
"Bella, Bella... Sok jual mahal dan sok cantik." Ucap Austin dengan geram sambil mencapit pipi Bella dengan keras.
"Lepaskan aku, Austin!' bentaknya dengan suara tertahan. Bella tidak berdaya. Austin mengikatnya di kursi, di dalam sebuah rumah tua yang dipenuhi semak belukar.
"Aku akan melepaskanmu kalau kamu menurut padaku. Kamu sih, mendadak meninggalkan aku tanpa sebab. Jadi, jangan salahkan aku berbuat seperti ini."
"Sebenarnya apa yang kamu inginkan dariku?"
"Aku lebih mencintai apa yang dimiliki oleh Papamu. Aku bisa mendapatkan ratusan wanita sepertimu dengan tinggal menunjuk saja tanpa harus repot-repot seperti ini apalagi harus memohon seperti orang bodoh."
"BRENGSEK!" umpat Bella sambil menendang alat vital Austin. Beruntung kedua kaki Bella masih terbebas dari ikatan Austin.
"Kurang ajar!" Austin melayangkan tamparan keras ke wajah Bella, Austin kemudian memberikan komando pada anak buahnya untuk mengikat kaki dan menyumpal mulut Bella dengan lakban. Austin yang geram menjambak rambut Bella, hingga kepala Bella mendongak ke atas.
"Dengar ya, Papa mu akan datang kesini dan membawa semua aset yang dimiliki untukku. Dan setelah itu, aku akan melenyapkannya di hadapanmu, setelah itu giliranmu yang akan ku lenyapkan."
"Jangan sakiti Papa!" ucap Bella dengan mulut terbungkam.
"APA? Kamu bicara apa? Maaf, aku tidak mendengarnya." Austin lantas tertawa jahat, puas melihat Bella tak berdaya seperti ini. Austin kemudian meminta cambuk pada anak buahnya.
"Gara-gara kamu, aku harus duduk di kursi roda. Dan kamu harus merasakan apa yang aku rasakan saat ini, Bella." Ucapnya dengan senyum menyeringai. Bella menggeleng, memohon agar Austin tidak memukulnya. Namun tatapan iba dan gelengan Bella tidak mempengaruhi Austin sama sekali. Tanpa perasaan, Austin mengarahkan cambuk itu pada kaki Bella. Bella hanya bisa meringis menahan sakit pada kakinya.
"Bagaimana Bella, sayang? Sakit atau nikmat?" tatapan jahat dan senyum menyeringai Austin membuat Bella merasa takut dan tertekan. Lagi, cambukan kedua di tempat yang sama. Bulir air mata jatuh membasahi wajah Bella. Ia hanya bisa memberontak dalam diamnya, sambil berusaha menahan rasa perih di kakinya. Austin dengan tega melakukan itu berkali-kali, sampai sekujur kaki Bella memerah. Bella pun mulai merasa lemas dan tidak berdaya. Melihat Bella tersiksa, membuat Austin semakin bahagia.
Sementara itu di tempat yang berbeda namun berdekatan, Chika dan Kenzie di sekap disebuah gudang tua. Chika dan Kenzie duduk dibawah tanpa alas dengan posisi kaki dan tangan yang terikat. Saat mereka berdua membuka mata, mereka melihat sorot mata tajam Tuan Rodrigo yang menanti keduanya sadar.
"Siapa kamu?!" tanya Chika dengan tatapan terkejut.
"Senang bertemu dengan anda, Nyonya Zidni. Bagaimana kabar anda hari ini? Apakah menyenangkan?"
"Katakan siapa kamu? Kenapa aku ada disini?" bentak Chika.
"Tenang Nyonya. Aku tidak akan menyakiti anda dan putra anda yang tampan ini." Tuan Rodrigo mengarahkan pandangannya pada Kenzie yang merapatkan tubuh kecilnya pada sang Mama. Ia kemudian membelai wajah mungil itu.
"Bagaimana kalau aku menyakiti anak ini? Tuan Zidni tentu pasti akan marah."
"Jangan sentuh putraku! Kalau suamiku tahu, kamu akan dibunuh." Ucap Chika dengan suara meninggi.
"Benarkah? Aku takut sekali." Ucap Rodrigo dengan nada mengejek, lantas ia tertawa terbahak. Tuan Rodrigo yang geram, mencapit pipi Chika, sehingga membuat Chika meringis sakit.
"Jangan sentuh Mama!" sahut Kenzie.
"Ssssstttt... diam anak kecil. Jangan ikut campur urusan orang dewasa." Ucap Tuan Rodrigo dengan sorot mata tajamnya.
