Mr. Arrogant Vs Noisy Girl

Mr. Arrogant Vs Noisy Girl
78 Hasil Tes DNA



Hari pun berganti, waktu berjalan terasa sangat singkat. Hari yang dinanti keduanya telah tiba. Hari yang mendebarkan untuk semuanya terutama Zidni. Pagi itu Chika tampak melamun sambil mengaduk teh di dapur.


"Kenapa aku merasa khawatir? Padahal sudah jelas-jelas Kenzie adalah anak dari Zidni. Aku khawatir jika terjadi kesalahan." Batin Chika.


"Sayang," suara lembut itu terdengar nyaring dengan tangan yang melingkar di pinggang Chika.


"Eh Mas," Chika menoleh kebelakang. Melihat suaminya sudah memeluknya. Nafasnya terdengar jelas ditelinganya.


"Kamu ini kenapa? Kenapa melamun? Lihat teh kamu sampai tumpah-tumpah." Chika melihat cangkir dihadapannya dan benar saja sudah meleber kemana-mana.


"Mmmm mungkin terlalu kencang mengaduknya, Mas." Ucap Chika dengan senyum penuh paksaan. Zidni memutar tubuh Chika menghadapnya. Chika menunduk namun Zidni buru-buru mengangkat dagu Chika.


"Kenapa? Apa ada masalah? Atau Kenzie tidak nyaman di sekolah barunya?"


"Tidak Mas. Sejujurnya aku khawatir."


"Apa yang membuatmu khawatir sayang? Kita sudah berkumpul di rumah kita. Kenzie juga happy di sekolah barunya. Apa yang kamu khawatirkan?" Zidni membelai lembut wajah wanitanya.


"Hasil  tes DNA, Mas."


"Oh itu, aku juga penasaran dengan hasilnya. Nanti setelah menjemput Kenzie, kita langsung ke rumah sakit ya."


"Iya Mas. Mas, bagaimana kalau hasil tes itu salah? Aku takut. Sedangkan aku amat sangat yakin, kalau Kenzie anak kamu."


"Sayang, rasanya aku sudah tidak peduli dengan tes itu. Sejak aku bertemu denganmu, hati ku sudah sangat yakin kalau kita mempunyai cerita di masa lalu. Di tambah saat kita pertama kali bercinta, aku merasa tidak asing dengan lekuk tubuhmu bahkan aromanya. Sudahlah, jangan khawatir. Tidak ada yang tahu kita melakukan tes ini selain Frans dan Alvin, adikmu. Aku lebih percaya dengan kata hatiku bahwa Kenzie putraku daripada tes itu." Ucapan Zidni menenangkan sejenak pikiran Chika. Zidni kemudian mengecup kening istrinya dalam-dalam.


"Terima kasih ya, Mas."


"Sama-sama. Oh ya, bagaimana keputusan Alvin?"


"Dia setuju saja, Mas. Tapi dia ingin menyelesaikan masa kerjanya bulan ini."


"Ya sudah kalau begitu, dia sangat bertanggung jawab sekali. Aku juga sudah memberi tahu Frans, untuk menempatkannya di manager pemasaran. Setelah mengetahui hasil itu, bawa aku ke rumah orang tuamu ya. Aku akan meminta restu pada mereka."


"Iya Mas."


"Dan setelah itu kita akan menikah."


"Apa kita tidak perlu meminta restu Ibu kamu?"


"Tidak pelu. Setelah kita menikah sah, aku akan membawamu ke Shanghai."


"Bagaimana kalau Ibu kamu tidak merestui kita?"


"Aku tidak peduli, sayang. Sudah cukup hidupku berantakan karena perpisahan tragisku dengan Amora. Sesampainya disana, aku akan membawamu ke makam Amora." Ucapan Zidni hanya mendapat anggukan dari Chika.


Hari ini Zidni rela cuti demi hasil tes DNA sekaligus bersiap berangkat kerumah Chika untuk menemui kedua orang tua Chika. Tak lupa Chika sudah memberitahu Alvin, untuk stand by di kampung halamannya. Setidaknya Alvin bisa dijadikan saksi. Zidni juga mengajak Frans, membawakan semua bukti rekam medisnya selama ini. Semua itu demi meyakinkan orang tua Chika.


Kini keduanya sedang duduk diruangan dokter. Sementara Kenzie berada di luar bersama Frans.


"Ini Tuan-Nyonya. Silahkan anda lihat sendiri hasilnya." Ucap dokter seraya mengulurkan sebuah amplop coklat pada Zidni. Zidni melihat kearah Chika, memberi kode untuk membukanya, Chika mengangguk dengan senyum kecilnya. Jantung Zidni berdebar tidak karuan. Dan saat membuka isi dari kertas itu, mata Zidni langsung berkaca. Ia melihat kearah Chika dan langsung memeluknya.


