
Alvin sendiri baru pulang lewat tengah malam. Pekerjaan yang banyak di kantor membuatnya lupa tentang Bella. Belum lagi ia harus mempersiapkan penyamaran untuk besok.
Begitu masuk rumah, Alvin langsung membanting tubuhnya diatas sofa ruang tamu. Lelah dan kantuk serasa tidak bisa ia tahan. Alvin memijat keningnya sambil sesekali menghembuskan nafas, dan seketika ia merasa rumahnya menjadi sunyi.
"Bella! Astaga, aku baru ingat. Dimana gadis bodoh itu?" Gumam Alvin dalam hati. Alvin kemudian beranjak dari sofa dan menuju ke kamar Kakaknya, namun kamar itu sudah kosong.
"Kemana dia?" Alvin kemudian mencari ke dapur dan kamar mandi namun juga tidak menemukan Bella.
Netra Alvin tertuju pada secarik kertas yang tergeletak di meja makan.
Terima kasih untuk bantuanmu. Maaf kalau aku harus pergi tanpa pamit. Suatu saat aku akan membalas kebaikanmu.
-Bella-
"Dia sudah pergi rupanya, syukurlah. Setidaknya dia tidak membuatku susah lagi. Apalagi pekerjaanku juga sedang banyak begini. Dan semoga dia baik-baik saja."
Keesokan harinya, Alvin sudah siap dengan penyamarannya. Tatanan rambut klimis, kacamata bulat yg lumayan besar serta tambahan kumis, membuatnya sulit untuk dikenali.
"Hmmm… sepertinya ini lumayan dan tidak mencurigakan. Kali ini harus sukses dan tidak boleh tertangkap basah." Ucapnya dengan penuh keyakinan dan rasa optimis yang tinggi.
###
"Selamat pagi istriku," sapa Zidni saat pertama kali membuka matanya.
"Selamat pagi suamiku," ucap Chika seraya mengeratkan pelukannya. Zidni tersenyum lalu memberikan kecupan di kening Chika.
"Sayang, ada yang belum aku katakan padamu."
"Apa itu, Mas?"
"Aku hari ini meminta Alvin untuk menyamar di kantor si tua bangka itu."
"Sabar, kamu jangan tersulut emosi, sayang. Iya aku tidak apa-apa, semoga Alvin bisa mengatasinya."
"Baiklah, sekarang ayo kita mandi. Setidaknya beri aku vitamin supaya aku tenang."
"Itu maunya kamu, Mas."
"Jadi… kamu mau tidak?"
"Tentu saja. Aku akan melayani suamiku dengan sepenuh hati."
Zidni dengan penuh semangat dan antusias membuka selimut lalu menggendong Chika menuju kamar mandi. Ritual pagi yang penuh dengan gairah.
Selesai mandi bersama dan menyempatkan bercinta, mereka sarapan bersama dengan Kenzie.
"Selamat pagi juga Papa."
"Bagaimana sekolahmu? Maaf ya, kalau seharian kemarin Papa tidak bisa menemanimu bermain."
"It's okay, Papa. Aku tahu kalau Papa pasti sangatlah sibuk," ucap Kenzie sambil melahap sarapan paginya.
"Dan sepertinya Papa akhir-akhir ini juga akan sibuk. Kamu sama Mama dulu ya."
"Iya, Papa. No problem! Papa stay healthy saja."
"Hmmm… sepertinya jagoan Papa semakin pintar nih."
"Iya, dong, harus. Kan aku anak Papa."
"Baiklah, sekarang habiskan makananmu nanti kita berangkat bersama."
"Siap, Papa!"
"Sayang, nanti kamu kalau butuh apa-apa minta sama Bibi, ya. Siapa tahu kamu nanti ngidam kan?"
"Kalau ngidamnya kamu bagaimana?"
"Ya… aku akan secepatnya pulang," ucap Zidni sambil mengerlingkan mata genitnya.
"Dasar kamu! Kamu juga habiskan sarapannya nanti Kenzie kesiangan."
"Iya, Sayang," ucap Zidni sambil mengelus kepala Chika.
###
Sementara itu Alvin sudah sampai di kantor Tuan Edward dengan segala penyamaran palsunya. Ia segera menuju ke ruang OB dan bersiap melakukan pekerjaannya.
Alvin memulai pekerjaannya dengan titik fokus utama yaitu menuju ruangan Tuan Edward. Ia memasang alat penyadap di bawah meja ruang kerja Tuan Edward. Ia juga meletakkan kamera pengintai di sebuah vas bunga yang terletak di nakas belakang kursi kebesaran Tuan Edward.
Alvin harus memastikan semuanya aman dan jangan sampai ketahuan. Setidaknya setelah ia mendapatkan bukti yang akurat.
"Baiklah, aman," gumam Alvin. Setelah semuanya beres, Alvin bergegas ke luar. Dan disaat Alvin keluar dari ruangan Tuan Edward, disaat yang bersamaan pintu lift baru saja terbuka. Alvin terkejut dan segera pura-pura menyapu, karena yang keluar dari lift adalah Tuan Edward. Tuan Edward sama sekali tidak menghiraukan Alvin yang sedang menyamar karena ia juga sibuk berbicara dengan sekretarisnya. Alvin menghela nafas lega saat Tuan Edward telah memasuki ruangan. Setidaknya keberadaannya tidak mengundang rasa curiga Tuan Edward. Alvin lalu bergegas turun ke lantai dasar menuju ruangan khusus OB.
"Huft, untung tidak ketahuan," gumamnya dalam hati.
#Bersambung.... Hai-hai aku kembali. Segini dulu kali ya, sebagai tanda comeback-nya si penghalu ini, hehehehe. Next part besok ya, terima kasih ya buat kalian yang sudah amat sangat sabar menanti 😘🙏