Mr. Arrogant Vs Noisy Girl

Mr. Arrogant Vs Noisy Girl
BAB 70 Bersama Papa dan Mama



"Mmmmm masakan Mama selalu menjadi yang terenak." Puji Kenzie sambil memberikan dua jempolnya pada Chika.


"Masa sih? Kamu selalu pandai merayu Mama."


"Itu fakta, Mah." Kenzie mempertegas dengan senyumnya yang menggemaskan.


"Kamu bahkan tahu menu sarapan yang aku suka," timpal Zidni.


"Karena semua tentang mu, aku tahu." Jawab Chika dengan senyum manisnya.


"Terima kasih sudah bertahan sampai detik ini."


"Sudah seharusnya aku melakukan itu. Oh ya, aku ikut ke kantor ya?"


"Tidak usah. Kamu harus tetap dirumah, menungguku pulang."


"Tapi aku sudah lama ijin.”


“No, no, no! Aku tidak akan membiarkan


Joan mendekatimu.”


“Sayang, kasihan tim ku. Kamu sedang mempersiapkan peluncuran produk baru. Setidaknya ijinkan aku masuk sampai tugasku selesai. Aku mohon!” Chika memohon sambil mengatupkan kedua tangannya.


“Terus apa status kita di kantor nanti?”


“Untuk sementara atasan dan bawahan.Setidaknya sampai hasil tes DNA itu keluar. Supaya kamu lebih yakin dengan semua ini. Aku tahu pasti terselip keraguan di dalam hatimu. Saat ini yang aku pikirkan tim ku. Apa yang aku lakukan juga untuk kamu. Kalau aku berniat dekat dengan pria lain, sudah dari dulu aku lakukan.”


Zidni menghela. Tentu saja bagi berdiam diri dirumah akan membosankan. Tapi ia juga tidak rela dengan pria yang sedang berusaha mendekati wanita yang sudah membuatnya jatuh cinta kedua kalinya. Chika mengerti ekspresi wajah Zidni yang terasa berat untuk mengijinkannya kembali ke kantor. Chika kemudian menggenggam tangan suaminya, berusaha menenangkan.


“Sayang, aku akan bilang kalau suamiku sudah kembali. Jadi kamu tidak usah mencemaskan itu.”


“Iya baiklah. Kita berangkat sama-sama ya.” Akhirnya Zidni menyetujui permintaan Chika.


“Terima kasih ya. Aku sudah merindukantim ku. Tim yang selalu mendapat masalah sejak aku bergabung dengan mereka,” kenang Chika terkekeh. Teringat kembali saat pertama kali ia bergabung di perusahaan Zidni.


“Oh ya Mah, tes DNA itu apa?”


“Tes DNA itu untuk memperjelas kedekatan kita bertiga sayang. Dengan tes itu, kita bisa mengetahui bahwa kamu


anak Papa.”


“Apa Papa meragukan aku sebagai anaknya?”


“Sayang, Papa kan masih sakit. Kecelakaan yang di alami Papa lima tahun lalu membuat ingatan Papa terganggu. Jadi untuk meyakinkan Papa, kita harus melakukan itu. Karena jaman sekarang kita sulit membedakan antara kejujuran dan kebohongan. Ya, karena bisa jadi banyak orang yang mengaku sebagai istri dan anak Papa demi mendapat keuntungan. Kalau sudah seperti itu, Papa juga yang akan terluka. Jadi kita melakukan itu untuk menjaga Papa juga supaya tidak ada yang berani mengganggu Papa. Apa kamu rela kalau ada anak lain yang mengaku sebagai anak Papa dan mencoba merebutPapa?”


“Tidak Mah. Papa hanya milikku.”


“Tentu saja Papa milikmu. Maafkan Papa ya.” Sahut Zidni sambil mengelus kepalan putranya.


“Papa tidak salah jadi Papa tidak perlu meminta maaf. Semua yang Papa alami adalah musibah.”


Zidni tersenyum bangga pada putranya. “Kamu bijak sekali, Nak.”


“Terima kasih Chika, sudah mendidik dan merawatnya menjadi anak yang luar biasa.” Ucap Zidni pada Chika.


“Aku hanya berusaha menjadi Ibu yang baik untuknya.”


“Kamu yang terbaik, Chika.”


Dan setelah selesai sarapan, mereka bertiga segera berangkat dengan diantar oleh supir. Setelah lima belas menit perjalanan, akhirnya sampai juga di sekolah Kenzie.


“Ini sekolahnya Kenzie?” tanya Zidni.


“Sayang, baik-baik ya di sekolah.” Pesan Chika pada putranya.


“Iya Mama.”


“Ken, kamu harus jadi anak hebat yang bisa selalu membuat Mama tersenyum bangga.”


“Pasti Pah,” jawab Kenzie dengan penuhsemangat. Kenzie kemudian mengecup pipi Papa dan Mamanya secara bergantian. Setelah itu bergantian Chika dan Zidni yang mengecup pipi cuby Kenzie.


“Hati-hati ya Papa-Mama.”


“Iya sayang. Nanti kami akan menjemputkamu.” Kata Chika. Kenzie mengangguk dengan senyum lebarnya. Ia kemudian berlari kecil masuk ke dalam halaman sekolah bersama gurunya. Chika dan Zidni kemudian melanjutkan perjalanan kembali menuju kantor. Selama dalam perjalanan, keduanya terlibat obrolan serius.


