
Setelah hari itu, Bella yang penasaran, keesokan harinya, pagi buta sudah mengintai kediaman rumah Alvin. Ia mengikuti Alvin yang ternyata bekerja di G-Group, alias perusahaan milik Zidni.
Selama beberapa hari terakhir, Bella sengaja mengikuti Alvin. Ia ingin mencari tahu apa saja yang Alvin lakukan dan siapa tahu kecurigaannya selama ini terbukti. Kecurigaan bahwa Alvin dan Al adalah orang yang sama. Selama mengintai Alvin, Bella merasa kagum karena Alvin memang sosok pria yang baik. Kesehariannya hanyalah berangkat bekerja, meeting, ke kantor dan kembali lagi ke rumah.
Tepat di hari keempat, Bella memutuskan mengintai Alvin hingga sampai ke kantor. Melihat Alvin yang sudah masuk ke dalam gedung, membuat Bella membuntutinya. Ia melihat Alvin menuju lantai lima. Bella kemudian dengan sengaja menuju resepsionis untuk menanyakan dimana ruangan Alvin.
"Permisi, ruangan Alvin dilantai berapa?"
"Dengan siapa? Apa sudah membuat janji dengan Tuan Alvin?" tanya sang resepsionis. Mendengar pertanyaan resepsionis, membuat Bella paham jika Alvin bukan sekedar karyawan biasa.
"Sayangnya belum. Dia memberikan alamat kantor dan rumahnya jika ada sesuatu. Aku sudah menemuinya di rumah tapi dia tidak ada dan ponselnya tidak bisa dihubungi."
"Maaf Nona, kami tidak bisa. Ini sudah peraturan perusahaan."
"Baiklah kalau begitu, terima kasih."
Saat hendak berbalik, Bella tidak sengaja menabrak Zidni yang memang tengah terburu-buru sambil menerima telpon dari kliennya. Membuat ponsel Zidni sampai terjatuh.
"Maaf, Tuan." Ucap Bella sambil menunduk dan berusaha mengambil ponsel Zidni. Namun Zidni terlalu sigap. Saat ia mendongak dan hendak marah, ia terkejut jika seseorang yang menabraknya adalah Bella.
"Ini kan Bella? Untuk apa dia disini? Apa hubungan keduanya sudah sedekat ini?" gumam Zidni dalam hati.
"Maaf, Tuan. Apa ponsel anda rusak? Saya siap menggantinya."
"Oh, tidak apa-apa. Tidak ada yang rusak."
"Sekali lagi maafkan saya, Tuan. Permisi." Ucap Bella seraya berlalu. Zidni hanya mengangguk dan setelah itu bergegas menuju ruangannya.
Sesampainya di ruangannya, ia menyambungkan interkom dengan ruangan Alvin.
"Alvin, ke ruanganku sekarang!"
"Baik, Kak!" jawab Alvin. Tak lama kemudian Alvin pergi menuju ruangan Zidni.
"Ada yang bisa aku bantu, Kak?"
"Aku tadi bertemu Bella di bawah. Apa kalian sudah sedekat itu?"
"Hah? Bella? Dia ada disini, Kak?" Alvin terkejut mendengar ucapan Zidni.
"Jadi, kamu tidak tahu?"
"Sama sekali tidak tahu. Beberapa hari yang lalu dia memang ke rumahku dan sepertinya dia mencurigai aku bahwa aku adalah Al. Tapi setelah itu kita belum bertemu lagi sejak hari itu."
"Hmmmm... Sepertinya dia sengaja mengikutimu dan mencari tahu tentang kamu karena rasa penasarannya."
"Bisa saja seperti itu, Kak. Apa dia masih di bawah?"
"Sepertinya dia sudah pergi. Kenapa kamu tidak jujur saja?"
"Jangan Kak! Dia nanti akan mencari tahu apa alasanku menyamar? Apalagi aku memata-matai orang tuanya. Aku tidak ingin masalahnya menjadi semakin rumit. Walaupun sebenarnya aku ingin mengatakannya."
"Baiklah kalau begitu, lakukan apa yang menurutmu baik, Alvin. Oh ya, rapat kemarin, biar aku yang mengurusnya. Kemungkinan aku akan kembali sore jadi kamu handle kantor ya. Kalau ada yang mendesak hubungi aku."
"Siap Kak! Kalau begitu, aku kembali ke ruanganku dulu, Kak."
"Iya silahkan."
Hari itu Zidni disibukkan dengan semua urusan di luar kantor, begitu juga dengan Alvin yang sibuk dengan urusan di dalam kantor. Saat senggang, Alvin mencoba mengambil ponsel yang berisi kartu atas nama Al. Begitu ia aktifkan kembali ponselnya, pesan masuk beruntun datang dari Bella. Panggilan tak terjawab pun semua dari Bella. Ada juga beberapa panggilan tak terjawab dan pesan dari Tuan Edward. Alvin tersenyum kecil membaca semua pesan dari Bella.
"Dia ini memang lucu dan menggemaskan tapi kadang menyebalkan juga." Gumamnya. Ia meletakkan ponselnya begitu saja dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
Jam sudah menunjukkan pukul 14.00 siang. Zidni yang baru saja selesai bertemu klien, mendapat telepon dari Pak Ali, supir dirumah.
