
Dan tiba-tiba dua orang pelayan datang menarik Chika dan Zidni ketengah-tengah. Zidni merasa bingung namun Chika tentu saja sudah tahu karena memang itu rencananya.
''Ada apa ini?'' tanya Zidni.
''Kami sudah menyiapkan lantai dansa untuk anda Tuan.'' Ucap si pelayan.
''Dansa?'' Zidni masih merasa bingung.
''Sepertinya sekretaris Frans yang ingin mengajak saya dansa, Tuan.'' Ucap Chika.
''Wah, picik sekali dia.'' Gerutu Zidni. Pencayahaan kini hanya terpusat pada mereka berdua. Dan seorang pianis mulai memainkan not-not pianonya. Zidni masih terpaku tidak tahu harus apa.
''Aku tidak bisa berdansa Tuan.'' Ucap Chika.
''Frans memang benar-benar ingin mengambil kesempatan. Sedetail ini rencananya. Apa dia sungguh-sungguh menaruh hati pada Chika?'' gumamnya penuh tanya.
''Kenapa tidak?'' ucap Zidni. Zidni kemudian meraih pinggang Chika. Ia lalu mengalungkan kedua tangan Chika pada lehernya. Kini wajah mereka berdua sangat dekat. Chika merasa jantungnya berdebar sangat kencang. Seperti merasakan jatuh cinta lagi. Chika kemudian menundukkan pandangannya.
''Letakkan kedua kakimu diatas kakiku.'' Ucap Zidni.
''Tapi Tuan....,''
''Ikuti saja perintahku.'' Kata Zidni. Chika lalu melepas heelsnya dan melakukan apa yang diperintahkan oleh Zidni. Sebuah hal yang sama, yang pernah mereka berdua lakukan sebelumnya. Kaki Zidni perlahan mulai melangkah mengikuti irama musik yang mengalun dari seorang pianis. Zidni mengikuti kata hatinya untuk berdansa dengan Chika.
''Kenapa aku seperti pernah melakukan hal ini?'' gumam Zidni dalam hati. Tiba-tiba Zidni teringat puzzle ingatannya lagi. Chika melihat Zidni seperti sedang kesakitan. Chika kemudian memeluk erat Zidni sembari menepuk punggung Zidni. Zidni terkejut dengan apa yang di lakukan oleh Chika namun seketika rasa sakit di kepalanya perlahan menghilang beserta bayangan ingatannya.
''Maaf Tuan, aku tadi hampir jatuh.'' Ucap Chika yang sengaja beralasan.
''I-iya.'' Singkat Zidni. Entah kenapa Zidni merasa nyaman dengan pelukan Chika. Ia merasakan sebuah kedamaian dan ketenangan. Perlahan tangan Zidni melingkar pada tubuh Chika. Keduanya bukan lagi berdansa tapi saling berpelukan mengikuti irama musik.
''Ya Tuhan, nyaman sekali di dalam pelukannya. Aku benar-benar merindukan pelukanmu suamiku. Aku pasti akan membuatmu jatuh cinta untuk kedua kalinya.'' Gumam Chika dalam hati.
''Aku merasa nyaman sekali berada dalam pelukannya. Siapa sebenarnya wanita ini? Sejak bertemu dengannya, hidupku penuh dengan kejutan. Apa ini ada hubungannya dengan kenanganku yang hilang?'' Gumam Zidni dalam hati. Zidni mengikuti nalurinya untuk memeluk Chika semakin erat. Seperti pelukan kerinduan.
''Tuan, apakah Tuan sedang merindukan seseorang?''
''Memangnya kenapa?''
''Pelukan Tuan sangat erat. Sampai aku tidak bisa bernafas.'' Ucap Chika. Zidni seketika sadar dan melepaskan pelukannya.
''Kam-kamu dulu yang memelukku.''
