Mr. Arrogant Vs Noisy Girl

Mr. Arrogant Vs Noisy Girl
BAB 14 Mendampingimu



Berat rasanya meninggalkan rumah orang tuanya. Tapi kali ini Chika harus mengambil keputusan demi masa depan Kenzie. Ya, Chika harus berjuang dalam diam.


''Sekali lagi maafkan aku, Ayah-Ibu. Setiap libur kerja, aku pasti akan menengok Ayah dan Ibu. Lagi pula jarak rumah kita tidak terlalu jauh.'' Gumam Chika dalam hati.


Akhirnya Chika dan Kenzie sampai juga di rumah lamanya. Rumah yang penuh dengan semua kenangan tentangnya dan juga Zidni.


''Romi, terima kasih ya sudah mengantarku sampai sini. Kamu juga sudah membantuku berkemas.''


''Sama-sama Chika.''


''Om Romi, terima kasih sudah mengantarku. Kita masih bisa bermain sama-sama kan?'' sahut Kenzie.


''Tentu saja Kenzie. Om pasti akan sangat merindukan kamu.'' Ucap Romi seraya memeluk Kenzie.


''Aku juga pasti akan merindukan Om Romi.''


Setelah semua barang Chika masuk ke dalam rumah, Romi pun pamit pulang.


''Rom, kamu hati-hati ya. Sekali lagi terima kasih.''


''Iya-iya, kamu ini makasih terus. Kalau ada apa-apa atau butuh bantuan, hubungi aku ya, jangan sungkan.''


''Iya pasti.''


''Daaaa... Om Romi. Hati-hati.'' Ucap Kenzie sambile melambaikan tangannya pada Romi. Romi hanya tersenyum sambil membalas lambaian tangan Kenzie.


Chika kemudian bergegas menyiapkan sarapan untuk Kenzie. Karena Chika memilih pindah pagi-pagi sekali setelah subuh. Kembali ke rumah itu, Chika merasa bahagia sekali apalagi ia bisa bertemu dengan Zidni, suaminya yang selama ini menghilang.


''Kenzie, selama Mama bekerja, nanti akan ada Mbak Susi yang menemani kamu. Sebentar lagi dia akan datang.''


''Mbak Susi siapa Mah?''


''Yang akan menjaga kamu, sayang.''


''Mbak Susi baik apa tidak, Mah?''


''Baik sayang. Justru Nenek sendiri yang mencarikan Mbak Susi untuk kamu. Nanti Mbak Susi juga yang akan jemput kamu. Kamu mengerti kan sayang?''


''Iya Mah.''


''Baiklah sekarang kita sarapan.''


Selesai sarapan, Mbak Susi akhirnya datang, baby sitter Kenzie.


''Akhirnya Mbak Susi datang juga.''


''Maaf ya Non, sedikit terlambat.''


''Tidak apa-apa, Mbak. Oh ya Mbak, tolong nanti jemput Kenzie ya. Aku sudah menuliskan makanan apa yang di sukai dan tidak di sukai oleh Kenzie.''


''Siap Nona.''


''Oh ya kalau Kenzie sekolah, tolong bantu-bantu beberes ya, Mbak.''


''Pasti Non. Saya akan bekerja baik dan sepenuh hati.''


''Terima kasih ya, Mbak. Ya sudah mbak kalau begitu aku dan Kenzie berangkat, Mbak tolong rapikan barang-barang pindahan ini ya, Mbak. Dan kamar Mbak Susi ada di belakang. Hari Sabtu dan Minggu Mbak bisa libur.''


''Iya Non, terima kasih ya.''


''Sama-sama Mbak.''


Chika lalu segera berangkat mengantar Kenzie ke sekolah, setelah itu Chika segera berangkat ke kantor.


Sesampainya di kantor, Chika melihat Zidni turun dari mobil bersama dengan Jasmine.


''Apa sungguh tidak ada kesempatan?'' gumam Chika dalam hati saat melihat kebersamaan Zidni dan Jasmine.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


''Aku sudah membalas kebaikanmu, Jasmine. Jadi sekarang kamu silahkan pulang.''


''Aku kan baru saja sampai, masa iya disuruh pulang.''


''Kemarin kamu menolongku dan kamu meminta balasan atas pertolongan itu dengan menjemputmu ke apartemen lalu ikut bersamaku ke kantor. Lalu apalagi yang kamu inginkan?'' kesal Zidni.


