
Akhirnya Alvin kembali menyamar sebagai Al untuk menemui Tuan Edward. Alvin kemudian pergi bersama Tuan Edward untuk menemui Bella yang di sekap oleh Austin atas perintah Rodrigo.
"Jadi, dimana mereka menyekap Nona Bella, Tuan?" tanya Alvin sambil tetap fokus menyetir.
"Dari alamat yang baru saja dikirim, ini seperti bekas pabrik elektronik, Al. Mereka mengancam jika membawa polisi, mereka akan menyakiti Bella dan bisa jadi aku akan kehilangan Bella. Aku bersyukur akhirnya aku bisa menghubungimu karena jujur saja saat ini yang bisa aku andalkan adalah kamu, Al."
"Maaf Tuan, bukankah anda dan Tuan Rodrigo bersahabat baik? Kenapa bisa menjadi seperti ini."
"Ini semua memang karena kesalahanku. Aku terlalu serakah. Bahkan aku mengorbankan kebahagiaan Bella, puriku satu-satunya. Jadi, sebenarnya-" Tuan Edward kemudian menceritakan semua duduk perkara antara dirinya dan Rodrigo, begitu juga dengan Zidni.
"Jadi, begitulah ceritanya, Al. Tapi aku sudah menarik semua produkku dari semua toko atau supermarket. Rodrigo juga mengancam kalau sampai dirinya masuk penjara dan hancur, maka aku pun harus merasakan hal yang sama. Aku tergoda bisnis kotor yang mengiming-imingi keuntungan luar biasa besar. Tapi aku tidak peduli sekalipun aku harus menghabiskan sisa usiaku di penjara, asalkan Bella selamat. Kalau hal buruk terjadi padaku, aku ingin kamu menjaga Bella, Al."
"Tuan, mungkin ini saatnya aku juga mengaku dihadapan anda."
"Mengaku bagaimana, Al?" Tuan Edward merasa bingung dengan apa yang Alvin katakan. Alvin kemudian melepaskan kumis dan jambang palsunya. Tuan Edward sangat terkejut melihat sosok dihadapannya.
"K-kamu... pria yang mengantar Bella ke rumah?" ucap Tuan Edward tergagap.
Alvin lantas tersenyum. "Benar sekali, Tuan."
"Apa kamu sengaja menyamar untuk menyakiti Bella? Apa motifmu melakukan semua ini?" marah Tuan Edward.
"APA? Tuan Edward semakin tercengang.
"Tidak usah kaget, Tuan. Kak Zidni sengaja mengirimku untuk mengintai anda. Tentu saja anda tahu apa salah anda pada Kak Zidni bukan? Semua bukti yang Kak Zidni bawa itu semua dariku. Aku sendiri terkejut karena wanita yang aku temui adalah putri anda. Aku sama sekali tidak ada niat menyakiti Bella, aku hanya mencari bukti. Namun ada hal yang membuatku menaruh simpati pada Bella kalau ternyata Ayah kandungnya sangat kejam kepadanya. Rela menukar kebahagiaan putrinya dengan bisnis. Dan fakta mengejutkan datang kalau sahabat dan rekan bisnisnya ternyata juga berniat menipunya. Aku sering mendengar Bella menangis di dalam kamar merindukan Mamanya. Karena Ayahnya tidak bisa lagi menjadi rumah untuknya. Seiring waktu bersama Bella, aku mulai jatuh cinta pada Bella, Tuan. Aku ingin menjaganya dari orang jahat termasuk Austin dan Rodrigo, tak terkecuali anda, Ayah kandungnya," jelas Alvin dengan sorot mata setajam elang. Tadinya Tuan Edward ingin marah namun mendengar pengakuan Alvin, ia justru semakin merasa bersalah pada Bella.
"Ya, kamu benar. Aku memang Ayah yang jahat."
"Tuan. sekarang fokus pada Bella. Asal Tuan tahu kalau kakakku, istri Kak Zidni dan putranya juga di sekap oleh Rodrigo. Mereka juga mencari tahu semuanya. Sekarang Kak Zidni menuju lokasi tempat penyekapan."
"Apa? Mereka menyekap istri dan putra Tuan Zidni juga? Biadab sekai, mereka. Aku sangat menyesal telah melakukan semua ini. Kini malah semakin banyak korbannya."
"Tidak ada guna nya menyesal, Tuan. Yang harus kita lakukan saat ini adalah memperbaiki keadaan."
"Terima kasih, Alvin. Kamu telah membuka mataku dan menjaga Bella selama ini."
Alvin hanya mengangguk. Pandangannya kemudian tertuju pada beberapa dokumen yang dibawa oleh Taun Edward. "Lalu apa yang ada ditangan anda, Tuan?"
"Ini adalah bagian yang mereka minta. Mereka meminta 50% perusahaan. Mereka mengancam ku. Aku rela kehilangan apapun asalkan jangan Bella. Hanya dia yang aku punya. Sekali lagi, jika terjadi sesuatu padaku, tolong jaga Bella, Alvin. Aku percaya padamu."
"Tanpa anda minta, aku akan menjaganya, Tuan."