Mr. Arrogant Vs Noisy Girl

Mr. Arrogant Vs Noisy Girl
BAB 83 SAH



Setelah menidurkan Kenzie, Zidni disibukkan dengan sebuah buku dihadapannya. Sejak ingatannya sering menghilang dan kembali tiba-tiba, Zidni menjadi lebih sering menuliskan semua hal yang ia lewati hari demi hari. Sampai pengalaman bercinta tak luput dari jurnal itu.


"Mas, sedang apa?" suara Chika cukup mengagetkan Zidni.


"Eh sayang, kemarilah." Pinta Zindi. Chika mendekat dan merangkul pundak suaminya yang tengah duduk di kursi.


"Apa itu Mas?"


"Ini jurnal ku, sayang. Jurnal semua tentang keseharian ku dan apa saja yang sudah aku ingat."


"Apa aku boleh membacanya?"


"Baca saja." Zidi lalu  memberikan buku itu pada Chika. Chika terharu dan terenyuh dengan perjuangan Zidni yang sedang bermasalah pada ingatannya.


"Mas, ini kenapa adegan bercintanya di tulis pula?"


"Memangnya kenapa? Supaya aku ingat kalau kita pernah bercinta dan nikmatnya tubuh istri aku."


"Ihhh kamu ih, malu kan Mas."


"Kenapa harus malu sayang? Kita kan suami istri. Sayang, aku takut kalau aku lupa lagi jadi aku menuliskannya disini. Aku ingin kamu selalu mengingatkan aku tentang semua ini. Aku tidak mau melupakan kamu dan Kenzie. Sayang, kalau aku lupa lagi jangan bosan ingatkan aku ya."


"Iya sayang. Aku tidak akan bosan untuk mengingatkanmu." Chika kemudian memeluk Zidni.


Waktu terus berjalan hingga akhirnya hari yang dinanti oleh Chika dan Zidni telah tiba. Keduanya memilih menikah secara sederhana dan hanya keluarga dekat saja yang hadir. Acara pernikahan yang terkesan tertutup.


Chika tampak cantik dan anggun dengan balutan kebaya putih. Sementara Zidni tampak gagah dengan setelan jas hitam. Dan kini tangan Zidni tengah menjabat  tangan Tuan Arman, Ayah Chika. Dan disaat seperti ini tiba-tiba puzzle ingatan Zidni kembali terusik. Zidni tampak meringis sakit. Ia seperti pernah berada di posisi seperti ini. Melihat Zidni kesakitan, Chika menggenggam tangan kiri Zidni dengan erat.


"Suamiku, jangan di paksa." Ucap Chika pelan. Dan rasa sakit itu kembali mereda. Reaksi Zidni mengundang kekhawatiran semua, terutama Chika.


"Nak Zidni, apa kamu sudah siap?" tanya Tuan Arman memastikan.


"Iya Ayah." Jawab Zidni pelan. Karena rasa sakit itu muncul kembali. Sambil menahan rasa sakit, Dan prosesi ijab kabul berjalan lancar meskipun Zidni berusaha menahan sakit kepala yang hebat. Ia tidak ingin mengecewakan Chika dan keluarganya. Di tambah ia begitu penasaran dengan puzzle ingatannya. Puzzle ingatannya kembali terlihat. Kini ada bayangan sosok wanita dan itu adalah Chika. Wajah Chika tampak begitu jelas. Bayangan awal pertemuannya dengan Chika bahkan terlihat begitu detail. Cinta yang diawali olh benci dan berakhir dengan sebuah pernikahan seperti saat ini. Bulir air mata jatuh membasahi wajah Chika kala ia kini telah sah menjadi istri Zidni dimata agama dan negara.


"Chika, aku ingat semuanya." Ucap Zidni pelan saat mereka berdua saling menatap. Dan BRUK! Zidni jatuh pingsan dari kursinya. Semuanya terkejut!


"MAS!" Pekik Chika. Suasana bahagia seketika berubah menjadi duka.


"TUAN!" Frans memekik mendekati bosnya. Dan mereka segera membawa Zidni ke rumah sakit. Untuk ketiga kalinya Zidni seperti ini. Lagi, hati Chika hancur. Takut! Ia takut jika Zidni hilang ingatan lagi.


"Mah, Papa kenapa?" tanya Kenzie sambil menangis.


"Mama tidak tahu, sayang. Mungkin Papa kecapekan." Chika berusaha menenangkan.


"Nyonya, apa Tuan tadi mengingat sesuatu?" tanya Frans yang berdiri disamping Chika.


"Tadi aku melihatnya kesakitan Frans. Tapi aku berusaha menenangkannya. Dan sebelum pingsan, dia bilang kalau dia ingat semuanya."


"Pasti diam-diam Tuan memaksa ingatannya Nyonya."


"Sepertinya begitu, Frans."


"Ayah-Ibu, tolong ajak Kenzie pulang ya." Pinta Chika pada kedua orang tuanya. Kini mereka berdua menyaksikan sendiri bagaimana kondisi Zidni. Dan mereka menyesal karena pernah memojokkan Zidni tanpa tahu kondisi yang sebenarnya.


"Iya nak." Kata Nyonya Linda.


"Ken, ayo pulang sama Kakek dan Nenek dulu." Kata Tuan Arman.


"Tidak mau Kek, aku mau menemani Papa." Ucap Kenzie.


"Sayang, kamu pulang dulu ya. Papa baik-baik saja kok. Disini ada Paman Frans dan Om Alvin juga."


"Baiklah Mah." Kenzie akhirnya menurut dan pulang bersama Kakek dan Neneknya.


"Iya Alvin, terima kasih."


"Sekretaris Frans, tolong titip Kakakku ya."


