
Puas bercinta di dalam kamar mandi, Chika segera menyiapkan pakaian suaminya.
"Mas, kamu ganti pakaian sendiri ya. Aku mau ke kamar Kenzie, takut dia belum bangun."
"Iya sayang." Jawab Zidni. Chika sampai lupa mengurus Kenzie karena benar-benar sudah dimabuk cinta. Dengan langkah terburu, Chika bergegas ke kamar Kenzie.
"Sayang, kamu sudah bangun?" tanya Chika seraya membuka pintu kamar Kenzie. Chika tidak menyangka kalau Kenzie sudah berpakaian lengkap dan kini tangan menyisir rambutnya.
"Morning, Mah." Sapa Kenzie.
"Sayang, anak Mama ternyata sudah bisa mandi sendiri dan memakai baju sendiri." Chika mendekat lalu berlutut mensejajarkan diri dengan tinggi badan Kenzie.
"Iya dong, Mah."
"Maaf ya, Mama kesiangan membangunkan kamu."
"Mama baik-baik saja kan?"
"Baik kok. Memangnya kenapa?"
"Mama tampak pucat dan kantung mama menghitam seperti panda."
"Mama hanya kurang tidur saja dan merasa lelah." Chika beralasan. Tidak mungkin Chika mengatakan kalau semalaman bahkan barusan saja, menghabiskan waktunya untuk bercinta dengan Papanya Kenzie.
"Ya sudah, Mama buatkan sarapan ya. Kamu mau apa?"
"Yang mudah saja, Mah. Kasihan Mama, wajah Mama terlihat lelah sekali."
"Iya sayang." Ucap Chika sambil mengelus kepala putranya. Tubuh Chika baru terasa lemas, terutama kakinya. Puncak *********** baru terasa perih, seperti semalaman begadang menyusui bayi yang sangat kehausan dan kelaparan. Untuk menyingkat waktu, Chika membuat roti panggang untuk sarapan mereka. Tiga gelas susu hangat sudah tersaji di meja. Tak lupa buah potong kesukaan suaminya.
"Selamat pagi jagoan Papa!" Sapa Zidni seraya mendekat dan mengecup pucuk kepala putranya.
"Selamat pagi Papa ku, sayang."
"Pah, apa Mama semalam tidak bisa tidur?" sambung Kenzie.
"Mem-memangnya kenapa Ken?" Zidni sedikit gagap menjawab pertanyaan putranya, seperti sedang disidak oleh orang tua.
"Lihat deh Pah, wajah Mama tampak pucat dan kantung matanya hitam seperti panda. Terus aku perhatikan di leher Mama ada beberapa bercak merah. Apa Mama semalaman tidak bisa tidur karena di gigit semut atau nyamuk ya, Pah?" ucapan polos Kenzie, membuat Chika dan Zidni saling menatap dan salah tingkah.
"Iya sayang. Semalam bukan hanya nyamuk tapi ada semut juga. Mungkin Papa kurang menjaga kebersihan kalim sampai ada semut diatas kasur. Di tambah nyamuknya banyak, sepertinya semprot nyamuknya habis." Jawab Chika yang berusaha merangkai beribu cerita.
"Oh begitu, ganas juga ya Mah. Untung saja di kamar Kenzie aman."
"Oh, ganas sekali sayang." Jawab Chika sambil melirik kearah suaminya. Zidni hanya tersenyum karena nyamuk dan semut itu adalah dirinya.
Selesai sarapan, Zidni dan Chika mengantar Kenzie ke sekolah, setelah itu mengantar Chika ke salon.
"Sayang, ini untukmu." Zidni memberikan black card pada Chika.
"Apa ini, Mas?"
"Untuk bayar lah. Sekaligus kamu bisa menggunakannya untuk membeli apapun yang kamu, oke. Pinnya 280395."
Chika terkejut saat Zidni mengucap pin kartunya.
"280395, Mas?"
"Iya, memangnya kenapa?"
"Itu tanggal ulang tahun aku."
"Hah? Are you serious?"
"Iya Mas. Kamu sudah ingat?"
"Aku asal saja sayang. Setelah aku sadar dari koma, aku lupa pin kartuku jadi aku membuatnya ulang dan tiba-tiba terlintas angka-angka itu." Jelas Zidni. Chika kemudian memeluk Zidni dengan rasa haru yang menyeruak di dalam lubuk hatinya.
"Mas, aku yakin di dalam hatimu sudah mengingatku. Hanya saja di dalam pikiranmu, kenangan itu masih belum terlihat jelas."
"Sepertinya memang begitu. Saat ini aku bergerak dan melakukan semuanya untukmu sesuai dengan kata hatiku. Sudahlah sayang, jangan sedih ya. Sebaiknya kamu turun karena aku akan langsung meeting di luar."
