
''Kenapa hari ini Papa yang menjemput ku? Kenapa tidak Pak Ali?'' tanya Kenzie.
''Karena Papa merindukanmu dan ingin bersamamu. Oh ya Papa dan Mama ada kejutan untuk kamu.''
''Kejutan apa Pah?''
''Nanti dong dirumah. Kalau disini namanya bukan kejutan.''
''Aku jadi tidak sabar sampai rumah, Pah.'' Ucap Kenzie dengan senyum lebarnya. Sesampainya di rumah, Kenzie berlari kecil menuju kamar sang Ibu.
''Mama!" seru Kenzie begitu sampai di kamar Mamanya. Tampak Chika sedang menonton televisi di atas tempat tidur.
''Hei sayang, kemarilah.'' Ucap Chika. Kenzie lalu naik ke atas tempat tidur, di susul Zidni kemudian.
''Mah, Papa bilang kalau Papa dan Mama punya kejutan untukku. Kejutan apa Mah?''
''Mmmm hadiahnya Papa simpan dimana ya?'' tanya Chika pada Zidni.
''Sebentar ya, Papa ambilkan.'' Kata Zidni seraya membuka laci nakas disamping tempat tidurnya.
''Nah, ini kejutannya. Kamu buka saja.'' Kata Zidni.
''Kok kecil Pah kotaknya. Aku pikir kejutan itu besar.''
''Ini kejutan besar Ken tapi tempatnya memang kecil.'' Kata Zidni.
''Baiklah, aku buka ya Pah-Mah.''
''Iya sayang.'' Jawab Chika sembari mengelus kepala putranya. Kenzie tampak bingung memandangi sebuah foto kecil di tangannya.
''Pah-Mah, ini apa sih? Seperti foto tapi kenapa hitam begini? Dan ada seperti garis warna putih kecil di tengah ini apa? Aku tidak mengerti.'' Ucap Kenzie dengan begitu menggemaskan. Chika dan Zidni kompak terkekeh mendengar ocehan Kenzie yang begitu menggemaskan.
''Jadi ini adalah gambar adiknya Kenzie.'' Jawab Zidni.
''Adik Kenzie? Tapi ini tidak ada wajah bayinya, Pah. Ini cuma garis.'' Lagi-lagi Chika dan Zidni dibuat tertawa oleh ucapan Kenzie.
''Begini sayang, ini adalah calon adiknya Kenzie. Dia masih sangat kecil dan sekarang ada di perut Mama. Nanti dia bisa tumbuh besar sama seperti kamu. Kamu dulu juga seperti ini. Ibarat tanaman, ini baru tumbuh akarnya. Nanti akar tumbuh dia akan menjadi pohon, lalu berbuah dan siap di panen.''
''Oh begitu jadi Kenzie akan punya adik?''
''Iya Ken. Kamu akan menjadi Kakak.'' Timpal Zidni.
''Yeay! Aku akan menjadi Kakak.'' Kenzie langsung berdiri dan melompat-lompat di atas kasur.
''Terima kasih ya Pah-Mah, sudah memberikan Kenzie adik. Aku jadi punya teman deh.'' Kenzie lalu merangkul kedua orang tuanya dengan tangan mungilnya itu. Zidni dan Chika pun langsung memberi pelukan untuk putranya.
''Terima kasih Tuhan telah mengembalikan Papa untukku dan Mama. Dan terima kasih juga telah memberiku adik. Aku pasti akan menjaganya.'' Ucapan Kenzie membuat Chika dan Zidni terharu. Mereka berdua lalu kompak memberikan hujan ciuman di wajah yang menggemaskan itu sampai membuat Kenzie tertawa geli.
''Baiklah, sekarang kita packing.'' Ucap Zidni.
''Kita mau kemana Pah?'' tanya Kenzie.
''Liburan ke Shanghai.''
''Mmmm Mas, aku tidak mau ke Shanghai.'' Ucapan Chika membuat Zidni menautkan kedua alisnya.
''Kenapa sayang? Frans sudah mengurus tiket keberangkatan kita.''
''Bisa di rubah nggak Mas? Aku tidak mau ke Shanghai.''
Zidni menghela. ''Terus kamu maunya liburan kemana?''
''Aku mau ke Maldives, Mas. Sepertinya seru liburan di dekat lautan dan pantai. Aku belum pernah kesana, Mas.''
''Serius mau kesana? Nanti tiba-tiba pindah dan maunya ke Paris lagi.''
''Tidak Mas. Kali ini aku mau jadi anak pantai.''
''Oke baiklah, aku akan menelepon Frans.''
''Jadi kita liburan kemana Pah-Mah?'' tanya Kenzie yang masih tampak bingung.
''Ke Maldives sayang. Disana indah sekali pemandangannya. Sekarang ayo ke kamarmu, Mama bantu berkemas.''
''Yeay asyik! Kita mau liburan.'' Seru Kenzie dengan begitu semangat.
''Ya sudah sayang, kamu bantu Kenzie, biar aku telepon Frans.''
