Mr. Arrogant Vs Noisy Girl

Mr. Arrogant Vs Noisy Girl
BAB 85 Akhir Cerita



Dua minggu sudah Zidni terbaring diatas tempat tidur. Belum ada tanda-tanda bahwa ia akan segera sadar. Chika begitu setia mendampingi Zidni. Merawat dan menjaganya penuh cinta.


"Kak, ayo makan. Aku sudah membawa makanan kesukaan Kakak." Kata Alvin begitu masuk ke dalam ruangan.


"Letakkan saja, Vin." Jawab Chika tanpa mengalihkan pandangannya dari suaminya.  Alvin mendekat kearah Kakaknya. Dirangkulnya bahu yang tampak rapuh itu.


"Kak, sejak kemarin Kakak makannya sedikit banget. Bisa dibilang hampir tidak makan."


"Bagaimana mau makan kalau Kakakmu saja masih seperti ini." Mata Chika kembali berkaca-kaca.


"Setidaknya Kakak harus makan untuk mengisi energi. Kalau Kakak tidak makan, bagaimana bisa menjaga Kak Zidni." Alvin terus berusaha membujuk Chika.


"Lihatlah wajah Kakak pucat dan tampak tirus. Kalau Kak Zidni bangun dan melihat Kakak seperti ini, dia pasti akan marah dan menyalahkan kami semua karena tidak menjaga Kakak. Atau bisa jadi Kak Zidni malah pangling lihat istrinya seperti ini. Ayolah Kak! Kasihan Kenzie juga kalau sampai Kakak sakit." Apa yang diucapkan Alvin ada benarnya juga. Akhirnya Chika pun mengangguk.


"Ya sudah, kita makan." Jawabnya pelan. Alvn dengan semangat membuka bungkusan makanan diatas meja sembari menunggu Chika menuju sofa. Namun baru beberapa langkah, pandangan Chika menjadi gelap dan seperti berputar-putar. BRUK! Chika akhirnya pun pingsan tak sadarkan diri.


"KAKAK!" Seru Alvin saat melihat Chika terkapar di lantai. Alvin sangat panik, ia segera memanggil dokter dan Chika segera mendapat pertolongan. Kondisi Chika benar-benar drop. Membuat tensi darahnya turun sampai harus mendapatkan transfusi darah. Chika pun sudah di pindahkan ke kamar rawat inap. Keadaan Chika membuat semua keluarga menjadi panik tak terkecuali Nyonya Kamila.


Tiga jam kemudian. Perlahan Chika menemukan kesadarannya. Ia merasakan tangannya di genggam oleh seseorang. Kepalanya masih terasa berat, Perlahan ia membuka matanya, melihat ruangan serba putih dan terciuam aroma obat khas rumah sakit.


"Sayang, kamu sudah bangun?" suara lembut itu, membuat Chika menatap kearah sumber suara. Wajah seorang pria yang begitu ia cintai kini ada di hadapannya. Mata Chika mulai basah. Apakah ini mimpi atau nyata?


"Mm-Mas...." lirih Chika.


"Iya sayang, ini aku. Maaf, aku sudah tidur terlalu lama." Ucap Zidni sambil mengecupi punggung tangan Chika.


"Aku tidak mimpi kan? Kamu benar sudah sadar?"


"Iya, kamu tidak mimpi. Aku terbangun saat kamu pingsan tadi." Dan air mata Chika akhirnya pecah juga. Chika merentangkan kedua tangannya, meminta Zidni untuk memeluknya. Zidni tak kuasa menahan air matanya. Ia naik keatas ranjang dan memeluk istrinya.


"Mas, aku bahagia sekali. Kamu tidak melupakan aku Mas?"


"Tidak! Aku tidak melupakanmu. Aku bahkan sudah mengingat semua kenangan tentang kita. Maafkan aku sudah membuatmu menderita. Maafkan aku, sayang."


"Mas, aku mencintaimu."


"Aku juga sangat mencintaimu Chika. Si bawel dan super berisik." Tangis keduanya lepas bersamaan dengan kebahagiaan. Pelukan itu semakin erat dan seoalh tak ingin lepas.


"Terima kasih sudah bertahan sampai sejauh ini. Terima kasih sudah membesarkan anak kita. Terima kasih untuk semua cinta dan ketulusanmu. Terima kasih sudah menjaga cintaku sampai detik ini."


"Karena aku percaya kalau takdir akan menyatukan kita kembali, Mas." Zidni menghujani wajah Chika dengan kecupan cinta. Dan Chika pun melakukan hal yang sama. Dari balik pintu yang terbuka, semua keluarga menyaksikan kebahagian kedua insan yang memiliki kekuatan cinta yang begitu besar.


"Mama-Papa!" suara lantang namun menggemaskan, membuat keduanya menoleh. Langkah kecil itu pun ikut naik ketas ranjang sempit itu.


"Sayangnya Mama-Papa." Ucap Chika. Mereka bertiga pun berpelukan.


"Papa masih ingat aku?"


"Tentu saja. Kamu adalah Kenzie anak Papa yang paling tampan, baik, pintar dan juga cerewet seperti Mama."


"I love you Papa-Mama."


"I Love you too Kenzie." Ucap Chika dan Zidni dengan kompak.


