
Chika perlahan turun dari ranjang, ia bahkan masih sempoyongan. Kepalanya terasa berat sekali. Frans lalu membantu Chika untuk turun. Chika kemudian membelai wajah pria yang begitu ia cintai itu. Bulir air matanya jatuh begitu saja. Frans menatap heran ke arah Chika.
''Kenapa Nona Chika menangis?'' gumam Frans dalam hati.
''Aku ada disini Zidni. Aku lah yang kamu cari.'' Gumam Chika dalam hati. Chika tidak bisa lagi menahan perasaannya, ia kemudian memeluk tubuh pria itu dan menangis dalam dekapannya.
''Ini aku, suamiku.'' Tangis Chika.
''Suami? Apa ini? Apa Nona Chika yang selama ini Tuan Zidni cari?'' gumam Frans dalam hati.
''Bangunlah, sayang. Jangan pergi tinggalkan aku lagi.'' Kata Chika tanpa melepaskan pelukannya. Chika terus menangis karena ia tidak bisa mengendalikan lagi perasaannya. Perasaan cinta dan rindu yang begitu menggebu. Dan perlahan Zidni membuka matanya. Pandangannya mengedar melihat sekeliling.
''Tuan!" seru Frans saat melihat Zidni membuka mata. Mendengar suara Frans, Chika mendongak melihat kearah Zidni. Zidni terkejut melihat Chika yang tengah memeluknya.
''Si-siapa kamu? Aku dimana?'' ucap Zidni dengan penuh rasa bingung. Melihat reaksi Zidni, Chika pun melepaskan pelukannya.
''Tuan, anda baik-baik saja kan?'' tanya Frans.
''Frans, kita dimana? Bukankah kita harus ke Shanghai untuk memperingati kepergian Amora?'' ucap Zidni seraya bangun dari tidurnya. Mendengar ucapan Zidni, Frans semakin terkejut lagi.
''Dan kamu siapa?'' sambung Zidni sambil menunjuk kearah Chika.
''Tuan, ini kan Nona Chika. Nona Chika ini karyawan Tuan. Kita sekarang berada di Jepang. Kita baru saja berangkat kemarin. Semalam ada gala dinner di restoran Tuan Ryuchi. Lalu anda pulang buru-buru karena Nona Chika pingsan di acara semalam. Setelah saya kembali ke hotel, saya melihat anda sudah tergeletak di lantai. Dan Nona Chika juga tak kunjung sadar. Akhirnya saya membawa Tuan dan Nona ke rumah sakit.'' Jelas Frans panjang lebar. Zidni terdiam, ia mencoba mengingat kembali apa yang terjadi semalam.
''Berikan aku waktu sepuluh menit untuk berpikir.'' Ucap Zidni. Chika dengan perasaan sedihnya meninggalkan ruangan.
''Nona mau kemana?'' tanya Frans.
''Mencari udara segar.'' Jawab Chika dengan perasaan yang semakin sedih. Zidni menatap Chika yang pergi begitu saja.
''Tuan, apa Tuan tidak ingat sama sekali?'' tanya Frans.
''Frans, sepertinya ada yang tidak beres denganku. Tidak mungkin aku melupakan kejadian semalam dengan begitu mudahnya. Dan saat aku terbangun yang aku ingat adalah hari peringatan kepergian Amora. Minta dokter untuk melakukan pemeriksaan ulang.''
''Baik Tuan! Kalau begitu saya permisi. Sebaiknya anda istirahat dulu.'' Frans kemudian berlalu meninggalkan kamar. Zidni beranjak dari duduknya, ia melihat kearah luar jendela.
''Jam berapa ini? Masih pagi atau memang sore hari?'' gumamnya. Zidni kemudian melihat kearah jam dinding dan jam sudah menunjukkan pukul 17.00.
''Tuhan, ada apa denganku? Kenapa aku tidak mengingat kejadian semalam? Dan kenapa wanita yang bernama Chika itu menangis? Apakah semalam aku benar-benar menolongnya?'' gumamnya dalam hati.
Setelah menemui dokter, Frans berkeliling rumah sakit mencari Chika.
''Nona, apa Nona baik-baik saja?''
''Sekretaris Frans, sebenarnya apa yang terjadi pada suamiku? Kenapa dia malah tidak mengenali aku?'' isak tangis Chika.
''Nona, apa sebenarnya maksud Nona? Kenapa Nona menganggap Tuan Zidni sebagai suami anda?'' tanya Frans. Chika kemudian memberikan ponselnya pada Frans.
''Itu adalah foto kebersamaan kami. Dari kita saling mengenal, pacaran dan akhirnya menikah.'' Ucap Chika. Frans terus menggeser layar ponsel Chika. Ia dibuat terkejut dengan semua foto yang ada di galeri ponsel Chika.
