Mr. Arrogant Vs Noisy Girl

Mr. Arrogant Vs Noisy Girl
BAB 71 Di Kantor



Baru juga Chika hendak berjalan menuju ruangannya, Zidni justru menarik Chika ke dalam ruangannya. Chika tentu saja terkejut dengan sikap suaminya. Zidni langsung mengunci pintu. Setelah itu merengkuh pinggang istrinya.


"Zidni sayang, kamu ini apa-apaan? Ini di kantor. Aku harus ke ruanganku." Ucap Chika berusaha menolak suaminya.


"Ssstttt aku pemilik kantor dan perusahaan ini sayang. Ummm, aku tidak mau jauh darimu."


Chika tersenyum. Ia lalu menangkup wajah tampan itu. "Aku pun sama. Aku tidak mau jauh darimu. Tapi kan kita harus bekerja. Aku disini juga untuk membantu kamu, sayang."


"Baiklah, berikan aku vitamin dulu. Supaya aku lebih semangat."


"Vitamin apa?" tanya Chika tidak mengerti.


"Vitamin C."


"Ya sudah aku belikan vitamin C dulu ya. Di dekat sini ada apotek." Kata Chika yang masih tidak mengerti ucapan suaminya.


"Bodoh!" Zidni menyentil kening istrinya.


"Bodoh bagaimana? Kamu sendiri yang bilang minta vitamin." Chika mulai kesal.


Zidni terkekeh. "Maksud vitamin C itu CIUM, sayang."


"Ya ampun, kamu ini ah, ada-ada saja." Chika tersipu sambil memukul pelan dada Zidni.


"Ya sudah, sekarang cepat ayo berikan." Pinta Zidni. Chika tersenyum lalu memberikan kecupan sekilass di bibir suaminya.


"Kurang lama. Itu cuma lima detik." Protes Zidni.


"Nanti kita lanjut dirumah ya. Kita harus profesional Tuan Zidni. Ini kantor bukan tempat mes...mmmpphhhhh." Belum selesai bicara, Zidni langsung ******* bibir Chika. Di rengkuhnya pinggang Chika dengan erat, sementara tangan kanannya merengkuh tengkuh Chika. Menekan supaya bibir keduanya menempel dengan sempurna. Chika yang terbawa giarah suaminya, berusaha mengimbangi ciuman suaminya. Kedunya menyempatkan untuk saling mengulum, menjilat dan saling membelit. Lima menit berlalu, Chika dan Zidni mengakhiri ciumannya. Kening mereka saling beradu dengan nafas yang masih memburu terbawa naf...su. Chika menyeka bibir Zidni yang terkena noda lipstiknya.


"Bibirmu ikut merah," ucap Chika dengan senyum kecilnya.


"Dan lipstikmu berantakan karena ulahku," balas Zidni dengan senyum kecilnya pula.


"I love you." Ucap Zidni.


"I love you too." Balas Chika. Keduanya kembali membenarkan posisi berdiri. Chika merapikan kembali pakaiannya karena ulah suaminya. Ia kemudian menebali bibirnya dengan lipstik yang ada di tasnya. Begitu pula dengan Zidni yang merapikan kembali pakaiannya.


"Aku ke ruangan dulu ya sayang." Ucap Chika seraya mengecup pipi suaminya.


"Iya sayang. Nanti makan siang di luar sekaligus menjemput Kenzie ya."


"Iya." Chika kemudian berlalu meninggalkan ruangannya.


"Apakah secinta itu aku dengannya?" gumam Zidni sembari menatap Chika yang sudah menghilang dari ruangannya.


"Selamat pagi Tuan." Sapa Frans seraya membuka daun pintu ruangan bosnya.


"Pagi Frans. Hari ini ada meeting atau pertemuan dengan klien mungkin?" ucap Zidni seraya melangkah dan duduk di kursi kebesarannya. Wajah sinis Zidni masih sama seperti biasanya. Namun ada yang menggelitik di batin Frans, membuat Franas senyum-senyum sendiri.


"Frans, apa kamu sudah tidak waras? Kenapa senyum-senyum? Ditanya malah senyum-senyum."


"Ee... maaf Tuan. Sepertinya ada sesuatu di wajah Tuan? Sepertinya pelakunya adalah Nona Chika." Frans menahan untuk tidak tertawa.


"Maksudmu apa menuduh istriku?" suara Zidni meninggi. Frans mengambil ponsel di sakunya. Membuka kamera depan lalu memberikannya pada Zidni.


"Silahkan anda bercermin Tuan." Kata Frans. Zidni tentu sangat terkejut melihat bekas bibir di pipinya. Ia kemudian tersenyum kecil mengingat sebelum pergi Chika mengecupnya. Zidni mengambil tisu dihadapannya dan segera membersihkannya.


"Tanda cinta dari istriku." Ucapnya menahan malu.


"Tuan, saya sangat bahagia akhirnya Tuan sudah menemukan Nyonya Chika. Seseorang yang anda cari sudah ada di depan mata. Ingatan anda tentang Nona Chika sudah pulih kan?"


