
Seharian ini Zidni hanya melamun saja, ia bahkan melewatkan makan siangnya. Rasanya ia enggan pergi ke Jepang dan ada hal yang mengganggunya jika ia pergi kesana. Biasanya ia begitu semangat untuk urusan pekerjaan namun kali ini ia merasa ada sesuatu yang tidak bisa ia tinggalkan. Kali ini hatinya sedang memikirkan satu nama yaitu CHIKA. Dan tiba-tiba suara OB mengejutkannya, membuyarkan lamunannya.
''Permisi Tuan!"
''Kenapa tidak mengetuk pintu?'' ketus Zidni.
''Maaf Tuan tapi saya sudah mengetuk pintu berkali-kali.'' Kata OB tergagap.
Zidni mendengus kesal. ''Apa yang kamu bawa?''
''Mmmm ini makan siang untuk Tuan dan ini jus alpukat untuk Tuan juga.''
''Makan siang dan jus? Aku tidak memintanya.''
''Saya hanya mengantar Tuan. Katanya Tuan memesan makanan ini dan saya hanya di suruh mengantar.''
''Apa yang menyuruhmu adalah orang yang membuat mocacino waktu itu?''
''Iya Tuan.''
''Baiklah, silahkan pergi.''
''Permisi Tuan.''
''Chika? Apa maksudnya?'' gumamnya. Zidni melihat nampan berisi udang asam manis, tumis pakcoy dan dadar jagung. Zidni kemudian menyambungkan telepon ke ruangan Chika.
''Pak Haris, suruh Chika ke ruanganku.'' Ucap Zidni tanpa menunggu jawaban dari Pak Haris.
''Chika, Tuan Zidni memanggilmu.'' Kata Pak Haris dengan suara pelan.
''Baik Pak.'' Chika pun bergegas ke ruangan Zidni. Sementara mereka bertiga saling melempar pandangan. Tidak tahu ada masalah apalagi antara Chika dan Tuan Zidni.
''Permisi Tuan.''
''Masuk!" sahut Zidni. Chika melihat wajah Zidni yang sudah tampak menahan marah.
''Chika, apa maksudmu mengirimkan makan siang untuk ku?''
''Tidak ada maksud apa-apa Tuan. Saya hanya ingin berdamai dengan anda. Karena saya sudah membuat kesalahan dan membuat anda marah. Hanya itu saja.''
''Baru kali ini ada karyawan seperti dirimu. Memarahi atasan sesuka hati dan dengan mudahnya menyogok memberikan makanan. Jangan-jangan di makanan ini sudah kamu taruh racun atau sesuatu ya?''
''Astaga Tuan, tidak mungkin saya seperti itu.'' Ucap Chika.
''Permisi Tuan.'' Suara Frans masuk ke ruangan Zidni.
''Ada apa Frans?''
''Ini berkas yang anda minta Tuan.'' Ucap Frans seraya memberikan berkas yang ia bawa pada Zidni.
''Sekretaris Frans sudah makan siang?''
''Kebetulan belum karena aku sedang banyak pekerjaan. Ada apa Nona Chika?''
Chika lalu mengambil nampan di meja Zidni lalu memberikannya pada Frans.
''Ini makan siang untuk anda skretaris Frans. Ini masakan ku sendiri jadi di jamin aman.''
''Nona serius?''
''Iya. Tadinya saya mau menitipkannya pada Tuan Zidni tapi sekarang anda disini jadi saya berikan saja pada anda.''
''Dalam rangka apa Nona?''
''Dalam rangka perdamaian dunia sekretaris Frans.''
''Wah, kalau begitu aku terima ya. Terima kasih sekali.''
Zidni merasa kesal. Ia mengeratkan rahangnya melihat Frans membawa makanan itu.
''Saya permisi Tuan.'' Ucap Frans seraya berlalu.
''Hei tidak bisa! Kamu bilang itu makanan untukku kenapa kamu berikan pada Frans?''
''Daripada Tuan berprasangka buruk pada saya dan tidak menghargai niat baik saya, lebih baik saya berikan pada sekretaris Frans. Beberapa waktu lalu juga sekretaris Frans kan yang makan makananku. Saya permisi Tuan.''
''Kamu bilang itu sebagai permintaan maaf tapi kamu malah memberikannya pada yang lain. Jadi kamu harus ganti permintaan maafmu padaku.''
''Harus begitu Tuan?''
''Haruslah! Kalau tidak hukuman pada timmu akan aku tambah.'' Ancam Zidni. Bagi Chika tidak masalah jika ia di hukum tapi bagaimana dengan teman-teman satu timnya? Tidak mungkin hanya karena kesalahannya, ia harus mengorbankan teman-temannya.
''Apa yang harus saya lakukan Tuan?''
''Ikut aku ke Jepang.''
''Apa? Ke Jepang?'' Chika benar-benar terkejut mendengar ucapan Zidni. Ia tidak percaya bahwa Zidni akan mengajaknya ke Jepang.
