang kamu masak?''
''Saya akan memasak ayam goreng, sambal terasi dengan sayur bayam dan dadar jagung.''
''Makanan apa itu? Aku tidak suka!" ketusnya. Chika berkacak pinggang berdiri lebih dekat di depan Zidni.
''Tidak suka? Kamu menyukai apapun masakan ku. Bahkan kamu selalu memuji masakan ku. Bagimu, masakanku adalah makanan terenak. Aku tidak akan memaksamu untuk mengingat tapi aku akan mengingatmu tentang semua hal yang telah kita lalui bersama.'' Cerocos Chika seperti burung beo yang begitu mahir mengoceh.
''Heh, beraninya melawanku. Memang siapa kamu?''
''Aku? Aku adalah Nyonya Zidni.'' Ucap Chika mendekatkan wajahnya begitu dekat pada Zidni sampai membuat Zidni memundurkan kepalanya. Chika melotot kesal menatap suaminya itu. Yang selalu membuatnya kesal dan menyebalkan.
''Jangan dekat-dekat!" Zidni mendorong bahu Chika dengan telunjuknya.
Chika menghela. Kali ini ia ingin menggoda Zidni dengan cara lain. Tidak ada waktu baginya untuk bersedih karena otak Zidni ter-restart. Chika kemudian melingkarkan tangannya pada pinggang Zidni.
''Apa yang mau kamu lakukan? Jangan membuatku bersikap kasar,'' ancam Zidni.
''Sayang, kita ini suami istri. Sudah selayaknya kita mesra. Kamu tahu, setiap kali aku memasak, kamu selalu mengangguku. Entah dengan memelukku seperti ini, mencium tengkukku atau membantuku memasak walaupun akhirnya kamu justru membuatnya berantakan.''
Zidni mengernyitkan keningnya sambil melepaskan kedua tangan Chika dari pinggangnya.
''Jangan mengada-ngada dan mengarang cerita.''
''Untuk apa aku mengarang? Aku bukan seorang penulis novel. Lihat saja Kenzie, wajahnya mirip sekali denganmu. Sebaiknya kamu ajak main dia ya suamiku, dia tadi ada di dekat kolam renang. Dia ingin sekali berenang denganmu. Aku akan melanjutkan memasak, menyiapkan makan siang untuk kita. Oke sayang.'' Chika mengerlingkan mata genitnya sambil menyapau wajah tampan itu dengan jemari lentiknya. Chika kembali fokus kepada ayam, sementara Zidni dibuat bergidik dengan apa yang Chika lakukan padanya.
''Oh Tuhan, apa aku sungguh menikahi wanita gila ini?'' gerutunya sambil berlalu. Langkah kaki Zidni menuju kolam renang, ia melihat Kenzie duduk di tepian kolam renang sambil mengayun kakinya bermain air.
''Lho-lho kok aku kesini? Aku mau keatas kenapa malah ke kolam renang?'' gumamnya heran. Kenzie yang mendengar ada langkah dan dan pergerakan, menoleh kebelakang.
''Papa!" seru Kenzie seraya bangkit dari duduknya.
''Jangan panggil aku Papa sebelum ada bukti otentik.''
''Pah, wajah kita sangat mirip. Aku pasti anak Papa.''
''Pokoknya jangan panggil Papa.'' Perintah Zidni.
''Baiklah Om. Om mau mengajari aku berenang?'' Kenzie mendongak menatap dalam wajah sang Ayah sambil menarik ujung kaos Zidni.
''Aku lelah.''
''Apa benar dia anakku? Dia seperti foto kopi diriku.'' Gumamnya. Melihat tatapan polos itu, membuat naluri Zidni luluh.
''Baiklah, aku akan mengambil pelampung untukmu.''
''YEAY! Asyik! Terima kasih Papa. Eh Om maksunya.'' Kenzie memeluk Papanya sambil melompat kegirangan.
Dan kini kedua lelaki yang begitu di cintai oleh Chika sudah berada di dalam air. Naluri kebapakan seorang Zidni muncul begitu saja. Berusaha menjaga Kenzie supaya Kenzie tidak tenggelam atau bahkan meminum air kolam itu. Dengan sabar dan tenang ia membimbing Kenzie untuk berenang. Beberapa kali sudut bibirnya terangkat menahan senyum melihat tingkah lucu Kenzie. Dari dapur yang langsung lurus menuju arah kolam renang, Chika tersenyum melihat Zidni yang sudah mau meluangkan waktunya bersama Kenzie.
''Ya Tuhan, semoga ini awal yang baik. Benar kata sekretaris Frans, cara ini lebih efektif. Karena mau tidak mau, Zidni akan tetap bertanggung jawab meskipun ingatannya masih menolak tentang kenangan dirinya dan juga Kenzie. Namun sekarang Chika merasa lega karena Kenzie bisa merasakan kasih sayang seorang Ayah. Meskipun saat ini Ayahnya menjadi sosok yang begitu menyebalkan.