"Iya. Tapi ingatanku masih sebatas dia adalah bawahanku. Dan aku jatuh cinta padanya. Namun hatiku selalu mengatakan bahwa dia memang wanitaku. AKu berusaha mengikuti kata hatiku dan itu membuatku menemukan sebuah keluarga. Aku merasa tenang dan nyaman disana."


"Oh syukurlah, anda sudah ingat siapa Nona Chika. Saya snagat takut jika anda tidak bisa mengingat hal itu. Tapi sepertinya ingatan and kali ini sedikit melambat. Beda dengan beberapa waktu lalu."


"Apa yang kamu katakan benar Frans. Jujur saja, aku juga takut jika sewaktu-waktu aku akan lupa lagi. Sepertinya aku harus menulis jurnal lebih banyak lagi. Jangan lupa untuk selalu memberikan jurnal itu kepadaku jika suatu saat nanti aku lupa lagi."


"Frans, kalau memang hari ini ada pertemuan, cancel semuanya. Aku ingin menjemput Kenzie di sekolah dan makan siang bertiga."


"Baiklah Tuan."


"Dan tolong belikan aku kandang kucing, sekaligus panggil dokter hewan untuk kerumah."


"Kucing? Anda memelihara kucing?"


"Kenzie yang memelihara kucing. Kemarin ada kucing masuk kerumah. Karena ingin menolong kucing itu, dia malah tercebur di kolam renang. Sepertinya memang kucing liar karena sangat tidak terurus. Oh ya jangan lupa makanannya ya. Aku mau setelah Kenzie pulang, rumah dan makanan kucing sudah siap semuanya."


"Baik Tuan. Akan saya kerjakan. Tapi pagi ini anda bisa menyempatkan untuk rapat kan? Karena produk reborn dan juga yang terbaru akan segera di lucurkan. Anda belum memeriksanya sama sekali."


"Iya. Minta mereka ke ruang rapat satu jam lagi."


"Baik Tuan. Kalau begitu, saya permisi."


"Tunggu Franas!" Zidni menghentikan langkah Frans.


"Iya Tuan, ada tambahan lagi?"


"Mulai detik ini panggil Chika dengan sebutan Nyonya, ingat itu!"


"Baik Tuan. Saya akan selalu mengingatnya. Kalau begitu saya permisi." Frans kemudian pergi meninggalkan ruangan Zidni setelah mendapat anggukan dari Zidni.


#######


"Pagi semunya!" Chika menyapa timnya dengan senyum sumringah. Mereka bertiga tentu saja sangat terkejut dengan kedatangan Chika hari itu.


"CHIKA!" seru Mita. Mita beranjak dari duduknya lalu memeluk Chika dengan erat.


"Ya ampun Chik, kamu kemana saja? Nomor kamu sama sekali tidak bisa di hubungi."Sambung Mita.


"Iya Chik, kamu kemana saja? Kami sampai pergi ke rumah kamu. Tapi kata tetangga kamu, kamu pergi ke luar kota." Imbuh Juno.


"Kamu baik-baik saja kan, Chika? Kami khawatir sekali," sahut Pak Haris.


"Kalian semua tenang saja. Aku baik-baik saja kok."


"Memangnya kamu kemana selama ini Chik? Kamu menghilang sejak Tuan Zidni jatuh pingsan. Kami pikir, Tuan Zidni menyandramu karena menganggapmu sebagai penyebab pingsannya Tuan Zidni." Ucap Mita.


"Kamu ini ada-ada saja, Mit. Aku baik-baik saja kok. Suamiku pulang dan kembali jadi aku mengambil cuti. Kami menghabiskan waktu bersama selama satu minggu terakhir."


"Su-suami mu? Bukankah aku mendengar kalau kamu single mom?" sahut Juno.


"Itu hanya kabar burung saja, Jun. Nyatanya kami bisa berkumpul."


"Syukurlah Chika, aku senang sekali akhirnya kamu kembali ke kantor dan aku sangat senang karena kamu bisa kembali berkumpul dengan suamimu." Kata Pak Haris dengan bijak.


"Iya Pak, terima kasih. Yang jelas, aku sangat bahagia."


"Bagaimana kalau nanti kita merayakan kebahagiaanmu dengan makan sing di cafe?" Juno memberi ide.


"Maaf ya Jun, sepertinya hari ini aku tidak bisa. Aku dan suamiku akan menjemput Knezie di sekolah sekaligsu kita makan siang bersama. Jadi lain kali tidak apa-apa ya?"


"Ya sudah tidak apa-apa. Kamu pasti sangat merindukan suami mu, Chik." Juno berusaha mengerti.


"Amat sangat, Jun."


"Eh Chik, kenalin sama suami kamu dong?" rengek Mita.


"Iya, kapan-kapan aku akan mengenalkannya pada kalian tapi tidak sekarang ya. Dia sangat pemalu juga."


"Oke, tidak masalah. Yang jelas aku sangat merindukanmu." Ucap Mita sambil memeluk Chika lagi. Mita merasa seperti punya Kakak saat bersama Chika.