Mr. Arrogant Vs Noisy Girl

Mr. Arrogant Vs Noisy Girl
BAB 66 French Kiss



Chika sebenarnya sangat malu karena ini bukanlah dirinya. Biasanya Zidni yang menggodanya namun kali ini ia yang harus menggoda suaminya. Bukan hanya sekedar menggoda tapi menggoda mati-matian.


''Kenapa diam?'' Chika menjetikkan jemarinya tepat di depan wajah Zidni.


Zidni menghela. ''Sebaiknya kembali ke kamarmu. Aku mau istirahat dan sangat berusaha menggodaku.''


''Menggoda bagaimana? Apakah semua bukti foto itu tidak cukup? Awas ya, jangan lari dari tanggung jawabmu. Kamu menikahiku, lalu menghamiliku dan setelah itu kamu pergi. Yang aku dengar kamu kecelakaan. Kecelakaan sungguhan atau sengaja menghilang?'' Chika marah. Ia tersinggung. Ia berkacak pinggang menyondongkan dadanya. Dadanya yang kian berisi semenjak hamil Kenzie, membuat fokus Zidni sedikit terganggu. Apalagi dada itu terlihat menyembul di balik baju transparan itu.


''Dan kalung ini? Cincin ini? Ini semua darimu. Ini cincin pernikahan kita dan kalung ini hadiah darimu.'' Chika menunjukkan jemarinya pada Zidni. Chika meraih tangan Zidni dan menjajarkan dengan tangannya.


''Itu cincinmu. Dan di cincin itu ada ukiran tanggal pernikahan kita. Kamu pikir aku mengada-ngada?'' kesal Chika tak terbendung. Zidni melihat jari manisnya, ada cincin melingkar disana. Zidni mengingat isi jurnal ingatannya tentang cincin yang ia kenakan ini. Dan yang Chika katakan benar ada ukiran tanggal pernikahan mereka.


''Berikan aku waktu. Kamu tahu posisiku. Pasti banyak rekan bisnis yang mengincar ku.''


''Tapi tidakkah batin mu merasakan sesuatu saat melihat Kenzie?'' ucap Chika sambil menekan dada Zidni dengan telunjuknya. Zidni terdiam. Chika kesal karena rayuan dan penampilan seksinya tidak mempan. Tentu saja tidak mempan karena Chika tahu kalau suaminya bukanlah pria gampangan yang mudah tergoda. Namun dia berani melakukan ini karena merasa dirinya sebagai seorang istri bukan seorang wanita penggoda. Zidni hanya bisa terdiam, membiarkan Chika marah karena ia sendiri tidak tahu harus menjawab apa. Chika kemudian mengambil dan menggendong Kenzie dari kasur Zidni. Chika berjalan keluar dengan membawa rasa kesal dan putus asa.


Sesampainya di kamar, Chika perlahan membaringkan tubuh Kenzie diatas tempat tidur. Ia menatap wajah bocah yang tak berdosa itu. Perlahan mata Chika mulai basah. Mengingat kembali betapa berat perjuangannya selama ini. Melewati hari-hari tanpa suami. Bulir air mata itu akhirnya jatuh membasahi wajahnya. Dadanya kembang kempis, pundaknya naik turun, menahan isak tangis.


''Kenapa aku merasa sudah lelah? Apa aku harus menyerah? Tuhan, kenapa takdir seolah tidak berpihak padaku? Sampai kapan aku harus sepertu ini? Seandainya aku bisa mencintai pria selain dia? Tapi aku tidak bisa. Hanya dia yang aku cintai. Aku tahu ini bukan salahnya tapi tidak bisakah KAU memberinya kesempatan untuk mengingat semua kenangan tentang kami?'' gumam Chika dalam batinnya. Dari balik celah pintu yang terbuka, Zidni melihat Chika yang sedang menangis memandangi wajah putranya. Melihat itu Zidni merasakan nyeri di ulu hatinya.


''Tuhan, apa benar dia istri dan anakku? Jangan permainkan takdirku Tuhan.'' Zidni kemudian pergi kembali ke kamarnya. Ia membuka kembali jurnal ingatannya. Membacanya berkali-kali dan berusaha mengingat berkali-kali. Namun ia tidak mengingat apapun. Padahal diawal halaman tertulis jelas jika ia pernah pingsan dan tidak lama mengingat semuanya.


Zidni marah, ia kesal. Kesal dengan takdir yang seolah mempermainkannya. Zidni mulai lelah. Ia memukul kepalanya sendiri penuh frustasi. Zidni berdiri di depan cermin menatap dirinya sendiri.