"Dengarkan aku, Nyonya. Ini semua karena ulah suamimu. Dia terlalu mencampuri urusanku. Inilah akibatnya jika mencampuri urusan Rodrigo." Mendengar nama itu, Chika teringat dengan cerita Zidni beberapa waktu lalu.
"Oh, jadi ini manusia pengecut yang diceritakan suamiku. Beraninya pada perempuan dan anak, pantas saja." Ucap Chika dengan mulut yang masih tercapit oleh tangan besar Tuan Rodrigo.
"Jaga mulutmu, Nyonya! Dia yang pengecut ikut campur urusanku. Menghancurkan semua rencanaku."
"Jangan sakiti, Mama!" teriak Kenzie saat melihat Mamanya dipukuli. Tuan Rodrigo yang telah dikuasai oleh amarah setan, tak segan melayangkan sebuah tamparan pada wajah Kenzie. Melihat putranya dipukul, amarah Chika tersulut.
"Biadab! Sikapmu menunjukkan kalau kamu benar-benar pengecut dan pecundang. Pukul aku, jangan pukul anakku." Teriakan Chika memecah keheningan bangunan kosong itu. Tuan Rodrigo lantas tertawa. Ia mengambil sebuah lakban, mengunci mulut Chika dan Kenzie. Chika hanya bisa menangis, merasa tidak bisa mengusap rasa sakit di wajah putranya.
Akhirnya Zidni sampai juga di lokasi tersebut. Zidni bersama anak buahnya dan polisi, diam-diam sudah mengepung tempat itu. Begitu juga dengan Avin dan para polisi diam-diam sudah mengepung rumah kosong yang dikelilingi semak belukar itu. Tuan Edward masuk ke dalam ruangan itu seorang diri. Ia disambut dengan Bella yang duduk tidak berdaya dengan kaki penuh luka. Ia mendekat dan memeluk putri semata wayangnya.
"Bella, ini Papa." Air mata melihat putrinya terluka, tak bisa Tuan Edward bendung. Ia semakin merasa bersalah dengan apa yang menimpa Bella. Bella hanya bisa menangis dalam pelukan Papanya.
"Papa akan menyelamatkanmu, Nak." Ucap Tuan Edward dengan suara bergetar.
"Wah-wah, drama Ayah dan anak yang mengharukan." Suara Austin muncul dari belakang dengan beberapa anak buahnya.
"Lepaskan putriku, Austin. Dia tidak bersalah."
"Tidak semudah itu, Om. Berikan dulu dokumen itu." Ucap Austin dengan tatapan dan senyum liciknya.
"Lepaskan dulu putriku, baru aku berikan dokumen dalam koper ini." Tuan Edward berusaha melakukan negosiasi. Austin yang licik, memberi kode pada anak buahnya untuk menyerang Tuan Edward dan mengambil paksa koper berisi dokumen itu. Dengan dorongan dan beberapa kali pukulan, membuat tubuh renta Tuan Edward jatuh seketika ke lantai.
"PAPA!" Teriak Bella dengan mulut terbungkam. Austin dengan tawanya merasa puas bisa merebut koper itu dari tangan Tuan Edward. Tuan Edward berusaha untuk bangkit dan berdiri.
"Sekarang lepaskan putriku!" bentak Tuan Edward.
"Sabar dulu, Om. Setidaknya aku harus memeriksa apakah ini dokumen asli atau palsu." Austin lalu meminta anak buahnya untuk memegangi Tuan Edward. Austin murka, ternyata itu semua adalah dokumen kosong. Semua itu berkat ide Alvin, yang merubah strategi di tengah jalan.
"Brengsek! Ini palsu." Umpatnya. Ia kemudian melayangkan pukulan ke wajah dan perut Tuan Edward berkali-kali.
"Jangan bergerak!" segerombol polisi datang bersama dengan Alvin.
"Alvin?" gumam Bella dalam hati. Ia bahagia namun juga bingung kenapa Alvin ada disana.
"Kalian sudah dikepung." Austin pun di borgol bersama dengan anak buahnya. Ia kali ini tidak bisa berkutik. Alvin melepaskan tali yang mengikat tubuh Bella. Hati Alvin terasa perih melihat sekujur kaki Bella terluka. Bella kemudian memeluk Alvin dengan erat.
"Aku takut," isak tangis Bella dalam pelukan Alvin.
"Tenang ya, aku ada disini."
"Kenapa kamu ada disini?"
"Kita bicara nanti. Aku harus membawamu ke rumah sakit."
"Tuan, anda baik-baik saja?" tanta Alvin sambil membantu Tuan Edward berdiri.
"Tidak apa-apa, Alvin. Kita bawa Bella ke rumah sakit saja dulu."
"Baik, Tuan."