Mr. Arrogant Vs Noisy Girl

Mr. Arrogant Vs Noisy Girl
BAB 46 Dinner



''Nona, apa sudah siap?'' tanya Frans sembari mengetuk pintu kamar Chika.


''Lima menit lagi!" sahut Chika dari dalam.


''Baik Nona!" sahut Frans dari luar. Frans dengan sabar menunggu Chika di depan pintu namun tak lama kemudian justru Zidni yang keluar dari kamarnya.


''Frans, sedang apa kamu disini?'' tanya Zidni saat melihat Frans berdiri di depan kamar Chika.


''Sedang menunggu Nona Chika, Tuan. Anda sendiri mau kemana sudah serapi ini?'' Frans berbalik tanya.


''Tentu saja mau pergi ke tempat yang sama denganmu. Ingat ya, Chika itu sudah bersuami. Aku harus mengawasimu. Memang apa salahnya kalau pergi bertiga? Aku disini bos kalian jadi aku juga harus tanggung jawab. Aku juga ingin mencari inspirasi ide bisnis disana.'' Tegas Zidni.


''Oh begitu, baik Tuan.'' Ucap Frans seraya menahan senyumnya. Akhirnya Chika keluar juga dari kamarnya.


''Maaf ya sekretaris Frans, sudah membuat anda menunggu lama.''


''Tidak apa-apa Nona. Anda cantik sekali malam ini. Dress warna marun yang sangat cocok untuk suasana malam ini. Jangan lupa mantelnya karena di luar sangat dingin.''


''Oh ya, sebentar aku akan mengambilnya. Aku lupa kalau ini Jepang.'' Ucap Chika. Chika masuk kembali mengambil mantel dan tak lama kemudian keluar. Chika bahkan pura-pura mengabaikan Zidni.


''Ayo sekretaris Frans!" ajak Chika.


''Ehem!" Zidni berdehen karena kehadirannya sama sekali tidak dianggap.


''Oh ada Tuan Zidni juga. Tuan juga sedang ingin berkencan? Kenapa rapi sekali?''


''Kencan? Bukankah kalian yang akan berkencan.'' Sindir Zidni. Mendengar ucapan Zidni, Chika pun tertawa.


''Hahahahaha! Kencan? Ihhh mau tahu saja.'' Goda Chika. Chika kemudian menggandeng lengan Frans dan berlalu melewati Zidni. Zidni mengeratkan rahangnya kesal.


''Nona, apa ini tidak berlebihan?'' bisik Frans.


''Sudah tidak apa-apa. Abaikan saja dia.'' Ucap Chika.


''Kurang ajar sekali mereka. Apa Frans sudah tahu kalau Chika itu single parent? Makanya Frans mau mendekatinya. Atau wanita berisik itu sengaja menggoda Frans karena dia kesepian?'' gumam Zidni dalam hati dengan segala prasangkanya. Begitu sampai di tempat parkir, Zidni langsung duduk di bangku belakang. Sementara Frans dan Chika langsung duduk di bangku depan.


''Lho, Tuan Zidni kenapa disini?'' tanya Chika.


''Tuan Zidni ingin ikut. Katanya ingin mencari ide bisnis baru disana. Mungkin Tuan ada rencana membuat menara eifel ke dua.'' Seloroh Frans.


''Idemu bagus juga Frans.'' Sahut Zidni. Chika dan Zidni saling melempar pandangan seraya menahan senyumnya. Frans kemudian melajukan mobilnya.


Sesampainya disana, mereka segera menuju lantai 52. Disana Frans sudah menyiapkan makan malam yang begitu romantis. Bukan untuk dirinya dan Chika tapi untuk Zidni dan Chika. Begitu sampai di gedung itu, Zidni di buat terkejut karena sudah ada meja untuk makan malam romantis.


''Silahkan Nona.'' Ucap Frans seraya menarik kursi untuk Chika.


''Terima kasih sekretaris Frans. Apa ini anda yang menyiapkan?''


''Iya Nona, tentu saja.'' Ucap Frans. Zidni masih berdiri di hadapan mereka yang sudah duduk. Zidni bergantian menatap Chika dan Frans.


''Sebenarnya ada hubungan apa kalian ini?'' selidik Zidni.


''Hubungan apa Tuan? Kami hanya berteman saja.'' Kata Frans.


''Tuan, sebaiknya anda mencari meja yang lain karena sekretaris Frans sudah menyiapkan meja ini untuk kami.'' Ucap Chika dengan senyum penuh arti. Zidni mendecih, ia kemudian mencari meja lain yang tidak jauh dari meja Chika.


''Nona, aku tidak tega dengan Tuan. Sepertinya Tuan benar-benar kesal.'' Ucap Zidni pelan.


''Biarkan saja dia seperti itu sekretaris Frans. Kita tunggu kemarahannya di puncak ubun-ubun.'' Ucap Chika seraya tertawa. Zidni yang kesal mengirim pesan pada mereka berdua.


Ingat ya, sudah ada aturan di larang berkencan dengan teman sekantor kalau tidak ingin di pecat!


Chika dan Frans ingin sekali tertawa mendapat pesan yang sama dari Zidni. Zidni kemudian mengirim pesan lagi khusus untuk Chika.


Ingat anak dan suami mu Chika. Mungkin Frans lebih muda tapi jadilah istri dan ibu yang setia untuk keluargamu.


Chika menggelengkan kepalanya mendapat pesan dari Zidni.


"Kamu lucu sekali kalau cemburu. Sampai detik ini aku masih setia menunggumu." Gumam Chika dalam hati.