“Sebaiknya kamu urus surat pindah sekolah Kenzie. Aku akan memilihkan sekolah terbaik untuknya. Dan aku akan


menyiapkan tabungan pendidikan untuknya sampai dia kuliah nanti.”


“Tapi dia baru saja masuk sekolah selama satu bulan, sayang.”


“Aku kurang suka dengan sekolahnya. Sekolah terbaik juga pasti kualitas pengajarnya juga terbaik. Begitu pula dengan segala macam fasilitasnya. Aku hanya ingin yang terbaik untuknya juga sayang. Ini saatnya aku menebus kesalahanku. Maaf, bukannya aku tidak menghargai usahamu tapi ini semua demi kebaikan Kenzie.”


“Iya aku mengerti maksudmu. Memang aku hanya bisa menyekolahkan dia di sekolah biasa. Di tambah disana mau menerima Kenzie yang belum memiliki akta kelahiran.” Chika menunduk sedih, mengingat pernikahannya dengan Zidni hanyalah pernikahan siri.


“Baiklah, kita lakukan pernikahan secara Negara saja kalau begitu. Kasihan Kenzie. Maafkan aku ya. Ketidakberdayaan ku, membuat mu dan Kenzie menderita. Bahkan hanya sebuah akta kelahiran saja aku tidak mampu memberikannya.”


“Semua ini bukan salah kamu. Dulu kamu memutuskan untuk menikah secara agama karena kamu buru-buru kembali ke Shanghai. Karena saat itu perusahaan sedang dalam masalah selepas kepergian Papa kamu. Dan kamu sendiri sudah berjanji akan menikahi ku secara Negara namun musibah itu datang menghampiri kita.”


“Kalau aku ingat semuanya, aku pasti akan menjadi semakin bersalah kepadamu.”


“Sudahlah, kamu ingat perlahan saja ya. Bagi aku, kamu sudah mau mengakui Kenzie lebih dari cukup. Sisanya kita jalani saja.”


“Lalu bagaimana dengan orang tuamu? Apa mereka merestui hubungan kita? Maaf, karena aku sama sekali tidak mengingatnya.”


“Tentu saja mereka memberi restu. Ayah ku sendiri yang menikahkan kita. Tinggal bagaimana dengan Mama kamu. Apakah Mama kamu akan merestui hubungan kita? Sedangkan aku ini hanya orang biasa. Tentu saja tidak sepadan dengan Nona Jasmine.”


“Tidak ada alasan bagi Mama untuk menolakmu. Apalagi menolak Kenzie. Setelah hasil tes DNA keluar, hal pertama yang kita lakukan adalah menikah sah secara Negara, setelah itu aku akan membawamu ke Shanghai menemui Mama.”


“Mmmm tapi sepertinya kali ini kamu harus meluluhkan hati kedua orang tuaku untuk mendapatkan restu.”


“Lho, memangnya kenapa? Bukankah kamu bilang, mereka merestui hubungan kita?”


“Sejak kamu tidak pernah kembali, mereka sangat marah terutama Ibu.Mereka menganggapmu hanya mempermainkan aku saja. Ya, karena kamu anak orang kaya dan dari keluarga terpandang jadi kamu bebas mencampakkan aku begitu saja. Ayah dan Ibu sempat memaksaku untuk menikah dengan Romi. Sejak kita kembali bertemu dan aku tahu fakta yang sesungguhnya, Ayah dan Ibu masih belum bisa menerima penjelasanku. Mereka tidak percaya kalau kamu mengalami amnesia. Mereka menganggap kamu sengaja melakukan itu demi mencampakkan aku dan lari dari tanggung jawabmu. Mereka bahkan selalu memintaku untuk menikah dengan Romi. Tapi setelah tahu bahwa orang tua Romi tidak menyukaiku, mereka malah selalu menanyakan tentang Joan.”


Zidni menghela. “Aku mengerti perasaan kedua orang tuamu. Aku akan meyakinkan mereka. Tapi kenapa harus Joan? Darimana mereka mengenal Joan?” Zidni mulai meradang terbakar cemburu. Sekalipun ingatannya belum pulih total, namun naluri dan hatinya tergerak begitu saja tanpa ia sadari.


“Saat itu Joan menjenguk Kenzie di rumah sakit. Jadi bermula dari sana. Tapi aku mempertegas semuanya bahwa kami hanya berteman.”


Zidni kemudian mendelik, menatap curiga kearah istrinya itu. “Pasti kamu sering menebar pesona ya? Banyak sekali pria yang mendekatimu." Ucapnya dengan rasa cemburu. Chika terkekeh mendengar


ucapan suaminya.


“Idih, siapa yang menebar pesona. Aku tidak meminta mereka untuk mendekati ku juga. Tanpa aku menebar pesona, mereka sudah pasti terpesona.”


“Awas ya kalau kamu macam-macam. Jangan memanfaatkan amnesia ku demi dekat dengan pria lain.” Sikap cemburu dan posesif Zidni tergerak begitu saja.


“Tenang suamiku, kamu satu-satunya.” Chika mengusap lengan suaminya kemudian memeluknya dengan erat.


“Bagiku pesona Zidni sangatlah mematikan.”


“Joan? Hmmm dia harus diberi peringatan. Apa aku pindah saja dia ke kantor cabang lain ya? Supaya dia tidak


menganggu Chika.” Gumamnya dalam hati.