"Halo, Tuan." Suara Pak Ali terdengar bergetar disana.
"Iya Pak Ali ada apa?" tanya Zidni.
"Anu Tuan, Nyonya... Nyonya... "
"Iya, kenapa dengan Nyonya?" bentak Zidni yang mulai merasakan firasat tidak enak.
"Nyonya dan Den Kenzie tidak ada di sekolah. Saya menemukan tas sekolah dan tas Nyonya di halaman. Tadi saya tinggal sebentar untuk beli bensin tapi saat saya kembali mereka sudah tidak ada, Tuan." Cerita Pak Ali dengan suara gemetar dan menahan tangis.
"Bagaimana bisa, Pak? Kenapa kamu meninggalkan mereka? Bodoh sekali! Cari sampai ketemu!"
"Ba-baik, Tuan." Pak Ali mengakhiri panggilannya.
"Tuan, ada apa?" tanya Frans.
"Kerahkan semua anak buah, Frans!"
"Siap Tuan!"
Zidni kemudian memberi kabar pada Alvin. Alvin sangat terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Zidni.
"Bagaimana bisa Kak? Siapa yang melakukannya? Kakak dimana? Aku akan menyusul."
"Aku sedang ke sekolah Kenzie."
"Baik, aku kesana."
Setelah mendengar kabar itu, Alvin bergegas menuju sekolah Kenzie. Zidni tidak bisa menyembunyikan rasa cemasnya. Apalagi Pak Ali yang masih disana, merasa amat sangat bersalah.
"Kak, bagaimana?" tanya Alvin begitu sampai disana.
"Nihil! CCTV sekolah tidak menjangkau sampai halaman di luar gerbang. Polisi tidak akan menerima laporan jika belum 2x24 jam."
Disaat yang bersamaan, ponsel Alvin dengan nomor Al berdering. Alvin terkejut karena lupa menonaktifkan kembali. Ada nama Tuan Edward di layar ponselnya.
"Kak, Tuan Edward menelpon Al."
"Angkat aja," ucap Zidni. Alvin mengangguk lalu menerimanya dan menyalakan mode loudspeaker.
"Ha-halo Tuan, ada yang bisa saya bantu?"
"Al, akhirnya kamu bisa dihubungi. Tolong selamatkan Bella. Rodrigo menculik dan menyekap Bella karena dendam padaku." Suara Tuan Edward terdengar gemetar disini. Alvin dan Zidni saling bertukar pandang. Keduanya terkejut.
"Ap-apa? Dimana mereka menyekap Nona Bella, Tuan?"
"Aku tidak tahu, mereka sengaja ingin menyiksaku pelan-pelan. Tolong bantu temukan Bella, Al."
"Baik, Tuan. Saya akan mencari Nona Bella. Saya akan pergi ke kantor, Tuan."
"Baik. Terima kasih, Al."
"Sama-sama, Tuan." Panggilan pun berakhir.
"Kak, pasti ini... "
"Ya, sepertinya dia marah dan mencari tahu tentang aku juga." Sela Zidni. Tak berselang lama sebuah panggilan masuk dari nomor tak di kenal. Zidni lantas menerimanya.
"Halo, Mas... " isak tangis Chika diseberang sana.
"Sayang, kamu dimana?"
"Papa, tolong kami... " sahut Kenzie. Terdengar suara Kenzie menangis diseberang sana.
"Iya, sayang. Papa akan menolong kamu dan Mama. Kalian ada dimana sekarang? "
"Halo, Tuan Zidni Levine Ganindra." Suara pun beralih menjadi seorang pria.
"Siapa kamu? Dimana istri dan anakku?"
"Hahahaha... Bagaimana rasanya ikut campur urusan orang lain, Tuan? Tentu saja tidak nyaman bukan. Kalau mau istri dan putra anda selamat, datanglah kemari dengan menyerahkan 50% saham perusahaan anda kepadaku. Dengan itu istri dan putra anda, aman. Tapi ingat, datanglah seorang diri atau mayat istri dan putra anda akan aku ke kirim ke hadapan Anda." Ucap Tuan Rodrigo dengan nada ancaman.
"BRENGSEK! BAJI*NGAN! Jangan sentuh mereka sedikitpun atau aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri."
"Hahaha silahkan saja. Baiklah, aku tunggu kedatangan Anda. Aku akan mengirimkan alamatnya." Tuan Rodrigo mengakhiri panggilannya begitu saja.
"SIAL! BRENGSEK!" Umpat Zidni penuh dengan amarah.
"Kak, apa dugaan kita benar?"
"Iya, Alvin. Tapi sepertinya penyekapan ada di dua tempat. Sebaiknya kamu bantu Bella dan aku akan mengurus Chika juga Kenzie."
"Tapi Kak... "
"Kita harus bagi tugas, Alvin. Aku pergi dulu!"
"Baiklah. Kakak hati-hati dan jangan lupa terus berkabar."
"Iya."
Bersambung... Untuk Brian, mohon maap, sabar dulu ya, hehehe. Biar author selesein Zidni dulu ya, tinggal beberapa bab otewe tamat, hehehehe.... Kalau sempat, nanti Brian akan di up. Makasih semuanya 🥰