Mr. Arrogant Vs Noisy Girl

Mr. Arrogant Vs Noisy Girl
BAB 92 Team Work



''Kak, maaf mengganggu.'' Suara Alvin terdengar lesu di seberang sana.


''Iya Vin, ada apa?''


''Kak, ada masalah di kantor. Aku sudah mengirimkan file dan bukti ke email Kakak. Tadinya aku dan sekretaris Frans ingin menyelesaikannya karena tidak mau mengganggu Kakak. Tapi ini masalah penting dan besar jadi Kakak harus tahu. Maaf ya Kak.''


Zidni menghela. ''Baiklah Vin, aku akan memeriksanya. Aku akan pulang besok. Kamu urus ya sampai aku kembali besok.''


''Iya Kak.'' Alvin mengakhiri panggilannya. Seketika selera makannya pun buyar.


''Bagaimana Mas Alvin? Apa Tuan marah?'' tanya Sekretaris Frans. Keduanya duduk berhadapan disebuah cafe untuk makan siang.


''Kak Zidni akan pulang besok.''


''Sebaiknya kita makan saja, Mas. Pekerjaan masih banyak. Jangan lesu gitu dong.'' Frans berusaha memberi semangat.


''Iya.'' Alvin mulai menyantap makanannya. Tiba-tiba ia teringat Bella.


''Bella? Gadis itu masih di rumah ku atau sudah pergi ya?'' tanya Alvin dalam hati.


Sementara itu, wajah Zidni berubah muram seketika setelah mengetahui bahwa Tuan Edward menyabotase perusahaannya.


''Sial! Rupanya dia dendam padaku.'' Geramnya sambil mengepalkan tangan.


''Mas, ayo naik perahu dayung.'' Suara khas Chika langsung mengalihkan perhatiannya.


''I-iya sayang, sebentar ya.'' Ucap Zidni masih memandangi layar ipadnya. Chika mendekat, lalu duduk di lengan sofa sambil merangkul pundak suaminya.


''Kenapa Mas? Apa ada masalah?''


''Kita besok harus pulang ya. Tidak apa-apa kan kalau kita pulang cepat? Karena ada masalah di perusahaan.''


''Iya tidak apa-apa Mas. Tapi temani aku dan Kenzie ya.''


''Iya sayang. Kamu duluan ya, lima menit lagi aku nyusul.''


''Iya Mas.''


Lima menit kemudian, Zidni keluar untuk menemani anak dan istrinya. Bersama anak dan istrinya, seketika membuat Zidni melupakan sejenak masalah yang terjadi di perusahaannya. Tawa lepas Chika dan Kenzie menjadi semangat untuk Zidni. Malam harinya, Chika pun mulai berkemas. Karena Zidni akan mengambil penerbangan awal. Melihat istrinya sibuk berkemas, membuat Zidni merasa bersalah karena waktu liburan yang harusnya satu minggu malah menjadi tiga hari saja. Zidni beranjak dari sofa lalu memeluk istrinya dari belakang.


''Sayang, maafkan aku ya.''


''Kenapa minta maaf? Perusahaan sedang butuh kamu.''


''Ya karena waktu liburan kita jadi maju.''


''Tidak apa-apa Mas. Apa masalahnya sangat rumit?''


''Dendam sih lebih tepatnya.''


''Dendam? Apa dia mengancam kamu, Mas?Apa kamu buat salah sama orang itu sampai dia dendam? Pasti kamu sudah menyakiti perasaannya dengan sikap aroganmu itu kan? Kamu sih, makanya jangan angkuh dan galak-galak. Eh tapi ancamannya tidak membahayakan nyawa kan Mas?'' cerocos Chika seperti biasa yang membuat Zidni semakin mempererat pelukannya.


''Udah ngomongnya?''


''Udah!" Chika melepaskan tangan suaminya, lalu berbalik menatap wajah pria yang begitu ia cintai. Ditangkupnya wajah tampan pria itu.


''Mas, aku khawatir. Khawatir kalau mereka menyakiti kamu. Aku tidak mau kehilangan kamu untuk ke dua kalinya.''


''Tidak akan pernah sayang. Mereka hanya menggertak. Lagi pula aku menolak kerja sama saat itu karena kami sudah tidak sejalan lagi. Bisnisnya sudah tidak sehat. Jadi aku menggunakan kesempatan itu untuk menolaknya.'' Ucap Zidni seraya membelai wajah Chika.


''Tapi tetap saja aku takut.''


''Sudah ya, jangan ikut terbebani. Kamu sedang hamil. Jadi kamu harus happy. Lawan ku sekarang tidak sepadan dengan ku sayang jadi kamu tenang saja.''


''Jangan meremehkan musuh, Mas.''


''Iya-iya sayang. Oh ya aku mau menagih janji mu.''


''Janji? Janji yang mana?''


''Ronde kedua, sayang.''


''Astaga, kamu ini ingat saja, Mas.''


''Ingatlah sayang. Ya sudah sayang kita mulai. Kenzie juga udah nyenyak banget boboknya. Sepertinya aku butuh asupan semangat dari kamu. Kita main di sofa saja.''