"Amora! Aku tidak mengkhianati mu bukan? Hanya kejadian itu yang aku ingat. Kamu pergi karena kebodohan ku. Seandainya aku tidak begitu, kamu pasti akan selamat. Tuhan, apa yang terjadi dengan diriku?'' Zidni marah dan geram dengan kehidupannya. Tiba-tiba sakit kepala menyerangnya kembali. Teringat pertemuannya dengan Chika saat di lampu merah. Zidni terkejut kenapa ingatan itu yang muncul? Zidni kemudian melepaskan pukulannya pada cermin di hadapannya. Merasa kesal karena takdir mengacak-acak kehidupannya. Tangan Zidni berdarah, cermin dihadapannya pecah. Chika yang mendengar suara pecahan daru kamar Zidni, bergegas menuju kamar Zidni. Chika terkejut melihat tangan Zidni berdarah.


''Zidni, apa yang terjadi padamu?'' Chika meraih tangan Zidni yang berdarah. Zidni hanya diam mematung dengan nafas terengah. Chika bergegas mengambil kotak P3K dan segera mendekat kearah Zidni kembali. Chika mengajak Zidni untuk duduk di sofa. Zidni pun tak bergeming, membiarkan Chika mengobati lukanya. Perih dan sakit tapi tidak sesakit hidupnya saat ini.


''Kenapa takdir mempermain ku? Bermain-main dengan memori ku, sungguh membuatku gila.'' Ucapnya lirih.


''Aku ingat, kamu adalah Chika karyawan ku kan?''


''Ka-kamu ingat?''


''Iya, aku ingat tapi hanya itu saja. Ingat saat kamu membuat keributan di kantor. ''


Chika sangat bahagia mendengar ucapan Zidni.


''Apa tidak ingat kejadian beberapa hari yang lalu setelah kamu pingsan?''


''Tidak. Hanya itu saja. Kenapa kamu dirumahku dan mengaku sebagai istriku?''


''Karena itu kenyataannya. Kenyataan yang harus kamu terima. Kalaupun hasil tes DNA sudah keluar dan terbukti Kenzie putramu, aku tidak akan memaksamu untuk kembali kepadaku apalagi mengingatku. Bagiku mengenalkan Kenzie pada Papanya sudah lebih dari cukup. Aku tidak akan membuatmu sakit lagi. '' Ucap Chika sambil terus mengobati luka di tangan Zidni. Apa yang baru saja Chika ucapkan, seolah menusuk ulu hati Zidni. Karena ingatannya berhenti pada Chika, seorang karyawan yang cerewet, berisik dan menyebalkan.


''Sebaiknya kamu istirahat. Jangan ulangi hal seperti ini.'' Chika beranjak hendak pergi namun tiba-tiba Zidni menarik tangan Chika kembali untuk duduk. Teringat akan siapa sosok Chika dalam jurnalnya dan terapi ciuman itu.


''Bagaimana kalau kita mencobanya?'' tanya Zidni. Chika mengernyitkan alisnya, tidak mengerti akan ucapan Zidni.


''Mencoba apa?''


''Terapi ciuman. ''


''Terapi ciuman? Tapi kan... mmpphhhh, '' Zidni langsung me..lu..mat bibir Chika tanpa ijin. Bukan mengingat sesuatu akan tetapi Zidni merasakan jantungnya berdebar begitu cepat. Terlebih dengan pakaian Chika yang begitu seksi malam itu, membuat gairah Zidni bangun begitu saja. Chika perlahan membuka bibirnya, mencoba memancing Zidni untuk melakukan ciuman yang lebih panas. Zidni merespon bibir Chika yang terbuka. Naluri dan kata hati Zidni ingin memperdalam ciumannya. Lidahnya mulai menelesup rongga mulut Chika. Gairah Chika pun bangkit. Sudah lama tidak disentuh oleh suaminya, membuat Chika akhirnya membalas ciuman Zidni. Ciuman keduanya semakin intens dan semakin panas. Seolah keduanya sedang melepas rindu. Tangan Zidni perlahan mengangkat tubuh Chika untuk duduk di pangkuannya. Tanpa aba-aba, Chika mengalungkan keduanya tangannya pada leher Zidni. Nafas keduanya semakin memburu. Perlahan, lanjutan ingatan Zidni tentang Chika muncul kembali. Dan Zidni teringat perjalanannya bersama Chika selama di Jepang. Ingatan itu melintas dengan begitu jelasnya tanpa ada rasa sakit kepala seperti biasanya. Keduanya saling memejamkan matanya, menikmati ciuman yang semakin panas dan tak terkendali itu. Zidni semakin memperdalam ciumannya sampai akhirnya ingatannya berhenti di mana saat ia dan Chika saling berhadapan. Dimana ia menggali informasi tentang siapa Chika dan Chika memberikan bukti foto-foto pernikahan dan kebersamaan keduanya. Disaat itu mata Zidni langsung terbuka dan mengakhiri ciumannya.


Dannnnn apakah yang terjadi? Apakah ciuman berlanjut atau.... ??? Tungguin ya di next episode...