''Saat itu, aku memberinya kabar kalau aku hamil. Dan dia ingin menyusulku, namun dia tidak pernah kembali sampai akhirnya aku melihatnya di rambu-rambu saat itu. Saat dia tidak mengenaliku, aku pikir dia sengaja melupakan aku. Namun saat itu aku mendengar anda sedang bicara dengan seseorang yang anda panggil Nyonya, kalau Tuan Zidni mengalami kecelakaan sampai koma dan sekarang menderita amnesia. Setelah tahu itu, aku sengaja bergabung ke perusahaannya untuk lebih dekat dengannya. Aku ingin membuat dia ingat secara alami tanpa memaksanya. Karena saat aku membaca tentang amnesia, rawan sekali memaksa ingatannya. Dan sepertinya dia mengingat sesuatu lalu dia memaksanya. Itu bisa melemahkan otaknya dan itu bisa menjurus ke demensia atu bahkan alzheimer. Aku berjuang sendiri, sampai akhirnya aku melahirkan buah cinta kami.''
''Nona, sepertinya memang anda yang selama ini Tuan Zidni cari. Dan apa yang anda katakan benar. Setiap kali Tuan mengingat sesuatu dan Tuan memaksanya, selalu berakhir seperti ini. Namun ini pertama kalinya Tuan pingsan dalam waktu yang cukup lama. Tuan menyadari keanehannya dan meminta dokter untuk melakukan pemeriksaan ulang. Nona, apa yang bisa aku bantu untuk anda? Apakah aku harus mengatakannya pada Tuan tentang semua ini? Bahwa kalian sudah menikah dan memiliki anak?''
''Biarkan dia mengingatku sebagai Chika si wanita berisik dan sebagai karyawannya yang kurang ajar. Aku tidak mau dia kenapa-kenapa. Aku tidak mau kehilangan dia untuk yang kedua kalinya, sekretaris Frans.''
''Tapi Nona, Tuan harus tahu semua ini. Tuan selama ini juga menderita karena berusaha mencari pasangan cincin itu. Aku ingin melihat Tuan bahagia, Nona. Apa kalung itu jug pemberian dari Tuan Zidni?''
''Iya. Dia memberiku kalung ini sebelum dia kembali ke Shanghai.''
''Pantas saja Tuan merasa tidak asing dengan kalung itu.''
''Biarkan Tuan Zidni melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Saat ini memberitahukan yang sebenarnya akan membuatnya menderita karena dia harus memaksa lagi ingatannya dan jika dipaksa justru akan menurunkan fungsi otaknya.''
''Baik Nona. Pantas saja wajah putra anda sangat mirip dengan Tuan Zidni. Sebenarnya aku sudah sejak kecil mengenal Tuan Zidni. Karena Ayahku dulu bekerja sebagai sekretaris Tuan Tobi dan setelah Tuan Tobi meninggal, Ayah lah yang memintaku untuk mendampingi Tuan Zidni.''
''Dulu, awal pertemuan kami, dia sangat sombong, dingin dan sangat menyebalkan. Bahkan sekalipun amnesia, dia tetap sama. Tapi semua sikapnya itu karena dia memiliki masa lalu yang menyakitkan. Sampai akhirnya aku berhasil membuatnya melepaskan dendam dan luka itu. Disanalah aku menemukan kehangatan dalam dirinya. Dia sangat hangat dan penuh perhatian. Saat ini dia akan seperti itu karena dia masih menjadi Zidni yang dulu, yang penuh dengan dendam dan luka. Sekretaris Frans, biarkan aku menyembuhkan luka masa lalunya sekali lagi.''
''Nona apapun keputusan Nona, aku akan sangat mendukung. Nona juga sudah banyak menderita. Bagiku semua bukti ini sudah cukup. Apa Nyonya Kamila tahu semua ini?''
''Tidak sekretaris Frans. Kami memang menikah secara siri karena saat itu perusahaan Zidni sedang mengalami masalah. Setelah semuanya beres, dia akan membawaku ke Shanghai untuk menemui Mamanya namun hal itu tidak pernah terjadi.''
''Nona, pasti semua itu akan segera terjadi. Tuan memang sangat tertutup soal kisah asmaranya. Jadi Nyonya Kamila sendiri tidak tahu apa-apa tentang semua ini. Apa saya perlu memberi tahu Nyonya Kamila?''
''Tidak perlu. Aku ingin Zidni sendiri yang membawaku dan anak kami untuk menemui orang tuanya. Sekretaris Frans, aku hanya ingin dia sehat untuk saat ini. Lakukan saja apa yang terbaik demi kesembuhannya. Tolong jaga dia ya dan sabarlah selalu untuk menghadapinya.''
''Pasti Nona! Mmm maksudku Nyonya.''
''Panggila Nona saja. Daripada nanti membuat semua orang salah sangka.'' Ucap Chika dengan memaksa senyumnya.
''Baik Nona.''