
"Tuan, sebaiknya dan Bella ke rumah sakit dulu. Aku akan menyusul karena aku harus menyusul Kakaku."
"Iya, Alvin. Kamu hati-hati."
"Iya, Tuan. Polisi akan mengawal kalian."
"Kamu mau kemana?" tanya Bella sambil menahan tangan Alvin.
"Kakakku juga dalam bahaya. Nanti aku cerita semuanya. Aku pergi dulu ya." Alvin dengan langkah terburu bergegas menuju lokasi penyekapan Chika dan Kenzie.
Zidni akhirnya tiba juga di lokasi. Dengan raut wajah penuh amarah, ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam bangunan kosong itu.
"RODRIGO!" Panggilnya dengan suara penuh amarah. Tatapannya seketika melemah, saat melihat istri dan anaknya terikat tak berdaya.
"Akhirnya anda datang juga, Tuan. Sungguh gentleman sekali." Ucap Rodrigo dengan tatapan penuh kesombongan. Tanpa banyak bicara, Zidni langsung melayangkan pukulan ke wajah Rodrigo sampai Rodrigo tersungkur ke tanah. Rodrigo memberi kode pada anak buahnya untuk menghajar Zidni. Namun Zidni berhasil membuat mereka semua tersungkur ke lantai. Dan polisi pun datang menodongkan pistol ke arah Rodrigo dan anak buahnya. Dengan gerak cepat, polisi meringkus Rodrigo beserta anak buahnya.
"Dasar pecundang! Cari tahu dulu siapa lawanmu, bodoh!" bentak Zidni. Zidni kemudian mendekat kearah istri dan putranya. Ia melepas ikatan pada tangan dan kaki istri juga putranya. Zidni lantas memeluk mereka dengan erat. Chika dan Kenzie menangis ke dalam pelukan Zidni.
"Maafkan Papa. Maafkan Papa lalai menjaga kalian."
"Pah, aku takut."
"Mas," Chika tak bisa berucap apapun selain memeluk suaminya dengan erat. Alvin baru saja tiba dan segera menyusul Zidni ke dalam.
"Kakak!" seru Alvin. Chika lalu memeluk Alvin.
"Kakak dan Kenzie baik-baik saja?"
"iya, kami baik." Jawab Chika lirih.
"Pipi Kenzie merah, Kak."
"Manusia biadab itu menyentuh putraku." Ucap Chika.
"Orang itu juga memukul Mama berkali-kali," tangis Kenzie. Mendengar ucapan Chika dan Kenzie, Zidni bangkit berjalan keluar dan menarik Rodrigo yang hendak masuk ke dalam mobil tahanan. Tanpa basa-basi ia kembali membalaskan pukulan untuk istri dan putranya.
"Brengsek! Keparat! Kau memukul istri dan putraku." Zidni memukul Rodrigo dengan brutal sampai membuat anggota polisi menahannya.
"Tenang, Tuan." Ucap seorang polisi yang berusaha melerai Zidni. Setelah puas melampiaskan amarahnya, ia kembali menyusul Chika. Tapi Alvin sudah mengajak Chika dan Kenzie keluar. Kenzie sudah aman dalam gendongan Alvin. Sementara Chika dengan tertatih di tuntun oleh Alvin. Zidni pun langsung menggendong Chika. Ia sangat khawatir dengan keadaan Chika yang tengah hamil.
"Kita ke rumah sakit. Aku harus memastikan kamu dan Kenzie baik-baik saja." Ucap Zidni pada Chika. Chika hanya mengangguk pelan sambil menyandarkan kepalanya pada dada bidang suaminya.
"Alvin, bagaimana Bella?"
"Bella juga sudah dibawa ke rumah sakit. Austin menyakiti Bella. Kaki Bella penuh dengan luka cambukan."
"Astaga, kasihan sekali Bella." Ucap Zidni. Chika ingin sekali ikut menimpali namun ia merasa tidak punya tenaga dan mendadak semuanya gelap.
"Sayang, manusia biadab itu tidak menyentuh perutmu kan?" tanya Zidni. Zidni belum sadar jika Chika pingsan dalam pelukannya.
"Sayang..." Zidni lalu melihat Chika yang tidak bereaksi.
"Sayang," panggilnya sambil mengguncang tubuh Chika. Zidni semakin panik dan khawatir.
"Kak, sepertinya Kak Chika pingsan atau mungkin dehidrasi. Kakak langsung saja ke rumah sakit terdekat. AKu akan menyusul dengan Kenzie."
"Baiklah. Aku pergi dulu." Zidni mempercepat langkahnya menuju mobil untuk segera membawa Chika ke rumah sakit.
*****
"Alvin, aku sudah tahu semuanya dari Papa." Ucap Bella. Alvin kini sudah berada di ruang rawat inap Bella.
