Mr. Arrogant Vs Noisy Girl

Mr. Arrogant Vs Noisy Girl
BAB 81 ANGEL



Selepas berbincang dengan kedua orang tuanya, Chika masuk ke dalam kamarnya. Chiak tersenyum melihat kedua jagonnya sudah terlelap. Tampak Kenzie memelukĀ  sang Ayah yang tertidur dengan punggung yang bersandar pada sandaran ranjang dengan kaki berselonjor. Dengan buku cerita yang maisih ada di pangkuan Zidni. Chika berjalan perlahan mendekat kearah Zidni hendak mengambil buku itu dan menyimpannya namun tiba-tiba tangan Zidni beregerak menahannya. Tentu saja Chika sangat terkejut.


"Mas, kamu bikin kag....."


"Ssssttttt." Sambil menyentuhkan telunjuknya di bibir Chika.


"Pelan-pelan sayang, dia baru saja tidur." Ucap Zidni bisik-bisik.


"Habis, kamu ngagetin." Ucap Chika dengan suara pelan pula.


"Maaf ya, aku iseng menggodamu."


"Menyebalkan," protes Chika dengan bibir mengerucut. Zidni yang gemas lalu mengecup bibi Chika sekilas.


"Masss, mmphhhhh,,," belum apa-apa Zidi menarik Chika kepangkuannya dan mel..umat bibi Chika dengan panas. Suhu tubuh Chika meningkat dan jantungnya berdebar sangat kencang. Membuatnya membalas ciuman panas suaminya. Setelah cukuo lama, mereka saling melepas pagutan untuk mengatur nafas. Ciuman yang panas membuat keduanya kehabisan oksigen.


"Mas, nanti Kenzie terbangun."


"Tidak akan sayang. Kita lanjutkan di bawah saja. Ada kasur lantai juga kan?"


"Memangnya kamu tidak apa-apa, Mas?"


"Tidak apa sayang. Bercinta di hutan pun tidak masalah." Ucapnya.


"Fantasi kamu liar juga."


"Bagaimana kalau kapan-kapan kita mencobanya? Di kolam renang, di atas rooftop atau di kantor sepertinya juga menyenangkan, bagaimana?"


"Iya suka-suka kamu, Mas. Kamu memang gila ya."


"Iya dan kamu yang membuatku gila." Zidni kembali melu..mat bibir Chika. Ia mengiring tubuh Chika kearah dinding. Diangkatnya kedua tangan Chika ke dinding, sejajar kepala Chika. Ciumannya semakin intens. Lidah keduanya pun saling beradu di dalam sanaa. Hanya de..sah dan nafas yang memburu yang terdengar. Chika berusaha menahan de..sahnya karena tentu saja rumahnya tidak sebebas di rumah Zidni yang kedap suara. Mende...sah dan menjerit nikmat sekalipun tidak akan adan yang mendengar. Ciuman Zidni turun kearah leher jenjang Chika. Chika hanya bisa menggigit bibr bawahnya menahan nikmat. Setelah Zidni melepaskan tangan Chika, tangan Zidni mulai menjalar masuk ke daerah bawah bagian belakang milik Chika. Di angkatnya daster Chika keatas, di rem..asnya kedua bongkahan kenyal itu dengan penuh gairah. Di lepassnya pelan-pelan celana segitiga berwarna ungu milik Chika. Kini jemairnya mulai memainkan are sensitif itu.


"Ahhhh... ssshhhh....," de..sah pelan Chika. Zidni yang sudah menggila, melepaskan daster Chika. Kini Chika sudah telanjang tanpa busana.


"Mas, nanti Kenzie kebangun gimana?"


"Tenang sayang, kita mainnya pelan-pelan ya. Aku akan menyalakan musik pelan-pelan supaya tidak ada yang mendengar suara kita." Chika hanya mengangguk menyetujui kesepakatan Zidni. Zidni memilih lagu My Love dari Elvis Presley, sebuah tembang lawas namun justru suasana bercinta mereka semakin panas. Kini keduanya sudah menyatu tanpa balutan busana di kasur lantai. Seakan setiap sentuhan dan jilatan Zidni seirama dengan irama lagu itu. Full album Elvis Presley menemani keduanya menuju titik puncak kenikmatan. Bahkan Chika dibuat lemas karena Zidni berhasil membuatnya mencapa puncak berkali-kali. Ya, Zidni bukanlah suami yang egois. Melihat istrinya puas berkali-kali justru membuat semangat bercinta dan gairahnya naik berkali-kali lipat.



