Mr. Arrogant Vs Noisy Girl

Mr. Arrogant Vs Noisy Girl
BAB 40 Mencairkan Suasana



Saat Chika tengah asyik berdandan, tiba-tiba ponselnya berdering. Ada panggilan vidio call dari Alvin. Chika pun segera menerimanya.


''Mama!" seru Kenzie.


''Sayang. Mama merindukan kamu.''


''Hai Kak!" sapa Alvin.


''Alvin, bagaimana kamu bisa bersama Kenzie? Bukannya kamu kerja?''


''Begitu mendapat kabar dari Ayah dan Ibu, aku langsung ke rumah. Dan aku yang menemani Kenzie tidur semalam.''


''Terima kasih ya Vin, kamu memang adik yang terbaik.''


''Hehehe iya dong. Kakak semangat ya. Aku senang sekali Kakak bisa pergi bersama Kak Zidni.''


''Ssstttt pelan-pelan. Nanti Ayah dan Ibu mendengar.''


''Tenang saja Kak. Aku sudah mengunci pintu.''


''Mama, Papa dimana?'' tanya Kenzie.


''Papa di kamar sebelah sayang.''


''Kak, Kenzie sudah tahu?''


''Iya. Kakak janji akan cerita padanya setelah dia sembuh. Tapi tolong rahasiakan semuanya dari Ayah dan Ibu ya.''


''Iya, Kakak tenang saja. Lalu bagaimana perkembangan sikap Kak Zidni?''


''Masih tetap sama, Alvin.''


''Sepertinya Kakak harus ubah strategi.''


''Maksudmu?''


''Kakak harus lebih agresif lagi. Kakak membuatnya kesal seperti biasa tapi ada sentuhan agresifnya begitu.''


''Sudah, kamu jangan mengacau saja. Kakak setelah ini harus menemani Kak Zidni meeting. Nanti kita sambung lagi ya, sebelum dia marah-marah. Tolong jaga Kenzie ya.''


''Iya Kakak tenang saja. Nikmati saja waktu Kakak bersama Tuan Zidni,'' gurau Alvin.


''Mama baik-baik ya sama Papa. Sampaikan salamku pada Papa.''


''Iya sayang. Kamu baik-baik ya. I love you.''


''I love you too Mama.'' Panggilan pun berakhir.


''Mmm apa iya aku harus sedikit agresif? Tapi Zidni tidak menyukai wanita seperti itu.'' Gumamnya.


''Ah bodoh amat. Sebaiknya aku menyelesaikan dandan ku ini sebelun Tuan angkuh itu teriak memanggil namaku.'' Gumam Chika. Meskipun bukan orang kaya, untuk urusan style, Chika cukup piawai memadu padankan pakaian. Apalagi sebelumnya ia pernah menjadi seorang sekretaris.


''Nona Chika! Apa sudah siap?'' panggil Frans seraya mengetuk pintu.


''Iya sekretaris Frans,'' sahut Chika seraya menyambar tasnya untuk bergegas keluar. Begitu membuka pintu, Zidni pun sudah ada di sana.


''Dua menit, hanya untuk menunggumu membuka pintu.''


''Ma-maaf Tuan.''


''Frans, biarkan dia yang membawa tasmu.'' Perintah Zidni.


''Iya Tuan.'' Frans kemudian memberikan tasnya pada Chika. Mereka bertiga segera menuju mobil dan pergi ke tempat meeting di sebuah restoran bintang lima. Zidni salut dengan kinerja Chika yang sangat cepat tanggap. Frans sendiri merasakan kalau Chika memang berkompeten dan Frans sangat terbantu dengan adanya Chika. Selesai meeting, mereka meninjau perkebunan wasabi terbesar di Jepang. Perkebunan yang hampir saja hancur karena ulah kompetitor almarhum Ayah Zidni. Ya, karena Tuan Tobi memang dulunya seorang pengusaha bertangan dingin dan memang terkenal karena keangkuhannya. Namun keangkuhannya itu hanya untuk para musuh-musuhnya.


''Wah, ternyata Jepang indah sekali. Ini seperti di kampungku.'' Ucap Chika.


''Udaranya disini memang segar Nona.'' Sahut Frans.


''Ini apa Tuan?'' tanya Chika pada Zidni.


