Mr. Arrogant Vs Noisy Girl

Mr. Arrogant Vs Noisy Girl
BAB 96 Fakta Baru



Alvin diam-diam mencoba mengikuti langkah Bella yang berjalan ke arah pintu keluar. Namun langkah Alvin terhenti saat melihat banyak pengawal yang menjaga Bella.


"Ternyata sejak kabur semalam, Bella benar-benar dibuat tidak bisa bergerak oleh Edward. Ayah macam apa itu." Gumam Alvin dalam hati.


"Eh, jangan pikirkan masalah lain dulu. Aku harus kembali pada misi awal tapi aku penasaran dengan sosok Austin." Ucapnya lagi. Namun setelah Bella menghilang dari pandangannya, Alvin memutuskan untuk kembali ke pantry.


"Eh, kamu anak baru ya?" tanya Zaki, teman baru Alvin yang juga seorang OB.


"Iya, Bang. Aku Tio." Alvin mengulurkan tangannya pada Zaki. Ya, Alvin menggunakan nama samaran Tio untuk memuluskan rencana penyelidikannya.


"Aku, Zaki. Panggil nama saja supaya kita lebih akrab."


"Oke baiklah, Zaki. Kamu sudah lama bekerja disini?"


"Sudah sekitar dua tahun. Oh ya, berhubung sudah ada kamu disini, setiap jam 11 buatkan Tuan Edward teh chamomile dan antar keruangannya. Sekarang tugas itu menjadi tugasmu. Dan setiap pagi saat kamu baru datang, kamu harus membersihkan ruangannya." Jelas Zaki yang yang memberitahu tugas wajib Alvin.


"Siap, Zak. Aku akan melakukan yang terbaik." Jawab Alvin penuh dengan semangat. Tentu saja ini menjadi kesempatan emas untuk Alvin.


"Kalau begitu aku keluar dulu, ada tugas untuk mengambil karangan bunga."


"Karangan bunga untuk apa?" tanya Alvin penasaran.


"Karangan bunga untuk rekan bisnis Tuan Edward. Sealin mengambil, aku diutus untuk mengantarnya."


"Oh begitu, ya sudah hati-hati, Zak."


"Oke. Semoga betah disini. Oh ya lupa, teh-nya tanpa gula ya."


"Siap!"


Zaki pun lantas pergi. Alvin sangat puas mendapat mendapat tugas dari Zaki. Sebuah tugas yang memudahkan misinya.


Jam telah menunjukkan pukul 11.00. Secangkir teh chamomile sudah siap di antar keruangan Tuan Edward. Alvin merapikan kembali rambut klimis dan kumis palsunya. Memastikan semuanya aman. Setelah semua aman, Alvin bergegas menuju ruangan Tuan Edward yang ada di lantai 7. Pucuk dicinta ulampun tiba, begitulah peribahasa yang pantas untuk Alvin saat ini. Ya, Tuan Rodrigo sedang berada diruangan Tuan Edward.


"Aku puas sekali Rodrigo dengan penjualan kita ini." Ucap Tuan Edward dengan senyum lebarnya.


"Apalagi aku, Edward." Sahut Tuan Rodrigo dengan tawa lebarnya.


"Permisi, Tuan." Sela Alvin sambil membawa nampan berisi secangkir teh.


"Oh, silahkan masuk. Letakkan disini saja." Pinta Taun Edward.


"Baik Tuan. Silahkan." Ucap Alvin seraya menyodorkan secangkir teh chamomile dihadapan Tuan Edward.


"Tolong buatkan satu juga untukku," sahut Tuan Rodrigo.


"Baik, Tuan. Manis atau sedang?"


"Yang sedang saja."


"Baik Tuan. Kalau begitu tunggu sebentar."


"Ya-ya, cepat buatkan." Ucap Tuan Rodrigo. Alvin kemudian berlalu dan dengan semangat untuk memenuhi permintaan Tuan Rodrigo.


"Edward, bisnis denganku, kamu tidak akan pernah merugi. Biji kopi milikmu memang sangat berkualitas tapi kita berhasil mengoplosnya. Keputusanmu sudah benar berhenti kerja sama dengan manusia angkuh dan sok seperti Zidni."


"Hahahaha... iya kamu benar. Dia ternyata sangat bodoh. Aku sendiri saat itu sengaja mengarang cerita supaya dengan mudah melepaskan diri darinya. Mengingat dia itu sangat pemarah jadi sangat mudah untuk memancing amarahnya. Dan diam-diam aku berhasil mengelabuhinya. Ditambah serbuk ajaibmu itu mampu membuat kopiku terjual dengan keras. Aku berhasil mendapat keuntungan dua kali lipat dengan hanya menggunakan 20% biji kopi pilihan, sisanya biji kopi yang tinggal masuk sampah. Dan sentuhan terakhir, serbuk ajaibmu itu."


"Tentu saja, Edward. Kamu lihat saja bisnisku sampai ke mancanegara karena mereka menyukai serbuk ajaib itu. Aku bisa meraup keuntungan menyentuh milyaran. Manusia seperti kita ini, harus cerdik dan licik. Buktinya aku sampai sekarang aman-aman saja. Tidak ada yang bisa mengendus bisnisku ini. Tidak usah bekerja sama dengan orang sok suci seperti dia."