''Iya ke Jepang. Aku akan sibuk disana bersama Frans, jadi aku membutuhkanmu sebagai asisten untuk mengurus semua kegiatan kami selama disana. Tadinya aku akan pergi selama 3 hari namun kini harus menjadi lima hari.''
''Tapi mana bisa saya menyiapkan semuanya dalam waktu sesingkat itu Tuan?''
''Siapkan saja semua pakaianmu. Aku akan menunggumu jam 9 di kantor. Jadi sebaiknya kamu sekarang pulang dan bersiaplah.''
''Tapi Tuan, saya tidak punya paspor.''
''Itu bira Frans yang mengurusnya. Tidak butuh waktu lama untuk mengurus semua itu. Aku akan menelepon Frans dan kamu bisa ikut dengannya.'' Kata Zidni. Zidni kemudian menelepon Frans.
''Frans, ke ruanganku dan hentikan makanmu!" ketus Zidni. Seketika Frans tersedak mendengar panggilan dari bosnya apalagi mulut Frans masih penuh dengan makanan. Frans buru-buru minum dan segera berlari menuju ruangan Zidni.
''Permisi Tuan!" ucap Frans seraya membuka pintu.
''Frans, buatkan paspor untuk Chika.''
''Paspor? Untuk apa Tuan?''
''Dia akan ikut bersama kita ke Jepang. Dia akan meringankan pekerjaanmu juga. Apalagi kita akan lima hari disana. Jangan banyak tanya dan kerjakan saja.'' Kata Zidni dengan nada bicara meninggi, membuat Frans tidak bisa berkutik.
''Baik Tuan. Nona Chika, mari ikut denganku.''
''Iya sekretaris Frans.'' Ucap Chika seraya mengekor di belakang Frans. Zidni menarik sudut bibirnya tanda tersenyum tipis.
''Tuan ini aneh, kenapa mengajak Nona Chika? Dan kenapa juga bilang lima hari? Padahal kita kan hanya pergi tiga hari saja,'' gumam Frans dalam hati penuh rasa heran.
''Aku senang bisa menemani Zidni ke Jepang, meskipun sebagai asisten ataupun pesuruh. Tapi bagaimana dengan Kenzie? Aku tidak mungkin meninggalkannya. Sedangkan aku lima hari disana. Disisi lain aku harus memperjuangkan suamiku kembali.'' Gumam Chika dalam hati. Setelah mengurus paspor, Chika kembali ke kantor dan berpamitan pada timnya.
''Apa? Ke Jepang?'' Juno, Mita dan Pak Haris terbelalak kaget.
''Iya. Barusan Tuan Zidni memintaku untuk menjadi asistennya selama di Jepang bersama Sekretaris Frans.'' Jelas Chika.
''Chika, kenapa feelingku tidak enak ya? Aku khawatir Tuan Zidni sengaja mengerjaimu.'' Kata Juno.
''Aku juga sama. Aku merasa aneh, Chika. Kamu karyawan baru dengan mudahnya di ajak perjalanan dinas ke Jepang. Bagaimana kalau kamu di jual disana Chika? Terus kamu di telantarkan disana.'' Imbuh Mita.
''Kalian ini menakut-nakuti Chika saja. Walaupun sebenarnya aku juga khawatir, Chik.'' Sahut Pak Haris.
''Apalagi sejak awal kamu masuk, kamu yang paling berani melawan Tuan Zidni. Huft, semoga kamu baik-baik saja Chika. Aku khawatir sekali dia menyiksamu dan memerintahku seenak jidatnya.'' Imbuh Juno.
''Kalian tenang saja. Aku kan jago bela diri. Kalau memang terjadi sesuatu denganku, aku akan segera mengirim sinyal SOS pada kalian. Jadi kalian bisa mengirimkan bantuan. Aku sebenarnya merasa beruntung bisa ikut perjalanan ke Jepang tapi aku juga takut. Takut dengan segala macam pemikiran kalian tadi. Apalagi anakku masih kecil.''
''Tenang Chika, aku yakin Tuan Zidni tidak akan macam-macam apalagi sampai menelantarkanmu disana. Tuan Zidni memang angkuh dan sangat kejam tapi dia tidak mungkin lah berbuat sejauh itu.'' Kata Pak Haris yang mencoba meredam kekhawatirannya.
''Kalian doakan aku saja, supaya semuanya baik-baik saja. Apalagi aku disana selama lima hari.''
''Semoga kamu bisa melewati lima harimu dengan canda tawa ya Chika.'' Kata Mita sambil mengusap lengan Chika.
''Pasti Mita. Aku bisa mengatasi Tuan Zidni. Aku tonjok saja kalau dia macam-macam,'' ucap Chika terkekeh.
''Kalian tidak usah khawatir karena aku sedang pergi dengan suamiku. Aku justru senang bisa menemaninya bekerja seperti ini.'' Gumam Chika dalam hati.