
''Mama! Aku sudah selesai mandi.'' Teriak Kenzie sembari berlari kecil menyusul sang Ibu yang masih berkutat di dapur.
''Hei sayang. Anak Mama wangi sekali.'' Chika menciumi pipi Kenzie dengan gemas.
''Papa yang memandikan aku.''
''Benar kan kata Mama, kalau Papa itu sangat baik, penyanyang, hangat dan lembut.''
''Iya Mah. Dan aku tidak jadi benci padanya.'' Ucap Kenzie polos.
''Lalu, dimana Papa?''
''Papa ke kamarnya. Katanya juga mau mandi.''
''Ya sudah, kamu nonton televisi saja dulu ya. Mama mau melanjutkan memasak.''
''Iya Mah.'' Kenzie berlari kecil menuju ruang tengah. Chika menyusul sebentar membantunya menyalakan televisi, mencari si upin dan ipin kesukaan Kenzie.
Setelah semuanya selesai, Chika menghampiri Kenzie.
''Ken, Mama mandi dulu ya. Kamu disini saja, jangan kemana-mana.''
''Iya Mama.'' Chika mengecup pipi Kenzie sebelum ia kembali ke kamar.
Kenzie seorang diri menonton televisi namun tiba-tiba perhatiannya teralihkan saat mendengar suara kucing mengeong.
''Kucing? Papa punya kucing?'' Kenzie turun dari sofa dan mencari kearah sumber suara.
''Kucing, dimana kamu?''
Meong! Meong! Meong! Suara kucing terdengar di dekat kolam renang. Kenzie berlari kecil kearah kolam renang. Dan benar saja kucing itu ada diseberang kolam renang. Kucing itu tampak kurus kering dan sepertinya sedang kelaparan. Kenzie menggaruk kepalanya, bagaimana cara menyelamatkan si kucing karena di bagian seberang kolam tidak ada spot yang luas. Hanya beberapa senti saja karena diseberang sudahmentok dengan dinding yang dihiasi oleh tanaman-tanaman dinding.
Kenzie yang merasa tubuhnya kecil, ingin merayap untuk menyelamatkan si kucing karena si kucing sudah berada ditengah-tengah.
''Pusss, sini puss!" Kenzie mengulurkan tangannya supaya si kucing mendekat namun si kucing tak bergerak. Akhirnya Kenzie mencoba merayap berpegangan pada dinding demi menyelamatkan kucing itu. Namun akhirnya BBBYYYYUUURRRR !!!!!!! Kenzie terjatuh ke kolam renang.
''Mama .... mmppphhhh.... Pap....pa....mpphhh....'' Kenzie tidak bisa berenang. Tanganya terangkat keatas berusaha mencari sesuatu, berharap ada yang mengangkatnya. Zidni yang baru saja selesai mandi turun ke bawah, mendengar suara televisi menyala di ruang tengah. Melihat tontonan di televisi sudah pasti Kenzie lah yang menonton televisi itu. Tapi Kenzie tidak ada disana.
''Dimana dia? Televisinya dibiarkan menyala.'' Gumamnya. Zidni mendengar kucing mengeong begitu keras di tambah seperti suara berisik di air. Zidni dengan langkah terburu menuju kolam renang.
''Kenzie!" seru Zidni melihat Kenzie berusaha bertahan di dalam kolam itu. Zidni langsung menceburkan diri untuk menyelamatkan bocah malang itu. Akhirnya Zidni sampai juga di permukaan dengan menggendong Kenzie. Kenzie tak sadarkan diri. Zidni panik, ia merasa hatinya hancur tiba-tiba melihat Kenzie tergolek tak berdara. Ia segera memberikan pertolongan dengan menekan dada bocah itu.
Chika baru saja selesai mandi, ia segera menyusul Kenzie ke ruang tengah. Namun Kenzie tidak ada disana, Chika panik.
''Kenzie! Kamu dimana nak?'' teriak Chika. Chika berlari hendak menyusuri setiap sudut ruangan itu namun akhirnya ia menemukan. Kenzie tergolek di lantai dengan Zidni yang berusaha memberikan pertolongan pada Kenzie.
''Kenzie!'' Chika berteriak histeris mendekat ke kolam renang.
''Apa yang terjadi Zidni?'' bulir air matanya sudah membasahi pipinya.
''Dia tercebur di kolam renang.'' Jawab Zidni dengan nafas terengahnya. Ia kemudian memberikan nafas buatan untuk putranya. Dan akhirnya Kenzie terbatuk mengeluarkan semua air dari mulutnya. Zidni terduduk lega akhirnya bisa menyelamatkan Kenzie. Chika langsung memeluk putranya.
