Mr. Arrogant Vs Noisy Girl

Mr. Arrogant Vs Noisy Girl
Bab 93 Berbagi Suka Duka



Jam menunjukkan pukul 12 malam. Zidni baru saja sampai di rumah. Begitu masuk ke dalam rumah, ia mendapati Chika tertidur di sofa ruang tengah.


"Ya ampun, dia pasti menungguku." Gumam Zidni. Zidni lalu mengangkat dan menggendong Chika menuju kamar. Dengan sangat pelan dan hati-hati. Zidni lalu membaringkan tubuh Chika diatas tempat tidur. Baru juga direbahkan dan hendak memakaikan selimut ke tubuh Chika tapi Chika malah terbangun.


"Mas," lirih Chika.


"Hei, kamu kok bangun?" Zidni mendekat dan duduk di tepi kasur.


"Merasa tubuhku ada yang menggerakkan." Jawab Chika dengan senyum kecilnya.


"Kamu kenapa tidur diruang tamu?"


"Aku nungguin kamu, Mas. Kamu lama sekali." Chika lalu bangun dari pembaringannya. Chika kemudian memeluk Zidni dengan manja.


"Aku kan kangen, Mas."


Zidni tersenyum dan semakin dibuat gemas oleh sikap manja Chika. Seketika rasa lelah dan beban berat yang menyergap pikiran hilang seketika.


"Aku juga kangen, sayang. Maaf ya tadi pulangnya harus terpisah."


"Tidak apa-apa kok, Mas. Ya sudah, aku siapkan air hangat untuk mandi ya. Kamu sudah makan malam belum? Mau aku bikinin apa? Atau mau yang segar-segar? Mau camilan atau mau.... mmppphhhhh," Zidni lalu melu...mat bibir Chika untuk sepersekian detik.


"Memangnya wanitaku ini super noisy."


Chika manyun. "Mas, kamu bikin kaget. Belum selesai bicara pasti gitu."


"Habis bibir kamu ini bikin gemes kalau lagi cerewet. Kamu tidur saja sayang, aku bisa melakukan semuanya sendiri kok. Ini juga sudah larut. Nggak baik ibu hamil begadang."


"Yakin ibu hamil nggak boleh begadang? Sebelum balik ke Indo saja kamu ngajakin begadang," sindir Chika degan tawa kecilnya.


"Hehehehe itu kan begadangnya membawa nikmat, sayang."


"Dasar kamu! Ya sudah kamu cepetan mandi sana, Mas."


"Iya-iya. Aku mandi dulu ya, habis ini aku temani. Sekalian mau lihat Kenzie dulu."


"Iya Mas." CUP! Sebuah kecupan melayang di kening Chika. Zidni lalu bergegas untuk mandi. Baru juga ditinggal mandi, Zidni sudah mendapati Chika terlelap kembali. Zidni kemudian menuju kamar Kenzie. Membelai sejenak kepala Kenzie, lalu memberikan kecupan di kening pangeran kecilnya. Tiba-tiba perut Zidni terasa lapar, ia kemudian turun menuju dapur. Sejujurnya Zidni tidak biasa memakan makanan yang dimasak lama terus di hangatkan. Akhirnya ia memasak lagi untuk menu makan malamnya. (Maklumlah ya, orang kaya. Kalau kita mah makanan diangetin makin enak, hehehehe).


"Tuan sedang apa?" suara Bibi mengagetkan Zidni.


"Eh Bi, kok belum tidur?"


"Saya dengan suara berisik, Tuan. Saya pikir ada maling tapi ternyata Tuan. Ada yang bisa saya bantu Tuan?"


"Tidak usah Bi. Bibi istirahat saja."


"Tuan masak? Apa masakan saya tidak enak? Atau mau saya hangatkan?"


"Tidak usah, Bi. Sebenarnya aku tidak suka makanan lama, Bi. Apalagi yang harus dihangatkan."


"Oh begitu, maaf ya Tuan, saya tidak tahu."


"Tidak apa-apa Bi. Toh sejak Bibi kerja disini aku lebih sering dirumah jadi Bibi tahunya ya begitu. Bibi istirahat saja."


"Ya sudah kalau begitu, Tuan. Tuan tidak usah sungkan kalau memang membutuhkan sesuatu."


"Iya Bi, terima kasih."


"Saya ke dalam ya Tuan."


"Iya."


Kini Zidni duduk diruang makan seorang diri. Sembari makan, ia memikirkan masalah yang sedang dialami perusahannya. Kerugian yang dialami tidak lah sedikit. Membuat selera makannya kembali hilang. Berkali-kali ia menarik nafas dalam-dalam memikirkan masalah ini. Chika ternyata terbangun. Dari atas, Chika melihat suaminya seperti sedang dalam masalah besar. Bahkan makanan dihadapannya belum disentuh. Chika memutuskan untuk menghampiri dan menghibur suaminya yang tengah duduk termenung seorang diri.


"Mas,"


"Eh sayang, kamu kok bangun lagi?"


"Kebangun aja, Mas." Chika lalu duduk disamping suaminya.


"Iya, tidak apa-apa."


"Ya sudah, aku suapin ya." Chika menggeser piring kearahnya. Ia lalu memotong steak ayam dan menyuapkannya pada Zidni. Zidni tersenyum dan menerima suapan istrinya.


"Sepertinya kamu memang sengaja pingin disuapin deh." Goda Chika.


"Iya sayang. Lagi pingin dimanja sama kamu." Ucap Zidni sambil mengelus wajah cantik dihadapannya itu.


"Ya sudah, aku suapin sampai habis ya? Mmmm mau minum apa?"