"Pasti Mas Alvin. Hati-hati Mas."


"Iya,"


Chika kini tengah duduk di sofa sembari membaca kembali jurnal milik suaminya. Zidni kini sudah pindah di kamar rawat inap dan kondisinya masih sama belum sadar.


"Kak, makanlah." Suara Alvin cukup mengagetkannya.


"Aku tidak lapar," ucap Chika dengan wajah sendunya.


"Kak, Kakak harus makan. Kakak harus kuat." Alvin mencoba menguatkan. Chika menarik nafas dalam-dalam.


"Alvin, sampai kapan aku harus seperti ini? Baru saja ingin bahagia tapi kenapa selalu seperti ini." Bulir air mata jatuh kembali membasahi wajah Chika.


"Kak, ini memang ujian untuk kalian. Aku yakin Kakak bisa melewati semuanya."


"Tapi aku tidak sanggup melihat Zidni seperti ini." Chika kembali terisak. Alvin kemudian memeluk Kakaknya, berusaha menenangkan.


"Kak, kuatlah! Kakak bilang kalau Kak Zidni sudah ingat semuanya. Kita harus sabar Kak."


"Bagaimana dengan Kenzie?"


"Kakak tenang saja. Ayah dan Ibu sudah bia menenagkannya."


"Kasihan sekali dia. Baru juga merasakan kasih sayang Ayahnya tapi justru......," Chika tidak bisa lagi melanjutkan ucapannya.


Hari terus berganti, tiga hari sudah Zidni terbaring di ranjang pesakitan. Chika dengan segala kesabaran dan ketegaran hatinya merawat Zidni sepenuh hati.


"Sayang, bangun. Kamu tidur sudah terlalu lama. Aku dan Kenzie menunggumu." Ucap Chika sambil memeluk tangan suaminya.


"Nyonya Chika," suara Frans terdengar saat memasuki ruangan.


"Ada apa Frans?"


"Nyonya Kamila sedang dalam perjalanan menuju Indonesia, kemungkinan sore nanti akan tiba. Semalam Nyonya besar menelepon dan menanyakan kabar Tuan tapi saya tidak sanggup berbohong dan saya mengatakan yang sebenarnya."


"Tidak apa-apa Frans. Aku baru saja ingin mengatakan hal ini padamu. Meskipun sebenarnya aku takut."


"Apa yang anda takutkan Nyonya?"


"Aku takut kalau Ibunya tidak menerima ku, Frans."


"Saya berharap kalau Nyonya Kamila tidak seperti almarhum Tuan Tobi."


"Oh ya Frans, apa dulu Ibunya Zidni tahu kalau dia berhubungan dengan Nona Amora?"


"Saya rasa tidak, Nyonya. Nona Amora sendiri hanyalah gadis biasa dan sederhana seperti anda. Tuan selalu mencintai dengan hati tapi almarhum Papanya selalu memaksa dan menekan kehidupan Tuan. Dan saya berharap Nyonya Kamila tidak seperti itu. Karena Tuan tidak pernah cerita apapun pada saya tentang pandangan Ibunya."


"Kenapa aku khawatir ya, Frans? Kalau boleh tahu apa penyeban Ayah Zidni meninggal?"


"Terkena serangan jantung setelah berdebat dengan Tuan Zidni. Ya, sudah pasti Tuan Zidni menganggap Tuan Tobi lah penyebab kematian Nona Amora. Tuan pasti juga tahu kalau cinta mereka berjalan tanpa restu. Sejak saat itu Tuan Zidni semakin hilang kendali dalam hidupnya dan hampir tidak pernah pulang kerumah. Mengurus perusahaan pun enggan." Ucap Frans. Mendengar cerita Frans, Chika merasakan kekhawatiran yang luar biasa. Karena sejak mengenal Zidni, Zidni memang jarang sekali menceritakan tentang keluarganya bahkan hampir tidak pernah. Termasuk hubungannya dengan Ibunya. Bahkan dulu saat Chika berusaha bertanya, Zidni terkesan menghindar dan lebih memilih fokus membicarakan kehidupannya bersama Chika. Dan sejak saat itu Chika tidak lagi berani bertanya. Bagi Chika memang aneh, dari mereka berkenalan sampai menikah, Chika sama sekali belum pernah bertemu atau hanya sekedar mengobrol melalu sambungan telepon dengan Nyonya Kamila. Bahkan saat menikah pun, Zidni tidak menghubungi Ibunya. Dan saat menikah kedua kalinya pun, Zidni masih tetap sama, belum pernah sekalipun memperkenalkan dirinya dengan Ibunya, Nyonya Kamila. Semua keputusan, seolah diambil sendiri oleh Zidni. Frans sendiri juga tentu saja menuruti perintah bosnya. Kini Chika hanya bisa berharap kalau semuanya akan baik-baik saja.


Bersambung... Maaf ya baru up, beberapa hari ini lagi sibuk, sabar ya semuanya, love you all... Cerita sakitnya Zidni, author TER-INSPIRASI dari drakor yg judulnya Devilish Joy yang mana tokoh pria menderita Cinderella Memory Sydrome pasca kecelakaan. Setiap ingat sesuatu, lupa lagi, seru banget ceritanya. Sampai akhirnya dia mengingat kekasihnya dan merreka menikah. Karena penyakitnya itu dia lupa kalau udah nikah sampai akhirnya hampir tiap bulan dia ngajak istrinya nikah lagi. Dia juga buat jurnal karena ingatannya cepat hilang. Buat yang udah nonton pasti tahu, hehehehe Dan doakan saja semoga setelah Zidni sadar, dia ingat semuanya dan nggak lupa lagi, hehehe


Buat yg minta visualnya Alvin kemarin ya, hehehe