
Tuan Rodrigo dan Tuan Edward yang mendapat kabar dari Bella pun bergegas menuju rumah sakit.
Bella dengan cemas menunggu Austin yang masih belum sadarkan diri.
"Austin, kenapa kamu bodoh sekali melakukan ini?" gumam Bella dalam hati.
"Austin!" Seru Tuan Rodrigo saat melihat putra semata wayangnya lemah tak berdaya. Bella lantas berdiri begitu Tuan Rodrigo datang. Tuan Rodrigo membelai wajah putranya. Melihat pelipis yang di perban serta kaki yang gips, membuat Tuan Rodrigo merasa sedih.
"Bella, apa yang terjadi?" tanya Tuan Edward dengan tatapan memojokkan.
"Austin jadi korban tabrak lari pengendara motor, Pah." Ungkap Bella.
"Bagaimana bisa, Bella? Bukankah kalian bertemu di restoran?" Tuan Edward kembali bertanya dengan tatapan yang sama. Tatapan mata Tuan Edward membuat Bella takut untuk menjawabnya.
"Sudah-sudah Edward, kita bahas itu nanti ya. Lalu apa kata dokter, Bella?" Tuan Rodrigo berusaha mengalihkan topik pembicaraan supaya Tuan Edward tidak memojokkan Bella.
"Masih menunggu pemeriksaan lebih lanjut, Om. Dan seperti yang Om lihat kalau kaki Austin cedera. Karena motor itu menabrak tepat di bagian kaki Austin. Jadi untuk sementara Austin belum bisa jalan seperti biasa dan untuk penyembuhan kurang lebih selama tiga bulan," jelas Bella dengan sedikit terbata. Bella sendiri masih syok sekaligus cemas dengan apa yang terjadi di hadapannya.
"Semoga Austin tidak apa-apa. Tapi kamu baik-baik saja kan?" Tuan Rodrigo balik bertanya tentang kondisi Bella.
"Saya tidak apa-apa kok, Om. Kami tadi sempat bertengkar kecil dan…" belum sempat melanjutkan ucapannya Tuan Rodrigo kembali menyela.
"Sudah Bella, jangan jelaskan apa-apa lagi ya. Kita fokus saja pada kesembuhan Austin." Ucap Tuan Rodrigo sambil mengelus kepala Bella seperti putri kandungnya sendiri. Bella hanya mengangguk kecil menanggapi ucapan Tuan Rodrigo.
####
Jam sudah menunjukkan pukul 17.00, saatnya Alvin untuk pulang.
"Aku sebaiknya ke kantor Kak Zidni dulu. Kak Zidni harus tahu apa yang aku dapat hari ini." Gumam Alvin dalam hati. Untuk memuluskan penyamarannya, Alvin sengaja memilih naik taksi online daripada harus membawa mobil sendiri. Selama perjalanan menuju kantor Zidni, Alvin menyempatkan untuk menelepon Zidni. Setidaknya untuk memastikan kalau Zidni masih berada di kantor.
"Halo, Kak." Sapa Alvin saat panggilan telah tersambung.
"Iya Vin, ada apa?"
"Kakak masih di kantor?"
"Iya aku masih di kantor, Vin. Ada kabar apa?"
"Kabar yang mengejutkan Kak pastinya. Aku sedang dalam perjalanan menuju kantor Kakak."
"Baiklah, aku tunggu. Hati-hati ya, Vin."
"Iya Kak." Alvin mengakhiri panggilannya.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua puluh lima menit, akhirnya Alvin sampai juga di kantor Zidni.
Tok tok tok tok! Alvin mengetuk pintu ruangan Zidni.
"Masuk!" Jawab Zidni.
"Sore Kak." Sapa Alvin.
"Iya Zidni, masuklah dan silahkan duduk." Ucap Zidni seraya beranjak dari kursi kebesarannya. Zidni mengajak Alvin untuk duduk bersama di sofa.
"Jadi, apa yang kamu dapat dari hari pertama penyamaranmu?" tanya Zidni dengan wajah serius. Zidni merasa sangat lelah dan kepalanya terasa pusing.
"Sebentar, Kak." Alvin kemudian mengambil tablet yang ada di dalam ranselnya.
Zidni mengepalkan tangannya, merasa geram setelah melihat semua video itu. Rahangnya mengerat, seolah tidak sabar ingin meremukkan tulang-tulang musuhnya.
