
Namun pandangan Zidni semakin dalam kearah kalung berpermata biru itu. Lagi-lagi muncul bayangan seperti dirinya pernah memegang kalung itu. Namun bayangan itu tidak terlihat jelas dalam ingata Zidni. Ia melihat seseorang berdiri dihadapannya namun wajahnya sama sekali tidak terlihat.
''Arrghhh!" Zidni mengerang sambil memegangi kepalanya.
''Tuan!" Frans dan Chika reflek memegangi tubuh Zidni.
''Tuan, anda baik-baik saja? Atau kita batalkan gala dinner ini?'' ucap Frans.
''Tidak perlu. Aku tidak apa-apa.'' Ucap Zidni lirih sambil memegangi kepalanya.
''Nona, tolong pegang Tuan Zidni. Aku akan mengambil obat di kamar Tuan.'' Kata Frans.
''Iya sekretaris Frans.'' Ucap Chika. Chika kemudian mengajak Zidni duduk kembali.
''Sayang, apa kamu mengingat sesuatu? Apakah sesakit itu rasanya ketika puzzle ingatan itu muncul?'' gumam Chika dalam hati. Ia tidak tega melihat Zidni kesakitan. Keringat dingin pun keluar dari wajah Zidni. Chika mengambil tisu dan menyeka bulir keringat di wajah tampan suaminya. Tak lama kemudian Frans membawa obat dan air untuk Zidni.
''Tuan, ini obatnya. Pasti anda lupa untuk meminumnya.'' Ucap Frans yang begitu khawatir. Chika kemudian membantu Zidni untuk meminum obat.
''Sebaiknya kita batalkan saja, Tuan. Dan sebaiknya anda istirahat. Sejak kita sampai, kita belum istirahat sama sekali.'' Ucap Chika.
''Aku kesini memang untuk bekerja. Lima menit lagi juga sudah enakan.'' Ucap Zidni. Frans dan Chika hanya bisa diam menuruti perintah Zidni. Lima menit kemudian, mereka pun berangkat menuju restoran bintang lima.
Tiga puluh menit kemudian mereka sampai di restoran yang tak jauh dari dermaga. Pemandangan malam itu sangat indah. Lagi-lagi Chika di buat terpukau oleh keindahan negeri sakura itu.
''Mari aku bantu Nona.'' Ucap Frans seraya mengulurkan lengannya pada Chika.
''Tidak usah bergandengan segala, Frans.'' Tegur Zidni.
''Saya hanya membantu Nona Chika saja, Tuan. Apalagi Nona pasti kesulitan berjalan karena mengenakan dress ini.'' Kata Frans.
''Sudah sekretaris Frans, kita tidak usah berdebat. Saya bisa jalan sendiri kok.'' Kata Chika.
''Nah, kamu dengar sendiri kan Frans?'' ucap Zidni.
''I-iya Tuan.'' Jawab Frans.
''Sepertinya Tuan Zidni sengaja ingin mempermalukan Nona Chika. Supaya Nona Chika terjatuh dan malu.'' Gumam Frans dalam hati dengan segala prasangkanya. Zidni kemudian melangkah lebih dahulu, Chika berada di belakang Zidni sementara Frans paling belakang. Begitu sampai di dalam, Zidni di sapa dengan hormat oleh yang sang empunya acara.
''Selamat datang Tuan Zidni. Terima kasih sekali sudah mau menghadiri undangan ku.'' Ucap Tuan Ryuchi.
''Sudah seharusnya seperti itu kan, Tuan.'' Kata Zidni.
''Oh siapakah wanita cantik di belakang anda? Apakah dia calon istri anda?'' tebak Tuan Ryuchi. Dan kebetulan sekali disana Zidni melihat Jasmine. Zidni lupa, tidak seharusnya menghadiri acara itu karena Jasmine pasti akan datang mewakili perusahaan orang tuanya.
''Zidni!" seru Jasmine seraya berjalan mendekat.
''Selamat malam Tuan Ryuchi.'' Sapa Jasmine.
''Selamat malam Nona Jasmine. Kalian saling mengenal rupanya.'' Kata Tuan Ryuchi pada Jasmine. Jasmine pun langsung memeluk lengan Zidni.
''Tentu saja Tuan. Kita bahkan sangat dekat.'' Kata Jasmine.
''Kalau kalian dekat lalu Nona cantik itu siapa Tuan Zidni?'' Tuan Ryuchi mencari jawaban kembali atas pertanyaannya. Zidni menoleh kebelakang, kearah Chika. Ada rasa cemburu di sudut hati Chika saat suaminya disentuh oleh wanita lain. Zidni kemudian melepaskan tangan Jasmine dari lengannya. Ia lalu menarik tangan Chika yang berdiri di belakang. Chika tentu saja terkejut dengan sikap Zidni, begitu juga dengan Jasmine. Terlebih Frans dengan segala prasangka buruknya pada Zidni.
''Aku dan Nona Jasmine memang dekat tapi kami hanya teman biasa. Sedangkan wanita ini, dia adalah seseorang yang ada di hati ku saat ini.'' Ucap Zidni.
