
Ting! Pintu lift terbuka. Betapa terkejutnya Alvin siapa yang ia lihat begitu pintu lift terbuka.
“Bella!” Alvin berseru dalam hati. Alvin panik saat melihat Bella ada dihadapannya. Penampilan Bella kali ini
berbeda dari pertemuan awal sebelumnya. Yang pasti saat ini Bella tampak cantik dan anggun. Alvin berjalan menunduk seraya keluar dari lift. Sedangkan Bella masuk ke dalam lift tanpa memperhatikan Alvin yang saat itu menyamar jadi OB. Alvin mempercepat langkahnya menuju pantry.
“Pena kamera! Hampir saja lupa.” Gumam Alvin. Alvin bergegas menuju ruang loker untuk mengambil kamera pena yang masih ada di tasnya.
“Aku harus bisa mendapatkan bukti-bukti yang akurat. Satu minggu setidaknya cukup untuk mendapatkan bukti disini.” Ucapnya sambil meletakkan pen kamera disaku kemejanya. Setelah semua perlengkapan terpasang aman, Alvin mengambil tablet di ranselnya yang sudah terkoneksi dengan kamera dan penyadap suara yang sudah terpasang diruangan Tuan Edward. Alvin kemudian pergi menuju toilet untuk memastikan bahwa semuanya terkoneksi dengan aman dan lancar. Earphone Bluetooth pun sudah tersemat ditelinga Alvin.
“Akhirnya kamu datang juga, Bella. Kenapa kamu kabur semalam?” tanya Tuan Edward dengan tatapan kecewa pada putri semata wayangnya.
“Kenapa Papa mencariku dan menyuruh anak buah Papa menangkapku seperti seorang tawanan?” ucap Bella dengan tatapan penuh amarah.
“Bella, kamu tidak sadar dengan kesalahanmu? Kamu sudah kabur dan mempermalukan Papa di acara pertunanganmu dengan Austin. Bukankah kalian juga pacaran? Tuan Rodrigo marah besar.”
“Pah, Austin itu brengsek! Aku tidak mau dengannya. Dia tidak sebaik yang aku pikirkan.”
“Bella, jangan pikirkan itu. Terima saja pertunangan itu. Hubungan kamu dan Austin akan membuat perusahaan kita semakin maju dan semakin meroket.”
Bella mendecih, tidak menyangka jika Ayah kandungnya sendiri tega menjual perasaannya demi sebuah bisnis.
“Aku tidak mau, Pah! Tanpa mereka perusahaan kita akan baik-baik saja.”
“Bella!” Bentak Tuan Edward. Tuan Edward mencengkeram lengan Bella dengan sorot mata tajam.
“Sakit, Pah.” Rintih Bella sambil berusaha melepaskan cengkraman tangan sang Ayah.
“Kamu harus tahan rasa sakit ini, Bella. Papa melakukan ini untuk kebaikan kamu. Austin yang terbaik. Bibit, bebet dan bobotnya sudah jelas. Papa yakin dia akan berubah. Kamu sebaiknya datang dan temui Austin untuk meminta maaf. Lalu, kita langsung saja adakan acara pernikahan.” Mendengar ucapan Papanya, mata Bella berkaca-kaca. Bisa-bisanya demi bisnis dan uang, seorang Ayah mempertaruhkan kebahagiaan putri kandungnya.
“Pah, aku anak Papa atau bukan sih? Aku sudah satu minggu lalu mengakhiri hubunganku dengan Austin. Aku memergokinya bersama seorang wanita di hotel, Pah. Pah. Apa Papa rela anak Papa satu-satunya hidup bersama pria brengsek seperti Austin?” perlahan bulir air mata yang sedari tadi tertahan dipelupuk mata Bella akhirnya jatuh begitu saja.
“Pah, sekalipun Austin miskin, Bella tidak peduli, asalkan Austin bisa menjaga kesetiaannya. Tapi ternyata Austin
itu brengsek, Pah. Bukan hanya satu, Bella memergokinya bermain dengan tiga wanita sekaligus. Papa yakin, kalau pria seperti Austin bisa menjaga dan melindungi, Bella?”
Mendengar ucapan putrinya, Tuan Edward perlahan melepaskan cengkramannya lalu menyeka air mata yang membasahi wajah cantik putrinya.
“Itu pasti cerita yang sengaja kamu karang, Bella. Mana mungkin Austin seperti itu. Dia saja sangat sopan pada
Papa. Sebaiknya, kamu temui Austin sekarang. Ingat Bella, Tuan Rodrigo sudah banyak membantu Papa. Bisnis dan persahabatan kami sudah lama terjalin. Cobalah bicara dengan Austin. Seorang pria wajar melakukan hal seperti itu selagi belum menikah.” Tuan Edward memelankan suaranya, mencoba untuk bernegosiasi dengan putrinya.