"Jadi tua bangka itu bekerja sama dengan manusia ini. Dan saat itu dia dengan sengaja beralasan ban bocor untuk memutus kerja sama denganku karena dia menggaggap aku ini pemarah dan kejam?"
"Kira-kira seperti itu, Kak. Mereka memanfaatkan amarah Kakak demi keuntungan mereka sendiri."
"Lalu, serbuk ajaib apa yang dimaksud dua manusia itu, Alvin?"
"Aku sendiri belum tahu, Kak. Aku masih menyelidikinya."
"Oh ya, gadis ini putri si tua bangka itu?"
"Iya Kak dan sebelumnya aku pernah bertemu dengan Bella."
"Kamu serius? Jadi, dia sudah mengenalmu?"
"Hanya pertemuan semalam, Kak. Saat itu sekitar jam dua belas malam lewat, aku bertemu dengannya menangis di pinggir jalan. Dia diganggu oleh preman jadi aku menolongnya. Lalu aku membawanya ke rumah. Saat mau aku antar pulang, dia tidak mau. Dan besoknya pas aku pulang kantor, dia sudah pergi. Aku sendiri tidak menyangka kalau Bella adalah putri dari Edward." Cerita Alvin panjang lebar.
"Oh, begitu rupanya. Tapi malang sekali nasib gadis ini, mempunyai Ayah seperti Edward yang rela menggadaikan kebahagiaan putrinya. Ternyata tua bangka ini juga kejam terhadap darah dagingnya sendiri."
"Aku sendiri tidak menyangka Kak, kalau saat itu Bella kabur dari acara pertunangannya. Oh ya Kak, sepertinya kita harus mengubah strategi."
"Strategi bagaimana, Vin?"
"Begini Kak, kita sudah meletakkan penyadap dan kamera di sana, sekarang aku harus menyamar menjadi salah satu pengawal Bella." Ucapan Alvin tentu saja membuat Zidni menatap curiga. Alvin salah tingkah dengan tatapan sang Kakak ipar.
"Kak Zidni jangan salah paham dulu. Aku dan Bella tidak ada hubungan apa-apa. Kami bertemu ya hanya saat itu saja dan tidak terjadi sesuatu juga Kak." Ucap Alvin yang begitu gugup. Ekspresi wajah Alvin pun mengundang tawa kecil Zidni.
"Iya-iya tidak perlu dijelaskan, Alvin. Santai saja." Ucap Zidni sambil menepuk pundak Alvin.
"Sekarang, jelaskan apa strategi itu?" Lanjut Zidni.
Alvin menghela nafas. "Jadi, Kak, sejak Bella kabur, Bella kemana-kemana sekarang di kawal. Dan pasti Bella akan sering bertemu dengan anaknya si Rodrigo. Bisa jadi Bella akan sering berkunjung ke rumah Austin. Nah, dengan seperti itu aku bisa menyelediki lebih dalam tentang siapa Austin dan Rodrigo ini. Termasuk aku juga bisa menyelediki situasi di rumah Edward seperti apa. Aku akan memasang kamera dan penyadap di rumah mereka berdua." Jelas Alvin panjang lebar.
"Ide yang sangat brilian, Alvin. Aku bangga sekali denganmu. Tapi… kamu sungguh tidak ada maksud lain kan?" Ucap Zidni dengan tatapan penuh selidik.
"Mmm… maksud lain apa Kak? Aku tulus membantu Kakak."
"Bukan itu maksudku, Vin. Maksudnya adalah, kamu tidak ada niat untuk pendekatan dengan Bella, kan? Ini murni untuk melakukan penyelidikan kan?"
"I-iya Kak. Sungguh, aku tidak ada maksud lain. Apalagi Bella adalah putri dari musuh Kak Zidni."
"Bella tidak salah, Alvin. Kasihan Bella juga karena menjadi korban keserakahan Edward. Jadi, santai sajalah." Ucap Zidni sambil menepuk punggung adik iparnya itu.
"Ah, sudahlah. Kak Zidni ini menggoda saja. Yang jelas Kak, itu yang bisa aku laporkan untuk hari ini."
"Iya Alvin, terima kasih untuk kerja kerasmu ya. Aku sangat terbantu dengan kehadiranmu."
"Sama-sama, Kak. Aku juga senang membantu Kakak."
"Senang bukan karena ada Bella kan?" Lagi-lagi Zidni menggoda Alvin. Alvin hanya bisa tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.