''Iya-iya. Kalau itu bisa membuatmu semangat, maka teruskanlah ronde keduanya, Mas.'' Kekeh Chika. Dan keduanya pun mulai bercumbu. Cumbuan yang mesra, romantis dan penuh gairah di malam terakhir langit Maladewa.


Tepat jam 12 siang mereka sampai di bandara Soekarno-Hatta. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih tujuh jam dari jam pemberangkatan jam 4 subuh tepat. Frans sudah menunggunya disana. Pak Ali, supir baru keluarga juga sudah tiba disana. Karena Zidni harus langsung menuju kantor.


''Sayang, kamu pulang sama Pak Ali ya. Aku langsung ke kantor.''


''Kamu hati-hati ya, Mas.''


''Iya sayang.'' Mereka berdua saling berpelukan sebelum berpisah. Tak lupa Zidni mengecup kening Chika sebelum pergi.


''Pak, hati-hati di jalan ya. Jangan ngebut! Pastikan istri dan anak saya selamat sampai rumah.''


''Iya Tuan.''


''Ken, Papa langsung ke kantor ya. Kamu jaga Mama dan adik ya.''


''Iya Pah.'' Zidni lalu mengecup pucuk kepala putranya.


''Sekretaris Frans, hati-hati.''


''Iya Nyonya.''


Begitu sampai di kantor, Zidni langsung mengadakan rapat intern membahas semua masalah yang terjadi semenjak ia pergi.


BRAK!


''Brengsek! Keparat Edward." Zidni menggebrak meja.


''Ternyata selama ini dia menjadi duri dalam daging. Ternyata keputusanku untuk menghentikan kerja sama membuat belangnya kelihatan.'' Geramnya dengan mengeratkan rahangnya.


''Dan ternyata kopi kapal uap itu produk mereka, yang sudah berjalan setahun terakhir ini begitu laris di pasaran, Tuan. Sedangkan produk kita mendadak mengalami penurunan yang signifikan.'' Jelas Frans.


''Siapa yang berani memanipulasi data penjualan dan setempel perusahaan? Apa kalian sudah menemukan bukti?'' suara Zidni semakin meninggi.


''Maaf Kak. Ada beberapa rekaman CCTV yang terhapus. Sepertinya memang sengaja di lakukan. Kita sudah tahu bahwa itu perbuatan PT Angkasa Jaya tapi poin utamanya, kita harus menemukan mereka yang berani melakukan sejauh ini. Kalau kita mau membawa ke ranah hukum, kita harus punya bukti yang kuat Kak.'' Alvin menimpali.


''Benar-benar sialan! Kenapa aku bisa tertipu begini?'' Zidni masih belum bisa meredam amarahnya.


''Oh ya Kak, aku tadi melakukan audit keuangan dan ada satu rekening mencurigakan atas nama perusahaan Kakak.'' Alvin lalu menyerahkan bukti-bukti pada Zidni.


''Gila! Astaga, kenapa aku jadi bodoh begini.'' Umpatnya.


''Tuan, sepertinya mereka tahu kelemahan anda. Makanya mereka melakukan ini.'' Ucap Frans.


''Kak, kita jangan gegabah. Kita selidiki pelan-pelan. Kakak juga baru dalam masa penyembuhan kan? Jadi kita jangan terpancing. Meskipun kerugian ini tidak main-main.''


''Apa yang dikatakan Mas Alvin benar, Tuan. Kesehatan Tuan harus tetap dijaga. Kita cari pelan-pelan. Mereka meletakkan mata-mata di perusahaan, kita pun juga bisa melakukannya.'' Ucap Frans. Zidni mencoba menenangkan dirinya. Mengatur nafas pelan dan mencoba berpikir jernih.


''Alvin, kamu menyamar ke perusahaan mereka.'' Ucap Zidni setelah sejenak berpikir.


''Hah? Ak-aku Kak?'' Alvin terkejut.


''Iya kamu. Mereka kan belum mengenali kamu, Vin. Jadi tidak masalah kalau kamu menyamar. Dengan begitu, kita bisa tahu siapa mata-mata itu.''


''Baiklah Kak kalau begitu, Kak. Lalu aku bekerja sebagai apa disana?''


''Sebagai posisimu yang sekarang.''


''Mmm jangan Tuan. Sulit untuk mengawasi pergerakan mereka.'' Cegah Frans.


''Lalu apa Frans?''


''OB saja Tuan. Menjadi OB lebih mudah keluar masuk ke dalam ruangan penting dan lebih bebas kemana saja. Kalau di posisi sekarang, Mas Alvin akan sibuk dan ruang geraknya sedikit,'' usul Frans.


''Ide sekretaris Frans bagus, Kak.''


''Kamu yakin tidak keberatan jadi OB?''


''Tentu saja tidak, Kak. Ini demi mengungkap kebenaran dan menyelamatkan perusahaan.''


''Terima kasih ya, Vin. Kita mulai penyamarannya besok.''


''Sama-sama Kak. Kakak tenang saja, aku akan melakukan yang terbaik.''


Bersambung....