
"Mas, ayo masuk!" Ajak Chika sambil menggandeng lengan Zidni. Zidni mengangguk dan mengikuti langkah Chika, Frans mengekor di belakang. Kedua orang tua Chika terbelalak tidak percaya bahwa pria itu adalah Zidni, sesuai dengan dugaan mereka. Zidni sangat terkejut karena orang tua Chika adalah orang yang sempat ia marahi beberapa waktu lalu. Begitu juga dengan Frans, lebih terkejut lagi.
"Waduh gawat! Jadi itu orang tua Nyonya Chika. Wah, semoga Tuan mendapat restu deh," gumam Frans dalam hati sambil menunduk pasrah.
"Kamu!" kompak Tuan Arman dan Nyonya Linda seraya bangkit dari duduknya.
"Jad-jadi kalian orang tua Chika." Ucap Zidni terbata.
"Mas, kamu sebelumnya sudah bertemu dengan Ayah dan Ibu?" tanya Chika heran.
"Iya. Mereka tiba-tiba memarahiku tanpa alasan saat di rumah sakit. Menuduhku macam-macam. Jadi aku pun terpancing amarah juga."
Chika menghela. "Ibu, Zidni ini sakit. Ingatannya belum pulih semuanya."
"Chika, kamu masih mau kembali sama dia lagi? Ibu dan Ayah sudah melarangmu untuk kemabli padanya kan?" suara Nyonya Linda mulai meninggi.
"Ayah, Ibu, sebelumnya aku minta maaf atas kejadian beberapa waktu lalu. Karena aku tidak mengingat kalian sama sekali. Bahkan untuk saat ini pun aku masih belum teringat kenangan tentang kalian semua."
"Ibu, jangan marah dulu. Dengarkan penjelasan Zidni." Chika berusaha untuk menenangkan Ibunya.
"Ayah-Ibu, jujur saja beberapa tahun lalu aku mengalami kecelakaan dan koma hampir satu tahun. Saat aku terbangun, aku lupa semua kenanganku dengan Chika."
"Halah, itu omong kosongmu saja." Sinis Nyonya Linda.
"Bu, dengarkan dulu," sahut Tuan Arman berusaha menenangkan istrinya.
"Aku memahami kemarahan dan kekecewaan Ayah dan Ibu. Tapi aku sungguh tidak berbohong. Aku membawa rekam medisku sebagai bukti semuanya. Kenanganku tergugah saat takdir mempertemukan aku kembali dengan Chika. Pertemuan yang tidak sengaja. Sampai akhirnya tiba-tiba datang melamar pekerjaan di perusahaanku."
"Apa?Jadi, Chika melamar di perusahaanmu?" suara Nyonya Linda semakin meninggi.
"Maaf Bu. Maaf kalau aku tidak jujur. Aku bergabung diperusahaan Zidni hanya ingin sekedar mencari tahu, kemapa dia tiba-tiba menghilang dan muncul kembali disini. Semua ini demi Kenzie. Kenzie berhak tahu kalau dia masih punya Ayah." Sahut Chika dengan mata berkaca-kaca.
"Bu, dengarkan dulu. Jangan menyela. Kita tidak tahu apa yang dialami nak Zidni selama ini kan?" Tuan Arman masih berusaha menenangkan.
"Sejak masuk diperusahaan, dia datang dengan sengaja membawa masalah dan membuatku marah. Karena baru kali ini ada karyawan yang berani melawanku. Justru rasa benci dan kesalku padanya, membuatku semakin dekat dengannya. Sampai aku menemukan sedikit ingatanku yang dulu saat berdekatan dengannya. Aku mohon, Ayah dan Ibu percaya. Frans, tunjukkan rekam medisku."
"Baik Tuan." Frans mengeluarkan rekam medis milik Zidni beserta hasil CT-Scan kepala.
"Disini terlihat jelas Nyonya-Tuan, tanggal dan tahun CT-Scan ini. Dan hasil terbaru adalah beberapa waktu lalu. Tuan Zidni pingsan lagi dan koma selama satu minggu. Saat Tuan Zidni memaksa ingatannya, selalu berakhir dengan pingsan. Bahkan saat Tuan Zidni tersadar dari pingsannya, Tuan Zidni lupa ini. Tuan bahkan menuliskan jurnal ingatannya, takut jika beliau pingsan tidak bisa mengenali Nyoya Chika. Karena beberapa waktu lalu Tuan Zidi melupakan Nyonya Chika dan Tuan kecil Kenzie." Jelas Frans panjang lebar berusaha membuat orang tua Chika percaya.
"Ayah-Ibu, restui kami. Aku akan menikahi Chika secara sah di mata Negara. Sungguh, aku berani bersumpah dengan taruhan nyawaku, aku meninggalkan Chika bukan karena wanita lain atau senagaja mempermainkannya tapi memang semua itu terjadi karena musibah. Aku hanya bisa mengingat kenanganku di masa lalu."
