
Sejak hari itu Bella tinggal bersama Chika dan Zidni karena perusahaan dan semua aset perusahaan Tuan Edward disita oleh pihak bank dan kepolisian. Bella sendiri tidak menyangka jika Papanya menjalani bisnis ilegal seperti ini. Apalagi orang yang telah ditipu dan dicurangi oleh Papanya, kini justru menampungnya.
"Kak Chika, Kak Zidni, terima kasih ya, sudah satu bulan ini kalian menampungku. Kondisiku sudah membaik dan sebaiknya aku mencari rumah kontrakan saja. Aku tidak mau merepotkan kalian. Kalian sudah terlalu baik. Aku juga akan mulai bekerja." ucap Bella saat mereka tengan menikmati sarapan bersama.
"Kenapa Bella? Kami sama sekali tidak merasa direpotkan. Aku senang kamu disini. Kenzie juga senang ada kamu disini, Bel."
"Iya, Bella. Aku juga sama seperti istriku. Memangnya kamu ada rencana kerja apa?" tanya Zidni.
"Aku akan mulai berkarir lagi sebagai model dan bintang iklan. Merintis karir lagi dari nol."
"Ya sudah, aku mau mengeluarkan produk baru. Bagaimana kalau kamu yang jadi bintang iklannya?" Zidni mencoba menawarkan pekerjaan pada Bella.
"Kak Zidni serius?" mata Bella berbinar bahagia.
"Tentu saja, Bella. Nanti aku lobi rekan bisnisku, kalau mereka membutuhkan seorang model atau bintang iklan."
"Kak, terima kasih ya. Aku semakin malu dengan kebaikan kalian. Papa sungguh sangat kelewatan."
"Sudah, jangan menyalahkan Papa kamu lagi. Dia sudah bertanggung jawab dan ganti rugi kok. Dan sekarang dia sedang mempertanggung jawabkan perbuatannya." Ucap Zidni dengan bijak.
"Iya, Kak. Aku bersyukur sekali bertemu orang-orang baik seperti kalian. Besok aku akan pindah, Kak. Alvin sudah membantuku menemukan kontrakan baru."
"Jangan buru-buru, Bella. Pindah kalau kamu sudah menerima gaji dari bintang iklan produk Kak Zidni saja." Sahut Chika yang merasa kasihan pada Bella.
"Tapi, Kak..."
"Sudah, tidak usah tapi-tapi ya. Kamu juga baru pulih."
"Sekali lagi terima kasih, Kak. Aku tidak akan pernah melupakan kebaikan kalian."
Dan Bella pun mulai berkarir seperti sebelumnya. Perlahan keadaan ekonominya semakin membaik. Karir Alvin diperusahaan juga semakin berkembang pesat. Zidni mengangkat Albin sebagai wakil direktur. Sebuah jabatan yang membahagiakan namun juga tanggung jawab itu semakin berat. Waktu pun terus berlalu, hubungan Alvin dan Bella juga semakin dekat. Alvin sendiri tidak mau basa-basi atau bermain-main lagi. Ia sudah yakin jika Bella dalah belahan jiwanya. Sepulang kantor, Alvin sengaja menjemput Bella di studio foto. Ia ingin mengajak Bella makan malam sekaligus melamar Bella.
"Kita mau kemana?"
"Mau makan. Kamu pasti capek habis pemotretan."
"Hmmm... iya juga sih. Tapi aku harus tetap jaga badanku, Vin."
"Kenapa? Takut banget gendut."
"Aku sudah tanda tangan iklan susu pelangsing. Jadi, aku harus diet lagi."
"Ya ampun, ada-ada saja sih iklannya. Kamu mau kurus bagaimana lagi?"
"Ya, intinya tuntutan pekerjaan."
"Nanti, kalau kita menikah, ambil jobnya jangan yang menyiksa ya. Atau kamu cukup dirumah layani aku dan anak-anak kita."
"Ihhh, memang sudah siap nikah?"
"For you..."
"Oh, kamu sweet sekali. Terima kasih ya."
"Sama-sama. Dan ada satu lagi."
"Apa?"
"Pejamkan mata kamu, Bel."
"Oke, baiklah." Bella kemudian memejamkan matanya. Alvin lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna hitam.
"Open your eyes Bella." Mendengar ucapan Alvin, Bella lalu membuka matanya. Ia melihat Alvin berlutut satu kaki sambil menyodorkan sebuah cincin cantik dihadapannya.