"Kenzie, putraku. Maafkan aku, sayang. Maafkan aku sudah membuatmu menderita." Seketika bulir air mata Chika ikut menetes. Dokter sebagai saksi pun merasa terharu. Air mata bahagia dan penyesalan lolos dari pelupuk mata Zidni. Ia kemudian menghujani wajah Chika dengan kecupan. Mengabaikan dokter yang berada dihadapan keduanya.


"Selamat Tuan-Nyonya. Saya ikut berbahagia."


"Terima kasih dokter." Jawab Chika dengan suara bergetar.


"Iya silahkan." Chika dan Zidni keluar ruangan sambil bergandengan tangan. Zidni melihat wajah polos Kenzie yang manatapnya dari kejauhan. Yang saat ini Zidni rasakan, ia merasakan penyesalan yang amat sangat hebat tanpa ia tahu kejadian apa yang terjadi di masa lalu. Ia kemudian berlari kecil dan memeluk putranya. Diangkatnya tubuh bocah kecil itu dan di peluknya dengan erat. Zidni menghujani bocah polos itu dengan kecupan. Frans pun ikut terharu, matanya berkaca-kaca.


"Anak Papa. Kamu anak Papa. Maafkan Papa, Nak. Maafkan Papa yang pernah meninggalkan kamu."


"PAPA! Apakah hasilnya aku anak Papa?" Kenzie masih bertanya dengan polosnya.


"Iya sayang. Papa adalah Papa kandung kamu dan kamu anak kandung Papa."


"I love you Papa. Jangan pernah tinggalkan aku lagi ya, Pah."


"Tidak akan pernah lagi, Ken. Papa tidak akan pernah meninggalkan kamu dan juga Mama." Zidni meraih tangan Chika dan memeluknya, mereka bertiga berpelukan dengan erat.


"Selamat Tuan-Nyonya, saya sangat bahagia melihat kalian akhirnya bersatu." Ucap Frans.


"Frans, semua ini tidak luput dari bantuanmu. Aku akan menaikkan gaji dan menambah bonusmu." Ucap Zidni.


"Terima kasih Tuan." Jawab Frans dengan senyum lebarnya.



"Kakek! Nenek!" seru Kenzie begitu sampai di rumah Chika. Ya, Alvin lah yang membukakan pintu untuk mereka.


"Ini rumah kamu sayang?" Zidni tentu terkejut melihat rumah Chika yang amat sederhana bagi Zindi.


"Iya ini rumah ku. Tempat kelahiranku. Disini juga kita menikah. Di rumah sederhana ini yang tidak pernah berubah sejak kamu pergi."


"Kak Zidni, Sekretaris Frans, silahkan duduk." Kata Alvin. Keduanya lalu duduk. Kenzie sudah berlari ke dalam mencari Kakek dan neneknya di halaman belakang.


"Kakek! Nenek!" teriak Kenzie. Nyonya Linda dan Tuan Arman menoleh kearah Kenzie. Mereka sedang sibuk membersihkan pekarangan rumah yang penuh dengan tanaman nan cantik.


"Kenzie," Nyonya Linda langsung meletakkan selang air di tanah begitu saja dan berlalri kecil memeluk cucunya. Di susul kudian oleh Tuan Arman yang meletakkan sapu lidi begitu saja.


"Nenek merindukan kamu. Hampir satu bulan kita tidak bertemu."


"Aku juga merindukan nenek."


"Sekarang gantian peluk Kakek, dong. Kakek juga mau di peluk." Tuan Arman tidak mau kalah. Kenzie langsung melompat ke gendongan kakeknya.


"Aduh, cucu Kakek ini semakin berat ya. Untung punggung Kakek masih kuat. Kamu sama siapa?"


"Sama Mama dan Papa." Jawab Kenzie.


"PAPA?" ucap Tuan Arman dan Nona Linda dengan kompak. Tentu saja mereka terkejut dengan ucapan Knezie. Mereka berdua segera menuju ruang tamu. Dan betapa terkejutnya mereka saat melihat sosok yang ada di luar.


"Ayah-Ibu!" sapa Chika. Zidni dan Frans masih belum mempehatikan karena mereka terlibat obrolan serius di depan pintu. Chika bergantian memeluk Ayah dan Ibunya.


"Bagaimana kabar Ayah dan Ibu?"


"Kami baik Chika." Jawab Tuan Arman. Namun keduanya masih penasaran dengan sosok pria  yang hanya tampak punggungnya saja.


"Chika, kata Kenzie dia datang sama Mama dan Papanya. Maksudnya Papa yang mana?" Nyonya Linda masihd tidak mengerti.


"Ayah dan Ibu duduk dulu, aku panggilkan ya." Kata Chika seraya mengajak kedua orang tuanya untuk duduk di kursi sofa yang sudah tampak usang. Mereka berdua menurut pada Chika dan berharap dugaan mereka salah.


Apakah orang tua Chika akan kembali memberikan restu atau malah sebaliknya??? Tungguin ya, heheheh tap like, komen dan vote yang banyak dulu, okeee, makasih