"Bangunlah, Nak." Kata Tuan Arman meminta Zidni untuk menyudahi semua itu. Bulir air mata Nyonya Linda pun mengalir begitu saja, begitu pula dengan Chika.
"Ayah-Ibu, aku saksi mereka. Selama ini aku juga tahu kalau Kakak bekerja di perusahaan Kak Zidni. Semua itu demi memperjuangkan masa depan Kenzie. Setidaknya lihatlah Kenzie. Dia sangat membutuhkan sosok Ayah bahkan sangat merindukan kasih sayang Ayahnya. Aku tahu sebagai orang tua Ayah dan Ibu marah juga kecewa tapi selama ini Kak Zidni juga menderita dan melewati masa-masa sulit itu sendiri. Hanya sekretaris Frans lah yang menemaninya. Ayah-Ibu, biarkan Kakak bahagia." Sambung Alvin.
"Saya pun bersaksi, bahwa Tuan Zidni tidak pernah sekalipun bermain wanita manapun sejak kecelakaan itu. Tuan justru rela meninggalkan negaranya demi membangun perusahaan di sini. Saya saat itu sempat bingung kenapa Tuan ingin sekali membuka perusahaan disini namun Tuan hanya menjawab kata hatinya menuntunnya datang kemari. Sejak menemukan cincin pernikahannya dengan Nona Chika, Tuan mengerahkan anak buahnya untuk mencari pasnagan cincin itu. Sampai kami meruntut perjalanan Tuan dari lima tahun silam. Dan tentu saja itu tidak mudah karena hanya pihak kepolisian yang bisa melakukan itu. Karena masalah yang kami hadapi adalah masalah pribadi bukan kriminal." Frans pun ikut bersaksi, berusaha meyakinkan kedua orang Chika. Kedua orang tua Chika tidak menyangka jika Zidni juga menderita selama ini.
"Ayah memberikan restu, Nak, Hati kecil Ayah selalu mengatakan kamu orang baik dan pasti ada alasan dibalik itu semua." Kata Tuan Arman.
"Terima kasih Ayah." Senyum kecil tersungging dari bibir Zidni.
"Zidni, jangan tinggalkan Chika lagi. Dia sudah sangat menderita selama ini. Hamil, melahirkan dan merawat Kenzie sendiri tanpa ada suami." Sahut Nyonya Linda dengan tangisnya.
"Iya Ibu, aku berjanji. Aku membutuhka dukungan kalian untuk memulihkan semua ingatanku." Ucap Zidni. Nyonya Linda mengangguk. Dan kedua orang tua Chika lalu memberikan pelukan pada Zidni. Chika, Frans dan Alvin tersenyum lega akhirnya restu kedua telah di kantongi. Pelukan itupun akhirnya lepas. Kenzie kemudian mendekat dan duduk di pangkuan Kakeknya.
"Kakek-Nenek, dia Papaku. Papa masih hidup, Kek-Nek. Dan Papa juga bukan TKI seperti yang selama Mama ini katakan." Sontak ucapan polos Kenzie mengundang gelak tawa semuanya, memecah momen haru itu.
"Maafkan Kakek dan Nenek juga ya karena sudah membohongi kamu. Itu semua karena kami marah dengan Papa mu yang tiba-tiba pergi tanpa kabar, meninggalkan kamu dan Mama." Kata Nyonya Linda sambil membelai kepala cucunya.
"Iya Nek, aku tahu. Aku pun sempat marah tapi tidak jadi karena aku tahu ternyata Papa sakit dan mengalami kecelakaan. Disini tidak ada yang salah. Karena semua ini memang ujian yang Tuhan berikan pada kita supaya kasih sayang diantara kita semakin erat."
"Cucu Kakek hebat sekali. Darimana kamu bisa merangkai semua kalimat itu?"
"Tidak tahu, Kek. Semuanya keluar begitu saja. Mungkin karena aku anaknya Papa Zidni, makanya aku jadi hebat dan jenius."
"Wah, kamu percaya diri sekali ya. Sama seperti Papamu." Sahut Chika sambil mencubit gemas pipi Kenzie.
"Iyalah Mah, kan aku anaknya Papa. Iya kan Pa?"
"Iya sayang. Kamu memang anaknya Papa. Anak yang tampan, hebat dan jenius." Ucap Zidni. Kenzie kemudian berpindah lalu memeluk erat Papanya.
"Janji ya Pah, jangan tinggalkan kami. Kalau Papa lupa lagi, aku akan selalu mengingatkan Papa sampai Papa ingat. Jadi sekarang kita harus memiliki banyak waktu ya, Pah."
"Pasti sayang." Pelukan antara Ayah dan anak itu membuat haru semua orang.