"Will you marry me?" seketika mata Bella berkaca-kaca. Ia bahagia, sekaligus terharu.
"Yes, i will." Mendengar jawaban dari Bella, Alvin lalu memakaikan cincin itu di jari manis Bella. Ia kemudian berdiri dan memeluk Bella.
"Terima kasih ya sudah menerimaku. Aku tidak mau banyak janji, tapi aku akan selalu berusaha membuatmu bahagia dan tersenyum."
"Aku yang berterima kasih karena kamu mau mempersunting anak dari seorang narapidana." Ucap Bella dengan bulir bening yang telah membasahi pipinya.
"Jangan bicara seperti itu, Bel. Kamu sangat berharga untukku." Alvin mengusap lembut air mata Bella. Ia kemudian memberikan kecupan di kening Bella. Alvin lantas menangkup wajah Bella dan memberikan kecupan di bibir Bella dengan lembut. CUPH!
"I love you, Bella. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu, Alvin. Terima kasih sudah mencintaiku."
"Aku juga terima kasih." Keduanya lalu kembali berpelukan.
########
Beberapa bulan kemudian, seorang bayi cantik lahir ke dunia. Zidni tidak bisa membendung air matanya saat sang buah hati menangis lahir ke dunia. Apalagi ini adalah pengalaman pertamanya menemani dan menyaksikan Chika melahirkan. Sebuah hal indah yang pernah ia lewatkan dulu saat Kenzie lahir keduanya. Untuk menyambut kehadiran sang buah hati, Zidni menggelar acara syukuran di rumah bersama yatim piatu. Acara hari itu pun berjalan lancar. Zidni tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagia.
"Cheryl Dayana Ganindra. Nama yang bagus sekali, sayang. Dia cantik dan imut sepertimu. Terima kasih sayang sudah memberiku peri kecil yang sangat cantik." Ucap Zidni sambil mengecup kening Chika.
"Terima kasih juga telah menemaniku, sayang." Ucap Chika pelan. Kenzie pun sangat bahagia akhirnya ia memiliki adik dan menjadi seorang Kakak. Semua orang turut bahagia dengan kehadiran baby Cheryl.
Tiga bulan kemudian setelah kelahiran baby Cheryl, Chika menyambut kabar bahagia lagi. Yaitu hari pernikahan Alvin dan Bella yang digelar sangat meriah. Alvin ingin Bella melupakan sejenak kesedihannya di hari bahagianya. Namun hal yang Bella inginkan dihari pernikahannya di wujudkan oleh Alvin. Alvin berhasil mendapatkan ijin untuk Tuan Edward sebagai wali pernikahan Bella. Meskipun hanya sebentar, Bella sudah sangat cukup bahagia. Karena setelah menjadi wali untuk Bella, Tuan Edward harus kembali ke sel tahanan. Suasana bahagia seketika berubah menjadi haru, melihat pemandangan itu. Meskipun meriah, Alvin hanya mengundang keluarga dekat dan beberapa teman saja. Ya, Alvin memilih mengadakan acara pernikahan dirumah Bella. Rumah yang disita oleh bank dan di lelang, berhasil Alvin tebus dan ia berikan rumah itu sebagai mahar pernikahannya dengan Bella. Bella sendiri tidak menyangka jika Alvin membeli rumah itu dan memberikan rumah itu pada Bella lagi.
"Hai, suamiku. Terima kasih atas kebahagiaan yang kamu berikan dan hadiah terindah di hari pernikahanku. I love you so much."
"Hai juga istriku. Aku juga bahagia bisa memberikan kebahagiaan untukmu. Aku akan selalu memberikan bukti kalau aku bisa selalu membuatmu bahagia. I love yo too so much, istriku." Dan sepasang pengantin itu lantas saling berciuman. Kisah cinta yang indah, berakhir dengan kebahagiaan Alvin dan Bella.
~THE END~
NB= Assalamualaikum... terima kasih semuanya yang sudah mengikuti kisah Chika dan Zidni ari awal sampai akhir. Akhirnya cerita ini harus berakhir juga, meskipun sempat menggantung dan vakum beberapa bulan tapi terima kasih untuk kesetiaan kalian. Jangan bosan untuk menunggu cerita yang lainnya ya. Terima kasih semuanya, love you all :-*