
''Kenapa Mas, kusut amat?'' tanya Frans begitu masuk ke ruangan Alvin.
''Ah, tidak apa-apa sekretaris Frans. Lelah saja.'' Jawab Alvin dengan memaksa senyumnya.
''Oh ya Mas, ini berkasnya sudah saya siapkan.''
''Mmm sepertinya kita harus memberi tahu Kak Zidni. Aku merasa tidak enak dan tidak tenang seperti ini.''
''Sejujurnya saya juga sama tapi khawatir menganggu Tuan dan Nyonya.''
''Biar aku saja yang menghubunginya nanti. Daripada saat kembali Kak Zidni marah karena tidak memberitahunya.''
''Kalau begitu saya akan menyeledikinya lagi, Mas. Supaya saat Tuan kembali, kita sudah memiliki bukti yang akurat.''
''Iya sekretaris Frans, terima kasih.''
##MALDIVES...
''Morning sayang,'' sapa Zidni sambil mengecup kening istrinya. Chika pun terbangun merasakan kecupan dan belaian lembut suaminya.
''Morning juga sayang. Kenzie mana Mas? Semalam boboknya di tengah-tengah kita.''
''Itu disana.'' Ucap Zidni sambil menunjuk kearah sofa besar. Plak! Chika memukul lengan Zidni.
''Kok di pukul?'' protes manja Zidni.
''Sayang, kamu kok pindahin Kenzie disana sih. Ihh... keterlaluan kamu.''
''Habis dia ditengah, aku kesulitan meluk kamu sayang.'' Kata Zidni dengan manja sambil menciumi leher istrinya dengan gemas.
''Mas, dia anak kamu lho. Kamu ini bisa-bisanya. Nanti kalau dia jatuh, dia nangis, dia mmmmphhhh.....,'' Zidni langsung melu..mat bibir Chika. Membuat Chika terkejut, kesal namun tidak bisa menolak. Ditambah tangan Zidni sudah mere...mas dua bukit kenyal milik Chika. Beberapa detik kemudian, Zidni melepaskan luma...tannya sampai membuat bibir Chika langsung memerah karena Zidni menghisapnya dengan sangat kuat.
''Sayang, kamu tahu, aku tidak tahan lagi. Aku ingin kamu. Semalam kamu sudah tidur dan Kenzie berada ditengah-tengah kita.'' Ucap Zidni dengan nafas memburu terhasut gairah.
''Namanya juga ngantuk sayang,'' lirih Chika.
''Sayang, satu ronde saja, please. Juniorku sudah mengeras dan ingin masuk ke dalamnya.''
''Nanti Kenzie terbangun bagaimana?''
''Tidak akan. Ayolah sayang.''
''Iya-iya.'' Zidni kembali melu...mat bibir Chika. Tangannya kembali meremas bukit kenyal milik Chika. Baju tidur tipis milik Chika, membuat tangan Zidni dengan mudah meraup serta menghisap pucuk bukit kenyal itu seraya bergantian.
''Akhhh...,'' desah kecil lolos di bibir Chika. Chika mencoba menahannya supaya tidak membangunkan Kenzie. Karena gairah Zidni tidak terbendung lagi. Dari balik selimut tebal, Zidni melepas boxernya dan menanggalkan kaos singletnya. Zidni kemudian masuk lagi ke dalam selimut untuk melepas celana segitiga milik Chika. Keduanya memilih aman, bermain dibalik selimut. Chika mengigit bibir bawahnya, menahan desa...hannya saat lidah Zidni sudah sampai di area bawahnya. Zidni menghisapnya dan menjilatnya seperti orang kehausan.
''Massss.... uhhhh.'' Tangan Zidni tidak tinggal diam. Sembari menjilat dan menghisap di bawah, kedua tangannya memainkan bukit kenyal itu sambil sesekali memilin pucuknya. Membuat Chika menggeliat nikmat dibalik selimut tebal dengan tubuh telanjangnya. Zidni yang sudah tidak tahan, langsung memasukkan juniornya ke dalam liang kenikmatan milik Chika. BLES!
''Oughhhhhh....'' Erangan Zidni lolos namun masih bisa tertahan. Zidni mulai memompanya dengan pelan. Memulai pergerakan maju mundur.
''Sayang.... Oughhhh. Kamu nikmat.''
''Ssttt pelan-pelan sayang,nanti Kenzie bangun.'' Ucap Chika disela-sela desa...hannya.
''Heeh..,'' Zidni lalu melu..mat kembali bibir Chika dengan brutalnya. Sampai membuat keduanya kekurangan oksigen.
''Ayo Mas, keluarkan! Keburu Kenzie bangun. Aku sudah mau sampai.'' Ucap Chika.
''Iya sayang.'' Zidni mempercepat gerakannya. Sampai bunyi decapan itu tidak bisa di bendung. Chika meraih tubuh Zidni, memeluk erat punggung pria itu saat ia mencapai pelepasannya. Sementara Zidni menghentak dan menghujam lebih dalam saat juniornya menyemburkan lava putihnya ke dalam rahim Chika. Zidni bisa merasakan otot-otot rahim Chika memijat juniornya di dalam sana. Rasanya nikmat sekali. Zidni ambruk diatas tubuh Chika dengan junior yang masih menancap. Membuat kepala Zidni masuk ke ceruk leher Chika.
