Mr. Arrogant Vs Noisy Girl

Mr. Arrogant Vs Noisy Girl
BAB 51 Satu Ranjang



Hampir empat jam lamanya mereka terjebak macet. Zidni sama sekali tidak bisa berkutik saat Chika semakin nyaman di bahunya. Akhirnya mereka sampai juga di hotel.


''Chika, bangun!" Zidni menepuk tangan Chika. Namun Chika sama sekali tidak bergerak. Zidni mencoba sekali lagi membangunkan Chika tapi masih tetap sama.


''Astaga, kebo banget sih.'' Gumam Zidni dengan kesal. Akhirnya Zidni menggendong Chika dan membawanya ke kamarnya. Di depan pintu kamar Chika, Frans sudah menunggu. Frans panik melihat Chika dalam gendongan Zidni.


''Tuan, Nona Chika kenapa? Apa terjadi sesuatu?''


''Dia tidur dan sama sekali tidak bisa di bangunkan.'' Kesal Zidni.


''Syukurlah, saya pikir Nona kenapa-kenapa.''


''Cepat buka pintu kamarnya.''


''Baik Tuan.'' Jawab Frans. Setelah pintu kamar terbuka, Zidni membawa masuk Chika dan merebahkan tubuh Chika di. atas tempat tidur. Namun tiba-tiba Chika menarik tubuh Zidni dan memeluknya.


''Kenzie, mama rindu kamu, Nak. Tunggu Mama ya.'' Ucap Chika yang sedang mengigau.


''Frans, bantu aku melepaskan tangannya.'' Kata Zidni pada Frans.


''I-iya Tuan.'' Kata Frans. Frans kemudian berusaha melepaskan tangan Chika namun tidak bisa. Alias Frans sendiri ingin mereka berdua malam ini bersama.


''Tangan Nona Chika kuat sekali, Tuan. Dia dulu sabuk hitam jadi sangat susah melepaskannya.'' Ucap Frans.


''Sayang, kamu mau kemana? Sini di peluk Mama ya. Jangan kemana-mana.'' Ucap Chika lagi sambil mengigau. Pelukannya pun semakin erat sampai membuat Zidni terjatuh disamping sisi ranjang yang kosong.


''Tu-tuan, perut saya mulas, kumat lagi. Saya ketoilet dulu, permisi. Anda coba lepaskan sendiri ya.'' Frans kemudian buru-buru keluar dari kamar Chika dan dengan sengaja membiarkan mereka berdua.


''Zidni, aku merindukanmu. Aku ingin kita tidur berdua malam ini.'' Gumam Chika dalam hati. Karena sebenarnya Chika hanya pura-pura saja.


''Chika, lepaskan aku!" Kata Zidni. Namun Chika tidak bergeming. Chika justru membuat tubuh Zidni berbaring di ranjangnya dan tanpa ada rasa canggung, Chika memeluk Zidni seperti memeluk guling. Kakinya bahkan ikut memeluk kaki Zidni. Zidni sama sekali tidak bisa bergerak.


''Kenzie malam ini tidur sama Mama ya, jangan tinggalkan Mama seperti Papa kamu meninggalkan Mama.'' Ucap Chika lirih dengan pura-pura mengigau.


''Hmmm kasihan juga dia. Lagi pula kenapa bodoh sekali, mau-mau saja di ajak nikah pria tidak bertanggung jawab. Suami macam apa itu. Lihat wajahnya memelas saat tidur begini kasihan juga tapi kalau mendengar ocehannya menyebalkan juga.'' Gumam Zidni dalam hati. Dan Zidni pun menguap, ia mulai mengantuk. Duduk di dalam taksi berjam-jam dan terjebak macet tentu saja membuatnya lelah. Akhirnya Zidni pun tertidur begitu saja tanpa berusaha kabur dari pelukan Chika. Chika perlahan membuka matanya, merasakan Zidni tidak bergerak lagi. Chika mendongak dan melihat Zidni telah terlelap.


''Aku sangat merindukan hal seperti ini, Zidni. Maafkan saya ya Tuan Zidni, kalau saya membuat anda tertidur di ranjang saya.'' Gumam Chika dalam hati sambil menahan tawanya. Chika memandang sejenak wajah tampan suaminya, suaminya yang sudah lama menghilang. Chika kemudian mengecup pipi Zidni.


''Selamat tidur suamiku. Mimpikan tentang kita ya.'' Ucap Chika dalam hati. Chika kemudian kembali tidur dengan memeluk Zidni.