''Oke-oke. Aku akan pulang tapi saat jam makan siang aku akan kembali lagi.''


''TERSERAH!" Tegas Zidni. Jasmine dengan perasaan kesal meninggalkan ruangan Zidni. Chika juga melihat Jasmine keluar dari ruangan Zidni dengan wajah kesal.


''Tok tok tok tok!" suara Chika mengetuk pintu.


''Masuk!" sahut Zidni.


Zidni mendengus. ''Ada apa pagi-pagi kemari manusia berisik?''


''Hehehe saya mau minta ganti uang bensin kemarin Tuan.'' Cengir Chika. Zidni menaikkan alisnya, sangat memalukan pagi-pagi ditagih hutang.


''Berapa?'' ketus Zidni.


''Tuan hitung sendiri. Saya membawa lima liter.''


Tanpa banyak bicara, Zidni mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan. Zidni mengulurkan uang itu pada Chika. Namun belum sempat menerimanya, Zidni malah dengan sengaja menjatuhkan uang itu ke lantai. Chika benar-benar terkejut dengan apa yang dilakukan Zidni padanya.


''Seharusnya anda bisa bersikap lebih sopan Tuan.'' Kesal Chika.


''Sopan bagaimana? Aku tidak sengaja menjatuhkannya.'' Ucap Zidni dengan entengnya. Chika dengan kesal memungut uang itu lalu melemparkannya pada Zidni. Zindi terkejut dengan apa yang di lakukan oleh Chika.


''Wah, kurang ajar sekali kamu.'' Kesal Zidni.


''Anda yang mengajari saya untuk bersikap kurang ajar,'' ucap Chika dengan kesal pula.


''Kamu berani sekali ya melawanku? Kamu ini hanya pegawai disini tapi sikapmu sungguh menyebalkan.''


''Kalau anda ingin dihargai, setidaknya berlajarlah menghargai orang lain, Tuan. Jangan sombong, Tuan!"


''Daripada banyak bicara dan ceramah, beritahukan pasa semua tim marketing untuk meeting sepuluh menit lagi.''


''Baik. Permisi.'' Ucap Chika tanpa basa-basi lagi. Chika kemudian berlalu meninggalkann ruangan Zidni.


''Tunggu!" panggilan Zidni membuat langkah Chika terhenti. Zidni memungut uang yang jatuh di lantai, lalu memberikannya pada Chika.


''Terima kasih. Aku tidak mau merasa hutang budi kepada seseroang.'' Jelas Zidni. Chika tersenyum kecil lalu pergi begitu saja dari ruangan Zidni.


''Siapa sebenarnya gadis itu sih?'' gerutu Zidni dalam hati.


Kini semuanya telah berada di ruang meeting untuk membahas produk minuman kemasan yang kurang laku di pasaran.


''Aku heran sekali dengan kalian semua. Dari tim marketing dan tim produksi, kenapa bisa produk kita ini tidak lagu di pasaran? Kalian ini bodoh atau apa sih? Bukankah resep yang aku berikan itu benar, beserta takarannya? Kenapa rasany amburadul semua? Kalian test produk apa tidak?'' marah Zidni sambil menggebrak meja. Mereka semua hanya bisa menunduk namun tidak dengan Chika. Pandangan Chika tetap lurus ke depan menatap Zidni yang sedang berbicara.


''Maaf Tuan, kami sudah berusaha. Kami juga tidak mengurangi takaran bahanya.'' Jelas tim produksi.


''Sudah berusaha? Berusaha apa? Hah? Minuman sampah seperti ini, jelas saja tidak laku. Kalian coba saja buat dan minum sendiri.'' Kesal Zidni.


''Instruksi Tuan!" sahut Chika sambil mengangkat tangannya.


''Ya silahkan.'' Ucap Zidni dengan nada malas saat melihat Chika yang hendak memberikan tanggapan.


''Menurut saya, rasanya memang kurang otentik dan kurang lembut. Bukankah moccacino itu terdiri dari espresso, coklat dan susu? Tapi maaf saat saya mencobanya, rasanya memang sangat kurang, apalagi sebagai lidah orang awam. Ada baiknya kita tambahkan cremer di dalamnya karena rasanya akan lebih soft. Rasa espresso, coklat dan susu sangat kurang.'' Jelas Chika.


