
''Kali ini dia perlu di berikan pelajaran. Supaya dia hormat denganku. Perusahaan punya aturan tapi dia malah melanggarnya.'' Gerutu Zidni.
Di Rumah Sakit...
''Jadi bagaimana dokter?''
"Dari hasil pemeriksaan tidak ada yang serius, Nyonya. Kami bahkan memeriksa berkali-kali dan hasilnya sama. Putra anda sehat, bahkan tidak ada gejala-gejala penyakit yang lainnya.'' Ungkap dokter.
"Syukurlah dokter. Tapi demamnya kenapa belum turun ya dok? Dan dia juga belum sadar?"
"Jika di lihat dari sisi psikis, apakah putra anda punya trauma atau mungkin masalah di sekolah dengan teman sebayanya? Karena itu juga bisa mempengaruhi mental anak.''
''Kalau di sekolah, sepertinya dia baik-baik saja dokter.''
''Baiklah, kita tunggu sampai nanti malam Nyonya. Jika demamnya masih belum turun, kita akan melakukan pemeriksaan ulang.''
''Iya dokter. Lakukan yang terbaik untuk anak saya, dokter.''
''Pasti Nyonya.''
''Baiklah, saya permisi dokter.''
''Iya silahkan.''
Chika kemudian pergi meninggalkan ruangan dokter. Rupanya Romi menunggu Chika di depan ruangan dokter.
''Bagaimana Chika?'' tanya Romi dengan penuh rasa khawatir.
''Kenzie baik-baik saja kok Rom.'' Ucap Chika dengan wajah sendunya.
''Syukurlah, aku senang sekali mendengarnya Chik. Semoga Kenzie segera pulih.''
''Terima kasih ya, Rom.''
''Iya sama-sama. Ya sudah, kamu sebaiknya kembali ke kamar Kenzie, aku akan membelikan makan siang untukmu.'' Ucap Romi. Chika hanya mengangguk seraya berjalan menuju kamar Kenzie.
''Papa.'' Lirih Kenzie mengigau memanggil Papanya. Mendengar suara itu, Chika menghampiri putranya.
''Sayang, Mama disini nak.'' Ucap Chika sambil membelai kepala putranya.
''Papa,'' Kenzie mengigau lagi memanggil Papanya. Sungguh, hati Chika sangat hancur mendengar Kenzie mengigau memanggil Papanya.
''Kenzie, kamu harus sembuh ya nak. Kalau kamu sembuh, Mama janji akan mempertemukan kamu dengan Papa.'' Ucap Chika dengan bulir air mata yang sudah membasahi pipinya. Kenzie dengan mata yang masih terpejam, seolah mendengar ucapan Chika dan berhenti memanggil Papa. Chika lalu mengecup kening putranya.
''Maafkan Mama, Nak. Mama bingung, harus mengatakan apa. Apakah kamu sudah mengerti jika Mama menjelaskan semuanya? Tapi Mama juga tidak tahu harus berbohong seperti apalagi untuk menutupi semuanya.'' Gumam Chika dalam hati.
Sepuluh menit kemudian, Romi akhirnya kembali.
''Chika, sebaiknya kamu makan dulu ya. Aku beli gado-gado di depan rumah sakit untukmu. Maaf ya cuma ini, aku tidak bisa kalau harus lama-lama meninggalkan kalian.''
''Iya tidak apa-apa, terima kasih ya Rom. Oh ya Rom, aku mohon jangan katakan apapun pada orang tua aku ya.''
''Ma-maaf Chika tapi aku sudah menelepon kedua orang tua kamu dan sekarang mereka sudah dalam perjalanan menuju ke rumah sakit. Kamu tidak bisa melewati keadaan ini sendirian Chika. Sekali lagi maaf atas kelancanganku.''
''Ya sudah tidak apa-apa. Aku hanya tidak mau merepotkan Ayah dan Ibu saja, Rom.''
''Kamu sebaiknya makan dulu, Chik. Kamu membutuhkan banyak energi untuk merawat Kenzie.''
''Iya Rom.'' Ucap Chika. Dan tiba-tiba ponsel Romi berdering ada panggilan dari Ayahnya.
''Sebentar ya Chika, Ayah meneleponku.'' Ucapnya seraya berjalan keluar ruangan. Chika hanya mengangguk. Chika kemudian memaksa makanan yang di belikan oleh Romi. Tentu saja makanan itu enak namun karena suasana hati dan pikirannya menjadi tidak tentu, membuat makanan itu terasa hambar. Demi mengganjal perutnya, Chika hanya memakan beberapa suap saja. Dan tak lama kemudian Romi masuk kembali.
''Chika, sepertinya aku harus pulang.''
''Ada apa Rom?''
''Kata Ayah, Ibuku sedang tidak enak badan dan dia mencariku.''
''Memang kamu tidak pamit?''
''Ya sudah kamu balik saja, Rom. Salam untuk Ibu kamu ya supaya lekas sehat.''
''Iya Chika. Maafkan aku ya harus meninggalkan kamu. Kalau Ibu sudah enakan, aku akan kembali lagi.''
''Iya Rom, tenang saja. Lebih baik pikirkan kesehatan Ibumu. Kamu hati-hati ya.''
