Mr. Arrogant Vs Noisy Girl

Mr. Arrogant Vs Noisy Girl
BAB 54 Ciuman



''Sayang, coklatnya kok belum di makan?'' tanya Chika begitu ia masuk kamar. Chika melihat Kenzie tengkurap diatas kasur sambil mengusap coklat dalam kemasan box itu.


''Sayang kalau dimakan, Mah.''


''Memangnya kenapa?''


''Ini adalah hadiah pertama dari Papa. Jadi aku tidak akan memakannya.''


''Maafkan Mama ya. Maafkan Papa juga.''


''Tidak usah meminta maaf, Mah.''


''Kemarin saat di Jepang, Papa sempat pingsan dan itu lama sekali. Keesokan harinya saat Papa sadar, Papa tidak ingat sama sekali dengan Mama. Mama takut sekali. Mama takut kehilangan Papa untuk kedua kalinya. Saat itu Papa pingsan karena memaksa ingatannya. Maafkan Mama belum berhasil membuat Papa ingat semuanya.''


''Mah, aku tidak apa-apa. Jangan paksa Papa. Aku juga takut kehilangan Papa untuk kedua kalinya.'' Kenzie kemudian memeluk Mamanya.


''Tapi sepertinya Kakek dan Nenek sudah tidak suka lagi dengan Papa. Mereka tidak tahu bagaimana kondisi Papa saat ini. Mereka menganggap Papa sengaja melupakan kita. Mama takut jika suatu saat Papa kembali, Kakek dan Nenek akan menghalangi hubungan kami.''


''Mama tenang saja. Biar aku yang mengurus Kakek dan Nenek. Aku akan semakin semangat berdoa supaya Papa segera ingat semunya.''


''Terima kasih ya sayang. Sepertinya kita harus bersabar lagi.''


''Iya Mama.''


Malam harinya, seperti biasa, Zidni menyibukkan diri diruang kerjanya. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, tanda pesan masuk. Sebuah pesan dari Frans. Pesan itu berisi foto-foto kebersamaan mereka selama di Jepang. Sudut bibir Zidni terangkat melihat kekonyolan pose Chika.


''Dasar wanita aneh ini! Dia terluka tapi masih bisa tersenyum dan tertawa lebar seperti itu.'' Gumamnya.


''Apa aku kirim pesan untuknya ya? Kira-kira Kenzie menyukai coklatnya apa tidak ya?'' Zidni mulai mencari ide untuk mengetahui kabar Chika. Padahal dalam sudut hati yang tidak ia sadari, Zidni merasa rindu. Zidni mulai mengetik pesan untuk Chika namun Zidni tiba-tiba mengurungkannya.


''Ah, untuk apa aku mengirim pesan padanya. Dia hanya bawahanku.'' Gumamnya sendiri.


''Tapi aku harus memastikan kalau anaknya suka dengan coklat itu. Itu coklat mahal. Sayang kan kalau tidak di makan. Terbuang percuma uang ku.'' Gumamnya lagi. Setelah penuh pertimbangan, Zidni akhirnya mengirim pesan pada Chika.


Zidni : Chika, apa putramu menyukai coklatnya? Pastikan dia memakannya. Karena itu harganya sangat mahal.


Chika yang baru saja menidurkan Kenzie, mendapati pesan dari Zidni. Chika tersenyum membaca pesan dari Zidni. Tanpa banyak bicara, Chika memotret foto Kenzie yang tengah tertidur sambil memeluk kotak coklat itu.


Chika : Dia membawa coklatnya saat tidur, Tuan. Terima kasih untuk coklatnya. Saya tidak menyangka Tuan akan membelikan coklat itu untuk Kenzie. Dia sangat senang sekali, bahkan dia tidak ingin memakannya karena itu hadiah dari Tuan.


Tring! Notifikasi pesan! Secepat kilat Zidni membaca pesan dari Chika. Zidni tersenyum membaca pesan dari Chika. Ditambah foto Kenzie yang tengah tertidur sambil memeluk kotak coklat itu, membuat hati Zidni terenyuh. Zidni mengelus dadanya, dadanya terasa nyeri dan rasanya ingin menangis saat melihat foto Kenzie yang tampak terlelap.


"Tuhan, kenapa perasaan ku seperti ini? Wajahnya kenapa sangat mirip denganku? Apa ini ada hubungannya dengan masa laluku? Tapi Chika sudah bersuami dan suaminya entah kemana jadi sepertinya sangat mustahil juga. Mungkin hanya kebetulan mirip saja." Gumam Zidni berusaha meyakinkan perasaannya. Zidni kemudian membalas pesan Chika.


Zidni : Pastikan dia untuk memakannya sendiri ya. Karena itu coklat mahal.


Chika : Sudah berapa kali anda mengatakan kalau coklat itu mahal? Tanpa anda katakan berulang kali, saya juga tahu kalau coklat itu mahal.


Zidni : Aku hanya mengingatkan saja. Jangan lupa besok kerja dan pastikan proyek tim mu beres.


Chika : Bagaimana beres Tuan? Anda saja mengajak saya ke Jepang. Saya juga tidak sempat bertanya pada mereka. Apalagi anda menyita ponsel saya.


Zidni : Itu bukan sebuah alasan ya. Aku tidak menerima alasan apapun. Aku ingin besok kamu presentasi di hadapanku seorang diri. TITIK! SELAMAT MALAM!


Chika : Dasar bos KEJAM!


Zidni justru tersenyum mendapat balasan itu dari Chika. Sementara Chika benar-benar kesal dengan sikap Zidni.


"Memang ya dia bos yang sangat kejam. Untuk apa juga aku harus presentasi dihadapannya seorang diri. Memangnya apa yang mau dia lakukan?" kesal Chika.


