
"Papa serius? Atau ini hanya jebakan saja. Sangat aneh kalau Papa tiba-tiba memutuskan ini. Apa Austin dan Om Rodrigo tahu?"
"Tidak. Papa belum menemui mereka. Kamu temui saja dulu Austin. Biar Om Rodrigo menjadi urusan Papa."
"Tapi, ada apa Pah? Pasti Papa punya alasan kuat untuk melakukan semua ini. Bella tahu Papa jadi mustahil Papa membuat keputusan tiba-tiba."
"Bella, hari ini kebenaran menyadarkan Papa. Kalau mereka bukan orang baik. Yang jelas, kamu temui Austin, biar Om Rodrigo menjadi urusan Papa. Papa sayang kamu, Bella." Ucap Tuan Edward seraya mengecup kening putri semata wayangnya. Detik itu juga Bella merasakan sosok Ayah yang selama ini ia rindukan kembali. Bella lantas memeluk Tuan Edward.
"Terima kasih, Pah. Aku juga sayang, Papa."
"Ya sudah, kamu pergi temui Austin."
"Tapi Pah, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan."
"Apa Bella?"
"Kenapa Al tiba-tiba pergi? Aku mencoba menelponnya tapi tidak bisa. Apa Papa punya alamatnya?"
"Papa juga menyayangkan dia tiba-tiba mengundurkan diri. Dia bilang mengalami kecelakaan dan kakinya cedera. Jadi dia butuh waktu lama untuk pemulihan. Tapi kenapa kamu menanyakan alamatnya? Dan baru kali ini kamu begitu perhatian pada bodyguard yang Papa pekerjakan."
"Mmmm... Tidak apa-apa, Pah. Aku hanya merasa nyaman saja di kawal dia. Menurut Bella dia cerdas bukan sekedar mengandalkan otot."
"Kamu benar juga, Bel. Papa juga menyukainya tapi mau bagaimana lagi, kita tidak bisa memaksanya. Papa akan mengirimkan alamatnya lewat whatsapp ya. Sekarang kamu pergi temui Austin."
"Baiklah Pah kalau begitu. Bella pergi dulu."
"Hati-hati sayang." Ucap Tuan Edward seraya memeluk Bella.
...****************...
Bella kemudian menelpon Austin dan mengajak Austin bertemu di sebuah restoran. Hampir setengah jam Bella menunggu menunggu Austin disana.
"Hei, Bel. Kenapa tidak ke rumah? Maaf ya, aku membuatmu menunggu lama."
"Iya tidak apa-apa. Aku ingin kita ngobrol santai di luar."
"Iya, kamu benar. Dan ini tentang kita."
"Coba aku tebak. Mmmm... Pasti kamu ingin pernikahan kita dipercepat atau mungkin kamu ingin bulan madu keliling dunia?"
"Bukan, Austin! Aku ingin membatalkan pertunangan dan perjodohan ini." Ucap Bella tanpa mau berbasa-basi lagi.
"Apa? Membatalkan? Ini tidak bisa, Bella." Ucap Austin dengan suara meninggi. Kali ini harga diri Austin benar-benat merasa dilukai oleh Bella. Untuk kedua kalinya Bella membatalkan perjodohan ini. Namun kali ini ia harus sabar karena misinya belum berhasil mencapai hasil yang ia inginkan.
"Bella tapi alasannya apa? Apa aku melakukan kesalahan lagi? Aku sudah berubah, Bel."
"Iya Austin, aku tahu. Aku bisa melihat semua perubahanmu. Tapi ini soal hati. Aku tidak bisa! Dan, Papa juga juga sudah menyetujui semua ini. Papa menyerahkan semua keputusan padaku. Jadi, maafkan aku Austin." Bella kemudian beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan restoran. Austin tak tinggal diam, ia pun beranjak dan menyusul Bella.
"Tunggu Bella!" Austin berhasil menarik pergelangan tangan Bella.
"Lepaskan aku Austin!" pekik Bella.
"Kamu sungguh kurang ajar. Berkali-kali kamu menghancurkan harga diriku. Dasar wanita kurang ajar! Kesabaranku telah habis." Kali ini Austin tidak bisa lagi menahan amarahnya. PLAK! Ia melayangkan tamparan keras ke wajah Bella. Bella merasakan panas di wajahnya. Ia memegangi pipinya, lalu menatap Austin dengan tatapan nyalang.
"Ternyata ini wujud aslimu, Austin. Kamu memang pria brengsek!" ucap Bella dengan suara meninggi.
"Kalau aku brengsek kenapa? Aku akan membuktikan kalau aku ini brengsek." Austin kemudian menggendong Bella dan memasukkan Bella ke dalam mobilnya.
"Apa yang kamu lakukan Austin?" bentak Bella.
"Aku ini pria brengsek jadi kamu sudah tahu apa yang akan aku lakukan." Austin mengambil sebuah lakban untuk mengikat tangan dan menutup mulut Bella. Bella berusaha memberontak tapi kekuatannya tidak sebanding dengan kekuatan Austin.
"Mmmmmmmm... " hanya itu yang bisa Bella katakan dengan mulut yang terbungkam. Lantas, Austin kembali menampar Bella. Air mata Bella mengalir begitu saja.
"Al, aku membutuhkanmu. Kenapa kamu tiba-tiba pergi?" gumam Bella dalam hati sambil meratapi nasibnya yang setelah ini tak tahu bagaimana. Austin lalu mengambil sebuah sapu tangan di sakunya, kemudian ia membekap Bella dan akhirnya Bella pingsan tak sadarkan diri. Austin tertawa bahagia karena ia merasa menang.
"Kita akan bersenang-senang, sayang. Setelah itu kamu tidak akan bisa lepas dariku."