Mr. Arrogant Vs Noisy Girl

Mr. Arrogant Vs Noisy Girl
BAB 45 Mengatur Strategi



Setelah menjalani pemeriksaan dan penjelasan dari dokter, Zidni semakin merasa sedih. Ia memilih menenangkan diri di taman. Frans tentu saja selalu mendampinginya.


''Tuan, sebaiknya anda masuk. Ini sudah semakin larut.''


''Frans, apa ingatanku tidak akan kembali? Dan apakah ingatanku akan semakin memburuk?''


''Tuan harus semangat dan optimis. Mungkin ini efek karena Tuan terlalu memaksakannya dan efek pingsan terlalu lama. Jadi sebaiknya jika anda mengingat sesuatu, jangan paksakan. Sekarang apa anda sudah mengingat Nona Chika?''


''Iya, aku sudah ingat. Aku sudah ingat kejadian semalam. Aku mengakuinya sebagai tunanganku di hadapan Jasmine. Iya kan?''


''Iya anda benar. Syukurlah kalau anda sudah mengingatnya lagi.''


''Lalu dimana dia sekarang? Dan apa yang terjadi dengannya?''


''Kata dokter dalam alkohol itu dimasukkan obat tidur.''


''Apa? Obat tidur? Siapa yang melakukannya?''


''Saya tidak tahu, Tuan.'' Jawab Frans. Zidni kemudian beranjak dari duduknya untuk menyusul Chika ke kamar. Sementara Chika sedang membersihkan dirinya yang begitu berantakan dan masih mengenakan gaun semalam.


''Chika, bagaimana keadaanmu?'' tanya Zidni begitu sampai di dalam kamar pasien. Mendengar suara itu, Chika tentu saja sangat senang.


''Saya sudah baik, Tuan. Apa Tuan sudah mengingat saya?''


''Iya, aku sudah mengingatnya. Lalu luka di lenganmu?''


''Ah, ini juga sudah membaik. Ini luka kecil saja.''


''Siapa yang melakukannya?''


''Tidak ada. Saya saja yang kurang hati-hati.''


''Frans, sebaiknya kita kembali ke hotel saja. Aku juga sudah membaik dan besok pagi kita bertemu dengan Tuan Akihito di lapangan golf.''


''Sebaiknya anda istirahat, Tuan.'' Sahut Chika.


''Tidak apa-apa, aku sudah membaik. Aku akan semakin sakit kalau lama-lama disini.'' Ucap Zidni.


''Baiklah Tuan, saya akan membereskan semuanya.''


Begitu sampai di hotel, Chika pun segera mandi lalu tidur. Sementara Zidni sibuk membuat jurnal. Jurnal apa saja yang baru saja ia lakukan. Ia takut jika suatu saat ia akan melupakan sesuatu yang baru saja ia lakukan.


Keesokan harinya, Chika pun segera bersiap dengan pakaian golf yang di siapkan oleh Frans.


''Nona Chika, apa anda sudah siap?'' suara Frans sembari mengetuk pintu kamar Chika.


''Iya sekretaris Frans.'' Sahut Chika. Tak lama kemudian Chika keluar.


''Apa Tuan Zidni sudah bangun?''


''Tuan sudah menunggu di mobil.''


''Hah? Dia bahkan sudah bersiap.''


''Tuan, memang sangat disiplin masalah waktu.''


''Iya, anda benar. Dia amat sangat disiplin.'' Ucap Chika seraya memberikan senyum kecilnya.


''Bagaimana tidur anda Nona?''


''Sangat nyenyak. Setelah mengungkapkan pada anda, aku merasa lega.''


''Nona, jangan bicara terlalu formal kepadaku. Anda adalah Nyonya Zidni.''


''Sudahlah santai saja sekretaris Frans.''


Akhirnya mereka sampai juga di basement. Disana Zidni sudah menunggu.


''Lama sekali,'' protes Zidni.


''Maaf Tuan.'' Jawab Chika.


''Silahkan masuk Tuan.'' Ucap Frans seraya membukakan pintu mobil. Setelah itu Frans membukakan pintu untuk Chika. Zidni mengernyitkan dahinya melihat Frans membukakan pintu untuk Chika.


''Frans, untuk apa kamu membukakan pintu untuk dia?'' ketus Zidni.


''Nona Chika juga kan baru sehat, Tuan. Jadi apa salahnya saya membantunya.''


''Sudah berani menjawab saja.'' Ketus Zidni. Chika kemudian menepuk-nepuk pundak Frans seraya tersenyum. Memberi kode untuk lebih sadar menghadapi Zidni. Frans mengangguk dan tersenyum kearah Chika. Frans kemudian mulai melajukan mobilnya menuju lapangan golf.


Tiga puluh menit kemudian, mereka akhirnya sampai di tempat bermain golf. Zidni meminta Chika untuk membawa peralatan golf yang mana itu sama sekali tidak ringan.


''Nona, biar aku saja.'' Bisik Frans.


''Sudah, tidak apa-apa sekretaris Frans. Lebih baik anda temani Tuan Zidni.''


''Tapi Nona...''


''Sudah, aku tidak apa-apa.''


''Memakai pakaian golf seperti itu, membuatnya semakin tampan dan gagah. Dia memang serba bisa.'' Gumam Chika dalam hati.


''Nona, apa Nona haus? Mau aku belikan minuman?'' tanya Frans.


''Sekretaris Frans, jangan sungkan padaku. Anggap saja kita sedang berakting. Sungguh aku tidak keberatan.''


''Tapi Nona, aku merasa tidak enak setelah mengetahui kebenaran ini.''