''Ini adalah wasabi. Wasabi adalah tanaman asli Jepang dari suku kubis-kubisan (Brassicaceae). Parutan rimpang (rizoma) yang juga disebut wasabi, dimakan sebagai penyedap masakan Jepang, seperti sashimi, sushi, soba, dan ochazuke. Daun, tangkai, dan rizoma memiliki aroma harum, sekaligus rasa tajam menyengat hingga ke hidung seperti mustar, tetapi bukan pedas di lidah seperti cabai. Unsur kimia yang menjadikan wasabi memiliki rasa menyengat (pedas) adalah isotiosianat (methylthiohexyl isothiocyanate, methylthioheptyl isothiocyanate, dan methylthiooctyl isothiocyanate). Senyawa ini bersifat antimikroba yang menghambat pertumbuhan bakteri, sehingga irisan ikan segar selalu dimakan bersama wasabi.'' Jelas Zidni. Tak lupa Chika merekam semua ucapan Zidni dalam memorinya.


''Oh begitu, pantas saja ya mereka tidak khawatir makan ikan mentah seperti itu. Apa wasabi hanya tumbuh di sini Tuan?'' tanya Chika.


''Di alam bebas, tanaman hanya tumbuh liar daerah beriklim sejuk, di lembah pinggiran sungai atau di tengah air bersih yang mengalir perlahan-lahan. Di Jepang, wasabi tumbuh liar di sepanjang aliran sungai yang bersih dan sejuk (10-17℃) di daerah pegunungan pulau Honshu, Kyushu, dan Shikoku.'' Jelas Zidni.


''Wah, anda hebat sekali Tuan.'' Ucap Chika seraya memberikan tepuk tangan untuk Zidni.


''Aku memang hebat dan semua orang sudah mengakuinya.'' Ucap Zidni dengan begitu angkuhnya.


''Belum pernah sama sekali. Bentuknya saja baru aku lihat.''


''Di depan perkebunan ada restoran milik Tuan Zidni juga jadi kita bisa mencicipinya sekaligus makan siang bersama.''


''Dengan senang hati sekretaris Frans. Ini pengalaman yang sangat berharga untuk saya. Selain pertama kali ke luar negeri, ini pertama kalinya bagi saya juga ke Jepang dan melihat tumbuhan ini.'' Ucap Chika dengan penuh antusias.


''Oh ya apa perkebunan ini milik anda Tuan?''


''Tentu saja. Sebenarnya ini milik Papa. Beberapa tahun lalu perkebunan ini hampir hancur dan bangkrut. Ya, itu semua terjadi karena mereka tidak suka dengan kesukseskan Papa mengelola perkebunan ini. Saat aku terbangun dari koma karena kecelakaan, aku langsung pergi mengurus perkebunan ini. Mereka berusaha menyerang saat Papa sudah meninggal. Untung saja karena kecerdasanmu dan dengan tangan dinginku ini, aku bisa mengembalikan perkebunan ini. Aku berhasil mendapatkan investor dan lihat ini bukan hanya sekedar perkebunan tapi menjadi tempat wisata alam.''


''Tuan memang luar biasa.'' Sahut Frans penuh rasa bangga sembari tepuk tangan.


''Ya Tuhan, ternyata itu yang di alami suamiku. Dia mempunyai perusahaan sebesar ini. Dan mempunyai ribuan karyawan di pundaknya. Begitu bangun dari koma, dia langsung bekerja dan dia bahkan lupa jika Papanya sudah meninggal. Suamiku, semoga kamu sehat selalu. Mereka semua menggantungkan nasib padamu.'' Gumam Chika dalam hati seraya menatap dalam diam suaminya.


''Tuan Zidni pernah kecelakaan?'' Chika berusaha memancing Zidni.


''Iya tapi itu sudah sangat lama.'' Singkatnya.


''Oh begitu. Ya, meskipun anda angkuh, galak dan menyebalkan tapi saya tetap mengucapkan terima kasih karena sudah mengajak saya kemari. Ini pengalaman yang luar biasa bagi saya.''


''Bisa tidak kalau bicara yang baik-baik saja. Ucapanmy terkadang di awal menyenangkan namun di ujungnya selalu menyakitkan, kadang juga sebaliknya.''


''Hehehe tidak apa-apalah Tuan. Daripada anda, ucapan anda sama sekali tidak pernah menyenangkan. Setidaknya ucapanku pernah membuat anda senang.'' Kata Chika tanpa rasa takut sekalipun. Sementara Frans hanya bisa menahan senyumnya melihat tuannya mati kutu.


''Janhan banyak bicara lagi Chika! Sebaiknya jalan kesana. Kita keliling perkebunan. Catat semua hasil peninjauan hari ini.'' Ucap Zidni dengan suara meninggi.


