
''Sebaiknya kamu tidur. Kamu baru saja pulang dari rumah sakit, lihatlah tanganmu juga.''
''Chika, ijinkan aku menyentuh dirimu sebagai seorang suami.''
''Tapi aku sedang menstruasi.''
''Aku tidak ingin yang itu. Aku ingin menikmati bagian yang atas dulu.''
''Lakukan sesuka hatimu,'' pasrah Chika dengan senyum menggoda.
Zidni kemudian menaikkan tubuh Chika keatas meja. Diraihnya tengkuk Chika dan di lum... atlah bibir pink itu dengan lembut. Tangan Chika pun langsung melingkar di leher Zidni. Menikmati ciuman yang semakin dalam dan semakin panas. Lidah Zidni menyapu bersih ke dalam rongga-rongga mulut. Ia juga menyesap dan menggigit bibir Chika dengan lembut. Mata keduanya saling terpejam, merasakan gairah dan nikmat yang luar biasa. Zidni menurunkan ciumannya ke area leher Chika. Dikecupnya lembut sampai membuat Chika mengeluarkan de.. sahan kecil. Bibir Zidni kemudian menjalar ke bagian dada. Dada yang begitu Zidni inginkan sejak tadi. Zidni melepas tali piyama seksi itu. Membuat kedua gunung kembar menyembul di balik bra warna merah. Dengan penuh gairah, Zidni menghisap dan menyesap bagian atas daging kenyal itu. Zidni membuat jejak disana. Dua jejak merah sekaligus.
''Ahhhh.... mmmhhhh.... '' de.. sah Chika saat bibir Zidni meninggalkan jejak di area gunung kembari itu. Tangan Zidni kemudian menurunkan kedua tali bra perlahan, setelah itu ia lepas pengaitnya. Chika hanya pasrah karena sejujurnya dia sangat merindukan di jamah sepertu ini. Dan terpampanglah dua gunung kembar yang bulat dan berukuran 36b. Tampang ujungnya masih berwarna pink. Semenjak hamil dan melahirkan, ukuran payudara Chika seperti membesar otomatis dari ukuran sebelumnya. Tampak begitu montok. Tangan Zidni memainkan ujungnya membuat Chika mende.. sah nikmat tidak karuan. Tubuhnya sampai meliuk hebat. Kedua kakinya langsung melingkar ke pinggang Zidni dengan kuat. Zidni yang sudah tidak sabar, langsung melahap kedua gunung kembar itu secata bergantian. Menghisapnya, menariknya dan memberikan gigitan kecil.
''Ahhhh... enak sayang. Hisap terus, '' pinta Chika sambil menekan kepala Zidni semakin dalam. Tentu saja ucapan Chika membuat Zidni semakin bersemangat untuk mengulum pucuk gunung itu.
''Apa kamu suka?'' tanya Zidni dengan nafas terengahnya. Chika mengangguk sambil menggigit bibir bawahnya. Zidni tidak melewatkan kesempatan untuk meremas bokong yang padat, solid dan sintal itu.
''Sayang, kalau kamu sudah selesai menstruasi, kamu harus memberitahu aku ya.'' Ucap Zidni di sela-sela menghisap puncak gunung itu.
''He'eh... ahhhhh.... mmmhhhhh,'' sungguh nikmat tak terkira. Hampir lima belas menit Zidni memainkan dada kenyal milik Chika. Chika merasakan junior Zidni menyenggol pahanya.
''Chika, aku sepertinya tidak bisa menahan hasratku.'' Bisik Zidni.
''Aku akan memuaskan mu dengan cara yang lain.'' Ucap Chika dengan nafasnya yang masih memburu. Tentu saja dengan posisi Zidni yang masih belum pulih total, ia tidak mengerti maksud Chika. Karena hanya dengan Chika lah, ia pertama kalinya bercinta.
''Memuaskan bagaimana?'' tanya Zidni tak mengerti. Chika tentu saja paham bagaimana cara memuaskan suaminya. Chika turun dari meja. Tangannya meraba sesuatu dibalik celana piyama. Sangat tegang dan siap meluncur ke sarangnya. Zidni terkejut dengan sikap Chika.
''Ap-apa yang ingin kamu lakukan Chika?''
''Memuaskanmu. Kamu dulu sangat menyukainya.''
''Menyukainya?''
''Iya. Kamu mau mencobanya?'' ucap Chika sembari mengelus kepala junior Chika. Zidni penasaran dan mengangguk. Chika kemudian berlutut di hadapan Zidni. Posisi wajahnya sama persis dengan bagian tubuh Zidni. Chika sangat merindukan batang yang kokoh itu. Perlahan Chika menurunkan celana piyama Zidni beserta boxernya. BIG n LONG! Ukurannya masih sama dan selalu menggoda. Zidni merasa malu.
''Ak-aku malu.'' Ucap Zidni terbata.
''Kamu sungguh tidak pernah seperti ini?''
''Tidak pernah. Hidupku terlalu lurus Chika.'' Jawab Zidni. Chika sendiri merasa tidak enak dan akhirnya ia kembali menaikkan celana Zidni.
