Mr. Arrogant Vs Noisy Girl

Mr. Arrogant Vs Noisy Girl
BAB 86 Hadiah Terindah



Keesokan harinya, Chika dan Zidni masih bergumul dibalik selimut tanpa selehai benangpun. Malam yang begitu melelahkan sekaligus malam yang membahagiakan.


"Selamat pagi istriku." Sapa Zidni dengan senyum hangatnya.


"Selamat pagi juga suamiku. Aku lelah sekali."


"Mau tambah lagi?" goda Zidni.


"Nanti ya, Mas. Aku hari ini mau tiduran sampek siang."


"Maaf ya sayang, sudah membuatmu lelah. Habis gimana ya? Kita ini seperti pengantin baru. Jadi bawaannya pingin ke ranjang melulu."


"Tidak apa-apa Mas, sudah menjadi tugasku untuk melayanimu. Oh ya, aku harus ke kamar Kenzie dulu." Ucap Chika seraya beranjak dari tempat tidurnya.


"Eh, kamu disini saja sayang. Kenzie sudah ada yang mengurus. Ada si Nia pengasuhnya dan ada Pak Ali yang akan mengantarnya ke sekolah. Kamu tenang saja. Aku sudah berpesan supaya mereka tidak menganggu kita." Ucap Zidni seraya menarik Chika kembali dalam dekapannya.


"Terus kamu tidak ke kantor Mas?"


"Sudah ada Alvin dan Frans yang mengurusnya. Aku ingin menikmati waktu kita bersama, sayang. Jadi aku mohon habiskan waktumu denganku."


"Iya-iya suamiku. Manja banget sih jadi gemes," ucap Chika sambil mencubit pipi Zidni dengan gemas.


"Oh ya sayang, sejak kita menikah dan bersama lagi, kamu belum memberiku hadiah. Padahal aku sudah memberi kamu mobil, apartemen, saham perusahaan, perhiasan, tas, sepatu dan aset-aset yang lain, masa kamu tidak memberiku apa-apa?"


"Kamu kan sudah punya segalanya, aku bingung mau memberimu apa selain tubuhku ini, Mas." Ucap Chika dengan tawa kecilnya.


"Wah, berarti tubuhmu mahal sekali ya."


"Jelas dong, Mas. Karena tidak sembarangan orang yang bisa menyentuhnya. Tapi aku ada hadiah untuk kamu juga sih. Sebenarnya semalam mau aku berikan padamu tapi aku lupa."


"Apa sayang? Aku jadi penasaran."


"Lepasin aku dulu dong."


"Iya-iya." Zidni melepaskan pelukannya. Chika beranjak dari tempat tidur menuju meja laci. Ia mengambil sebuah kotak berbentuk hati, mirip seperti kotak perhiasan kalung.


"Ini Mas."


"Apa ini?"


"Buka saja. Kotaknya memang kecil tapi isinya luar biasa." Kata Chika.


"Baiklah, aku akan membukanya." Saat membuka kotak itu, mata Zidni seketika berkaca-kaca. Bulir air mata bahagia akhirnya menetes juga. Di dalam kotak itu terdapat hasil tespek dan USG.


"Kamu hamil?"


"Iya Mas. Itu hadiah untuk kamu." Dan Zidni langsung memeluk Chika. Menghujani wajah Chika dengan ciuman penuh cinta.


"Sayang, terima kasih ya. Berapa usia kandungan kamu? Kapan kamu periksa dan pergi sama siapa?"


"Ihh kamu ini tanya atau menginterogasi sih?"


"Keduanya sayang."


"Aku iseng tes aja sayang, soalnya aku udah telat eh ternyata hasilnya positif. Sesudah itu aku periksa sendiri setelah mengantar Kenzie ke sekolah. Dan kandungan aku sudah jalan 6 minggu. Tadinya mau langsung cerita tapi kita sibuk mempersiapkan resepsi dan kamu ngebut mengurus pekerjaan setelah kita pulang dari Shanghai. Maaf ya Mas."


"Tidak apa-apa sayang, aku bahagia sekali. Apa Kenzie tahu?"


"Dia juga belum tahu Mas. Belum ada yang tahu selain kamu."


"Dokter bilang harus hati-hati terutama saat bercinta. Sepertinya harus di kurangi dulu karena masih rawan soalnya kan masih muda, Mas."


"Kamu kenapa tidak bilang sayang? Aku kan lagi ganas-ganasnya bercinta."


