Mr. Arrogant Vs Noisy Girl

Mr. Arrogant Vs Noisy Girl
BAB 27 Nyeri



Setelah makan siang, Romi kembali mengantar Chika ke kantor. Chika segera melanjutkan pekerjaannya sementara Romi segera mengantar Kenzie pulang.


“Chika, darimana saja?” tanya Mita saat mereka berpapasan.


“Oh tadi aku pergi makan siang dengan temanku.”


“Pantas saja sama sekali tidak terlihat di kantin. Aku pikir sedang sibuk sampai tidak mau diganggu.”


“Waktunya makan ya makanlah. Kamu darimana?”


“Habis dari toilet tadi.”


“Ya sudah kita barengan ke ruangan.” Ajak Chika.


“Oke.” Begitu sampai di ruangan, Chika kembali melanjutkan pekerjaannya.


 


Jam menunjukkan pukul 4 sore. Zidni dan Frans baru kembali dari tempat supplier daging.


“Frans, segera siapkan rapat!”


“Sekarang juga Tuan? Tapi sebentar lagi jam pulang kantor.”


“Bosnya adalah aku jadi kamu jangan mengatur. Kumpulkan tim produksi dan marketing untuk membahas makanan instan ini.”


“Ba-baik Tuan.” Frans hanya bisa menghela dan mengerjakan perintah dari Zidni. Tentu rapat mendadak itu membuat tim marketing dan produksi mendengus kesal. Lagi-lagi harus lembur. Kerja lembur bagai kuda sampai lupa orang tua, waktu dan keluarga.


“Aduh, Tuan Zidni memang keterlaluan. Waktunya pulang malah di ajak rapat,” ucap Juno dengan sedikit kesal.


“Aku sudah janji ingin merayakan ulang tahun putriku dirumah. Istriku sudah mengririm pesan kalau dia masak special. Tahun lalu aku sudah melewatkannya karena Tuan Zidni mengajak lembur. Kalau aku menolak bisa dipecat.” Kata Pak Haris dengan sorot wajah kecewa.


“Aku juga bingung, Mama sedang sakit dan Papa belum bisa pulang lagi. Mana Mama dirumah sendirian,” sahut Mita.


“Ya sudah kalian ijin pulang saja. Biar aku dan Juno yang mewakili.”


“Akupun sebenarnya juga terpaksa Chik. Aku ada jadwal mengantar Mama check up di rumaah sakit dan sudah membuat janji.”


“Memangnya kalian tidak bisa ijin?”


“Boro-boro ijin, yang ada kita di pecat.” Timpal Mita.


“Sudahlah, kalian pulang saja. Biar aku yang mengatasi semuanya.”


“Jangan-jangan Chik, nanti kamu kena marah lagi.” Kata Juno.


“Tidak apa-apa, kasihan keluarga kalian. Kalau tidak ada kendala, kalian juga pasti iku rapat. Kalian ijin saja pada sekretaris Frans dan cepatlah pulang.” Chika berusaha meyakinkan mereka bertiga.


“Baiklah Chika, aku akan pulang. Aku terima apa saja konsekuensinya.” Kata Pak Haris.


“Aku juga. Ini semua untuk Mama. Habisnya mau minta tolong siapa lagi.” Sahut Juno.


“Ya sudah Chik, aku juga pasrah. Aku tidak mau Mama kenapa-kenapa juga.” Timpal Mita.


“Kalian jangan khawatir, kan sudah ada aku dan tim produksi yang lain. Kalian hati-hati ya.”


“Terima kasih ya Chika.” Kata Pak Haris.


“Thanks ya Chik,” sahut Juno.


“Makasih ya Chik.” Sambung Mita.


“Iya-iya. Sudah pulang sana.”


Akhirnya di tim Chika, hanya Chika yang hadir di rapat itu. Zidni menatap kesal Chika saat mendengar alasan dari Frans kemana ketiga orang itu mangkir dari rapat. Padahal rapat itu adalah proyek yang diberikan pada tim Chika. Chika mencatat dan merekam semua isi rapat dan apa yang di inginkan oleh Zidni. Rapat sore itu berlangsung hampir tiga jam.


“Siap Tuan!” Jawab Chika seorang diri. Selesai rapat, Zidni meminta Frans untuk menuju ke ruangannya.


“Dimana tim mu dan Pak Haris sebagai ketua Tim?” tanya Zidni dengan tatapan dinginnya.


“Mereka ijin Tuan. Bukankah sekretaris Frans sudah memberitahukan pada Tuan?”


“Frans memang sudah memberitahuku. Tapi aku belum memberi ijin, mereka sudah pergi. Apakah itu atas perintahmu?”


“Bukan perintah Tuan tapi membantu mereka mencari solusi.”