''Ke-kenapa kamu tutup lagi?''
''Jjj-jangan. Aku ingin merasakannya. Lakukanlah! Jika dulu aku menyukai hal itu.'' Ucapnya malu-malu. Tanpa aba-aba dan banyak bicara, Chika melorot celana dan boxer milik Zidni. Pertama Chika mengelusnya dengan lembut. Membuat Zidni merasa seperti ingin melayang. Tangannya kebelakang, bertumpu pada meja. Chika lalu menjilatnya, seperti menjilat ice cream cone.
''Arrghhhh.... '' de.. sah Zidni. Chika kemudian mulai melahap dan mengulumnya sampai pangkal. Membuat Zidni men... desah tidak karuan. Ia memegang kepala Chika dan memaju mundurkan kepala Chika pada juniornya. Tak sampai di situ, dua kantung di bagian bawah tak luput dari jilatan dan hisapan Chika.
''Oughhh! Oughh! Terus sa... sayang.'' Ucap Zidni dengan nafas yang memburu. Semenjak berpisah dengan Chika, Zidni tidak pernah sekalipun berdekatan dengan wanita. Sekalipun Jasmine mengejar, Zidni tidak pernah peduli. Diri Chika dan Zidni sudah di kuasai oleh gairah dan naf.. su yang membara merasuk sukma. Zidni tidak menyangka jika permainan Chika di bawah sana sungguh hebat. Sebuah pengalaman pertama bagi Zidni untuk saat ini. Namun jika dulu, bukan sekedar pengalaman pertama. Tapi sudah menjadi aktivitas rutinnya bersama Chika. Suara erangan dan kecapan bibir Chika pada junior Zidni menyeruak seisi ruangan. Keduanya berharap Kenzie terlelap dan tidak mendengar suara bisik bercinta mereka di dapur.
''Chika, sepertinya... aku... mau sampai.'' Ucap Zidni. Chika mengangguk sambil menghisap, menjilat dan sesekali menggigit batang yang keras namun kenyal itu. Untuk menembah gairah suaminya, Chika memberi re.. masan lembut pada pantat Zidni.
''Aahhhh.... Ougghhhhhhhh...,'' lenguh panjang Zidni menandakan ia sudah mencapai puncak. Tubuhnya mengejang merasakan nikmat. Cairan putih itupun meleleh. Zidni tersenyum mengecup pucuk kepala Chika.
''Terima kasih Chika. Kamu sangat hebat.''
Dan setelah permainan di dapur berakhir, keduanya saling membersihkan diri setelah itu tidur satu ranjang bersama dengan Kenzie. Tangan keduanya saling bertaut meskipun Kenzie ada di tengah-tengah keduanya.
''Selamat tidur... is... istriku. Terima kasih untuk malam ini.''
''Selamat tidur suamiku. Terima kasih untuk tanda merah pertama yang kamu berikan.''
Dan keduanya pun terlelap. Zidni merasa sangat bahagia. Masih tidak menyangka bahwa seseorang itu adalah Chika. Ia juga bahagia karena cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Bahkan ia sudah mendapat servis plus-plus dari Chika.
Keesokan harinya, Chika terbangun lebih dahulu. Dikecupnya pipi dua pria yang ia cintai itu. Chika mencuci muka setelah itu bergegas ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Sandwich adalah menu yang Chika pilih karena untuk sarapan, Zidni sangat menyukai itu. Tak lupa dua gelas susu hangat vanilla sudah tersaji di atas meja. Setelah semuanya siap, Chika membangunkan keduanya. Zidni merasa malam ini tidurnya sangat nyenyak sekali.
''Suamiku, ayo bangun! Kamu harus ke kantor.'' Kata Chika memberikan ciuman pada suaminya. Zidni perlahan membuka matanya.
''Kenzie sayang, bangun yuk! Kamu harus sekolah. Hari pertama di antar Papa ke sekolah.'' Kata Chika yang juga memberikan ciuman untuk putranya. Kedua laki-laki yang ia cintai kompak bangun bersama.
''Morning Mama!'' kompak keduanya.
Chika terkekeh sembari membuka tirai dan jendela. ''Wah, sepertinya sudah mulai kompak nih. Ayo cepat mandi! Mama sudah menyiapkan sarapan untuk kalian.''
''Siap Mama!" ucap keduanya dengan kompak.
''Mah, kemarilah! " pinta Kenzie. Chika tersenyum mendekat pada Kenzie dan Zidni. Kenzie dan Zidni kemudian kompak memberikan kecupan di pipi Chika. Keduanya lalu kabur setelah memberikan kecupan.
''Wah, kalian mencuri kecupan Mama ya.'' Chika terkekeh bahagia. Sebuah hal yang ia rindukan dan nantikan setelah bertahun-tahun akhirnya terwujud juga. Dan Chika bersyukur, Zidni tidak lupa ingatan lagi.
''Terima kasih Tuhan untuk kebahagiaan ini.'' Batin Chika.
...Langsung ke IG author ya @dydyailee536, ada adegan sweet Chika dan Zidni, hehehehe...