Mr. Arrogant Vs Noisy Girl

Mr. Arrogant Vs Noisy Girl
BAB 38 GOES TO JEPANG



Malam itu, Chika dengan menggunakan taksi di antar oleh Ayahnya dan juga Kenzie pergi ke kantor. Karena Zidni dan Frans menunggu Chika di kantor.


''Ini kantor mu, Nak?'' tanya Tuan Arman begitu mereka sampai di halaman kantor Chika.


''Iya Ayah. Aku turun dulu ya.''


''Mmmm Mah, aku mau pipis. Aku boleh numpang pipis dulu.'' Ucap Kenzie.


''Tentu saja boleh.'' Kata Chika.


''Ayah, aku bawa Kenzie ke toilet sebentar ya. Ayah tunggu disini saja.''


''Iya Nak.'' Jawab Tuan Arman tanpa rasa curiga. Padahal sebenarnya itu hanyalah alasan Kenzie saja. Kenzie ingin bertemu dengan Papanya sebelum Zidni berangkat ke Jepang. Kenzie begitu semangat dengan langkah kecilnya menuju ruangan Zidni.


''Permisi Tuan!" sapa Chika seraya membuka ruangan Zidni. Pandangan Zidni mengarah pada Kenzie.


''Chika, kita ini mau kerja bukan mau liburan.'' Ketus Zidni yang sedang sibuk merapikan kembali pakaiannya di atas sofa.


''Saya tahu Tuan. Kenzie hanya ingin mengantar saya saja.''


''Om, tolong jaga Mama ya. Jangan marah-marah pada Mama ku karena hanya dia yang aku punya di dunia ini.'' Ucap Kenzie. Zidni menghela, mencoba meredam amarahnya.


''Iya. Tergantung Mama mu saja. Karena dia selalu membuatku marah.''


''Aku sudah bilang pada Mama kalau dia harus menurut pada Om Zidni. Apakah aku boleh memeluk Om Zidni?''


''Memelukku?'' belum juga mengiyakan, Kenzie sudah menghambur ke pelukan Zidni.


''Tuhan, terima kasih sudah mengijinkan aku untuk memeluk Papa. Tuhan, sembuhkanlah sakit Papa supaya kami dapat berkumpul kembali.'' Gumam Kenzie dalam hati.


''Hati-hati Om. Sekali lagi jaga Mama. Karena bagiku waktu lima hari adalah waktu yang amat sangat lama untukku.''


''Tadinya Kenzie menahan saya untuk pergi Tuan. Karena selama ini kami tidak pernah berpisah sedikitpun. Jadi sangat sulit mendapatkan ijin darinya.'' Sahut Chika.


''Baiklah, aku akan menjaga Mama mu. Tapi dengan syarat dia harus bekerja dengan benar.'' Kata Zidni pada Kenzie.


''Pasti Om. Aku sudah mengatakannya pada Mama sebelum berangkat tadi.''


''Baiklah sayang, sekarang lepaskan pelukanmu dari tubuh Tuan Zidni. Kakek sudah terlalu lama menunggumu.''


''Iya Mah.'' Kenzie kemudian melepaskan pelukannya pada Zidni. Chika kemudian keluar ruangan dan mengantar Kenzie pada Kakeknya.


''Ayah, aku berangkat ya. Tolong jaga Kenzie.''


''Kamu tenang saja ya. Ayah doakan semua pekerjaanmu lancar serta selamat sampai tujuan. Jangan lupa beri kami kabar.''


''Pasti Ayah.'' Chika dan Ayahnya kemudian saling berpelukan. Setelah itu Chika memeluk putranya.


''Kenzie baik-baik ya. Nurut sama Kakek dan Nenek ya jangan menyusahkan mereka.''


''Iya Mama. Mama hati-hati ya dan cepat kembali. Jaga diri ya Ma.''


''Iya sayang, itu pasti.'' Setelah puas berpelukan dan berpamitan, Kenzie dan Tuan Arman pun segera pulang. Sementara Chika kembali masuk ke dalam membantu Frans memasukkan semua barang ke dalam mobil. Setelah memastikan semuanya aman, Frans segera melajukan mobilnya. Dan Chika duduk di bangku depan bersama Frans.


''Oh ya Nona Chika, apa anda baru pertama kali ke luar negeri?'' tanya Frans.


''Iya sekretaris Frans. Ini adalah pengalaman pertama saya. Sungguh tidak pernah membayangkan bisa pergi ke luar negeri seperti ini. Saya juga belum pernah naik pesawat sebelumnya. Jujur saja, sebenarnya saya sangat takut.''


''Tenang saja Nona, semuanya akan baik-baik saja.''


''Oh ya nanti kita duduknya bersebelahan kan?''


''Kita duduk sendiri-sendiri Nona. Nanti saya ada di belakang anda.''


''Oh begitu.''