"Bagaimana Ayah, apa ada sawah yang akan di jual?' tanya Zidni di tengah-tengah menikmati sarapan pagi.


"Tadi Ayah mendengar kalau sawahnya Pak Imron mau di jual untuk pengobatan istrinya."


"Lho, istri Pak Imron kenapa Yah?" tanya Chika.


"Yang Ayah dengar terkena gagal ginjal. Setiap minggu harus cuci darah dan biayanya juga tidak sedikit. Tadi Ayah pas jalan-jalan pagi tidak sengaja mendengar orang-orang membicarakan Pak Imron."


"Kasihan sekali, Pak Imron."


"Ya sudah Yah, setelah ini kita kesana. Ada berapa petak yang di jual?" tanya Zidni.


"Ada empat petak dan mau di jual semuanya."


"Setelah itu Pak Imron mau kerja apa lagi, Yah? Sedangkan selama ini kan hidupnya bertani."


"Ayah juga tidak tahu, Nak. Katanya hanya itu tabungan yang tersisa. Mobil pick up nya saja sudah terjual. Kasihan juga Pak Imron. Nasib kuliah Yuda anaknya, juga terpaksa berhenti. Apalagi kuliah kedokteran itu tidak murah."


"Ya sudah Yah, kita kerumahnya sekarang. Sekalian aku akan membantu anaknya untuk mendapatkan beasiswa." Sahut Zidni. Pintu hatinya terketuk untuk membantu.


"Mas, kamu serius?" Chika seolah tidak percaya dengan ucapan suaminya.


"Iya sayang. Masa iya aku bercanda." Zidni menyeka mulutnya dengan tisu, menyudahi sarapan paginya.


"Ya sudah, Ayah dan Mas Zidni kesana saja. Pasti Pak Imron juga sedang mencari pembeli." Ucap Chika.


"Alvin, kamu temani Ayah dan Kakakmu," sahut Ibu.


Seusai sarapan, Zidni, Alvin dan Tuan Arman menuju rumah Pak Imron. Pak Imron terkejut dengan kedatangan Tuan Arman dan Alvin. Di tambah melihat Zidni, seseorang yang belum terdengar di kampung ini.


"Pak Arman, tumben sepagi ini. Silahkan duduk." Pak Imron menyambut ramah Tuan Arman.


"Iya terima kasih. Oh ya perkenalkan sebelumnya, ini menantu saya, namanya Zidni." Ucap Tuan Arman. Zidni mengulurkan tangannya dan disambut hangat oleh Pak Imron.


"Suami baru Mbak Chika ya, Pak?"


"Tidak. Ini memang suami Chika."


"Bukannya suami Mbak Chika....,"


"Tidak, Pak. Saya suami Chika yang dulu. Saya tidak meninggalkan bahkan mencampakkannya seperti apa kata tetangga.Saya punya bisnis di luar negeri yang tidak bisa di tinggal. Di tambah masa pandemi selama tiga tahun tentu sangat menyulitkan saya untuk kembali ke tanah air. Di tambah masalah bisnis karena terdampak pandemi." Jelas Zidni. Sebelum menuju rumah Pak Imron, Alvin menceritakan apa yang di alami Chika selama ini dengan gunjingan dan tatapan sinis para warga. Tentu saja Zidni sangat geram karena wanita yang di cintainya menjaadi bahan pergunjingan.


"Oh jadi begitu ceritanya. Ya, kami semua memang berpikir seperti itu. Hanya kasihan melihat Mbak Chika selama ini bekerja keras sendiri membesarkan anaknya. Maafkan kami Mas Zidni."


"Tidak apa-apa. Istriku memang seperti itu. Dia tidak pernah mau diam apalagi duduk santai. Mmmm kembali ke topik pembicaraan, Pak. Kalau kedatangan saya ingin membeli sawah milik bapak. Saya sudah mendnegar masalah yang Pak Imron alami."


"Sungguh Mas? Karena satu minggu ini sama sekali belum ada yang menawarnya."


