
''Alvin!" seru Chika saat membuka pintu ternyata tamu itu adalah adiknya sendiri. Alvin membawa sebuah koper yang berisi pakaian milik Chika dan juga Kenzie.
''Masuk Alvin,'' lanjut Chika. Mata Alvin mengedar. Menyapu setiap sudut rumah. Rumah yang sangat mewah dan sangat besar. Ada perasaan takjub di dalam hatinya.
''Om Alvin!" Kenzie berlari menghambur ke pelukan pamannya.
''Kenzie, keponakan Om. Om sangat merindukanmu.'' Alvin mengecup kedua pipi Kenzie.
''Siapa dia?'' tanya Zidni begitu melihat Alvin.
''Kamu pasti lupa sama dia. Dia Alvin, adik aku.'' Jelas Chika sambil mengusap pundak Alvin.
''Hai Kak, apa kabar? Sudah lama sekali tidak bertemu.'' Alvin memeluk Zidni begitu saja. Zidni bingung mendapat pelukan dari Alvin.
''Siapa lagi ini?'' gumamnya dalam hati.
''Kak, aku belum sempat mengucapkan terima kasih padamu.''
''Te-terima kasih? Untuk apa?'' Zidni bingung.
''Terima kasih untuk semua kebaikan Kakak selama ini. Kakak membantu biaya kuliahku. Aku bahkan bisa lulus dengan nilai cumlaude dan sekarang aku sudah bekerja sebagai manager pemasaran. Semua ini berkat Kakak. Maaf kalau aku baru bisa mengucapkan kalimat itu sekarang. Karena Kakak pergi dan menghilang dalam waktu yang lama.'' Jelas Alvin dengan perasaan harunya. Zidni semakin bingung dan berusaha mengingatnya. Melihat Zidni yang mulai mengerutkan keningnya, membuat Chika mengusap lembut lengan suaminya.
''Jangan di paksa kalau kamu tidak mengingatnya. Biarkan Alvin mengatakan apa yang ingin dia katakan.''
''Iya Kak. Aku sekarang merasa sangat lega karena akhirnya kalian bersatu kembali menjadi sebuah keluarga.'' Ucap Alvin bergantian menatap Chika dan Zidni.
''Kalau begitu kita makan malam sekalian saja Vin.'' Ajak Chika.
''Tidak usah, Kak. Aku langsung pulang saja. Aku tidak mau mengganggu waktu kalian. Tadinya sekretaris Frans yang mau mengantar koper ini tapi aku yang memaksa untuk mengantarnya sendiri karena aku ingin mengucapkan terima kasih pada Kak Zidni secara langsung.''
''Baiklah kalau begitu. Terima kasih ya Vin. Kamu hati-hati.'' Ucap Chika. Dua bersaudara itu saling berpelukan sebelum pergi. Tak lupa Alvin memeluk keponakan kesayangannya dan Kakak iparnya. Alvin pun pergi.
Pandangan Zidni tertuju pada koper, kemudian menatap Chika dengan penuh intimidasi.
''Untuk apa kamu membawa kopermu kemari?''
''Karena aku tidak bawa banyak baju. Dan ada seragam sekolah Kenzie juga. Sudahlah jangan marah-marah, sebaiknya kita makan malam. Aku memasak chinese food untukmu.''
''Sebaiknya jangan sok baik dulu. Siapa tahu kalian semua penipu.''
''Terserah apa katamu.'' Chika berlalu begitu saja sambil menggandeng Kenzie menuju ruang makan.
''Manusia ini suasana hatinya selalu berubah dan naik turun. Sebentar-sebentar baik, sebentar-sebentar menyebalkan. Persis seperti dulu.'' Gerutunya. Zidni yang memang sudah lapar menyusul ke ruang makan. Sebenarnya perutnya sudah kelaparan dari tadi. Aroma masakan Chika selalu menggangu perutnya.
Makan malam itu berlangsung hening, Zidni tidak banyak bicara karena masakan Chika memang tiada duanya. Sedari tadi Chika memperhatikan Zidni yang begitu lahap saat makan.
''Kamu tidak bisa pura-pura lagi kan? Sekarang kamu benar-benar ketagihan dengan masakan ku,'' batin Chika menahan senyumnya.
''Mah, ini masakan apa? Mama sebelumnya tidak pernah masak seperti ini.''