''Oh, selamat ya Tuan! Bahagia sekali rasanya mendengar kabar ini. Akhirnya anda akan segera melepas masa lajang. Kalau boleh tahu siapa nama Nona cantik ini?'' Tuan Ryuchi lalu mengulurkan tangannya pada Chika. Zidni melihat kearah Chika. Memberikan sorot mata tajam, kode bahwa Chika harus menuruti ucapannya.
''Nama saya Chika, Tuan.'' Ucap Chika dengan sedikit terbata.
''C.H.I.K.A! Nama yang unik. Dari namanya sepertinya anda seorang yang begitu ceria, periang dan murah senyum.'' Puji Tuan Ryuchi.
''Tebakan anda benar sekali, Tuan. Karena mempunya sifat seperti itu lebih menyenangkan. Seolah tanpa beban padahal sedang memikul beban juga,'' seloroh Chika dengan tawa kecilnya yang membuat Tuan Ryuchi juga tertawa lebar.
''Hahahaha anda bisa saja Nona. Sekali lagi senang sekali bertemu dengan anda. Silahkan nikmati semua jamuan yang telah kami sediakan.''
''Iya Tuan, terima kasih untuk jamuannya.''
''Iya Tuan Ryuchi, silahkan.''
''Zidni, jadi dia wanita itu?'' tanya Jasmine dengan perasaan kesalnya.
''Iya Jasmine. Dialah wanita yang aku maksud.''
''Tapi bukankah dia bawahanmu yang menyebalkan itu? Mustahil sekali, Zidni.''
''Kalau di kantor, kami bersikap profesional saja. Pura-pura membenci padahal saling mencinta. Jadi apa yang salah Jasmine? Aku tidak peduli sekalipun dia bawahanku. Bukankah kamu sudah berjanji kalau kamu tidak akan mengangguku lagi?''
''Iya tapi kan....,''
''Ssstttt tidak ada yang perlu di bahas lagi.'' Sembari menggandeng tangan Chika, Zidni menuju mejanya. Dan Frans mengekor dari belakang.
''Apa? Tuan Zidni ada affair dengan Nona Chika? Bagaimana mungkin? Nona Chika kan sudah punya suami. Apa Tuan mau menjadi perebut istri orang apa? Kenapa Tuan Zidni semakin aneh begini?'' gumam Frans dalam hati.
''Tuan, apa yang anda lakukan tadi?'' tanya Chika.
''Tenang saja, aku hanya pura-pura karena ada Jasmine tadi. Jadi jangan ge-er ya.'' Kata Zidni dengan entengnya.
''Tuan tapi tidak seharusnya ada mengatakan itu. Itu pasti mengganggu Nona Chika. Apalagi Nona Chika sudah mempunyai suami.'' Sahut Frans.
''Iya Frans, aku tahu. Kamu tidak usah mengajari aku.'' Ucap Zidni dengan tatapannya yang selalu dingin.
''Bagaimana kalau Nona Jasmine menyebarkan berita ini Tuan?'' tanya Chika.
''Dia tidak akan berani melakukan itu.'' Ucap Zidni dengan entengnya.
''Bagaimana kalau itu terjadi Tuan?'' tanya Chika.
''Tenang saja. Aku akan mengurus Jasmine. Sebaiknya kamu makan saja.'' Kata Zidni pada Chika.
''Saya permisi ke toilet.'' Pamit Chika seraya beranjak dari duduknya.
''Biar aku antar Nona.'' Kata Sekretaris Frans.
''Tidak perlu sekretaris Frans. Anda kan pria.'' Kata Chika dengan senyum kecilnya. Chika pun berlalu begitu saja.
''Frans, sepertinya ada yang aneh dengan otakmu.'' Zidni menatap Frans penuh selidik.
''Aneh bagaimana Tuan?'' tanya Frans.
''Kenapa kamu sok perhatian sekali padanya? Kamu menyukainya?''
''Ti-tidak Tuan. Sa-saya tidak mungkin menyukai istri orang lain. Saya hanya berusaha menjaga Nona Chika saja jangan sampai kenapa-kenapa. Apalagi kan keselamatan dan keamanan Nona Chika adalah tanggung jawab perusahaan. Kasihan anaknya juga kan Tuan, kalau sampai Nona Chika kenapa-kenapa. Hanya itu saja.''
''Awas ya kalau kamu sampai aneh-aneh.''
''Tidak mungkin saya begitu Tuan. Tuan sendiri justru yang aneh.'' Celetuk Frans.
''Aku sedang dalam situasi mendesak, Frans. Jadi jangan membahas itu lagi.'' Ucap Zidni dengan suara meninggi.
''I-iya maaf Tuan.''
''Kamu sendiri juga tahu kalau aku sedang mencari masa laluku. Aku yakin cincin yang aku kenakan ini ada pasangannya.''
''Iya Tuan, saya minta maaf. Karena ucapan Tuan sungguh mengejutkan.'' Ucap Frans.
''Sebaiknya percepat pencarian itu. Masa sampai detik ini tidak ada kabar apapun.'' Kesal Zidni.
''Kami akan berusaha lebih maksimal lagi Tuan.''
''Aku tidak butuh janji tapi bukti. Dari kemarin kamu juga selalu bicara seperti itu.''
''Maaf Tuan.''