"Iya, Pak. Berapa anda menjualnya." Zidni mengeluarkan sebuah cek dan bolpoin.


"Silahkan anda tulis nominalnya. Saya tidak akan menawar." Lanjut Zidni. Pak Imron tentu saja dibuat bingung dengan Zidni karena baru kali ini ada pembeli tanpa menawar.


"Anda tidak usah ragu, Pak. Saya tidak bohong. Saya akan menghubungi sekretaris dan pengacara saya untuk melanjutkan transaksi jual beli. Tapi saya ingin melihat sertifikatnya, boleh?" Lanjut Zidni.


"Iya Mas, tunggu sebentar." Pak Imron masuk ke dalam dan tak lama kemudian memberikan sertifikat sawah pada Zidni. Zidni melihatnya dan ternyata sawahnya memang sangat luas. Sebenarnya sangat disayangkan jika di jual.


"Satu petak saja luasnya segini ya, Pak. Silahkan anda tulis nominalmya, Pak."


"Ba-baiklah, Mas." Pak Imron menuliskan angka yang bagi Zidni terlalu kecil untuk sebuah empat petak sawah.


"Yakin hanya segitu, Pak?"


"Tanah di kampung ini murah nak harganya, beda dengan kota. Karena ini termasuk desa terpencil," bisik Tuan Arman. Zidni mengangguk, mengerti.


"Yakin Pak? Apa itu tidak terlalu murah?" Zidni mengulang ucapannya.


"Iya nak, memang segitu. Harnya segitu saja masih di tawar."


"Baiklah, saya akan menambahnyamenjadi 1,5M. Bagaimana Pak?" ucap Zidni. Pak Imron di buat tidak bisa berkata-kata dengan ucapan Zidni. Tuan Arman dan Alvin juga ikut terkejut sekaligus semakin kagum dengan kebaikan Zidni.


"Mas, serius?" Pak Imron tergagap masih tidak percaya.


"Iya, Pak. Dan saya juga akan membantu putra anda untuk mendapatkan beasiswa kedokteran." Imbuh Zidni. Seketika mata Pak Imron berkaca-kaca.


"Mas Zidni serius?" suara Pak Imron bergetar menahan haru.


"Iya Pak. Nanti sekretaris saya akan datang menemui anda dan mebawa uang cash."


"Ya Allah, Mas Zidni, terima kasih. Terima kasih." Pak Imron sujud syukur dan bulir air matanya mengalir begitu saja.


"Saya panggilkan istri dan anak saya dulu, Mas." Pak Imron bergegass kebelakang, memanggil putranya yang sibuk mencuci baju. Lalu Pak Imron membangunkan istrinya yang sedang istirahat pasca cuci darah. Mereka menangis haru kedatangan Zidni seperti malaikat yang datang memberikan jalan keluar disaat semuanya terasa sempit.


"Terima kasih Mas Zidni. Kami tidak tahu lagi harus bagaimana lagi. Mas baik sekali. Saya hanya bisa mendoakan rezeki Mas Zidni semakin banyak, diberikan kesehatan dan bahagia selalu bersama Mbak Chika," doa tulus dari Bu Tatik istri Pak Imron.


"Pak Zidni, terima kasih sudah mau membantu saya. Saya awaknya sedih tapi saya tidak bisa egois karena Ibu juga membutuhkan banyak biaya untuk berobat." Sambung Hasan, puta Pak Imron.


"Kamu masih sangat muda, sayang jika harus berhenti. Kelak jadilah dokter yang bekerja setulus hati."


"Pasti Pak Zidni. sekali lagi terima kasih."


Dan kebaikan Zidni pun tersebar ke seluruh kampung. Kedua orang tua Chika begitu bangga meliki menantu seperti Zidni. Bukan karena kaya tapi karena jiwa sosialnya. Dan cerita tentang Zidni akhirnya sampai juga di telinga Romi.


Laluuuu apakah yang akan di lakukan Romi??? Besok lagi yaa... Author juga harus kembali ke dunia real life dengan segala hiruk pikuk kenyataan hidup terkadang tak seindah cerita yang aku tulis, hahahahah.... Jangan lupa buat like, komen dan votenya makasih, lope youu all :-)