Mr. Arrogant Vs Noisy Girl

Mr. Arrogant Vs Noisy Girl
BAB 62 Tinggal Satu Atap



Frans bergegas memanggil dokter. Zidni bukan hanya meminta dirinya dan Kenzie yang melakukan tes DNA akan tetapi juga Chika.


''Apa hasilnya bisa di lihat besok dok?'' tanya Zidni.


''Paling cepat dua minggu, Tuan.''


''Dua minggu? Selama itu? Apa tidak bisa besok?''


''Tidak bisa Tuan, semua itu ada prosedurnya. Permisi.'' Ucap Dokter setelah selesai mengambil sampel daru Zidni, Kenzie dan juga Chika.


''Tuan, bersabarlah.'' Frans menenangkan.


''Oh Tuhan, sepertinya aku mabuk menulis semua jurnal ini.'' Keluh Zidni sambil membasuh wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


''Tuan, waktu itu anda juga lupa seperti ini. Tapi tidak lama kemudian anda ingat dan mengenali Nona Chika.'' Kata Frans. Zidni mendengus kesal, rasanya sulit menerima kenyataan kalau dirinya sudah menikah dan memiliki seorang anak. Zidni kemudian menatap Chika dan Kenzie bergantian yang duduk di sofa seberang.


''Dari wajahnya anak itu memang mirip denganku. Masa aku tidak ingat apapun?'' gumamnya kesal.


''Baiklah, selama menunggu hasil tes DNA, kalian berdua tinggal di rumahku. Setidaknya aku bisa mengawasimu, Chika. Siapa tahu kamu pergi ke rumah sakit untuk memanipulasi hasil tesnya.''


Chika meradang mendengar ucapan Zidni namun kali ini ia berusaha bersabar. ''Aku tidak mungkin melakukan itu.''


''Mah, kita akan tinggal bersama Papa?'' sahut Kenzie dengan rona wajah bahagianya. Chika hanya mengangguk dengan senyum kecilnya.


''Hei anak kecil, jangan panggil aku Papa. Sebelum hasil tes DNA itu keluar, jangan panggil aku Papa ya.'' Zidni memperingatkan dengan nada kesal. Kenzie memasang wajah kecewa mendengar ucapan Zidni.


''Dan jangan senang dulu karena kalian bisa tinggal di rumah mewahku. Hitung-hitung daripada aku membayar pembantu jadi lebih baik kamu selama dua minggu membantu membersihkan rumahku. Jangan pernah keluar rumah tanpa seijin dan pengawasanku. Panggil aku Tuan, selama hasil tes itu belum keluar. Aku ragu dan tidak percaya menikahi wanita kampungan.''


''Tuan, jaga ucapan anda. Anda akan menyesal jika sudah mengingat semuanya.'' Sahut Frans.


''Frans, jangan ikut campur. Atau aku pecat kamu!" sikap bengis Zidni pun bangkit kembali. Pingsan lima hari membuat keangkuhan dan sikap bengisnya seolah bangkit kembali. Ucapan Zidni sungguh menyakitkan bagi Chika namun Chika memaklumi itu karena semua itu karena Zidni belum mengingat siapa dirinya. Chika tetap akan menghadapi menghadapi keangkuhan Zidni dengan caranya yang seperti biasa. Yang jelas saat ini Chika akan merawatnya dengan cinta sekalipun ia harus beradu argumen dengan pria yang sejak dulu begitu angkuh.


''Baiklah Tuan. Saat ini aku akan memanggilmu Tuan dan akan membantumu membersihkan rumah.'' Ucap Chika dengan tegas dan penuh penekanan.


''Dan sebaiknya mulai sekarang bicaralah dengan sopan.'' Kata Zidni dengan suara yang terdengar menyeramkan.


''Baik Tuan.'' Jawab Chika.


''Mah, kenapa Papa menjadi seperti itu?'' tanya Kenzie dengan suara memelan.


''Sabar ya sayang. Yang penting kita bisa satu rumah dengan Papa. Misi kita menaburkan cinta di hati Papa.''


''Iya Mah.''


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan harinya, Zidni akhirnya di ijinkan pulang. Karena Zidni merasa baik-baik saja sekalipun kata dokter ia mengalami koma selama lima hari. Namun Zidni tidak merasakan dirinya koma, ia hanya merasa tidur dalam waktu yang lama. Dari hasil pemeriksaan, semuanya pun bagus tidak ada masalah.


Begitu sampai dirumah, Kenzie begitu takjub melihat rumah Zidni.


''Wah, ini rumah Papa ya? Bagus sekali Pah. Ini besar sekali.'' Kenzie berlari kecil sambil melompat kegirangan.


''Jangan panggil aku, Papa.'' Ketus Zidni.


''Maksudnya Om.'' Kenzie meralat ucapannya. Kenzie kemudian berlari keteras samping dan melihat ada kolam renang.


''Wah, ada kolam renangnya juga. Mah, aku mau berenang.'' Kata Kenzie sambil menunjuk kolam itu.


''Mama kan tidak bisa berenang, sayang.''


''Om Zidni bisa kan temani aku berenang?''


''Maaf, aku ingin istirahat.'' Ucap Zidni. Ucapan Zidni membuat Kenzie kecewa.