"Iya sekretaris Frans." Ucap Chika. Frans kemudian beranjak dari duduknya dan mendekat ke meja Zidni.


"Tuan, bisakah anda menemani Nona Chika?"


"Maksudmu?" Zidni mengernyitkan dahinya.


"Mmmm tiba-tiba perut saya mulas sekali. Sedangkan makanan dan tempat sudah saya pesan. Kasihan Nona Chika, Tuan. Dia ingin sekali jalan-jalan." Ucap Frans sambil memegangi perutnya.


Zidni menghela. "Ya sudah, pergi sana! Aku akan menemaninya. Ini semua karena dirimu ya bukan karena yang lain."


"Iya Tuan, tolong. Saya tidak mau mengecewakannya. Anggap saja ini hadiah karena kerja kerasnya."


"Baiklah." Jawab Zidni.


"Kalau begitu saya kembali ke hotel dulu. Ini kunci mobilnya. Tuan hati-hati ya pulangnya."


"Iya-iya." Ucap Zidni dengan ekspresi jual mahalnya padahal dalam hatinya ia merasa sangat senang. Setelah Frans pergi, Zidni mendekat ke meja Chika.


"Sekretaris Frans dimana Tuan?"


"Dia kembali ke hotel. Perutnya sakit dan dia memaksaku untuk menemanimu." Ucapnya dengan gaya juteknya.


"Oh begitu. Terima kasih sudah menemani saya. Ini pengalaman saya jalan-jalan keluar negeri."


"Sebenarnya ada hubungan apa antara kamu dan Frans?"


"Kami hanya teman dan rekan kerja saja Tuan, tidak lebih dari itu. Memangnya kenapa Tuan? Tuan sendiri dimana pasangannya? Untuk apa ada cincin melingkar di jari manis anda tapi pasangannya tidak ada?"


"Kamu bertanya atau menginterogasiku?" tanya Zidni.


"Keduanya juga boleh. Sebaiknya kita makan saja dulu Tuan, perut saya sudah lapar." Ucap Chika saat pelayan datang mengantarkan makanan ke mejanya.


"Biasanya disini ramai kenapa sepi begini?" gumam Zidni dalam hati.


"Apa Frans berencana mengutarakan perasaannya pada Chika? Namun gagal? Ah, untuk apa aku pusing-pusing memikirkannya. Zidni, sebenarnya apa yang ada di kepalamu? Kamu melakukan hal yang sangat aneh." Gumamnya dalam hati. Suasana makan malam tampak hening karena hanya ada mereka berdua. Kemudian alunan musik romantis muali dimainkan. Zidni pun merasa terkejut dengan situasi itu karena pencahayaan mulai meredup. Hanya terfokus pencahayaan di mejanya saja.


"Wah, fix! Frans benar-benar bertindak terlalu jauh." Gumam Zidni dalam hati dengan segala prasangkanya. Chika memilih cuek dan fokus pada hidangan di hadapannya.


"Hmmmm ini enak sekali." Ucap Chika.


"Sebenarnya ini bukan makan malam biasa." Ucap Zidni mengalihkan ucapan Chika.


"Maksud Tuan?"


"Ya ini seperti candle light dinner sepasang kekasih. Bukan makan malam biasa layaknya seorang teman atau rekan kerja."


"Saya juga tidak tahu apa maksud sekretaris Frans. Saya diajak, tentu saja mau Tuan. Tapi biarlah, kita nikmati saja makanannya dan suasananya. Oh ya, Tuan belum menjawab pertanyaan saya."


"Pertanyaan yang mana?"


"Yang tadi. Pasangan Tuan mana? Kalau memang masih ada pasangan kenapa anda harus membuat saya terjebak dengan situasi seperti kemarin?"


"Aku minta maaf jika itu mengganggumu. Aku malas saja jika di paksa di jodohkan atau di dekatkan karena sebuah bisnis. Aku sebenarnya mencintai seorang wanita tapi dia sudah pergi untuk selamanya. Kisah cinta yang sangat tragis."


"Kenapa ands tidak berusaha membuka hati untuk wanita lain Tuan? Tentu saja banyak wanita yang ingin mendekati anda."


"Aku bukanlah tipe seorang pria yang mudah jatuh cinta. Apalagi mencari sosok yang seperti dia sangatlah sulit."


"Kenapa harus seperti dia Tuan? Sedangkan manusia di ciptakan memiliki sifat, watak dan karakter yang berbeda. Dan tentu saja tidak akan ada yang sama."


"Menurutmu, apa itu cinta?"


"Cinta bagiku sebuah perasaan dan anugerah terindah dari Tuhan. Tapi untuk mencintai seseorang kita tidak butuh alasan Tuan. Cinta yang tulus adalah cinta yang datang dari hati tanpa sebuah alasan. Yang pasti, cinta itu saling melengkapi kekurangan untuk menyempurnakan. Bukan mencari siapa yang paling sempurna. Karena kesempurnaan hanya milik Tuhan." Ucap Chika sembari menatap dalam manik mata Zidni. Zidni merasa terbius oleh tatapan dan apa yang Chika ucapkan. Keduanya saling diam dan saling menatap satu sama lain.


"Aku sangat merindukan tatapan matamu ini suamiku." Gumam Chika dalam hati.


"Tatapan mata ini seperti tidak asing. Tapi itu bukan tatapan mata Amora. Tatapan mata yang membuat hatiku bergetar kembali." Gumam Zidni dalam hati.