"Iya, kamu benar. Untung saja aku sudah lepas dari manusia pemarah itu."


"Lalu, mata-mata yang kamu kirim bagaimana?"


"Mereka sudah aku suruh pergi karena mereka sudah tahu semuanya. Zidni sangat marah sekali dan proses produksinya berhenti. Aku sangat puas berhasil membuatnya merugi." Ucap Tuan Rodrigo sambil menyesap tehnya.


"Permisi, Tuan!" suara Alvin seraya membuka pintu.


"Silahkan, Tuan." Ucap ALvin.


"Iya, terima kasih."


"Saya permisi, Tuan." Pamit Alvin seraya berlalu. Tuan Edward hanya mengangguk sambil mengibaskan tangannya, tanda menyuruh Alvin pergi.


"Oh ya, itu OB baru?" tanya Tuan Rodrigo.


"Sepertinya iya. Aku tidak terlalu peduli dengan kaum rendahan seperti mereka, Rodrigo."


"Apa yang kamu katakan benar juga. Aku hanya terbiasa dengan wajah OB-mu yang lama."


"Daripada membahas OB, kita bahas anak-anak kita saja. Aku ingin meminta maaf kepadamu, Rodrigo. Bella sudah kembali dan sekarang dia sedang menemui Austin."


"Apa alasan Bella seperti itu?"


"Biasalah anak muda. Rupanya mereka sedang bertengkar dan terjadi kesalahpahaman saja. Makanya Bella datang untuk menemui Austin."


"Sebaiknya kita percepat saja pernikahan mereka. Kita tidak usah mengadakan acara pertunangan segala, terlalu lama, Edward."


"Apa yang kita pikirkan sama. Aku setuju denganmu. Lalu, kapan waktu yang tepat?"


"Bagaimana kalau bulan depan?"


"Aku setuju, Rodrigo. Kita bicara pada anak-anak nanti."


"Baiklah, aku setuju." Ucap Rodrigo dengan senyum penuh arti.



"Bella, aku mohon beri aku kesempatan. Aku janji tidak akan mengulangi hal itu lagi." Austin memohon sambil menggenggam tangan Bella.


"Aku tidak mau melanjutkan hubungan kita lagi. Lebih baik pergi saja dengan para wanitamu."


"Aku khilaf, Bel. Aku dijebak oleh mereka. Mereka hanya menginginkan uangku saja."


"Yakin hanya dijebak? Tiga wanita sekaligus di atas ranjang, Austin. Kamu pikir aku buta apa? Kalau dijebak, kenapa harus berada dirumahmu? Apa karena kamu mengira kalau aku masih berada di luar negeri, iya? Padahal saat itu aku pulang hanya untuk kamu, Austin. Memang kita hanya cocok menjadi teman saja." Ucap Bella dengan penuh penekanan.


"Bella, berikan aku kesempatan sekali lagi. Bel, kamu tahu kan kalau selama ini aku tidak pernah berkencan dengan wanita manapun selain kamu."


"Itu yang tidak ketahuan. Siapa tahu kamu memang brengsek seperti itu." Ucap Bella dengan senyum sinisnya.


"Bel, aku sungguh dijebak oleh rekan bisnisku. Makanya saat itu aku tidak bisa mengejarmu karena aku seperti orang yang dibuat hilang kesadaran. Memang itu cara mereka, Bel. Mereka sengaja merusak nama baikku karena aku menolak kerja sama kotor dengan mereka. Mereka berhasil dan aku merugi." Cerita Austin dengan tatapan memelas. Berusaha meyakinkan Bella.


"Sudahlah, aku pergi saja! Pembual tetap saja pembual." Bella kemudian beranjak dari duduknya dan hendak pergi meninggalkan Austin. Namun Austin menahannya dengan memegang pergelangan tangan Bella.


"Bella, kalau kamu tidak percaya, lebih baik aku mati saja."


"Mati saja kalau mau." Ucap Bella tanpa mau meandang wajah Austin.


Austin menghela. "Baiklah, tepat di depan mata kamu, aku akan bunuh diri." Austin kemudian keluar dari restoran dan dengan nekat bersiap berdiri di tengah jalan. Bella yang melihat itu, menyusul keluar.


"Austin, jangan bodoh!" teriak Bella.


"Biarkan saja aku mati." ucap Austin. Austin tidak peduli dengan umpatan para pengendara yang berlalu lalang. Suara klakson yang bergantian pun tidak Austin hiraukan demi mendapat kesempatan kedua dari Bella. Bella berlari kecil ke bibir jalan.


"Austin, hentikan!"


"Berikan aku kesempatan, Bel. Aku janji akan memperbaiki dan memberikan semua bukti padamu."


"I-iya." Bella dengan berat hati mengiyakan permintaan Austin. Austin tersenyum lega dan segera ia kembali ke tepi jalanan tanpa mempedulikan sekitarnya. BRUK! Sebuah motor yang melaju cukup kencang akhirnya  menabrak Austin.


"Austin!" Teriak histeris Bella melihat Austin tergeletak tak berdaya dijalanan. Para pengawal Austin yang melihat sang bos terkapar dijalanan, segera menolong Austin dan bergegas membawa Austin ke rumah sakit.


#Bersambung... Jangan lupa ya, komentar, like dan votenya terus giftnya juga boleh, biar author makin semangat, hehehehe, terima kasih