''Siap Tuan!" jawab Chika dengan senyum lebarnya tanpa rasa takut. Tak lupa Chika mengabadikan momen selama disana. Chika juga tidak ragu-ragu untuk mengajak Frans selfie bersama. Frans juga senang karena perjalanan bisnis kali ini terasa ceria karena hadirnya Chika. Zidni menghela nafas kasar melihat Frans dan Chika yang tampak akrab foto bersama.


''Kalian berdua mau aku pecat? Kita ini kerja bukan berwisata.'' Bentak Zidni.


''Tuan, sekali-kali kerja sembari wisata kan asyik. Apalagi ini momen pertama saya. Saya bisa menceritakan pengalaman ini pada anak saya.''


''Iya tapi tidak perlu selfie bersama kan?'' ucap Zidni semakin kesal.


''Oh saya tahu, Tuan pasti cemburu ya? Tuan cemburu karena tidak kami ajak foto ya.'' Goda Chika.


''Cemburu? Si-siapa yang cemburu?'' bantah Zidni.


''Baiklah Tuan, bagaimana kalau kita selfie bersama? Saya akan menunjukkan pada semuanya kalau Tuan ini adalah bos yang sangat baik.'' Kata Chika.


''Tidak perlu!" ketus Zidni. Chika kemudian merangkul Zidni dan memotretnya langsung tanpa menunggu Zidni berpose. Chika pun tertawa lepas melihat ekspresi Zidni.


''Lihatlah wajah anda Tuan. Anda seperti orang menahan berak.'' Seloroh Chika.


''Jaga ucapanmu!'' ketusnya.


''Lihatlah Tuan, foto seperti ini. Saya dan sekretaris Frans saling merangkul.'' Chika sengaja menunjukkan foto itu untuk memancing reaksi Zidni.


''I-iya Tuan. Sesekali kita bersantai sejenak.'' Sahut Frans.


''Nona, biar aku yang memfoto anda bersama Tuan. Ini akan menepis kabar bahwa Tuan adalah atasan yang tidak punya hati.'' Celetuk Frans.


''Apa? Memang ada yang bilang begitu?'' sahut Zidni.


''Banyak Tuan. Makanya ayo, kita berpose senyum sebentar saja. Oh ya Kenzie menitip salam untuk anda.'' Kata Chika. Chika lalu memberikan ponselnya pada Frans. Dengan berlatar belakang pemandangan gunung, Zidni dan Chika berpose meskipun Zidni hanya berdiri tanpa ekspresi. Sementara Chika berpose dengan berbagai gaya yang begitu ceria.


''Sekarang kita foto bertiga, sekretaris Frans.'' Kata Chika.


''Ide bagus Nona.'' Kata Frans. Dan mereka bertiga selfie. Zidni tetap pada ekspresi datarnya. Sementara Frans dan Chika sudah senyum sampai tiga jari. Bahkan pose dengan gaya seimut mungkin. Setelah mengalah dengan dua karyawannya itu, Zidni menatap kesal Chika dan Frans secara bergantian.


''Frans, kamu berubah menjijikkan seperti dia. Gaji kalian bulan depan, akan aku potong. Ini sebagai imbalan karena kalian mengajak orang penting seperti diriku foto bersama seperti tadi.'' Kesal Zidni seraya berlalu meninggalkan Frans dan Chika.


''Nona, bagaimana ini?'' bisik Frans.


''Tidak masalah. Yang penting kita sudah berhasil mengerjai Tuan Zidni.'' Seloroh Chika dengan tawanya.


''Aku sendiri belum pernah foto seseru tadi bersama Tuan. Karena Tuan terlalu kaku. Padahal aku juga ingin suasana kerja yang sedikit hangat.''


''Sabar sekretaris Frans. Sebenarnya Tuan Zidni adalah orang yang baik dan hangat. Hanya saja dia masih terkurung dengan luka masa lalunya.'' Ucap Chika tanpa sadar seraya menatap langkah Zidni yang semakin jauh. Yang Chika maksud adalah luka Zidni pada saat bersama amora karena keegoisan Ayanya. Karena sikap angkuh dan dingin Zidni dulu karena masih terbelunggu oleh dendam itu.


''Maksud anda apa Nona? Apa Nona mengenal Tuan sebelumnya?'' Frans begitu terkejut mendengar ucapan Chika.


''Eee tidak. Hanya menebak.'' Ucap Chika buru-buru meralat ucapannya. Ia kemudian berlalu meninggalkan Frans.


Bersambung....