"Air putih saja, sayang."


"Ya sudah, aku ambilin ya."


"Nanti saja. Kalau makanannya sudah habis." Ucap Zidni sambil menerima suapan ke lima dari Chika.


"Sepertinya disaat seperti ini cuma kamu yang aku butuhkan, Chika. Kamu selalu bisa meredam semua rasa gelisah dan amarahku." Gumam Zidni dalam hati. Selesai menemani Zidni makan malam, mereka lalu kembali ke kamar.


Keduanya telah berbaring saling berpelukan diatas ranjang yang berukuran besar. Chika dengan nyaman berada dalam dekapan dada bidang Zidni.


"Mas, sekarang kamu cerita. Sebenarnya ada apa? Apa masalah itu sangat berat?"


Zidni menghela nafas panjang. "Lumayan sayang."


"Seberapa lumayan Mas? Mas, bagi bebanmu padaku. Jangan kamu pikul sendiri, meskipun aku hanya bisa menjadi pendengarmu."


"Sayang, aku tidak mau melibatkan kamu. Aku tidak mau masalah ini menjadi beban untuk kehamilan kamu, Aku ingin kamu selalu happy."


"Mas, kita ini suami istri. Aku juga berhak tahu. Atau aku cari tahu sendiri." Kesal Chika seraya melepaskan tubuhnya dari dekapan Zidni. Menggeser tubuhnya, menjauh dan membelakangi Zidni.


"Ihh, kok menjauh sih."


"Habis kamu ngeselin." Ketus Chika. Zidni akhirnya mendekat, memeluk Chika dari kebelakang.


"Iya aku akan cerita tapi jangan punggungi aku, sayang." Bujuk Zidni. Chika akhirnya berbalik menghadap suaminya.


"Ya sudah cerita, ada masalah apa."


"Ada yang menyabotase produk perusahaan. Dan itu terjadi selama setahun terakhir. Penjualan bubuk kopi original yang begitu laris dipasaran tiba-tiba menurun karena ada pesaing yang masuk setahun terakhir. Ya, aku pikir produk kopi kapal uap itu memang memiliki kualitas bagus juga dan persaingan itu cukup ketat. Dan ternyata kapal uap itu milik anak perusahaan PT. Angkasa Jaya yang selama ini bekerja sama denganku, sayang. Intinya duri dalam daging. Ada oknum yang mengaku suruhanku membeli kopi berton-ton dan menjualnya lagi kepadaku dengan harga yang mahal. Dan semua itu baru ketahuan kemarin, saat pasokan biji kopi habis. Dan itu ulah si Edward manusia licik itu. Dan beberapa bulan lalu, aku memutuskan kerja sama dengan tua bangka itu karena bisnisnya sudah tidak sehat lagi. Mungkin ini jawabannya sayang. Rumit sekali menjelaskannya, yang jelas intinya itu. Sampai akhirnya kita bulan ini tidak bisa produksi kopi lagi karena kita belum mendapat suplier baru. Kerugian besar dan bagaimana nasib karyawan di pabrik kalau kita harus berhenti. Penyuplai lama ku juga sudah bisa memberikannya karena sudah terikat kontrak dengan Pt. Angkasa Jaya. Ya, mereka bahkan membuat hubungan kami salah paham. Saat kita liburan kemarin, Alvin dan Frans yang langsung terjun ke lapangan. Aku tidak masalah bersaing dengan produk baru namanya juga bisnis tapi caranya sungguh licik."


"Lalu, apa yang akan kamu lakukan Mas?"


"Mencari mata-mata di perusahaan. Karena angka penjualan sudah dimanipulasi. Aku akan mengirim Alvin untuk bekerja di sana sebagai OB. Karena si Edward juga belum mengenal Alvin. Karena rekaman CCTV pun sengaja dihapus saat Alvin berusaha menyelidikinya. Jadi memang semua ini sudah direncakan."


"Itu ide bagus, Mas. Kamu harus sabar, Mas. Aku yakin ada solusi. Apa kita cari suplier baru Mas?"


"Belum ada pandangan, sayang."


"Mas, sebaiknya kamu fokus cari suplier deh karena pabrik harus tetap berjalan. Biar Alvin yang menyelidikinya. Kalau kamu cuma melamun dan memikirkan kejahatan di Tuan Edward, yang ada pada terbengkalai, Mas. Lagi pula produk kita bukan cuma kopi original kan? Masih ada minuman kemasan yang lain. Minuman baru resep dariku laris kan, Mas?"


"Dari angka penjualan sangat memuaskan, sayang."


"Kamu harus memperketat sistem keamanan perusahan dan seluruh data perusahaan, Mas. Jangan sampai kita lengah lagi. Karena saat kita merugi, nasib para pekerja juga ada ditangan kita. Nanti aku bantu cari petani kopi terbaik, Mas."


"Terima kasih ya sayang. Rasanya plong sekali dan apa yang kamu katakan benar. Aku harus mencari suplier dulu supaya produk kita tidak sampai berhenti produksi."


"Kalaupun kita harus berhenti, anggap saja kita sedang istirahat untuk menyiapkan gebrakan baru."


"Iya sayang, kamu benar. Kamu memang terbaik. I love you so much, sayang."


"I love you so much juga suamiku sayang. Semangat ya Mas. Aku yakin pasti akan ada jalan keluarnya."


"Iya sayang. Ya sudah, kita tidur sudah jam 01,00 lewat. Sini, aku peluk banyak-banyak. Istriku memang terbaik."


"Dan kamu juga suami terbaik."


Bersambung.....