"Ah, sepertinya besok aku harus dandan lebih cantik dari sebelumnya. Aku akan membuatnya terpesona. Baiklah Chika, semangat untuk menggoda suamimu. Sepertinya dia ingin kita berdua saja di dalam ruangan." Gumam Chika dengan segala imajinasinya.


''CHIKA! I miss you.'' Mita menghambur ke pelukan Chika. Kemudian disusul oleh Juno dan Pak Haris. Ya, mereka sudah menjadi tim yang solid dan akrab.


''Aku juga merindukan kalian semua.'' Kata Chika.


''Apa terjadi sesuatu disana? Apa Tuan Zidni menyiksamu?'' tanya Mita penasaran.


''Iya Chik, apa Tuan Zidni bersikap keterlaluan dan semena-mena padamu?'' sambung Juno.


''Kalian ini apa sih? Buruk sangka saja pada Tuan Zidni. Chika saja wajahnya cerah begini, itu artinya semuanya baik-baik saja.'' Timpal Pak Haris.


''Nah, apa yang dikatakan Pak Haris benar sekali. Buktinya aku baik-baik saja. Sudahlah jangan memikirkan itu. Ini ada oleh-oleh untuk kalian. Maaf ya cuma bisa memberikan oleh-oleh berupa kain. Tapi beda-beda kok warnanya.''


''Ya ampun Chika, seharusnya kamu tidak usah repot-repot. Tapi makasih ya karena ini oleh-oleb dari Jepang.'' Seloroh Mita dengan tawanya.


''Makasih ya Chik.'' Kata Juno.


''Iya, aku juga terima kasih.'' Imbuh Pak Haris.


''Iya sama-sama. Oh ya apa proposalnya sudah siap? Tuan memintaku untuk presentasi di hadapannya.''


''Sudah kami siapkan Chika. Begitu kamu mengirim pesan, kami langsung menyiapkannya. Memang harus kamu ya?'' kata Mita.


''Aku rasanya seperti tidak diberikan waktu untuk bernafas oleh Tuan Zidni. Aku sendiri tidak tahu apa maksudnya. Mungkin Tuan Zidni masih dendam padaku karena masalah kemarin. Tapi tidak apa, demi kalian aku akan melakukan yang terbaik. Jadi kalian jangan pikirkan itu ya.'' Ucap Chika dengan senyum dan wajahnya yang selalu ceria.


''Semangat ya dan maafkan kami.'' Sahut Juno.


''Kalian tenang saja. Sebaiknya aku pelajari dulu ya dan setelah itu aku akan ke ruangan Tuan Zidni.''


''Oke. Kami tidak akan mengganggumu. Semoga tidak ada koreksi lagi. Karena selama Tuan pergi kami benar-benar bekerja keras untuk menyelesaikan semua ini.'' Kata Pak Haris.


''Amin.'' Ucap Chika. Chika tetap berharap jika Zidni setuju tanpa melakukan revisi lagi. Karena sikapnya sudah membuat teman-temannya kesusahan dan bekerja ekstra keras.


Setelah Chika siap, Chika segera menuju ruangan Zidni.


Tok tok tok tok!


''Masuk!" sahut Zidni. Chika pun masuk dan menunjukkan proposalnya pada Zidni.


''Ini Tuan.''


''Oke, silahkan berdiri di dekat white board itu dan presentasikan di hadapanku.'' Kata Zidni sambil mengarahkan pandangannya ke whiteboard.


''Baik Tuan.'' Chika kemudian mulai melakukan presentasi. Zidni menopang dagu sembari memperhatikan Chika.


''Aku akui, dia memang berkompeten.'' Gumam Zidni dalam hati sambil terus memperhatikan Chika. Tiba-tiba puzzle ingatan itu muncul kembali. Membuat konsentrasi Zidni terganggu. Zidni mendesis memegangi kepalanya. Melihat Zidni yang tampak kesakitan, Chika lalu mendekati Zidni.


''Tuan, baik-baik saja kan?''


''Argghh!" Zidni mengerang kesakitan.


''Tuan, jangan paksa.'' Ucap Chika sambil mengusap lembut lengan Zidni. Zidni yang masih dalam posisi duduk, tiba-tiba menarik Chika sampai Chika terjatuh di pangkuannya. Tanpa basa-basi Zidni kemudian mencium bibir Chika. Zidni teringat kejadian beberapa waktu lalu saat ia tidak sengaja berciuman dengan Chika, rasa sakit di kepalanya hilang dan perlahan ia mengingat kejadian masa lalunya dengan jelas. Kali ini Zidni tidak peduli lagi dengan apa yang ia lakukan. Ia bahkan siap di tampar atau tuntut oleh Chika sekalipun.


Chika tentu saja terkejut dengan sikap Zidni. Chika tentu saja ingin membalas ciuman Zidni tapi ia harus bisa menahannya. Namun Chika tidak menolak dan membiarkan Zidni melu...matnya dengan lembut sambil memejamkan matanya. Dan rasa sakit yang hebat itu perlahan mereda. Puzzle ingatannya beberapa waktu lalu berlanjut, dimana dirinya sedang dalam perjalanan kesebuah tempat dan terlihat jelas dirinya sedang berbicara dengan seseorang lewat sambungan telepon.


''Tu....tuan,'' Frans begitu terkejut melihat adegan dihadapannya saat membuka pintu. Frans buru-buru menutup kembali pintu ruangan Zidni.


''Astaga, apa yang terjadi? Tuan mencium Nona Chika? Apa Tuan sudah ingat semuanya? Kenapa aku yang jadi penasaran begini?'' gumam Frans dalam hati.