Zidni tersenyum miring. ''Memangnya bagaimana minuman moccacino seharusnya?'' tanya Zidni.


''Apakah anda mengijinkan saya membuatnya sebentar?''


''Silahkan saja. Aku akan beri waktu.'' Tantang Zidni.


''Baiklah, saya akan membuatnya sebentar.'' Chika kemudian beranjak dari duduknya dan segera menuju pantry untuk membuatnya. Chika membuatkan moccacino dua cangkir. Satu untuk Zidni dan satunya lagi untuk tester para peserta rapat. Lima menit kemudian Chika kembali dengan dua cangkir dibantu oleh OB.


''Silahkan Tuan. Dan satu cangkir ini, bisa tim produksi dan salah satu tim marketing untuk mencicipi rasanya.'' Jelas Chika.


''Dasar si kaleng rombeng ini. Mau bikin ulah apalagi?'' gerutu Zidni. Dari aromanya tercium sangat jelas espressonya. Zidni kemudian mulai menyesapnya dan Zidni terkejut dengan rasanya. Rasanya sama seperti moccacino yang ia minum beberapa kali terakhir ini.


''Rasanya seperti moccacini yang kemarin.'' Gumam Zidni penuh rasa heran.


''Nona Chika, ini rasanya sangat nikmat sekali. Apakah anda menambahkan sesuatu di dalamnya?'' Sahut salah satu tim produksi.


''Iya. Saya menambahkan creamer di dalamnya jadi rasanya ada gurih-gurihnya.''


''Tapi dengan campuran bahan seperti ini, pasti bahan produksinya juga lebih.''


''Justru harga yang di patok oleh perusahaan, setelah saya kalkulasi, masih bisa kok untuk menjangkaunya. Tentu saja saat saya bicara seperti ini sudah dengan data-data yang cukup. Dan satu lagi, kenapa kita tidak mencoba membuatnya dengan minuman kemasan botol siap minum? Bukankah itu lebih praktis dan sebagai gebrakan baru untuk second chance minuman instan serbuk? Jadi ada yang serbuk dan siap minum. Sekalian kita ubah kemasannya supaya lebih menarik. Sekarang para pembeli sudah pintar, mereka tahu mana kualitas dan rasa yang enak, jadi sudah pasti harga bukanlah menjadi suatu masalah. Dan untuk mengetahui pendapat masyarakat, kita perlu membuka stand diberbagai pusat perbelanjaan untuk melakukan pengenalan produk, tes produk dan atau tes pasar. Setidaknya kita harus tahu pendapat mereka dan supaya kita bisa tahu kekurangan dari produk kita, agar kita bisa membenahi sebelum menjualnya dengan jumlah yang banyak.'' Jelas Chika panjang lebar yang membuat semua para peserta rapat terdiam dan manggut-manggut mendengar penjelasan Chika. Bahkan seorang Zidni pun dibuat terdiam oleh seorang Chika.


''Meskipun menyebalkan tapi apa yang dia katakan ada benarnya juga. Tapi apakah dia yang membuatkan moccacino padaku beberapa waktu lalu? Tapi tidak mungkin juga. Untuk apa coba?'' gumam Zidni dalam hati penuh tanya.


''Tuan Zidni, maaf. Kami sepakat dengan ide Nona Chika. Yang Nona Chika katakan itu benar. Kalaupun anda mengijinkannya, kami akan memperbaiki rasa dan kemasannya.'' Sahur ketua tim produksi.


''Dan kami sebagai tim marketing, siap untuk membuka beberapa stand kecil di berbagai pusat perbelanjaan ataupun pasar untuk tes produk dan tes pasar.'' Sahut ketua tim marketing.


Zidni menghela. ''Oke, idemu aku tampung, Chika.'' Ucap Zidni dengan sangat terpaksa.


''Terima kasih, Tuan.'' Ucap Chika dengan senyum lebarnya. Mereka memberi tepuk tangan atas keberhasilan Chika karena Zidni menyeujui idenya.


''Zidni, suamiku, aku berdiri disini bukan sebagai karyawanmu. Tapi aku berdiri disini ingin membantumu melewati semua masalahmu. Aku ingin mendampingimu dalam suka maupun duka. Aku berharap produkmu ini bisa meledak di pasaran dan setidaknya bisa mengurangi amarahmu.'' Gumam Chika dalam hati.