''Ini namanya masakan chinese, Ken. Papa kan berasal dari sana jadi Mama berusaha masak semua ini untuk Papa. Apa kamu menyukainya?''
''Iya Mah. Ini sangat lezat. Besok aku mau ini juga boleh Mah? Untuk bekal sekolah.''
''Tentu saja boleh.'' Jawab Chika.
''Oh ya sayang, besok aku pergi ke kantor ya?''
''Jangan panggil sayang.'' Ketusnya.
''Tidak apa-apa. Dulu aku juga memanggilmu seperti ini. Toh hanya kita yang tahu.''
''Memangnya mau apa ke kantor?''
''Aku kan bekerja di perusahaanmu.''
''Aku sudah bilang kalau kamu tidak boleh pergi selama dua minggu.''
''Tapi Kenzie juga harus sekolah. Siapa yang mengantarnya?''
''Biar aku atau salah satu pengawal yang mengantar. Yang pasti tugasmu di rumah membersihkan rumah, mencuci, memasak dan semuanya sebelum hasil tes itu keluar.''
''Baiklah,'' Chika hanya bisa menurut pasrah. Chika sebenarnya bosan sekali dan ingin pergi ke kantor bersama teman-temannya.
''Apa aku boleh menerima tamu?''
''TIDAK BOLEH! Karena bisa jadi tamu itu orang suruhanmu yang akan memanipulasi hasil tes DNA itu.''
''Astaga! Ternyata pikiranmu sejauh itu.''
''Karena aku juga tidak tahu atau ingat apapun jadi kamu harus tetap disini, mengerti?''
''Pah, jangan marah-marah. Kasihan Mama.''
''Kamu jangan ikut campur Kenzie, ini masalah orang dewasa. Sebaiknya setelah makan kamu gosok gigi lalu pergi tidur. Mengerti?''
''Iya Pah.'' Kenzie pasrah menjawab semua itu.
Selesai makan malam, Zidni kembali ke kamarnya untuk sekedar membaca buku sebelum tidur. Sementara Chika membersihkan meja makan beserta piring kotor. Meskipun lelah, senyum tersungging dari bibirnya karena Zidni memakan semua masakannya.
Kenzie di kamar masih belum tidur. Ia terbiasa mendengar dongeng sebelum tidur. Kenzie turun dari tempat tidur dan keluar kamar hendak menemui Mamanya. Namun ia tidak tega karena Mamanya masih sibuk. Kenzie kemudian menuju kamar Papanya.
''Pah,'' panggil Kenzie pelan.
''Ada apa?'' tanya Zidni tanpa melihat kearah Kenzie. Zidni duduk selonojoran diatas tempat tidur sembari membaca sebuah buku.
''Bisa bacakan dongeng untukku? Aku tidak bisa tidur sebelum di bacakan dongeng.''
''Minta Mama mu saja untuk membacakannya.''
''Tapi Mama masih sibuk. Mama masih mebersihkan dapur dan meja makan. Aku ingin sekali di bacakan dongeng sama Papa.'' Kenzie menatap penuh harap kearah Zidni. Zidni menghela, menutup buku ensiklopedia antariksa di tangannya. Zidni menatap wajah memelas itu. Lagi-lagi Zidni tidak bisa menolak ajakan anak kecil itu.
''Naiklah!" Zidni menepuk kasurnya. Senyum Kenzie mengembang. Ia kemudian naik keatas tempat tidur dan berbaring di samping Papanya.
''Dongeng apa yang ingin kamu dengar?''
''Terserah Papa saja.''
''Tapi aku tidak bisa mendongeng.''
''Papa cerita saja tentang apapun itu.''
Zidni menghela. ''Disuatu tempat tinggalah seorang pangeran kecil yang tampan dan pemberani. Hari itu dia hendak pergi ke sungai untuk menangkap ikan. Namun ia melihat seekor kelinci yang terluka hendak menyeberangi sungai itu. Kelinci itu bingung, tidak tahu bagaimana caranya menyeberangi sungai itu. Sementara seekor harimau tengah mengejarnya. Melihat itu, pangeran kecil mengarahkan busur panahnya pada harimau itu. Dan harimau itu langsung tumbang. Pangeran kecil itu memutuskan berenang menyebarngi sungai. Namun sebelum itu ia mengikatkan sebuah tali tambang pada sebuah pohon untuk menyebarngi sungai dengan arus yang begitu deras. Akhirnya si pangeran kecil berhasil menyelamatkan kelinci itu, bebas dari hutan. Pangeran kecil segera mengobati kaki kelinci itu karena kakinya terluka. Dan akhirnya persahabatan terjalin antara keduanya. SELESAI.''