Hari-hari yang pahit dan penuh perjuangan kini berubah menjadi hari bahagia. Zidni mengajak Chika bulan madu ke Shanghai. Menikmati indahnya setiap sudut kota Shanghai. Zidni memperkenalkan Chika semua tempat masa kecil Zidni bahkan sampai sekolah tempat Zidni. Zidni begitu fasih menceritakan semua memory yang telah ia ingat sepenuhnya. Keduanya saling bergandengan tangan dan tak mau terpisahkan lagi.


"Apa kamu suka?"


"Kenzie sudah bersama Omanya. Ada banyak pengawal dan pengasuh yang akan menjaganya. Aku ingin kita memulainya dari awal, hanya berdua. Bagaimana kalau setelah ini kita pergi ke Paris."


"PARIS? Kamu serius?"


"Iya sayang. Kita belum pernah bulan madu jadi kita habiskan waktu bersama. Kenzie juga mendukung penuh kita kan? Nanti kita ajak dia keliling dunia juga setelah kita menuntaskan bulan madu kita. Bagaimana?"


"Iya terserah kamu saja, Mas."


Setelah puas berkeliling kota Shanghai, mereka kembali ke hotel. Chika langsung membanting tubuhnya diatas tempat tidur.


"Ah, capek juga ya Mas." Ucapnya.


"Tapi kamu seneng kan?"


"Iya pasti dong, Mas. Kamu mandi dulu saja, Mas."


"Aku maunya mandi sama kamu sayang," Zidni menyusul Chika yang berbaring diatas tempat tidur. Keduanya saling berhadapan dan saling menatap satu sama lain. Zidni membelai lembut wajah cantik dihadapannya lalu mengecup kening Chika.


"Akhirnya kita sekarang bisa bersatu lagi, sayang. Ini adalah kebahagiaan yang tidak dapat aku ungkapkan dengan kata-kata. Aku ingin selalu bersama kamu."


"Aku juga sama, Mas. Aku amat sangat bahagia."


"Mmmm bagaimana kalau kita buat adik lagi untuk Kenzie?"


"Dasar maunya kamu."


"Iyalah, memang itu maunya aku." Ucap Zidni dengan senyum nakalnya. Dan malam itu mereka kembali bercumbu, memadu kasih yang berselimut oleh gairah cinta yang membara. Bercinta, kini menjadi rutinitas wajib untuk keduanya. De..sahan dan suara decapan khas bercinta menyeruak kesetiap sudut ruangan. Setiap isi kamar menjadi saksi bisu cinta keduanya.


Satu bulan kemudian, Zidni dan Chika menggelar resepsi pernikahan besar-besaran. Dengan mengundang para kolega dan juga karyawan di kantor. Acara yang di gelar megah dan begitu mewah memadati balroom hotel.


"Ya Tuhan, ternyata selama ini kita kerja sama Nyonya bos." Ucap Mita.


"Iya ya. Pantas saja Chika, eh maksudku Nyonya Chika sangat berani pada Tuan Zidni. Salut banget sama perjuangan Nyonya Chika," sambung Juno.


"Akhir yang bahagia untuk kisah cinta mereka. Amat sangat penuh perjuangan dan menjadi Nyonya Chika tentu bukanlah hal yang mudah." Sambung Pak Haris.


"Sekarang kita tidak bisa cuap-cuap apalagi menggibah Tuan Zidni. Apa Nyonya Chika akan mengadukan kita pada Tuan Zidni ya?" sahut Mita.


"Sepertinya tidak, Mit. Buktinya Tuan Zidni sekarang menjadi lebih ramah bukan?" timpal Juno.


"Sejujurnya saat aku melihat putra Nyonya Chika, aku juga terkejut karena wajahnya mirip sekali dengan Tuan Zidni." Kata Pak Haris.


"Iya juga ya. Bareu sadar lho aku." Lanjut Mita.


"Heh Joan, kenapa diam saja?" Pak Haris menyenggol Joan yang berdiri disampingnya.


"Ah tidak apa-apa Pak. Aku terkejut saja dengan semua ini." Tentu bukan hanya terkejut tapi menyakitkan bagi Joan. Berharap bisa mengambil hati Chika dan menjadikannya pasangan hidup namun Chika ternyata adalah istri bosnya sendiri. Kecewa tapi Joan juga tidak bisa berbuat apa-apa selain mendoakan yang terbaik untuk Chika. Disudut ruangan lain pun, ada seseorang yang nampaknya merasa senasib dengan Joan. Siapa lagi kalau bukan Romi. Romi hanya bisa berdiri menatap Chika dan Zidni dari kejauhan sembari menahan rasa sesak di dada.


"Aku bahagia melihat kamu bahagia, Chika. Meskipun dada ini terasa sangat sesak." Gumam Romi dalam hati. Senyum Chika merekah penuh dengan kebahagiaan. Begitu pula dengan Zidni, sedari tadi tangannya terus menggenggam tangan Chika.


"Kamu cantik sekali, sayang. Membuat aku semakin cinta."


"Kamu juga sangat tampan dan semakin membuatku cinta juga." Zidni kemudian mengajak Chika turun ke lantai dansa. Mereka adalah raja dan ratu malam itu. Mereka pun berciuman dengan sangat mesra tanpa rasa ragu dan malu. Membuat para tamu undangan bersorak bahagia.