''Kamu pikir naik angkot apa?'' sahut Zidni dengan gaya songongnya.


''Baru begitu saja sombong,'' kesal Zidni.


''Anda lebih sombong lagi kan Tuan.''


''Kalau aku sombong, itu wajar. Karena aku memiliki segalanya. Kaya, tampan, pintar, mapan, sukses dan masih banyak lagi kelebihanku yang tidak bisa aku sebutkan satu persatu.''


''WOW! Amazing.'' Ucap Chika seraya tepuk tangan. Namun sebenarnya Chika terkesan meledek.


''Sikap angkuhmu itu sungguh menggemaskan,'' gumam Chika dalam hati.


''Oh ya, bagaimana kabar putra anda?''


''Baik sekretaris Frans. Dia juga sudah mengijinkan saya pergi.''


''Lalu, saat ini dia dengan siapa Nona?''


''Dengan Kakek dan Neneknya. Setiap weekend, om nya juga pulang. Ada baby sitter juga jadi banyak yang menjaganya.''


''Ah syukurlah. Oh ya suami anda? Waktu itu aku melihat anda direstoran.''


''Oh, dia bukan suamiku. Dia teman baikku, namanya Romi. Lebih tepatnya teman satu kampung.''


''Oh begitu. Soalnya kalian terlihat bahagia dan rukun sekali, seperti sebuah keluarga.''


''Sssstttt kalian bisa diam? Aku membutuhkan ketenangan.'' Sahut Zidni yang tidak suka melihat Frans sok akrab dengan Chika.


''Maaf Tuan. Kami hanya basa-basi saja. Supaya perjalanan kita tidak tegang.'' Kata Frans sedikit tergagap.


''Iya Tuan, supaya sekretaris Frans tidak mengantuk saat menyetir. Kalau anda menganggap kami berisik, anda bisa mendengarkan musik dengan earphone.'' Ucap Chika.


''Pokoknya kalian diam! Sebentar lagi juga sampai bandara.'' Kata Zidni dengan kesal.


''Baik Tuan. Sekali lagi maaf.'' Kata Frans yang selalu berusaha memahami suasana hati bosnya itu. Akhirnya mereka sampai di bandara dan mereka segera bergegas menuju pesawat.


''Wah, pesawatnya bagus sekali.'' Kata Chika penuh dengan decak kagum.


''Tentu saja. Ini first class.'' Sahut Zidni dengan sombongnya.


''Jadi anda tidak perlu takut Nona. Anda bisa istirahat dengan tenang dan nyaman tanpa rasa takut. Silahkan anda duduk.'' Kata Frans.


''Terima kasih.''


''Sini saya bantu Nona.'' Frans membantu memasukkan barang-barang Chika ke dalam bagasi.


''Frans, kamu bekerja untukku atau dia?'' sahut Zidni.


''Untuk Tuan.''


''Lalu kenapa kamu membantunya? Masukkan semua barangku.'' Ketus Zidni.


''Sebentar Tuan. Nona Chika kan perempuan jadi ladies first.''


''Berani membantahku, Frans?'' suara Zidni meninggi.


''Sekretaris Frans, sebaiknya anda urus Tuan anda. Dia lebih membutuhkan bantuan daripada saya. Saya bukan wanita lemah.'' Kata Chika seraya menatap kesal Zidni.


''Baiklah Nona.'' Kata Frans.


''Sok sekali,'' sinis Zidni. Frans merasa seperti berada di tengah-tengah sepasang kekasih yang saling gengsi untuk mengaku cinta. Frans bahkan masih merasa bingung sampai detik ini, kenapa Zidni mengajak Chika? Padahal Chika tidak ada hubungannya dengan pekerjaan Zidni. Dan kalaupun pergi keluar negeri, Zidni tidak pernah mengajak karyawan baru apalagi yang tidak memiliki jabatan sama sekali di perusahaan. Apalagi sikap keduanya seperti tikus dan kucing, yang tidak pernah akur.


''Baru kali ini Tuan Zidni, mau bersama dengan seseorang yang membuatnya jengkel. Padahal sebelumnya Tuan tidak pernah seperti ini. Bahkan Nona Chika sendiri, sangat berani pada Tuan Zidni. Bukannya menghindari Nona Chika tapi Tuan Zidni malah mengajaknya. Apa mungkin Tuan Zidni sengaja mau menyingkirkan Nona Chika secara halus? Oh, aku tidak mau terlibat dalam tindakan kriminal. Apa jangan-jangan Tuan akan melakukan itu? Kenapa sekarang aku malah jadi was-was ya? Setidaknya aku harus bisa mengawasi Nona Chika, untuk berjaga saja, siapa tahu Tuan Zidni melakukan tindakan kriminal. Semoga naluri kemanusiaan Tuan Zidni masih berfungsi ya Tuhan.'' Gumam Frans dalam hati dengan segala prasangkanya.


...Bersambung.......