"Maaf, aku tidak bermaksud membohongimu. Dan maaf juga kalau aku memata-matai Papamu."
"Tidak apa-apa. Aku justru berterima kasih kepadamu karena dengan kejadian ini Papa bisa sadar dengan semua kesalahannya. Tapi jujur saja, aku juga tidak menyangka kalau Papa mempunyai bisnis ilegal seperti itu. Dan aku senang kalau ternyata kamu adalah Al. Ternyata seseorang yang aku cari ada di dekatku. Terima kasih untuk semuanya, Alvin."
"Ada Alvin disini rupanya," ucap Tuan Edward yang baru saja kembali dari luar untuk membelikan ayam krispi kesukaan Bella.
"Tuan, maaf, ak..."
"Sudah, tidak apa-apa. Tidak usah minta maaf." Ucap Tuan Edward sambil menepuk pundak Alvin.
"Sayang, ini ayam krispi yang kamu minta. Kamu makan ya. Ini masih hangat."
"Iya, Pah terima kasih. Sudah lama sekali Papa tidak membelikan aku ayam krispi. Tapi ayam krispi buatan Mama yang paling lezat." Ucap Bella dengan mata berkaca-kaca. Ia sungguh merindukan kehangatan keluarga yang seperti ini. Merindukan masa kecilnya yang bahagia sebelum Mamanya meninggal dunia. Mendengar ucapan putrinya, Tuan Edward lalu memeluk Bella dengan erat.
"Maafkan Papa ya. Ijinkan Papa menebus waktu dan keegoisan Papa."
"Iya, Pah." Ucap Bella. Alvin bahagia sekali melihat Bella dan Tuan Edward kembali akur. Namun momen bahagia itu tidak bertahan lama, saat polisi datang keruangan Bella hendak menangkap Tuan Edward.
"Tuan Edward, anda harus ikut kami atas penipuan dan penyalah gunaan narkotika." Ucap polisi sambil memborgol tangan Tuan Edward.
"Papa..." seketika air mata Bella jatuh membasahi wajahnya.
"Tenang sayang, Papa akan menebusnya. Kamu baik-baik ya."
"Pah, Bella sama siapa? Pah, jangan tinggalkan Bella."
"Bella, Papa hanya menebus dosa Papa."
"Pah..." isak tangis Bella.
"Alvin, tolong jaga Bella." Ucap Tuan Edward yang berusaha tegar.
"Iya, Tuan. Aku pasti akan menjaga Bella."
Tangis Bella pecah saat polisi membawa Tuan Edward pergi. Ternyata Zidni dan Chika menyaksikan itu semua. Keduanya berdiri diambang pintu dan hendak menjenguk Bella.
"Tuan Zidni, maafkan aku." Ucap Tuan Edward sambil mengatupkan kedua tangannya.
"Aku sudah memaafkan mu, Tuan Edward. Aku harap, kita bisa berbisnis sehat lagi. Aku akan menunggumu keluar."
"Pasti Tuan." Dan Tuan Edward pun pergi untuk menebus kesalahannya. Ia pun sudah menduga jika Rodrigo akan membuka mulut dan menjerumuskannya ke dalam penjara. Namun Tuan Edward sudah siap dengan semua resiko itu.
Bella pun menangis dalam dekapan Alvin.
"Aku sendirian, Vin. Aku tidak punya siapa-siapa lagi." Hiks hiks hiks.
"Ada kami, Bella." Sahut Chika. Mendengar suara Chika, Bella melepaskan diri dari pelukan Alvin.
"Hai, Bella. Aku Chika. Kakak kandungnya Alvin."
"Aku, Zidni. Kakak iparnya Alvin."
"Halo, Tante cantik. Aku Kenzie, keponakan Om Alvin yang paling tampan." Ucap Kenzie dengan bicaranya yang begitu menggemaskan. Tangis Bella berubah senyum mendengar Kenzie bicara.
"Aku malu sekali. Orang baik seperti kalian tapi menjadi korban Papa. Aku malu sekali dan merasa tidak pantas ada bersama kalian."
"Bella, jangan pikirkan itu. Semua orang pernah punya salah. Papa kamu tanggung jawab kok. Papa kamu sudah membayar semua kerugiannya pada kami," sahut Chika.
"Dan sepertinya Rodrigo yang menyebutkan nama Edward sebagai salah satu rekan bisnis ilegalnya. Maaf, kalau semuanya harus seperti ini." Sahut Zidni.
"Ini teguran Tuhan untuk Papa. Aku sedih tapi aku harus ikhlas menerima keadaan ini."
"Kamu jangan pernah merasa sendiri, Bella. Karena ada kami, keluarga kamu." Ucap Chika
"Terima kasih, Kak. Terima kasih semuanya."