''Terima kasih sudah menyelamatkan anakku.'' Ucap Chika getir. Chika kemudian menggendong Kenzie dan membawanya ke kamar. Zidni hanya bisa memandangi Chika yang pergi begitu saja. Dan ucapan Chika tadi rasanya sangat menyakitkan bagi Zidni. Zidni melihat kucing di seberang sana. Zidni menduga Kenzie hendak menyelamatkan kucing itu. Zidni kembali berenang keseberang untuk mengambil kucing itu untuk Kenzie.
''Aku akan memelihara kamu puss.'' Gumam Zidni. Zidni memasukkan kucing itu ke dalam kandang kemudian memberikan kucing itu makan. Ia segera ke kamar untuk ganti pakaian lagi. Setelah itu ia pergi ke kamar Chika.
''Bagaimana Kenzie?'' tanyanya seraya masuk begitu saja.
''Dia masih takut. Lihat saja, dia tidak mau lepas dari pelukanku.'' Ucap Chika dengan suara pelannya. Zidni ikut duduk di bibir ranjang, dimana Chika duduk disana sambil memeluk Kenzie.
''Kenzie, kamu baik-baik saja? Apa kamu sungguh takut? Kamu tidak mau lagi bermain air?'' pertanyaan Zidni hanya mendapat gelengan kepala dari Kenzie. Perlahan tangan Zidni mengelus kepala Kenzie.
''Kamu hari ini melakukan hal yang hebat. Kamu pasti ingin menyelamatkan kucing tadi kan?'' pertanyaan Zidni kali ini mendapat anggukan dari Kenzie.
''Aku sudah menyelamatkan kucing itu. Aku memasukkannya ke kandang dan sekarang dia sedang makan.'' Mendengar ucapan Zidni, Kenzie melepaskan pelukan erat Mamanya berganti menatap Zidni.
''Kucing itu selamat Pah?'' suara Kenzie terdengar lirih.
''Iya. Apa kamu mau lihat? Bagaimana kalau kita belikan dia kandang yang baru, sekaligus membawanya ke dokter hewan?'' kali ini Zidni melihat senyum lebar putranya.
''Mah, aku mau lihat kucing sama Papa, boleh?''
''Boleh sayang.'' Jawab Chika sambil mengelus kepala putranya. Zidni kemudian menggendong Kenzie dan mengajaknya keluar. Mata Chika berkaca-kaca mlihat pemandangan itu.
''Semoga Zidni mulai membuka hatinya dan segera mengingat kenangan kita.'' Gumamnya.
Kenzie dan Zidni sudah sampai di dekat kolam renang. Zidni meletakkan kandang itu di teras dekat kolam renang. Namun saat melihat kolan itu, Kenzie langsung meringsuk di dalam dada Papanya, pegangannya semakin erat. Pasti dia trauma! Itulah yang ada di benak Kenzie.
''Jangan takut Ken. Aku akan mengajarimu berenang. Kamu anak laki-laki jadi harus berani menghadapi apapun. Kamu pahlawan hari ini.'' Ucapnya sambil mengelus putra kepalanya. Kenzie menurut dan mengangguk.
''Oh ya, kita kasih nama siapa dia?'' tanya Zidni.
''Dia cewek apa cowok Pah?''
''Sepertinya dia cowok.''
''Bagaimaba kalau namanya Grey? Dia warnanya kan abu-abu.''
''Boleh, nama yang bagus. Besok kita bawa dia ke dokter ya?''
''Iya Pah. Terima kasih ya Pah sudah menolongku. Aku sudah membuat Mama khawatir dan melanggar perintah Mama. Coba aku duduk saja, pasti aku tidak membuat Mama menangis.''
''Kamu minta maaf saja sama Mama. Kamu juga tidak salah karena kamu menyelamatkan seekor kucing yang malang ini.''
''Apa Papa sudah minta maaf sama Mama?''
''Minta maaf? Untuk apa?'' Zidni mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Kenzie.
''Papa selalu membuat Mama menangis. Mama selalu menangis setiap malam, merindukan Papa yang tidak juga kembali.'' Ucapan Kenzie seolah menusuk relung hati Zidni. Namun Zidni tidak bisa menjawabnya karena ia sendiri tidak tahu jawabannya.
''Sebaiknya kita masuk, sudah mulai gelap. Besok kita buatkan rumah untuk kucing ini.'' Zidni mencoba mengalihkan topik pembicaraan. Kenzie hanya mengangguk menuruti perintah Papanya.