“Papa tidak peduli! Yang jelas segera temui Austin. Austin juga marah dan kecewa. Kalau kamu mencintai Papa, turuti perintah Papa atau kita akan kehilangan semuanya. Ingat, anak buah Papa akan terus memantaumu selagi kamu tidak menuruti perintah Papa.” Tuan Edward mengeluarkan ultimatum untuk mengancam dan menekan Bella. Bella mengeratkan rahangnya menatap sang Ayah penuh dengan rasa benci. Bella kemudian pergi meninggalkan ruangan Papanya begitu saja.
Dan itulah suara pertama yang Alvin dengar dari kamera dan alat penyadap yang ia pasang di ruangan Tuan Edward.
“Jadi, Bella adalah putri kandung Tuan Edward. Dan dia kabur karena masalah ini? Kasihan juga dia.” Gumam Alvin setelah melihat semua kejadian dan mendengar apa yang ia lihat dilayar tabletnya.
“Oke baiklah Alvin, jangan pikirkan masalah Bella. Sekarang, target penyelidikanmu bertambah. Ada nama Austin dan Rodrigo dalam list penyelidikanmu. Pasti Edward bekerja sama dengan mereka. Sebaiknya aku simpan dua nama itu. Aku yakin mereka pasti akan bertemu.” Gumam Alvin yang masih tenang didalam toilet.
BRAKKK! Alvin dibuat terkejut saat ada seseorang yang menutup pintu toilet dengan kasar. Alvin yang kesal hendak menghampirinya namun ia tiba-tiba mendengar suara seorang wanita yang tengah menangis. Hiks… hiks… hiks… hiks.
“Ini manusia atau kuntilanak ya?” gumamnya dalam hati. Untuk memastikan keadaan, Alvin memilih tetap berada di dalam bilik toilet.
“Papa benar-benar keterlaluan. Sama sekali tidak memikirkan perasaanku.” Isak tangis Bella di dalam bilik toilet yang kebetulan bersebelahan dengan bilik Alvin.
“Bella? Tapi ini toilet pria,” ucap Alvin dalam hati yang merasa heran kenapa Bella berada disini.
“Mama, Bella kangen. Seandainya Mama disini, Bella tidak akan pernah kesepian. Bella kangen, Mah. Bella benci, Papa! Papa tidak pernah menyayangi, Bella. Kenapa Mama tega meninggalkan Bella? Bella masih butuh, Mama. Bella kangen dipeluk, Mama. Tuhan, tidak bisakah pinjamkan Mama sebentar saja hanya untuk aku peluk disaat seperti ini? Hiks… hiks… hiks…”
“Ternyata dia adalah Nona muda yang kesepian.” Gumam Alvin dalam hati yang mendengar semua keluh kesah Bella.
“Nona, sepertinya anda salah masuk toilet.” Ucap Alvin tiba-tiba.
“Siapa kamu? Bagaimana mungkin aku salah?” Bella menyangkal ucapan Alvin dengan nada sinis.
“Diam saja! Jangan mengangguku,” lanjut Bella.
“Oke baiklah kalau begitu, Nona. Saya ini OB, Nona. Jadi saya tahu kalau ini toilet pria.” Ucap Alvin. Alvin kemudian keluar dan berdiri tepat didepan pintu bilik toilet Bella. Mendengar Alvin menyebut kata ‘OB’, seketika tangis Bella berhenti. Ia buru-buru menyeka air matanya dengan punggung tangannya lalu bergegas keluar. Begitu Bella keluar, Alvin menyodorkan sapu tangan untuk Bella.
“Pakailah ini untuk menghapus air mata Nona. Ini masih bersih dan baru keluar dari lemari saya.” Ucap Alvin
sambil menundukkan pandangannya. Alvin tidak ingin Bella mengenalinya. Bella yang memang membutuhkan menerima sapu tangan dari Avin. Tak berselang lama gerombolan karyawan pria masuk ke dalam toilet. Tentu saja mereka terkejut melihat ada wanita di dalam toilet.
“Ma-maaf, salah masuk.” Bella yang terlanjur malu, buru-buru pergi begitu saja sampai ia lupa mengucapkan terima
kasih pada Alvin. Alvin menunduk dan melempar senyum, menyapa para karyawan pria sebelum ia pergi meninggalkan toilet.
Bersambung... gimana? apakah semakin membuat kalian penasaran??? hehehehehe... jangan lupa komen, like dan votenya ya, makasih 🥰🙏