“Apa wewenangmu dengan memberikan mereka solusi? Kamu mau jadi pahlawan kesiangan untuk mereka. Kenapa ya sejak kamu masuk ke perusahaanku, kamu membuat masalah dengan memprovokasi mereka untuk melawanku. Padahal sebelumnya mereka tidak pernah melakukan itu apalagi untuk membangkang.” Ucap Zidni dengan suara yang mulai meninggi.


“Saya kasihan saja dengan mereka Tuan. Toh masih ada saya yang mewakili.”


“Ini yang aku benci dari dirimu. Selalu membantah dan melawanku. Masalah sepele saja harus ijin. Bagaimana perusahaan mau maju kalau mental mereka lemah semua.”


“Maaf Tuan, itu bukan masalah sepele. Orang tua Mita dan Juno sama-sama sakit. Sedangkan Pak Haris sudah janji ingin merayakan ulang tahun putrinya, yang mana tahun lalu Pak Haris sudah melewatkannya karena sibuk bekerja untuk anda. Lagi pula sudah jamnya pulang kan Tuan? Saya juga masih bisa mewakili mereka. Ini bukan abdi Negara, Tuan. Beda lagi kalau mereka seorang abdi Negara. Nah ini mengabdi pada anda. Bekerja pakai perasaan sedikit Tuan.” Ceorocos Chika.


“Hhh kamu tidak usah mengajari aku. Sebenarnya kamu ini siapa? Apa kamu ini salah satu mata-mata yang dikirim oleh lawan bisnisku, iya? Apa kamu lupa kalau proyek makanan instan itu milik tim 1?”


“Anda bebas berpendapat Tuan dan silahkan berprasangka buruk sesuka anda. Saya juga tahu itu proyek kami, saya juga sudah merecor rapat tadi untuk mereka. Sudahlah Tuan, saya mau pulang. Capek kerja seharian malah diomelin terus sama Tuan.” Kata Chika dengan entengnya. Zidni mendelik, mengangkat sebelah alisnya.


“Kamu memang kurang ajar ya. Mau aku pecat? Perusahaan tidak membutuhkan orang pembangkang sepertimu.” Bentak Zidni.


“Silahkan saja Tuan, saya tidak takut. Masih banyak kok perusahaan yang mau menerima orang seperti saya. Saya juga bisa mendapatkan atasan yang lebih baik dari anda. Yang tidak arrogant dan suka seenaknya saja. PERMISI!” Chika dengan mudahnya berlalu dari ruangan Zidni. Zidni mendengus, ia menggebrak meja. Ia merasa kesal kenapa tidak bisa bersikap kejam jpada Chika seperti pada karyawan-karyawannya yang sebelumya.


“Arrggghhhhh! Zidni, kamu kenapa?” marah Zidni sambil menjambak sendiri rambutnya.


“Zidni, kamu harus bisa kejam. Mereka kalau tidak mendapat kekejaman dan ketegasan, akan bekerja sesuka hati dan menyepelekan pekerjaan. Zidni, tunjukkan taringmu di hadapan wanita berisik itu.” Gerutunya sambil mengepalkan kedua tangannya. Zidni dibuat frustasi oleh dirinya sendiri yang aneh sejak ada Chika.


Jam sudah menujukkan pukul 8 malam. Chika berkemas dan bergegass untuk pulang.


“Chika!” seru Joan.


“Hei Jo, belum pulang?”


“Kan aku ikut rapat jadi lembur lah.”


“Hehehe iya aku lupa.”


“Kamu sudah mau pulang? Aku antar ya.”


“Iya tapi aku bawa motor Jo.”


“Oh kamu bawa motor. Ya sudah kita barengan turun ke lantai bawah ya.”


“Oke.” Joan dan Chika kemudian masuk ke lift dan disaat yang bersamaan, Zidni dan Frans juga hendak masuk lift. Chika membuang muka saat bertemu dengan Zidni, sementara Joan tetap menyapa sepertia biasa. Suasana di dalam lift pun menjadi hening dan tegang. Tidak ada yang berani bersuara meskipun itu Frans. Bahkan Chika sudah malas untuk adu argument dengan Zidni. Setelah pintu lift terbuka, Joan dan Chika berjalan beriringan sembari bercengkrama.


“Dia ini bersuami tapi dengan mudahnya akrab dengan banyak pria. Wanita macam apa dia?” gumam Zidni dalam hati dengan tatapan sinisnya melihat Chika dan Joan bersamaan. Dan tiba-tiba Zidni merasakan nyeri di dadanya.


“Auw!” rintih Zidni.


“Tuan kenapa?” Frans panic.


“Tidak apa-apa Frans. Mendadak dadaku terasa nyeri.


“Apa kita harus pergi ke rumah sakit?”


“Tidak usah. Antar aku pulang saja.”


“Baik Tuan.”


“Nyeri apalagi ini? Masa iya karena melihat wanita berisik dengan Joan dadaku mendadak nyeri. Apa hubungannya coba?” gumamnya dalam hati.