''Maaf ya Tuan tadi saya hampir jatuh. Dan wajah Tuan mengingatkan saya pada suami saya. Maaf, tidak seharusnya saya melakukan ini. Saya terbawa suasana.'' Kata Chika yang segera mengakhiri dansanya dan kembali memakai sepatu heelsnya. Chika kemudian buru-buru keluar meninggalkan tempat itu. Zidni kemudian mengejar Chika.
''Tunggu Chika!" teriak Zidni. Chika pun menghentikan langkahnya.
''Aku tahu kalau suamimu meninggalkanmu.'' Ucap Zidni. Sontak, Chika dibuat tidak percaya dengan ucapan Zidni.
''Apa yang dia ucapkan?'' gumam Chika.
''Putramu yang mengatakannya padaku saat dia di rumah sakit. Sebenarnya kemana suamimu? Dan kenapa kamu membohongi putramu dan dirimu sendiri?''
Chika lalu berbalik badan. ''Nanti anda juga akan tahu jawabannya Tuan.''
''Maksudmu apa?''
''Biar waktu yang menjawab. Yang jelas anda akan menjadi orang pertama yang mengetahui hal itu.''
Zidni semakin penasaran dengan ucapan Chika. Zidni mendekat kearah Chika dan mencengkeram kedua lengan Chika.
''Apa maksudmu Chika?'' tanya Zidni dengan sorot mata tajamnya.
''Tidak usah anda pikirkan, Tuan.'' Chika merasa iba, tidak mau memaksa Zidni untuk mengingatnya.
''Jawab aku Chika! Jangan membuatku penasaran seperti ini. Apa maksud ucapanmu?'' Zidni semakin mempertegas ucapannya.
''Sakit Tuan!" rintih Chika saat cengkraman Zidni semakin kuat. Melihat dan mendengar rintihan Chika, Zidni pun melepaskan cengkramannya.
''Maaf! Aku sebenarnya sedang mencari seseorang dan aku berharap bisa mengetahuinya darimu.''
''Seseorang siapa lagi Tuan? Bukankah Nona Amora sudah....,''
''Bukan Amora tapi orang lain.''
''Siapa Tuan? Mungkin saya bisa membantu anda.''
''Wah, indah sekali Tuan? Aku ingin sekali naik kapal itu dan berlayar mengelilingi sungai.'' Seru Chika dengan begitu antusias.
''Lusa aku akan mengajakmu.''
''Tuan serius?''
''Iya tapi jawab dulu pertanyaanku.''
''Pertanyaan yang mana?''
''Yang tadi.''
''Maaf saya lupa. Sekarang Tuan ceritakan saja masalah Tuan, siapa tahu saya bisa membantu anda.''
''Sebaiknya aku tanya padamu terlebih dulu. Kenapa kamu bohong dengan statusmu?''
''Saya tidak bohong, Tuan. Saya memang punya suami tapi suami saya menghilang entah kemana. Bahkan sampai detik saya tidak tahu dia dimana.''
''Sejak kapan dia menghilang?''
''Sejak Kenzie masih beberapa minggu di kandungan hingga detik ini.''
''Apa? Selama itu? Pria macam itu. Kenapa masih berharap dia kembali?'' marah Zidni.
''Saya tidak tahu dia sengaja meninggalkan kami atau memang ada sesuatu yang menghalanginya kembali.''
''Apa kamu tidak punya nomor ponselnya atau alamat rumahnya?''
''Sama sekali tidak ada Tuan.''
''Kenapa kamu tidak menikah lagi saja?''
''Saya masih berharap dia kembali.''
''Dasar bodoh! Pria seperti itu tidak pantas untuk diharapkan.''
''Kalau saya menikah, bagaimana kalau tiba-tiba dia kembali?''
''Ya itu artinya dia memang bukan jodomu. Siapa suruh pergi, iya kan?''
''Iya, anda benar sekali.''
''Memang benar wajahnya sangat mirip denganku?''
''Wajah kalian berdua memang mempunyai kemiripan.''
''Mana fotonya, aku ingin melihatnya. Siapa tahu kamu cuma mengaku saja.''
