Mr. Arrogant Vs Noisy Girl

Mr. Arrogant Vs Noisy Girl
BAB 100 Rencana busuk



Akhirnya Bella dan Alvin yang menyamar sebagai bodyguard Al, sampai juga di rumah sakit. Alvin mengikuti langkah Bella menuju ruang rawat inap Austin.


"Selamat pagi, Austin." Sapa Bella yang berusaha memberikan senyum ramahnya pada Austin.


"Pagi, Bel. Senang sekali pagi ini bisa melihatmu."


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Bella seraya meletakkan cake dan parsel buah yang ia bawa untuk Austin.


"Seperti yang kamu lihat, Bel. Sepertinya aku akan duduk di kursi roda cukup lama. Kamu bawa apa, Bel? Aromanya wangi sekali."


"Kamu mau? Aku membawakan cake untukmu."


"Boleh saja." Pandangan Austin kemudian tertuju pada soso Alvin yang berdiri di dekat pintu.


"Itu siapa, Bel? Aku belum pernah melihatnya."


"Oh, dia namanya Al. Bodyguard yang merangkap supir. Orang baru suruhan Papa yang katanya sangat hebat."


"Baguslah! Memang seharusnya kamu di temani oleh bodyguard supaya kamu tidak kabur."


"Jangan membahas hal yang sudah berlalu."


"Iya, maaf. Terima kasih sudah memberiku kesempatan, Bel."


"Ini, aku sudah potongkan cake-nya untukmu. Sudah minum obat?" Bella lebih memilih mengalihkan pembicaraan daripada harus membalas ucapan permintaan maaf dari Austin. Karena sebenarnya Bella hanya berusaha menuruti perintah Papanya.


"Aku belum minum obat dan sarapan juga."


"Ya sudah, kamu makan ini saja."


"Bisa tolong suapi aku? Untuk memastikan kalau kamu sudah memaafkan aku." Austin berusaha merajuk untuk mendapatkan hati dan kepercayaan Bella kembali. Bella hanya menggangguk dengan senyum kecilnya. Austin tentu saja sangat senang karena Bella mau memberinya kesempatan. Sedangkan sepasang mata Alvin di balik kacamata hitamnya, terus mengamati gerak-gerik Austin.


"Al, jangan lupa potret kebersamaanku dengan Austin, lalu kirimkan pada Papa. Karena aku malas menjelaskan apapun pada Papa. Dan juga, Papa juga pasti sudah memberimu tugas untuk itu kan?"


"Sepertinya kita harus sering bersama untuk memperbaiki hubungan kita."


"Kamu harus fokus dengan kesehatanmu dulu, Austin. Aku tidak mau merasa bersalah lagi."


"Iya, aku mengerti, Bel. Maaf, kalau kebodohanku menyulitkanmu."


"Baguslah kalau kamu sadar. Setidaknya jangan ulangi lagi hal bodoh itu."


"Aku hanya ingin kamu tahu, kalau aku tidak berbohong dan aku rela mati untuk kamu." Ucap Austin dengan segala rayuannya yang amat sangat memuakkan.


"Habiskan saja cake-nya. Jangan banyak bicara. Nanti kamu bisa tersedak." Ucap Bella yang sengaja menyuapi Austin dengan potongan yang lumayan besar. Membuat mulut Austin penuh makanan hingga kesulitan untuk bicara. Alvin sendiri berusaha menahan tawa melihat sikap Bella.


"Bagus, Bel. Seharusnya kamu racun saja. Kasihan kamu, Bel." Gumam Alvin dalam hati.


Setelah hampir setengah hari menemani Austin, Bella memutuskan untuk pamit.


"Aku pergi dulu ya. Ada pemotretan dan syuting untuk iklan skincare."


"Sayang sekali. Padahal aku ingin sekali kamu berada disini."


"Aku sudah tanda tangan kontrak, Austin. Jadi, aku harus tanggung jawab dengan pekerjaanku."


"Iya, aku mengerti. Kamu hatu-hati ya. Jangan lupa beri aku kabar kalau sudah sampai lokasi. Dan pastikan setelah selesai, kamu langsung pulang."


"Tidak usah banyak mengaturku karena aku juga tidak banyak mengaturmu. Aku pergi dulu ya."


"Iya, hati-hati."


Alvin membungkuk kejauhan untuk Austin tanda pamit sebelum pergi meninggalkan kamar rawat inap Austin. Austin hanya membalasnya dengan anggukan kecil.


"Sepertinya kamu masih jual mahal denganku, Bella. Aku harus lebih agresif untuk bisa mendapatkanmu. Aku akan menggunakan cara ekstrim." Gumam Austin dalam hati.