''Terima kasih sekretaris Frans, untuk bantuanmu.'' Gumam Chika dalam hati.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


''Selamat pagi suamiku. Wajah tampanmu sama sekali tidak berubah sejak dulu. Hanya saja tubuhmu semakin berotot dan atletis.'' Ucap Chika dalam hati sambil memandangi wajah suaminya. CUP! Sebuah kecupan mendarat di pipi Zidni. Chika kemudian kembali menutup matanya, menunggu sampai Zidni terbangun.


Sepuluh menit kemudian, Zidni membuka matanya. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali, berusaha mengumpulkan nyawanya kembali. Ia melihat tangannya sedang memeluk seseorang.


CHIKA! Zidni melonjak kaget dan reflek mendorong Chika sampai Chika terguling dan jatuh ke bawah.


''Aduh!" rintih Chika.


''Chika, apa yang terjadi semalam?'' tanya Zidni dengan suara meninggi. Ia pun mulai panik. Chika berusaha bangkit.


''Tuan ini apa-apaan sih? Kenapa mendorong saya?'' marah Chika.


''Lihatlah Chika! Apa yang terjadi semalam? Kamu pasti melakukan sesuatu padaku. Kenapa aku ada di kamarmu?''


''Tuan, saya tidak tahu. Terkahir yang saya ingat, kita terjebak macet kan? Terus siapa yang membawa saya ke kamar?'' Chika berbalik tanya.


''Ya.... semalam aku yang membawamu ke kamar. Karena kamu tidur dan tidak bisa dibangunkan.''


''Tuh kan, berarti anda yang macam-macam sama saya Tuan. Oh tidak, pasti Tuan melecehkan saya. Mentang-mentang saya tidak bersegel, anda bisa berbuat seenak hati anda ya.'' Chika berbalik menuding Zidni.


''Hei, jaga ucapanmu ya. Lihatlah kita sama-sama masih memakai baju. Saat aku akan pergi, kamu tiba-tiba memelukku dan mengigau. Frans saksinya. Jadi jangan menuduh sembarangan kamu ya.'' Bantah Zidni. Chika kemudian berakting menangis.


Hua... hua... hua... hiks... hiks... hiks.


''Aku ternodai.''


''Chika, jaga ucapanmu ya. Aku tidak melaukan apapun. Jangan-jangan kamu sengaja menjebakku ya? Supaya aku tidur denganmu dan kemudian kamu meminta aku untuk tanggung jawab. Apakah serendah itu dirimu Chika?''


''Apa? Tuan menuduhku? Untuk apa aku melakukan itu Tuan? Anda bukan tipeku. Jadi sorry ya Tuan. Namanya kita sama-sama tidak sadar, siapa tahu tangan Tuan menjamah tubuhku saat tertidur. Itukan termasukan pelecahan Tuan.''


''Ya ampun! Aku menyesal menggendongmu dan membawamu ke kamarmu. Seharusnya aku seret kamu dan aku biarkan tidur di luar saja. Niat baikku ternyata di anggap buruk olehmu. Aku tidak mabuk dan masih sadar ya. Aku bukan pria brengsek seperti yang kamu pikirkan.'' Zidni dengan kesal mengambil jasnya kemudian pergi meninggalkan kamar Chika. Begitu Zidni pergi, Chika pun tertawa terbahak-bahak.


''Ekspresi marahnya sangat lucu. Sebaiknya aku mandi dan pura-pura marah dengan mengurung diri di kamar.'' Gumam Chika.


Zidni kemudian kembali ke kamarnya. Ia mengacak rambutnya mencoba mengingag kejadian semalam. Memastikan bahwa ia tidak melakukan apapun pada Chika.


''Aku sangat yakin kalau aku tidak melakukan apapun. Aku sepertinya tertidur begitu saja. Dia yang memeluk dan mengunci tubuhku tapi dia yang marah kepadaku.'' Zidni kemudian mengambil ponsel Chika di dalam laci meja. Tampak beberapa panggilan tak terjawab dan beberapa pesan dari Romi, Joan dan Alvin adik Chika. Namun saat Zidni berusaha ingin tahu, ponsel Chika tidak bisa di buka karena terkunci oleh password.


''Joan, Romi, untuk apa mereka menelepon dan mengirim pesan pada Chika. Kalau Alvin aku tahu, dia adiknya Chika. Romi, nah dia ini yang suka sama Chika. Sudah pasti dia berani mendekati Chika karena sudah tahu kisah Chika. Tapi ini si Joan, untuk apa Joan berlagak sok dekat dengan Chika? Huf, kenapa aku tidak suka mereka dekat sama Chika? Arrgghhhh... Tapi bodoh amat. Aku harus mandi dan segera mengembalikan ponsel ini.'' Gumamnya dengan kesal seraya membanting ponsel Chika di atas tempat tidur.