Mengetahui Frans dan Chika tampak asyik mengobrol dari kejauhan, Zidni merasa kesal.


''Chika! Ambilkan handukku,'' teriak Zidni.


''Iya Tuan!" jawab Chika.


''Nona, biar aku saja.'' Kata Frans.


''Sekretaris Frans, ini perintah dari Tuan Zidni. Eh bukan, ini permintaan suamiku jadi aku harus melayaninya. Anggap saja aku sedang melayani suamiku.'' Ucap Chika dengan senyum menenangkan. Frans pun mengangguk dan berusaha mengerti Chika. Chika kemudian berlari memberikan handuk pada Zidni.


''Ini Tuan."


''Tolong lap keringatku.'' Pinta Zidni. Chika mengangguk. Ia kemudian menyeka bulir keringat di kening dan wajah Zidni dengan lembut dan penuh cinta. Zidni berusaha bersikap biasa dan tetap mengobrol dengan Tuan Akihito.


''Sudah tuan." Ucap Chika.


''Ambilkan aku minum, air mineral.''


''Baik Tuan.'' Chika kemudian berlari cukup jauh ke tempat Frans menunggu.


''Nona mau kemana lagi?''


''Suamiku haus sekretaris Frans.'' Ucap Chika dengan senyum lebarnya.


''Baiklah Nona.'' Ucap Frans. Chika kemudian kembali ke tempat Zidni bermain golf.


''Ini tuan.''


''Bukakan sekalian.'' Pintanya.


''Astaga, suamiku manja sekali.'' Gumam Chika dalam hati seraya membuka tutup air mineral itu.


''Ini Tuan, silahkan.'' Ucao Chika seraya memberikan air mineral itu pada Zidni. Zidni pun meminumnya sampai setengah botol.


''Jangan kemana-kemana, disini saja. Berjaga-jaga kalau aku butuh sesuatu.''


''Baik Tuan.'' Ucap Chika. Chika menurut saja dengan perintah Zidni.


''Itu sekretaris baru anda Tuan?'' tanya Tuan Akihito.


''Asisten baruku, Tuan.''


''Sudah menikah atau masih single? Aku ingin menjodohkannya dengan keponakanku yang seorang pilot.''


''Maaf Tuan tapi Nona Chika sudah menikah.'' Kata Zidni dengan nada sedikit kesal.


''Oh sayang sekali ya. Dia sangat cantik dan inner beautynya terpancar sekali. Tadinya aku pikir dia adalah tunangan anda.'' Gurau Tuan Akihito. Zidni hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Tuan Akihito. Chika mendengar dengan jelas obrolan keduanya karena keduanya berkomunikasi dalam bahasa Inggris.


''Dari ekspresi wajahnya, sepertinya Zidni cemburu. Apa aku harus sering membuatnya cemburu ya untuk memancing perasaannya?'' gumam Chika dalam hati. Setelah selesai bermain golf, mereka lanjut dengan break time sembari menikmati wanginya aroma kopi dan cake sembari membicarakan pekerjaan hingga waktu makan siang tiba. Akhirnya jadwal menemui Tuan Akihito hari itu selesai. Tuan Akihito pun pamit terlebih dahulu.


''Frans, nanti malam ada jadwal apalagi?''


''Nanti malam free, Tuan. Anda bebas ingin melakukan apa saja.'' Ucap Frans.


''Oke baiklah.'' Singkat Zidni.


''Oh ya Nona Chika, bagaimana kalau nanti malam kita jalan-jalan? Nona juga belum sempat berkelilig Jepang kan?'' tanya Frans pada Chika.


''Ide bagus sekretaris Frans. Apalagi ini pertama kalinya aku pergi ke Jepang.'' Ucap Chika dengan begitu antusias.


''Baiklah bagaimana kalau nanti malam kita ke Roppongi Hills. Kita dapat menikmati pemandangan kota Tokyo  dari lantai 52 dan itu sangat luar biasa. Anda juga dapat makan sambil bersantai di kafe dan restoran yang ada dilantai itu. Dari "Sky Deck" di atap, Anda dapat melihat langit penuh bintang dari ketinggian 270 meter di atas permukaan air laut. Anda pasti menyukainya Nona.'' Cerita Frans penuh dengan antusias.


''Baiklah, aku mau.'' Jawab Chika dengan semangat.


''Frans, jangan berkencan dengan istri orang. Sebaiknya kita kembali ke hotel. Aku tidak akan mengijinkan kalian pergi hanya berdua saja. Karena bisa menimbulkan fitnah.'' Sahut Zidni dengan nada ketusnya. Zidni kemudian beranjak dari duduknya dan berlalu begitu saja. Sementara Chika dan Frans tertawa cekikian melihat ekspresi kesal Zidni. Karena sebenarnya itu adalah rencana mereka berdua.


''Terima kasih sekretaris Frans, sudah membantuku.''


''Sama-sama Nona. Aku akan menjebak Tuan untuk makan malam romantis dengan Anda. Sepertinya si Tuan arrogant sudah jatuh cinta dengan si noisy girl.'' Ucap Frans terkekeh.


''Sepertinya itu lebih baik, sekretaris Frans. Daripada dia memaksa ingat dan dampaknya buruk untuk kesehatannya.''


''Iya Nona. Aku, eh saya! Saya akan menuruti perintah anda. Maaf ya Nona belum terbiasa.''


''Sekretaris Frans, aku sudah mengingatkan berkali-kali untuk bisa saja denganku. Sebaiknya kita susul Tuan Zidni, sebelum dia marah.''


''Baik Nona.''


Bersambung.... Yukkkk like, komen dan votenya ya, makasih 🙏😘