''Maaf fotonya tidak ada. Saya sempat marah dan saya bakar semuanya.'' Bohong Chika.
''Jangan bilang kamu modus dan ingin mendekati aku.''
''Astaga Tuan, untuk apa saya melakukan hal rendahan seperti itu. Sudah lah tidak usah membahas saya. Kalau Tuan sudah tahu yang sebenarnya juga tidak masalah. Mungkin saya akan mempertimbangkan saran Tuan untuk menikah kembali. Bukankah begitu?''
''Kamu mau menikah lagi? Dengan siapa? Frans?'' Zidni terkejut mendengar ucapan Chika. Rasanya tidak rela jika Chika menikah.
''Mmmm sama siapa saja yang tulus mencintai saya dan Kenzie. Sebaiknya sekarang Tuan cerita apa yang bisa saya bantu. Siapa yang ingin anda cari?''
''Pasangan cincin ini.''
''Oh cincin ini? Yang membuat anda mengakui saya sebagai tunangan anda kan?''
''Iya tapi sekali lagi maaf soal itu. Aku sempat kecelakaan dan koma. Setelah aku bangun, aku tidak ingat apapun selain kenanganku bersama Amora. Awalnya aku larut dalam kenangan itu bahkan aku sempat terpuruk kembali dengan kenanganku. Karena saat itu aku tidak ingat apa saja yang baru terjadi padaku. Tapi lambat laun, ada sesuatu yang lebih penting dari Amora. Sampai membawaku kembali ke Indonesia dan mendirikan perusahaan disana. Saat aku kembali ke Shanghai untuk mencari tahu, Mama menemukan cincin ini melingkar dijari manisku saat kecelakaan itu. Setelah itu tidak ada petunjuk lain. Tapi saat bertemu denganmu, aku lebih sering melihat puzzle ingatanku yang seperti acak. Jadi aku pikir kamu tahu sesuatu.''
''Jangan paksa mengingat, Tuan. Saya takut dan khawatir kalau anda pingsan seperti kemarin. Karena saya, sekretaris Frans dan juga seluruh karyawan masih membutuhkan anda. Ada baiknya anda ikuti kata hati anda. Ikuti apa saja yang ingin hati anda lakukan. Jangan melulu memakai logika tapi sesekali pakailah perasaan anda untuk berpikir. Pesan saya, jangan paksa diri anda Tuan. Saya yakin cepat atau lambat, Tuan akan menemukan apa yang Tuan cari selama ini. Kesehatan anda jauh lebih penting Tuan.''
''Sebenarnya saat aku memaksa untuk mengingat, kepalaku rasanya ingin sekali pecah. Amat sangat sakit. Tapi aku ingin segera mengingatnya. Ada orang lain di hidupku yang lebih penting selain Amora. Bahkan sepertinya dia memang lebih penting daripada Amora.''
''Saya tahu, Tuan. Tapi alangkah baiknya demi kesehatan anda, anda harus tetap tenang dan rileks. Ikuti saja kata hati anda, saya yakin ingatan anda yang hilang akan segera pulih dengan sendirinya. Tapi saya senang sekali lho, seorang karyawan baru bisa menjadi tempat curhat atasan.'' Gurau Chika dengan tawanya. Zidni bahkan baru sadar kenapa dia bisa sedekat ini dengan Chika.
''Jangan ge-er ya. Aku melakukan ini karena aku pikir, kamu ada hubungannya dengan masa laluku. Bisa jadi kamu teman lamaku atau temannya seseorang yang aku cari itu.'' Ucap Zidni dengan segala ribuan alasannya.
''Kamu lucu sekali saat ketahuan salah tingkah. Semoga kamu mau mengikuti kata hatimu, suamiku. Dengan begitu kamu bisa segera menyadari cinta ku tanpa kamu harus memaksa ingatanmu. Aku yakin, kamu akan segera ingat jika kamu mulai jatuh cinta denganku.'' Gumam Chika dalam hati.