''Aku ingin jadi pangeran kecil itu, Pah. Dia pemberani sekali. Papa ajari aku berenang ya?''
''Iya baiklah. Sekarang tidurlah dan jadilah pangeran kecil yang pemberani.''
''Terima kasih Pah.'' Kenzie memeluk Papanya dan tak lama kemudian, Kenzie tertidur.
Chika yang baru selesai beres-beres kembali ke kamar. Namun ia tidak mendapati Kenzie.
''Dimana Kenzie? Pasti dia mencari Papanya untuk dibacakan dongeng.'' Chika menebak-nebak sendiri. Karena tahu kalau Kenzie tidak bisa tidur sebelum di bacakan sebuah dongeng.
''Baiklah Chika, saatnya mengganti baju dapurmu dengan gaun malam yang seksi.'' Chika membuka kopernya, ia memakai baju tidur transparan yang pernah dibelikan Zidni beberapa tahun lalu. Zidni paling suka melihat Chika memakai baju itu saat dirumah. Karena ia bisa menjamah istrinya dengan leluasa. Masih teringat jelas sentuhan lembut tangan Zidni menyentuh tubuhnya. Deru nafas Zidni yang memburu, menelisik kalbu gairahnya. Sungguh Chika merindukan sentuhan itu. Sentuhan yang mampu membuatnya melayang.
''Untung saja masih cukup. Sudah bertahun-tahun aku memusiumkan semua ini. Sekarang aku akan memakainya.'' Gumamnya setelah memakai baju tidur berwarna maroon itu. Tak lupa, Chika menyemprotkan parfum aroma vanilla di lehernya. Aroma vanilla yang begitu di gilai oleh Zidni. Rambut panjangnya ia biarkan terurai. Malam ini ia ingin menggugah gairah suaminya.
Chika kemudian melangkah menuju kamar Zidni.
''Zidni, apa Kenzie ada di kamarmu?'' panggil Chika sambil mengetuk pintu kamar Zidni. Mendengar suara Chika, Zidni turun dari ranjangnya. Melepaskan tangan mungkil yang memeluk tubuhnya.
CEKLEK! Pintu terbuka. Zidni dibuat tercekat, sekaligus terpesona dengan Chika malam itu. Lekuk tubuh yang sempurna sekalipun telah memiliki seorang anak, membuat Zidni terpana.
''I- iya. Dia disini,'' ucapnya tergagap. Aroma vanilla menyeruak di indera penciumnya. Nalurinya sebagai seorang pria seketika bergejolak.
''Baju apa yang kamu kenakan ini? Ini rumahku jadi jaga sopan santunmu.''
''Sayang, kamu harus belajar mengingatku. Baju yang aku pakai ini kamu sendiri yang membelinya. Setiap kali di rumah, kamu selalu memintaku memakai pakaian ini.''
''Aku?''
''Iya. Siapa lagi? Kamu itu sangat nakal dan genit. Bahkan kamu memaksaku bercinta sebelum kamu menikahi ku. Kamu merayuku dan terus menggodaku untuk bercinta.''
Lagi-lagi Zidni tercekat mendengar ucapan Chika yang mendadak membuat tubuh Zidni menghangat. Chika senang sekali memihat ekspresi Zidni yang tidak berkutik.
''Aku tidak mungkin seperti itu.''
''Kamu bilang seperti itu karena kamu tidak ingat. Kamu tahu, kamu begitu perkasa diatas ranjang. Sampai membuatku kuwalahan...,''
''CUKUP! Jangan teruskan.''
Chika terkekeh. ''Oh ya kamu masih ingat kan dengan terapi ciuman? Aku menerima tawaran itu, supaya kamu segera pulih dan ingat semuanya. Apa mau kita coba sekarang? Kamu memaksaku beberapa hari lalu.''
Zidni dibuat melongo dengan ucapan Chika. Sebagai seorang pria normal, siapa yang tidak bergairah melihat kemolekan tubuh Chika. Dada dan pantat yang sempurna. Sempurna untuk diremas.
''Aku terpaksa bersikap murahan di depan suamiku. Semoga dia tergoda.'' Gumam Chika dalam hati.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?????