Chika terus melanjutkan memasak dengan bumbu cinta yang luar biasa. Kini semua hidangan itu sudah tersaji diatas meja. Dari arah kolam renang, Zidni mencium aroma masakan Chika yang membuat perutnya keroncongan.
''Apa selezat ini aroma masakannya? Apa benar kalau dulu aku selalu memuji masakannya? Apakah rasanya begitu lezat? Arrghhh, tapi ini sungguh membuatku lapar.'' Gumamnya dalam hati.
''Sayang-sayanganya Mama, ayo naik! Masakannya sudah siap lho.'' Seru Chika dengan begitu semangat. Ia tidak lagi mempedulikan ucapan Zidni untuk memanggilnya Tuan. Kali ini ia harus bertindak lebih agresif. Terlalu bertele-tele jika mengikuti aturan main Zidni.
''Pah eh Om, ayo kita makan! Aku sudah lapar.'' Kata Kenzie dengan suaranya yang menggemaskan. Zidni hanya mengangguk membantu Kenzie naik ke permukaan. Chika menyambar handuk di kursi kayu lalu menyelimutkannya pada tubuh Kenzie.
''Ayo kita bilasan di dalam ya, Mama bantu. Setelah itu tidur siang ya.''
''Iya Mah.''
''Sayang, mau aku bantu naik atau aku pakaikan jubah handukmu?'' tawar Chika.
''Tidak perlu!" ketus Zidni seraya naik kepermukaan.
''Baiklah, aku mandikan Kenzie dulu ya. Atau kamu mau aku mandikan juga?'' seloroh Chika menggundang geli di perutnya.
''Dasar aneh!" Zidni dengan kesal memakai jubah handuknya kemudian berlalu melewati Chika menuju kamarnya. Chika tertawa sendiri melihat wajah Zidni yang begitu kesal mendengar semua bualannya.
''Mungkin saat ini kamu menolak tapi suatu saat nanti, kamu tidak akan pernah mau melepaskanku.'' Ucap Chika.
Kini mereka bertiga sedang duduk bersama di meja makan. Sebuah hal yang amat sangat di nantikan oleh Chika selama bertahun-tahun lamanya.
''Masakan Mama memang yang terbaik.'' Kenzie mengacungkan jempolnya dengan mulut penuh dengan makanan.
''Terima kasih sayang.'' Ucap Chika dengan senyum cerianya. Zidni hanya diam mematung, piringnya masih kosong. Ia menolak Chika mengambilkan nasi ke dalam piringnya.
''Suamiku, kenapa tidak makan?'' tanya Chika sambil menatap Zidni.
''Jangan panggil suami sebelum hasil tes itu keluar. Aku tidak suka makanan itu,'' Ketusnya. Chika beranjak dari duduknya, mengambil piring kosong Zidni kemudian menuangkan nasi, lauk dan juga sayuran.
''Mau aku suapi?''
''Jangan macam-macam ya. Jaga sikapmu!" ucapnya dengan tegas.
''Papa, jangan marahi Mama.''
''Jangan panggil aku Papa!" tolak Zidni.
''Papa, Papa, Papa, Papa!" ucap Kenzie berkali-kali dengan sengaja.
''DIAM!" bentak Zidni. Seketika Kenzie terdiam. Hatinya terluka dan kecewa. Matanya berkaca-kaca mendapat bentakan dari Ayahnya.
''Kamu akan menyesal kalau sudah ingat semuanya!" Chika geram. Chika kemudian menggendong Kenzie dan mengajaknya ke kamar.
''Papamu setelah bangun malah seperti iblis,'' Chika merutuk sambil berlalu. Zidni mendengus, ada rasa bersalah disudut hatinya setelah dirinya membuat anak kecil yang merupakan darah dagingnya terluka.
''Ya Tuhan, apa yang baru saja aku lakukan? Aku merasa bersalah membentaknya. Tapi aku juga tidak salah. Mereka belum jelas statusnya. Siapa tahu mereka mata-mata yang sengaja dikirim untuk mencari kelemahanku dalam berbisnis. Bukan salah ku jika aku waspada.'' Gumamnya kesal. Berusaha menutupi penyesalan dalam sudut hatinya. Zidni menatap meja yang penuh dengan hidangan. Hidangan yang tadi membuat perutnya lapar. Ia celingak-celinguk memastikan Chika dan Kenzie tidak ada disekitar sana. Zidni lalu menyuapkan makanan diatas meja. Suapan pertama, makanan itu begitu terasa nikmat meski dengan menu sederhana. Zidni buru-buru menghabiskan makanannya sebelum Chika turun.
''Memang enak sekali,'' gumamnya. Suapan demi suapan masuk kedalam mulutnya hingga habis. Untuk meninggalkan jejak, Zidni mencuci piringnya dan meletakkannya lagi di meja. Ia kemudian berlalu menuju ruang kerjanya.