"Iya Mas. Kamu hati-hati ya." Chika melepaskan pelukannya. Zidni kemudian mengecup kening Chika dan keduanya saling berciuman bibir untuk sejenak sebelum berpisah.
Setelah menyelesaikan rapat, Zidni segera meluncur menuju salon tempat Chika melakukan perawatan.
"Pah, kita jemput Mama ya?"
"Iya Ken. Bagaimana sekolahmu? Papa sudah mengurus kepindahanmu."
"Iya. Maaf ya Papa dan Mama sampai lupa untuk cerita sama kamu."
"Tapi kenapa pindah Pah?"
"Aku sudah nyaman disana."
"Papa ingin memberikan semua yang terbaik untuk kamu, Ken. Dan Mama juga sudah setuju. Jaadi besok hari terakhirmu sekolah disana."
"Baiklah Pah."
"Papa akan menyiapkan pesta kecil untukmu disekolah besok. Papa juga sudah menyiapkan kenang-kenangan untuk para guru dan juga teman sekelasmu. Papa ingin kamu meninggalkan kenangan yang menyenangkan untuk mereka."
"Sungguh, Pah?"
"Iya, Ken. Apapun akan Papa lakukan untukmu dan Mama."
"Terima kasih ya, Pah. Papa memang yang terbaik." Peluk Kenzie.
Sesampainya di salon, Zidni segera memarkir mobilnya dan berjalan keluar bersama Kenzie. Begitu masuk ke dalam, Zidni dan Kenzie dibuat pangling dengan penampilan Chika yang lebih fresh dan lebih muda dari usianya.
"Mama!"
"Sayang!"
"Iya ini Mama dan ini aku, istrimu Mas. Kenapa? Jelek ya?" kata Chika sambil memandangi dirinya sendiri
"CANTIK!" ucap kedua laki-laki dihadapan Chika itu dengan kompak.
"Pakai poni, kamu semakin imut. Apalagi warna hitam legam itu agak kecoklatan." Ucap Zidni yang tidak bisa melepaskan pandangannya dari Chika. Rambut panjang sepunggung Chika telah dipangkas menjadi sebahu namun tidak terlalu pendek juga. Ditambah dengan layer.
"Mama selalu cantik dan sekarang makin cantik," Kenzie menimpali sambil mengacungkan kedua jempolnya.
"Terima kasih sayang-sayangnya Mama."
"Baiklah, sekarang kita makan siang ya. Ken, kamu mau makan apa?" tanya Zidni.
"Mau pizza dan kentang goreng, Pah."
"Oke baiklah. Kita pergi ke restoran Italia terbaik disini." Seru Zidni dengan begitu semangat.
"Sayang, aku ingin langsung menerkammu." Bisik pelan Zidni tepat ditelinga Chika.
"Mas, kamu ah, mesum tidak tahu tempat." Ucap Chika berbisik juga. Wajahnya memerah karena malu. Mereka bertiga kemudian pergi kerestoran untuk makan siang
"Kamu mau apa sayang?" tanya Zidni sambil membolak-balik buku menu ditangannya.
"Yang bikin kenyang, Mas. Yang pakai nasi pokoknya."
"Baiklah kalau begitu risotto ya, ini bahan utamanya dari nasi."
"Iya Mas."
"Minumnya?"
"Apa saja yang penting manis dan dingin," kekeh Chika.
"Oke baiklah. Kalau Kenzie apa?"
"Pizza sama kentang goreng, Pah. Dan minumnya aku mau milkshake coklat."
"Oke." Jawab Zidni. Pelayan pun menuliskan pesanan mereka. Zidni memilih makanan yang sama dengan Chika.
"Di tunggu ya, Tuan." Ucap pelayan itu. Zidni hanya mengangguk dengan senyum kecilnya.
"Sayang, aku berencana membuat pesta perpisahan kecil di sekolah Kenzie. Aku juga sudah mengurus kepindahan Kenzie."
"Astaga Mas, aku sampai lupa belum memberitahu Kenzie."
"Tidak apa, aku juga lupa dan baru memberitahunya tadi. Dan dia setuju, bukankah begitu, Ken?" ucap Zidni seraya melirik Kenzie.
"Iya Mah, aku sudah tahu dan setuju."
"Sayang, apapun yang saat ini lakukan untuk kebaikan dan masa depan kamu."
"Iya Mah. Mama tenang saja ya. Aku pasti dengan mudah beradaptasi dengan lingkungan baru."
"Anak Mama memang the best." Ucap Chika sambil mengelus kepala putranya.