
WARNING!! 18++
Kini Chika dan timnya sedang berjalan menuju ruang rapat. Chika berpapasan dengan Joan. Mata Joan berbinar melihat sosok wanita dihadapannya itu.
"Chika," Joan berjalan mendekat kearah Chika. Chika melambaikan tangannya pada Joan.
"Hai Jo."
"Chik, kamu kemana saja?"
"Nanti aku cerita. Sebaiknya kita keruang rapat dulu. Pasti Tuan Zidni sudah menunggu di dalam."
"I-iya. Aku senang sekali melihatmu kembali."
Rapat di mulai, membahas semua produk baru yang siap beredar di pasaran, sekaligus produk reborn yang sempat mendapat masukan koreksi rasa dari Chika. Rapat hari itu berlangsung selama tiga jam. Ya, Zidni sengaja melakukan itu supaya saat rapat selesai tepat saat jam makan siang. Karena Zidni tidak akan membiarkan Joan mendekati Chika. Sekalipun Zidni fokus memberikan arahan kedapa para karyawannya, namun ia tetap memperhatikan gelagat Joan yang selalu mencuri pandang pada Chika. Dan hal itu membuat Zidni merasa kesal.
Tiga jam waktu berlalu, rapat selesai. Zidni memberi kode pada istrinya untuk tetap tinggal diruang rapat tersebut. Setelah mereka semua keluar, tinggalah Zidni dan Chika berdua.
"Sedaari tadi ada dua mata yang memperhatikanmu." Kata Zidni dengan nada suara kesal.
"Siapa sayang? Bukannya kamu ya, yang sedari tadi memperhatikan aku?" goda Chika.
"Ada yang lain lagi."
"Siapa sih?" Chika penasaran.
"JOAN! Sepertinya dia menyukaimu." Wajah Zidni berubah masam. Chika berjalan mendekati suaminya yang masih duduk di kursi utama ruang rapat. Ia kemudian dengan manja duduk di pangkuan suaminya sambil mengalungkan kedua tangannya pada leher pria yang begitu ia cintai.
"Kamu cemburu?"
"IYA. Cara dia menatapmu itu berbeda. Memang tidak ada wanita lain apa?" kesalnya dengan bibir yang mengerucut.
"Kalau bibir kamu manyun begini, persis banget sama Kenzie kalau sedang ngambek. Ya sudahlah jangan di pikirkan. Sebaiknya sekarang kita menjemput Kenzie."
"Awas ya kalau kamu dekat-dekat sama Joan."
"Kalaupun dekat hanya sebagai teman. Aku juga sudah cerita pada tim ku kalau suamiku kembali. Pasti mereka juga akan cerita pada Joan."
"Baiklah, aku pegang kata-katamu."
"Sikapmu ini menakutkan sekali."
"Setidaknya kembalikan moodku."
"Bagaimana caranya sayang?"
"Vitamin C lagi." Ucap Zidni. Chika tersenyum lalu mengecup bibir suaminya.
"Yang lama sayang, seperti tadi."
"Sayang, Kenzie menunggu kita. Kita lanjutkan dirumah saja ya."
lima menit ciuman tidak akan membuat mereka terlambat menjemput Kenzie.
"Baiklah," Chika pun pasrah. Kali ini Chika yang mulai melu..mat bibir suaminya. Setelah itu Zidni membalas ciuman istrinya. Gairahnya bangkit. Chika merasakan ada sesuatu yang mengeras menusuk pantatnya. Tangan Zidni perlahan turun menuju kedua bukit kenyal. Ia mengusapnya dengan lembut benda kenyal itu dari luar. Sentuhan itu membuat tubuh Chika menegang dan mulai terangsang. Ciuman semakin panas dan tak terkendali. Keduanya benar-benar di mabuk cinta, cinta yang bercampur dengan naf..su dan gairah yang membara. Tubuh Chika menggeliat saat tangan Zidni sudah masuk kedalam balik bra. Di rem..asnya lembut benda kenyal itu. Di pilin lembut puncak bukit kembar itu sampai terdengar de..sahan dari bibir Chika. Zidni yang sudah terbawa oleh naf..su melepaskan pagutannya dan beralih menyesap bukit kembar secara bergantian. Chika mendongak merasa nikmat
tak terkira.
"Sayang, ahhh, mmphhh," de..sah lembut Chika sambil menjabak rambut suaminya. Menekan kepala suaminya supaya lebih memperdalam hisapan dan rema..sannya. Chika semakin merasakan ketegangan dibawah sana.
Bagian bawahnya seperti telah basah. Ia juga merasakan batang junior Zidni semakin tegang.
"Sayang, sudahan ya. Ini sudah lima menit." Ucap Chika sambil menggeliat. Sementara Zidni masih sibuk bermain dengan bukit kenyalnya.
"Sayang, aku sudah tegang. Kamu bisa menuntaskannya." Pinta Zidni dengan nafas yang memburu.
"Tapi Kenzie? Kita harus menjemputnya."