Chika terkekeh. "Mmm sepertinya baby kita kuat, Mas. Dia sepertinya juga paham kalau Papa dan Mamanya sedang menikmati kebahagiaan. Buktinya aku juga tetap lincah di atas ranjang kan?"


"Kalau itu jangan ditanya. Goyangan pinggul dan goyangan gergaji kamu mantap sekali." Ucap Zidni di iringi gelak tawa Chika.


"Kamu ini bisa saja Mas. Oh ya Mas, aku pingin nasi pecel dong. Tadinya pingin rebahan tapi sekarang malah lapar."


"Kamu ngidam ya sayang?"


"Sepertinya begitu."


"Baiklah, aku akan pergi membelikanmu nasi pecel. Apapun yang kamu mau akan aku turuti. Aku ingin menikmati manjanya kamu saat ngidam. Karena dulu saat kamu hamil Kenzie, aku sama sekali tidak ada disisi kamu."


"Iya Mas, terima kasih."


"Eh tapi dulu pas ngidam siapa yang menuruti keinginan kamu?"


"Kadang beli sendiri, kadang minta tolong ayah atau ibu tapi kalau mereka tidak ada, aku juga minta tolong sama Romi."


"Romi? Ihh kenapa harus Romi? Aku tidak suka kamu menyebut namanya. Aku cemburu!"


"Kamu kan tanya, ya aku jawab. Ya sudah Mas, cepat belikan. Tapi aku maunya pecelnya di bungkus pakai daun pisang ya. Minta kecambahnya yang banyak, tempe mendoannya dobel sama telur dadarnya yang gede terus sambalnya di pisah saja ya Mas jangan di campur. Terus sekalian beliin aku es buah ya Mas, kasih susunya yang banyak dan buahnya juga ya tapi jangan pakai nanas ya Mas. Alpukatnya di banyakin sama sekalian minta tahu bulat yang di goreng dadakan jadi harus panas ya." Cerocos Chika panjang lebar yang hanya bisa membuay Zidni melongo. Bingung dengan semua pesanan Chika.


"Mmmm sayang, kamu kirim WA saja ya biar aku tidak lupa. Takut salah, hehehe."


"Mas, masa ingat gitu saja tidak bisa sih. Aku kan capek ngetiknya. Romi aja langsung sat set saat aku minta dulu."


"Eh bawa-bawa nama Romi lagi. Kamu ini ya. Iya-iya aku inget." Kesal Zidni yang mendengar nama Romi. Chika justru tertawa melihat ekspresi kesal suaminya.


"Iya suamiku, nanti aku kirim lewat WA. Aku hanya becanda. Kan ini pengalaman pertama kamu mendampingi kehamilanku jadi kamu harus sigap dan cepat. Karena ada Papanya jadi babynya manja, Mas." Chika merajuk.


"Iya sayang, silahkan manja semaunya kamu. Aku mandi dulu ya."


"Eh jangan mandi, Mas. Langsung ganti baju saja. Nanti keburu siang."


"Oke baiklah."


"Nanti kalau kamu mandi dan kelihatan cakep malah di kerubungi ibu-ibu jadi mending bau dan jelek begini," kekeh Chika.


"Dasar ya kamu ini. Tapi tidak apalah demi istri dan calon anak kita. Meskipun bau pun aku akan berangkat."


"Terima kasih ya, Mas. Sekarang aku tahu bagaimana rasanya ngidam dan manja sama suami saat hamil."


"Sama-sama sayang. Aku akan menuruti semua keinginan kamu. Ya sudah aku siap-siap. Kalau ada tambahan Wa saja ya."


"Iya Mas, kamu hati-hati ya. I love you."


"I love you too istriku." Zidni dengan semangat segera ganti baju dan pergi membelikan apa yang Chika inginkan. Chika sendiri merasa sangat bahagia bisa menikmati kehamilan di dampingi oleh suami.


"Tuhan, jaga dia, lindungi dia dimanapun dia berada. Jangan pernah pisahkan kami lagi ya Tuhan. Dan terima kasih KAU telah menitipkan kembali anugrah terindah dalam kehidupan kami. Kami akan menjaga amanah terindah ini." Gumam Chika sembari mengelus perutnya.


Baiklah, tamatnya di cancel dulu. Kita nikmati dulu ya keseruan Zidni mendampingi kehamilan Chika. Sesuai request kalian, hehehe. Tapi jangan lupa like, komen dan votenya ya, makasih 🥰