''Frans, bawa mereka ke atas. Pastikan mereka tidak jauh dariku supaya aku bisa mengawasinya.''


''Iya Tuan.'' Jawab Frans.


''Tuan kecil, Nona Chika, aku antar kalian ke kamar.'' Lanjut Frans. Chika mengangguk. Sementara Zidni sudah melenggang menaiki anak tangga menuju kamarnya.


''Ini kamar kalian.'' Kata Frans.


''Kenzie, nanti kamu jatuh sayang. Ayo duduk yang manis.'' Ucap Chika dengan lembut.


''Hehehe habisnya empuk Mah.'' Kenzie lalu membanting tubuhnya diatas kasur itu.


''Lembut sekali Mah dan wangi.'' Ucapnya lagi dengan polosnya.


''Nona, sekali maaf kalau saya tidak mengikuti perintah Nona. Cara seperti ini lebih baik daripada anda berjuang dari nol. Nol yang anda jangkau terlalu jauh, Nona. Tapi jika nol itu di mulai dengan menjadi Nyonya Zidni, itu lebih mudah. Saya juga sudah memberi tahu Mas Alvin untuk mengemas pakaian anda dan juga Tuan kecil.''


''Sekretaris Frans, kenapa bahasamu formal sekali?''


''Sudah seharusnya seperti ini Nona. Anda adalah Nyonya di rumah ini. Mungkin setelah ini saya akan memanggil anda Nyonya.''


''Tapi aku sudah menganggap anda sebagai temanku.''


''Tidak apa-apa Nona. Saya tetap menjadi teman anda.''


''Terima kasih untuk semua bantuan anda sekretaris Frans. Anda membawa kami masuk ke dalam rumah ini dan kami bisa bersatu sebagai keluarga, meskipun dia masih belum ingat.''


''Sama-sama Nona. Dan sebaiknya anda jangan berbicara formal pada saya. Karena kalau Tuan sudah ingat, dia akan menampar mulut saya.'' Frans terkekeh.


''Iya-iya baiklah, Frans.''


''Begitu rasanya lebih tenang Nona. Baiklah saya pamit dan akan membawa pakaian anda ke rumah ini. Semangat Nona! Buat Tuan jatuh cinta berjuta-juta kali pada anda.''


''Iya Frans terima kasih. Hati-hati ya.''


''Pasti Nona.'' Frans tersenyum lega seraya meninggalkan kamar Chika. Frans kemudian berjalan menuju kamar Tuannya.


''Tuan!" Panggil Frans sambil mengetuk pintu kamar Zidni.


''Masuk Frans.'' Zidni tampak duduk di sofa sembari membaca jurnal ingatannya.


''Tuan, saya permisi.''


''Duduklah Frans! Ada hal yang ingin aku tanyakan padamu.'' Wajah Zidni tampak serius dan menyeramkan seperti biasanya. Frans pun duduk berhadapan dengan bosnya.


''Apa aku memiliki surat pernikahan? Apa kamu menjadi saksi pernikahanku?''


''Maaf Tuan, apa Tuan tidak ingat siapa Nona Chika? Saat anda pingsan, anda langsung mengingat Nona Chika sebagai karyawan anda.''


''Aku belum mengingatnya Frans. Apa dia juga bekerja untukku?''


''Dia salah satu karyawan anda. Saat kita pergi ke Jepang beberapa waktu lalu untuk perjalanan bisnis, anda juga mengajaknya. Bahkan disebuah pesta, di depan Nona Jasmine, anda mengakui Nona Chika sebagai tunangan anda.''


''Apa? Tunangan? Sungguh aku melakukan hal itu?''


''Iya Tuan. Semuanya sudah anda tulis dalam jurnal itu. Kalaupun anda belum mengingatnya tidak usah di paksa Tuan. Anda cukup membacanya saja.'' Jawab Frans dengan senyum lebarnya.


Zidni mengangguk pelan, mengerti apa yang Frans ucapkan. ''Oh ya, bagaimana aku bisa pingsan? Dan apa yang terjadi sebelumnya?''


''Sebelum itu, menurut Nona Chika. Anda menganggap Nona Chika memiliki hubungan dengan anda di masa lalu. Saat anda ingin menyerah, Nona Chika mengeluarkan bukti itu karena anda sendiri yang memintanya. Sepertinya anda memaksa ingatan anda sampai akhirnya anda pingsan.'' Jelas Frans.


Zidni terdiam sesaat. ''Oh ya jaga rumah ini dengan ketat ya. Supaya wanita dan anak itu tidak bisa keluar masuk sembarangan.''


''Iya Tuan. Saya pastikan mereka tetap di dalam rumah.''


''Minta beberapa bodyguard menjaga rumah.''


''Baik Tuan. Kalau begitu saya permisi, saya akan pergi ke kantor.''


''Bagaimana dengan perusahaan?''


''Kita sedang mengeluarkan produk baru dan itu sudah sesuai dengan permintaan anda.''


''Besok aku akan ke kantor jadi siapkan rapat besok ya.''


''Iya Tuan. Kalau begitu saya permisi.'' Pamit Frans seraya beranjak dari duduknya. Zidni hanya mengangguk sambil mengibaskan tangannya, kode mempersilahkan Frans pergi.