"Sayang, aku benar-benar merasa haus. Tolong lepaskan dahagaku. Kepalaku terasa pusing kalau belum di keluarkan. Tubuhku bereaksi otomatis sejak bersama kamu." Rayu Zidni dengan tatapan memelas menahan gairahnya.
"Tapi...."
"Masih ada waktu lima menit lagi." Bujuk Zidni. Akhirnya Chika menuruti kemauan suaminya. Chika segera turun dari pangkuan suaminya. Zidni membuka ikat pinggang lalu melorot celana dan boxernya. Dan benar si junior berdiri tegak menantang tepat dihadapan wajah Chika yang sudah berlutut. Tangan Chika mengocok si junior dengan begitu lincahnya. Membuat Zidni menahan de..sah kenikmatan dengan berpegangan pada lengan kursi. Setelah puas mempermainkan si junior dengan tangannya, Chika menciumi perlahan kepala junior sampai akhirnya junior tenggelam dalam rongga mulutnya. Seperti biasa ******* hebat Chika selalu berhasil membuat Zidni meloloskan de..sahannya.
"Aahhh.... oughhh.... Lebih cepat sayang." Pinta Zidni sambil menekan kepala Chika. Dua gundukan di bawah juniro pun tak luput dari permainan lidah dan hisapan Chika. Baru juga jatuh cinta, Zidni sudah merasakan pelayanan plu-plus yang luar biasa. Dan sungguh, Chika membuatnya ketagihan.
"Sayang, di kulum seperti ini nikmat sekali. Bagaimana kalau dia masuk ke dalam sarangnya." Ucap Zidni yang seolah-olah belum pernah merasakan yang namanya bercinta. Padahal ia sendiri sudah pernah bercinta dan mengasilkan seorang anak yaitu Kenzie. Lewat lima menit, Zidni masih menikmati permainan. Chuka mengeluarkan junior dari mulutnya.
"Sayang, sudah lewat lima menit." Kata Chika.
"Sebentar lagi sayang. Kalau tidak dituntaskan, aku bisa stress." Bujuk Zidni sambil mengarahkan juniornya ke mulut Chika. Chika menurut dan menenggelamkan lagi si junior ke dalam mulutnya.
"Huhhh.... aahhh.... oughhh. Ak.. aku... keluar sayang." Zidni menahan kepala Chika untuk tetap membiarkan si junior di dalam mulut Chika. Chika merasakan cairan putih kental menyembur dengan hebatnya dan terasa hangat. Kedutan si junior pun terasa sangat keras. Keringat nikmat membasahi wajah keduanya. Setelah saling memuaskan, Chika terlebih dahulu menuju toilet. Untuk saja di ujung ruangan meeting itu ada toilet yang hanya diguakan saat urgent saja. Chika mengancingkan kembali bra dan kemejanya. Tak lupa rambutnya yang berantakan ia rapikan kembali dan berkumur itu harus. Setelah semuanya tampak rapi, Zidni yang bergantian mencuci si junior dan merapikan kembali pakaiannya. Tidak ada yang berani masuk keruangan itu tanpa ijin dari Zidni. Karena itu ruang rapat yang lebih privat dari biasanya. Dan hanya orang tertentu saja yang bisa masuk dengan ijin Zidni. Untuk itu sekalipun bercinta di dalam ruangan itu, tidak akan ada yang pernah berani menganggu.
Baru juga hendak keluar dari ruangan itu, ponsel Chika berdering. Sebauh panggilan dari wali murid Kenzie.
"Halo Bu, iya saya sedang perjalanan. Maaf ya, Bu. Karena di kantor sedang ada meeting." Begitulah jawaban Chika yang terdengar oleh Zidni yang berdiri di belakangnnya.
"Siapa sayang?"
"Wali kelasnya Kenzie. Kamu sih, tidak sabaran." Chika menjadi kesal. Gara-gara menuruti suaminya, mereka sampai terlambat menjemput Kenzie.
"Maaf sayang. Seharusnya kamu mengerti tentang dahaga yang aku rasakan." Zidni mengiba.
Chika menghela. "Ya sudah, sekarang kita berangkat. Sama-sama nikmat juga." Chika keluar terlebih dahulu ke ruangan itu. Tidak sampai lima menit, Zidni menyusul Chika dari belakang. Namun momen itu tertangkap oleh sepasang mata milik Joan.
"Chika dan Tuan Zidni baru keluar dari ruangan itu? Apa terjadi sesuatu? Apa Chika dimarahi karena ijin terlalu lama?" gumam Joan tanpa meikirkan kearah mesum. Apalagi Chika tampak jalan terburu.
Hai-hai di bab sebelumnya sepertinya memang ada kesalahan paragfar tapi tenang saja, sudah aku revisi ya. Semoga tidak seperti itu lagi. Oh ya untuk next bab, sepertinya akan lebih hot lagi ya jadi harap bijak saat membaca, hehehehe.... Dan jangan lupa dukungannya untuk like, komen dan vote sebanyak-banyaknya, terima kasih