''Iya Mas.'' Chika dan Kenzie kemudian berlalu. Sedangkan Zidni segera menelpon Frans. Baru juga ingin menelepon Frans, Frans terlebih dahulu menelepon Zidni.
''Halo Frans, ada apa?''
''Batalkan Frans. Kami tidak jadi ke Shanghai.'' Zidni memotong ucapan Frans.
''Lho kenapa Tuan? Apa terjadi sesuatu?''
''Ya terjadi sesuatu. Istriku hamil dan ngidamnya sungguh membuatku pusing.''
''Apa? Nyonya Chika hamil? Selamat ya Tuan. Saya senang sekali mendengarnya. Namanya juga hamil Tuan, suasana hati Nyonya pasti berubah-ubah.''
''Ya, kamu bayangkan saja Frans. Pagi-pagi minta nasi pecel, aku belikan eh dia malah makan nasi goreng. Dan ini tiba-tiba minta liburan ke Shanghai dan sekarang berubah lagi minta liburan ke Maldives.''
Frans terkekeh mendengar curhatan bosnya. ''Nikmati saja Tuan, Nyonya dulu melewati masa kehamilannya seorang diri. Jangan banyak mengeluh tapi perbanyak bersyukur.''
''Seperti ustadz saja menceramahiku. Tanpa kamu bilang aku juga tahu. Ya sudah pesankan tiket ke Maldives untuk tiga orang ya karena aku akan mengajak Kenzis juga. Dan pastikan tempat penginapannya kelas terbaik. Karena istriku sedang hamil jadi dia harus nyaman.''
''Iya Tuan, siap laksanakan.''
''Oh ya aku ingin chef terbaik juga disana ya. Memastikan kalau istriku ngidam dan menginginkan makanan aneh-aneh. Aku ingin chef dari Indonesia saja.''
''Siap laksanakan Tuan.'' Jawab Frans. Zidni lalu mengakhiri panggilannya. Zidni kemudian menyusul ke kamar Kenzie. Melihat wajah ceria Kenzie dan Chika membuat hati Zidni terasa sangat tenang.
Dan akhirnya mereka bertiga terbang ke pulau Maladewa untuk liburan. Decak kagum Chika begitu sampai disana. Sebuah pulau yang terdiri dari pulau-pulau koral yang mengelilingi laguna, pasir putih yang menghampar, dan jernihnya air laut menggoda untuk bermain-main di pantainya. Tak ayal Pulau Maladewa pun terkenal dengan lanskap indah yang dapat menjadi pemikat bagi siapa pun untuk mengunjunginya.
''Mas, ini indah sekali.''
''Kamu suka sayang?''
''Amat sangat suka, Mas. Terima kasih ya, Mas. Aku biasanya hanya melihatnya lewat browsing saja tapi sekarang aku menginjakkan kaki disini.''
''Sama-sama sayang. Tapi ingat ya kandungan kamu ya.''
''Iya Mas, aku pasti akan menjaganya.''
''Papa, kita main bola yuk!" ajak Kenzie.
''Oke baiklah. Tapi kita istirahat sepuluh menit dulu ya. Kita kan baru sampai.''
''Oke Pah.'' Setelah istirhat selama sepuluh menit, Kenzie menagih janji untuk bermain bola.
''Ayo Pah!"
''Iya Ken. Mah, nanti nyusul ya.''
''Iya Papa Zidni.'' Jawab Chika dengan senyum lebarnya. Setelah Kenzie dan Zidni menuju pantai, Chika segera mengganti pakaiannya. Sebuah crop tank top warna cream membalut bagian atas tubuh Chika. Dengan paduan hotpants jeans yang ia selimuti dengan sarung pantai, membuat Chika tampak seksi sama seperti saat masih gadis. Tidak lupa topi khas pantai sudah tersemat diatas kepalanya. Chika kemudian menyusul Zidni dan Kenzie yang asyik bermain. Mata Zidni terpana melihat betapa cantiknya wanita yang baru saja datang itu.
''Sayang, you are so sexy." Puji Zidni.
''Gombal.''
''Mama, you are so sexy.'' Sahut Kenzie.
''Terima kasih sayang. Memang kamu tahu sexy itu apa?''
''Mungkin ungkapan cantik yang luar biasa karena Papa terpesona melihat Mama.''
''Ihhh kamu pinter banget.'' Chika mencubit gemas pipi Kenzie.
''Giliran Kenzie yang memuji kamu bilang makasih, giliran suami di katain gombal,'' protes Zidni.
Chika terkekeh. ''Terima kasih suamiku. Masa iya cemburu sama anak.''
''Iya dong. Aku merasa di perlakukan tidak adil.''
''Kamu ini ngalahin Kenzie ngambeknya. Oh ya Mas, aku lagi pingin kelapa muda nih.''
''Ya sudah, kamu tunggu disini bersama Kenzie ya.''
''Iya Mas.''
''Pah, aku juga mau.'' Sahut Kenzie.
''Oke siap, Tuan muda Kenzie.''
''Thank you Papa.''
''You are welcome. Jaga Mama sebentar ya.''
''Siap Pah.''