''Ya sudah Chik, aku pergi dulu ya. Kalau ada apa-apa segera hubungi aku, jangan sungkan.''
''Iya Romi.''
''Ayo aku antar ke depan.'' Ucap Chika seraya menyudahi makannya. Chika hanya bisa menghela melihat kepergian Romi. Karena ia tahu pasti ini hanya alasan saja supaya Romi tidak berlama-lama dengannya.
Sementara itu, Zidni dan Frans baru saja tiba di rumah sakit. Mereka langsung menuju ruangan tempat Kenzie di rawat. Saat masuk keruangan, ruangan tampak lengang, Kenzie terbaring sendirian disana.
''Tuan, putra Nona Chika benar-benar sakit kan? Anda masih tega mau memarahinya?'' kata Frans dengan suara tergagapnya. Frans berusaha menenangkan Tuannya supaya tidak dengan mudah marah-marah kepada seseorang.
''Kamu diam saja Frans! Dimana si berisik itu?'' ketusnya. Frans kemudian mendekat kearah Kenzie yang masih terbaring. Ia memperhatikan wajah Kenzie dengan seksama lalu membandingkannya dengan wajah Zidni.
''Hmmm kok sama? Kenapa wajah Tuan Zidni dan putra Nona Chika mirip? Aku melihat wajah putra Nona Chika mirip dengan wajah Tuan Zidni saat masih kecil. Kok bisa mirip ya? Padahal mereka tidak ada hubungan darah,'' gumam Frans dalam hati. Merasa di perhatikan oleh Frans, Zidni menatap kesal kearah Frans.
''Kenapa kamu melihatku seperti itu?'' tanya Zidni dengan nada ketus.
''An-anu Tuan, begini, kenapa wajahnya mirip Tuan ya?''
''Wajah siapa?''
''Wajah putra Nona Chika.'' Ucap Frans. Mendengar ucapan Frans, Zidni lalu berdiri lebih dekat di samping ranjang tempat Kenzie berbaring. Zidni menatap wajah lugu itu dengan seksama dan tiba-tiba membuat sesuatu terlintas dalam otaknya. Zidni berusaha menahan sakitnya untuk mencari apa yang tersembunyi di dalam memorinya namun ia gagal.
''Arrggghhh!" Zidni mengerang sambil memegangi kepalanya.
''Tu-tuan baik-baik saja?'' tanya Frans seraya memegangi tubuh Zidni.
''Iya, aku tidak apa-apa.'' Ucap Zidni lirih. Dan tiba-tiba Kenzie tersadar. Perlahan Kenzie membuka matanya.
''Papa,'' panggil Kenzie lirih begitu melihat Zidni di hadapannya. Zidni dan Frans sama-sama terkejut saat Kenzie memanggil Papa ke arah Zidni.
''Maaf, aku bukan Papamu. Aku ini atasan Mama mu di kantor.'' Ucap Zidni dengan penuh ketegasan. Kenzie kemudian meraih tangan Zidni. Zidni ingin menepis tangan kecil itu namun hatinya tidak kuasa. Zidni merasakan sentuhan itu merasuk dalam lubyk hatinya.
''Om, Mama bohong.'' Lirih Kenzie.
''Maksudmu?'' tanya Zidni dengan tatapan tidak mengerti.
''Papa ku sebenarnya sudah tidak ada. Sejak aku di lahirkan, aku sudah tidak memiliki Papa. Mama bohong dan merahasiakannya padaku. Aku mendengar sendiri Mama bicara dengan temannya.''
''Papa mu sudah tidak ada? Lalu siapa pria yang makan bersamamu di restoran, bukankah dia Papamu?''
''Bukan Om. Dia Om Romi, dia teman Mama.''
''Oh jadi cuma temannya. Syukurlah! Eh tapi kenapa aku merasa senang?'' gumam Zidni dalam hati.
''Lalu dimana Mama mu?'' tanya Zidni.
''Tidak tahu.'' Jawab Kenzie.
''Tuan, kita harus pergi. Setelah ini kita harus rapat intern bersama para investor.'' Bisik Frans. Zidni mengangguk. Ia kemudian melepaskan tangan Kenzie yang menggenggam erat tangannya. Namun Kenzie tidak mau.
''Kenzie, tolong lepaskan! Aku harus pergi.''
''Om tolong tinggal disini untuk sejenak saja. Wajah Om mirip sekali dengan Papa ku. Setidaknya biarkan aku melihat wajahnya lewat wajah Om. Dan tolong rahasiakan ucapanku tadi ya Om, jangan sampai Mama tahu.''
Zidni menghela. ''Frans, tunda sepuluh menit lagi meetingnya.'' Bisik Zidni. Mata Frans membulat, tentu saja ia tidak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh tuannya. Menunda rapat demi seorang anak bawahannya. Namun Frans juga hanya bisa menurut.
''Ba-baik Tuan.''
Bersambung.... Haiiii, author kembali, hehehe. Terima kasih sudah menunggu ya. Minal Aidzin Walfaidzin buat kalian semua ya, mohon maaf lahir dan batin 🙏❤️🎉