''Sayang, aku mau lagi.'' Bisiknya pelan.
''Mas, kamu janjinya satu kali. Ini juga jangan sampai Kenzie bangun. Nanti malam lagi ya.'' Bujuk Chika. Soal urusan ranjang, Zidni tidak mau bernegosiasi tapi kali ini ia harus menurut daripada membuat Kenzie terbangun.
''Cabut Mas,'' pinta Chika.
''Sebentar sayang. Biar nancap dulu. Kamu tahu kan sejak tiba disini, kita belum bercinta sama sekali. Jadi biar nancep sampai Kenzie bangun. Kalau Kenzie kebangun, aku baru lepas.''
Chika menghela. ''Ihhh kamu ini ya benar-benar.''
''Kalau kamu banyak bicara, aku akan menciumu lagi.'' Ancam Zidni. Seketika Chika melipat bibirnya membiarkan suaminya masih berada diatas tubuhnya.
''Baru nyadar ya?'' gurau Chika.
''Sudah lama sih. Tapi sekarang makin cantik.''
Tiba-tiba Kenzie mengulat. Melihat pergerakan Kenzie, Zidni langsung mencabut miliknya dan berlalu menuju kamar mandi. Sementara Chika dengan buru-buru memakai dasternya.
''Mama,'' panggil Kenzie sambil menangis. Chika segera turun dari tempat tidur lalu memeluk Kenzie.
''Sayang, kamu kenapa?''
''Mama, kenapa aku tidur disini?'' tangisnya sesunggukan.
''Oh tadi Papa memindahkan kamu sebentar sayang. Soalnya di kasur ada semut.''
''Aku mimpi buruk, Mah.''
''Mimpi buruk apa? Kamu biasanya tidur sendiri tidak apa-apa.''
''Aku mimpi ada makhluk aneh. Wujudnya seperti manusia tapi dia punya taring dan matanya memerah. Dia mendekati aku dan membawaku pergi, ingin menjauhkan Mama dari aku.''
''Sssttttt tenang ya sayang. Namanya juga mimpi. Sudah ya tenang. Kan sudah ada Mama.'' Chika menyeka air mata Kenzie.
''Papa mana Mah?'' tanya Kenzie masih sambil sesenggukan.
''Mandi sayang.''
Lima menit kemudian, Zidni keluar dari kamar mandi. Ia mendapati wajah Kenzie murung dalam dekapan Chika.
''Lho anak Papa kenapa?'' Zidni mendekat kearah sofa.
''Mimpi buruk, Pah. Dia di gendong makhluk bertaring, bermata merah.'' Chika mempertegas kalimatnya sambil menatap kesal Zidni.
''Lho kok taring dan mata merahnya lihat Papa sih, Mah?'' protes Zidni.
''Makhluk itu mau menjauhkan ku dari Mama, Pah. Makanya aku nangis pas bangun tidur.'' Sahut Kenzie.
''Oh, kasihan anak Papa.'' Zidni langsung memeluk putranya.
''Mah, sebaiknya kamu mandi. Biar aku jaga Kenzie.'' Kata Zidni pada Chika.
''Iya Mas.''
''Sama Papa dulu ya sayang. Mama mau mandi.''
''Iya Mah.''
Selesai Chika mandi, giliran Zidni yang memandikan Kenzie. Setelah mereka selesai mandi, bersih dan wangi, mereka bertiga menuju restoran untuk sarapan yang sudah di sediakan oleh chef handal.
''Tumben Mas, menunya nggak aneh-aneh seperti kesukaan kamu.'' Sindir Chika.
''Kamu sedang hamil sayang. Jadi makanannya harus benar-benar sehat. Katanya hamil tidak boleh makan makanan yang mentah. Jadi aku dan Kenzie menyesuaikan dengan menu makanan kamu.''
''Terima kasih suamiku. Kamu pengertian sekali.''
''Tentu saja sayang. Aku akan suami paling pengertian, terbaik dan tertampan sejagat raya ini.''
''Hmmmm narsis. Kumat.'' Chika menggeleng heran.
''Kan Papa memang tampan, Mah. Aku saja sangat tampan seperti Papa,'' sahut Kenzie dengan gemasnya.
''Iya tentu saja. Kalau anak Mama ini sangat tampan dan hebat juga. Mama deh yang cantik sendiri.'' Ucap Chika sambil mengelus kepala Kenzie.
''Mama memang paling cantik dan terbaik juga terhot. Iya kan Ken?'' Zidni menimpali dengan memberikan kedipan mata genitnya pada Chika.
''Iya Papa.'' Jawab Kenzie dengan senyum lebarnya. Tingkah kedua pria kesayangannya itu hanya bisa membuat Chika terkekeh.
Bersambung....