
Setelah selesai berkeliling, mereka bertiga kemudian menuju restoran untuk makan siang yang sudah terlewat. Namun disana tidak ada menu makanan yang di dukai oleh Chika. Lidahnya masih tetap konsisten dengan cita rasa lidah orang Indonesia. Diatas meja sudah tersaji sushi, sashimi, yakiniku, sukiyaki, karaage dan juga ramen.
''Karaage dan ramen ini pasti cocok di lidah anda Nona.'' Kata Frans.
''Sepertinya nasi uduk dan lalapan adalah makanan terenak,'' ucap Chika.
''Coba makan saja! Buat lidahmu seperti lidah orang kaya.'' Sahut Zidni.
''Memang bisa ya Tuan?'' tanya Chika.
''Bisalah! Coba saja makan-makanan orang kaya seperti ini.''
''Yang ada saya makin miskin Tuan. Apalagi harganya mahal.''
''Nona coba saja ramennya. Ini seperti mi instan biasa.'' Frans menyodorkan semangkok ramen pada Chika.
''Dan karaage ini juga dari ayam. Daging ayamnya ini di lumuri oleh tepung hampir mirip dengan ayam krispi. Nona tenang saja, ini semua halal kok. Dari daging sapi dan ayam saja.'' Jelas Frans.
''Terima kasih sekretaris Frans, sudah berusaha mencarikan menu makanan yang bisa saya makan. Anda memang sangat baik.'' Chika sengaja memuji Frans di hadapan Zidni. Zidni terlihat cuek dan tidak peduli tapi sebenarnya ia kesal melihat sikap Frans yang sok perhatian pada Chika.
''Oh ya Nona, ini garpu dan sendok jika anda kesulitan menggunakan sumpit. Bukannya maksud apa-apa tapi aku hanya niat membantu saja.''
''Oh anda memang sangat pengertian sekretaris Frans. Terima kasih sekali. Sampai detik ini saya selalu kesulitan makan menggunakan sumpit.''
''Sama-sama Nona. Senang bisa membantu Nona.''
''Ehem! Jangan banyak bicara dan makanlah. Sama sekali tidak menghargai diriku ya kalian ini!" protes Zidni.
''Ma-maaf Tuan. Saya hanya membantu Nona Chika. Karena semua hal ini pasti asing untuknya.''
''Sepeduli itu kamu dengannya? Ingat ya dia sudah punya suami.'' Marah Zidni.
''I-iya Tuan, saya mengerti. Justru kita harus menjaganya demi suaminya dan putranya. Disini Nona Chika tanggung jawab kita dan perusahaan.''
''Frans, kamu sudah berani membantahku? Sudah berani menceramahiku?'' suara Zidni semakin meninggi.
''Ma-maaf Tuan.'' Kata Frans sekali lagi. Frans hanya takut dan khawatir dengan prasangkanya pada Zidni.
''Kenapa aku menjadi kesal karena Frans perhatian pada Chika? Padahal aku juga tahu kalau Chika sebenarnya sudah tidak memiliki suami. Zidni, ada apa denganmu?'' gumamnya dalam hati.
''Kenapa anda marah Tuan? Sekretaris Frans hanya membantu saya saja.''
''Aku tidak marah! Sebaiknya coba saja wasabinya.'' Kata Zidni.
''Tentu saya akan mencobanya.''
''Nona, ini pedas jadi sebaiknya jangan banyak-banyak.'' Kata Frans.
''Tidak apa-apa sekretaris Frans. Saya sangat menyukai makanan pedas. Yang jelas wasabi ini lebih pedas dari ucapan Tuan Zidni.'' Ucap Chika seraya terkekeh.
''Memangnya kenapa kalau ucapanku pedas? Apa ada masalah?'' ketus Zidni.
''Tidak ada masalah kok Tuan.'' Jawab Chika dengan senyum lebarnya.
Hari sudah mulai sore, matahari mulai masuk ke peraduannya. Mereka bertiga segera kembali ke hotel.
''Tuan gala dinnernya nanti jam 8 malam.'' Ucap Frans mengingatkan Zidni sebelum Zidni masuk ke kamarnya.
''Dresscodenya apa?'' tanya Zidni.
''Saya tidak usah ikut kan Tuan? Saya tidak ada gaun warna itu dan saya juga tidak bawa.'' Ucap Chika.
Zidni menghela. ''Kamu tidak memberitahu dia Frans?''
''Ma-maaf Tuan, tidak. Saya pikir Nona Chika tidak ikut gala dinner.''
''Sudah aku katakan, bagi tugasmu dengan dia. Carikan gaun di butik terdekat serta penata rias. Bawa mereka ke hotel sekarang juga. Jangan sampai telat!" perintah Zidni.
''Baik Tuan!" Frans segera berlalu menjalankan perintah tuannya.
''Kemanapun aku pergi, kamu harus ikut! Karena kamu kata kunciku saat ini.'' Gumam Zidni dalam hati.
''Chika, kembali ke kamarmu dan segera bersih-bersih.''
''Iya Tuan. Mmmm sebaiknya saya tidak usah pergi Tuan. Kasihan sekretaris Frans.''
''Ini perintah jadi jangan menolaknya.'' Tegas Zidni seraya masuk ke dalam kamarnya. Chika mendengus kesal dengan sikap keras kepala Zidni. Ia kemudian pergi menuju kamarnya dan segera mandi.
''Apakah ini kesempatan untuk menunjukkan pesonaku pada Zidni? Arrghh, tapi dia tidak suka wanita genit. Sepertinya aku harus tetap menjadi Chika yang pernah dia kenal. Kenapa dia tidak ingat-ingag juga ya? Sampai kapan aku begini?'' gumamnya yang merasa frustasi.
''Ingat Chika, Kenzie menginginkan Papanya. Dan aku juga masih mencintainya. Baiklah, aku akan melakukan yang terbaik untuk membantunya. Meskipun saat ini aku menemaninya sebagai bawahan tapi bagiku, aku sedang menemani suamiku bekerja. Semangat Chika!'' Setelah selesai mandi, Chika menunggu di kamarnya. Menunggu Frans dan penata rias datang ke kamarnya.
Setelah empat puluh menit menunggu, Frans akhirnya datang. Bukan hanya dengan beberapa gaun dan penata rias tapi Zidni juga ikut bersama mereka.
''Sekarang coba semua gaun ini. Aku yang akan memilihnya.'' Perintah Zidni. Chika hanya bisa pasrah saat diminta mencoba satu persatu gaun itu. Sampai akhirnya Zidni menentukan pilihannya pada sebuah strip long dress glitter dengan bahu terbuka, yang memperlihatkan lekuk tubuh Chika. Tubuh yang indah seperti masih gadis saja. Zidni terbius sesaat saat Chika mengenakan dress itu, begitu juga dengan Frans.
''Fix yang ini saja.'' Kata Zidni.
''Pilihan anda sangat bagus, Tuan. Dress ini sangat cocok ditubuh istri anda.'' Ucap si pemilik butik. Chika dan Zidni dibuat terkejut dengan ucapan pemilik butik itu. Zidni tidak membantah, hanya mengernyitkan alisnya.
''Sebaiknya anda juga tunggu disini Tuan. Menunggu istri anda selesai kami rias.'' Sahut si penata rias.
''Tapi dia bukan is...,''
''Istri anda sangat cantik, Tuan. Tubuhnya bahkan sangat indah seperti masih gadis.'' Sahut si pemilik butik.
''Apalagi kalung anda ini, kalung anda sangat serasi dengan dress ini Nyonya. Pasti ini juga pemberian Tuan Zidni ya?'' kata si penata rias. Chika hanya bisa diam sambil memaksa senyumnya. Dan Chika pun mulai di make over. Rambut Chia dibuat kepang sanggul dengan akseoris di belakang sanggulnya dan penata rias menyisakan beberapa helai rambut depan di masing-masing sisi yang di curly. Tidak butuh make up yang mencolok untuk penampilan Chika malam itu. Karena dress yang di pakai Chika itu sudah sangat mewah. Sembari menunggu Chika berdandan di kamar, Zidni memilih menyibukkan diri untuk memerika pekerjaannya dengan Frans yang setia berdiri di sampingnya. Malam itu bukan hanya dress saja untuk Chika namun sepasang sepatu dan juga tas untuk pesta.
''Tuan ini aneh sekali. Untuk apa ya repot-repot melakukan ini semua pada Nona Chika. Apa Tuan sengaja bersikap manis pada Nona Chika, lalu Tuan mulai melakukan aksi kriminalnya?'' gumam Frans yang masih terbelit segala prasangkanya.
''Tuan, lihatlah istri anda.'' Ucap si penata rias dan si pemilik butik yang kompak membawa Chika pada Zindi. Dan Zidni di buat terpesona dengan penampilan Chika malam itu. Mata Zidni bahkan berhenti berkedip. Chika sangat senang melihat reaksi suaminya itu. Ingin sekali ia memeluk Zidni dan mengucapkan terima kasih.
''WOW! Nona Chika, anda sangat cantik.'' Puji Frans.
''Terima kasih sekretaris Frans.'' Ucap Chika malu-malu. Frans memperhatikan tuannya yang hanya bisa bengong tanpa berkedip.
''Apa niat buruk Tuan akan gugur karena terpesona kecantikan Nona Chika?'' ucap Frans dalam hati.
''Tuan, bisa kita berangkat sekarang?'' tanya Frans sambil menepuk pelan pundak tuannya.
''Sepertinya Tuan Zidni masih terpesona dengan kecantikan Nyonya Chika.'' Ucap si penata rias.
''EHEM!" Frans berdehem untuk menyadarkan Zidni. Zidni akhirnya tersadar dan kembali bersikap sok acuh.
''Kita berangkat sekarang!" ucapnya seraya beranjak dari sofa.
''Kenapa dia menjadi semakin cantik? Leher jenjangnya dan kalung itu sangat serasi. Dan dresscodenya juga kebetulan senada dengan permata kalungnya. Kalung itu seperti tidak asing.'' Ucapnya dalam hati.